Share

Bab 4

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2025-09-15 19:36:06

Rose merasa tubuhnya terbakar.

Napasnya mulai tercekat, dadanya naik turun tak karuan.

Rasa panas yang tidak hanya menyiksa Rose tapi juga memunculkan rasa gairah di tubuh Rose.

“Rose.” Suara Arthur terdengar di telinga Rose.

Lengan kokohnya mengendong Rose dan membawa ke kamar mandi.

Rose merintih dipelukan Arthur.

Rose berusaha untuk tetap sadar.

Wangi tubuh Arthur menyusup ke hidung Rose yang bisa membuat Rose semakin menggila.

Pintu kamar mandi terbuka keras.

Arthur menurunkan Rose ke dalam bathub lalu memutar keran.

Air dingin memercik deras dan membanjiri tubuh Rose.

“Aaaaahhhh...” Rose berdesah.

Tubuhnya semakin bergetar hebat.

Air sedingin es itu yang menguyur tubuh Rose tidak menghilangkan rasa panas, tapi justru membuat rasa panas itu semakin liar.

Arthur menekuk lututnya, kedua tangannya menahan bahu Rose agar tetap dibawah guyuran air.

“Bertahanlah, Rose. Kamu harus bisa melawan rasa itu. Air dingin ini akan membantu kamu,” ucap Arthur.

"Masih panas, Papa. Aaaaahhh. Aku gak kuat." Tanpa Rose sadari, desahan Rose tiba-tiba keluar.

Rose menggigil, giginya bergemeletuk.

Namun, di sela gemetar itu gejolak lain menguasai tubuhnya.

Rasa panas dibadannya membakar seluruh tubuhnya dan menaikkan api gairah.

Rose memandang wajah Arthur, garis rahangnya yang tegas serta sorot matanya yang penuh rasa khawatir justru memperparah keinginannya ingin di sentuh.

“Papa, tolong aku.” Tangan Rose meraih wajah Arthur.

Tatapan Rose semakin sayu.

Arthur tahu apa yang diinginkan Rose saat ini. “Rose, jangan.” Arthur menggeleng sambil memegang pergelangan tangan Rose dan menurunkan dari pipinya. “Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang, Rose. Jangan sampai kamu menyesal. Biarkan air dingin ini yang membantu kamu menghilangkan rasa panas itu.”

Rose menatap Arthur dengan pandangan yang nyaris putus asa.

Air dingin mengalir dari rambut ke pipi bercampur dengan air mata yang tak ia ketahui kapan mulai jatuh. “Aku.... Aku tidak kuat, Papa. Panas ini menyiksaku. Papa, tolong aku. Aaaahhh.....”

Arthur menarik napas panjang, matanya menatap Rose dengan iba. “Aku Papa mertua kamu, Rose. Aku bukan laki-laki yang bisa kamu gunakan untuk-”

Rose tidak membiarkan Arthur menyelesaikan ucapannya.

Tangannya menyentuh dada Arthur yang keras di balik kemeja putih.

Suhu tubuhnya hangat sangat kontras dengan dinginnya air yang mengguyur Rose.

Sensasi itu membuat Rose semakin gemetar.

“Hanya Papa yang bisa membantu aku.” Bibir Rose bergetar saat mengucapkan kata-kata itu. “Aku butuh Papa.”

Arthur tersentak dan langsung menepis tangan Rose. “Sadar Rose! Jangan lakukan itu. Aku Papa mertuamu, Rose. Papa tidak mungkin melewati batas itu, Rose.”

Rose tertawa getir, suaranya parau bercampur rintihan. “Papa mertua? Itu hanya status, Papa. Tidak ada batas diantara kita. Aku tahu siapa Papa dan Zumi.”

Arthur menggeleng keras. “Jangan, Rose. Kamu tidak sadar apa yang kamu katakan saat ini.”

Rose mendekatkan wajahnya pada Arthur.

Bibir Rose hampir menyentuh rahang Arthur yang tegang. “Aku tahu apa yang aku mau sekarang, Papa.”

Arthur buru-buru mendorong Rose dengan pelan, seolah-olah takut menyakiti Rose.

“Rose, hentikan! Aku laki-laki normal. Justru aku laki-laki normal harus bisa menolak. Kamu istri Zumi, Rose.”

Rose tersenyum getir, air matanya mengalir di pipinya. “Aku memiliki suami tapi seperti tidak memiliki suami, Papa. Papa, tidak tahu seberapa tersiksanya aku selama ini. Hikssss..... Aku kesepian. Aku rindu suamiku. Aku rindu sentuhan itu. Tapi sