Compartir

Bab 39

Autor: Nabila Ara
last update Última actualización: 2025-10-21 23:54:20

Sudah seminggu sejak penyataan perasaan mereka di balkon itu, kini hubungan Rose dan Arthur semakin meningkat. Tidak hanya di rumah mereka bertemu tapi juga di kantor.

Sejak kejadian itu, Rose terlihat semakin ceria. Ia ingin melupakan sejenak masalahnya dengan sang suami. Ia ingin menikmati masa-masa indah ini sekurang-kurangnya ia ingin menata hatinya kembali.

Rose tidak pernah memimpikan jika ia bisa tertarik dengan Papa mertuanya sendiri. Apalagi sejak malam itu Arthur semakin terang-terangan memberikan perhatian padanya.

Sejak dulu Papa mertuanya itu memang sudah perhatian padanya, tapi kali ini perhatiannya lebih sering lagi bahkan menurut Rose ini lebih-lebih lagi.

Arthur memberikan kenyaman yang selama ini belum ia dapatkan, Arthur bisa menjadi sosok ayah sekaligus laki-laki yang bisa membuat ia merasa aman.

Selama di kantor mereka tetap terlihat profesional, karena Rose meminta tidak menampakkan hubungan mereka di depan karyawan lain. Arthur menyetujui permintaan Rose karena
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 161

    "Tadi ngapain saja kamu dan Alana di rooptop, Sayang. Lama banget kalian di sana," tanya Arthur saat mereka masuk ke dalam mobil Arthur.Hari ini Arthur memang mengendarai mobilnya sendiri. Tadi Arthur sudah meminta Jaka untuk pulang karena Rose ikut bersamanya."Cerita-cerita saja.""Hanya cerita tapi kok selama itu," ucap Arthur.Pasalnya Rose baru kembali ke ruangan Arthur saat alarm waktu istirahat makan siang berbunyi. "Alana curhat sama aku tentang kegalauan hubungannya dengan Ken."Arthur menoleh sekilas ke arah Rose, lalu ia pun mengendarai mobilnya dan mulai meninggalkan gedung Bramasta grup."Mereka sedang ada masalah?" tanya Arthur."Iya. Masalah sederhana menurutku. Solusinya mereka sama-sama menyatakan perasaan mereka masing-masing saja.""Mereka belum saling jujur tentang perasaan mereka, Sayang?""Iya. Alana butuh kepastian status mereka. Dan menurut Ken dengan memperlihatkan tindakannya pada Alana itu sudah cukup. Sebenarnya masalah mereka itu hampir mirip dengan kita

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 160

    "Pa, aku boleh bertemu dengan Alana sebelum aku pulang ke rumah?" tanya Rose.Waktu istirahat makan siang memang masih ada. Ia kangen dengan sahabatnya karena terakhir bertemu dengan Alana hanya di rumah sakit saat Alana datang menjenguknya."Boleh. Tapi pulangnya nanti sama-sama aku saja ya Sayang. Aku ingin hari ini kerja ditemani oleh kamu. Kalau kamu lelah nanti istirahat saja di ruang pribadi," ucap Arthur."Boleh deh. Tapi kasih tahu Jaka ya Pa kalau aku ikut Papa pulangnya. Nanti biar dia nggak lama menungguku.""Iya Sayang."Rose mengambil ponselnya di dalam tas lalu menghubungi Alana."Halo Al," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Halo Nyonya Bramasta," jawab Alana di seberang telepon hingga membuat Rose merona."Kamu lagi dimana?" tanya Rose."Tentu saja aku lagi di kantor. Sekarang kan masih waktu kerja Sayangku. Ada apa Rose?" tanya Alana."Aku juga tahu kalau sekarang memang masih waktu kerja. Tapi kamu dimananya. Di kantin atau dimana? Aku lagi di kantor ini.

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 159

    "Perfect"Rose tersenyum sambil berdiri di depan cermin yang ada di kamar. Ia memakai dress bewarna cream, rambut panjangnya di gerai saja. Ia hanya memakai make up tipis untuk menyembunyikan sisa-sisa lebam yang masih terlihat di wajahnya.Setelah memastikan penampilannya sudah siap, Rose langsung keluar dari kamar."Nona sudah mau berangkat ke kantor Tuan?" tanya Salimah begitu melihat Rose tiba di lantai bawah.Rose mengangguk sambil tersenyum. "Iya Salimah. Sudah mau waktu makan siang."Bi Arum mendekati mereka sambil membawa tas bekal yang sudah disiapkan oleh Rose tadi. Menu makan siang sama seperti yang sudah ia siapkan tadi pagi. "Terima kasih Bi Arum," ucap Rose saat Bi Arum menyerahkan tas bekal pada Rose."Sama-sama Non. Di antar sama Jaka kan Non?" tanya Bi Arum.Rose mengangguk. Setelah itu ia pamitan dengan Bi Arum dan Salimah. Bagi Rose, Bi Arum dan Salimah adalah keluarganya. Rose tidak menganggap mereka hanya sekedar asisten rumah tangga di rumah Arthur. Apalagi Ros

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 158

    "Bi, tolong bantu aku untuk menata semua ini di meja makan ya. Aku mau ke atas dulu untuk mandi. Bajuku sudah bau masakan. Hehee."Bi Arum mengangguk. "Iya Nona. Tenang saja, semuanya Bibi tata di meja makan. Nona langsung naik saja ke atas."Rose kembali ke kamar karena ingin mandi setelah selesai menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk Arthur.Saat ia masuk ke dalam kamar, terdengar gemiricik air dari kamar mandi.Rose langsung menuju walk in closet untuk menyiapkan baju yang akan Arthur gunakan ke kantor hari ini. Ia yakin Arthur pasti belum memilih baju yang akan ia gunakan. Rose mengambil kemeja putih, celana bahan bewarna abu-abu dengan warna jas yang sama dengan celana bahannya.Lalu ia membawa baju pilihannya keluar dari walk in closet lalu meletakkan kemeja hingga celana bahan dan jas di atas ranjang.Sejak tidur bersama di kamar ini, sudah menjadi rutinitas Rose menyiapkan baju kerja untuk Arthur kecuali saat Rose sakit saja yang tidak melakukan itu.Kreekkk...Rose langsun

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 157

    Rose membuka matanya saat mendengar alarm dari ponselnya.Saat penculikan itu, tasnya memang aman karena diamankan oleh Zumi dan satu hari setelah ia di rawat di rumah sakit, Agam memberikan pada Arthur karena Zumi menitipkan tasnya pada Agam.Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas lalu mematikan alarm.Rose memang sengaja mengatur alarm pada pukul setengah enam pagi karena ia ingin membuatkan sarapan dan bekal untuk Arthur.Ia bosan di kamar terus dan memutuskan untuk beraktivitas seperti biasa. Rose juga sudah ingin kembali masak di dapur.Setelah mematikan alarm, Rose meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu ia menoleh ke arah Arthur yang masih terlelap. Pria itu tidak terusik sama sekali dengan bunyi alarm."Gantengnya," gumam Rose sambil tersenyum.Ia perlahan menyingkirkan lengan Arthur yang melingkar di pinggangnya, berusaha agar pria itu tidak terbangun.Sebelum bangun, Rose mengecup bibir Arthur. Setelah itu ia turun dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk cu

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 156

    "Sayang.." Rose mengabaikan panggilan dari Arthur. Bahkan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk segera bersih-bersih.Ia sedang kesal karena tatapan Ririn yang terang-terangan menunjukkan terpesona pada Arthur.Arthur memang tidak salah, toh pria itu juga mengabaikan Ririn. Bahkan dengan sengaja Arthur menunjukkan perhatian padanya.Tapi hatinya tetap saja masih kesal."Di sampingnya ada suaminya saja masih bisa-bisanya terpesona dengan pria lain. Zumi juga diam-diam saja. Apa dia nggak sadar tingkah istrinya seperti itu. Rasanya ingin aku olesin sambal saja matanya itu," gerutu Rose.Lalu Rose mulai bersih-bersih.Beberapa menit kemudian setelah selesai bersih-bersih, Rose langsung keluar dari kamar mandi.Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Arthur langsung menoleh ke arah kamar mandi. Ia langsung menyimpan ponselnya di atas meja.Arthur menghampiri Rose.Begitu keluar dari kamar mandi, Rose langsung masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya dengan baju tidur."S

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status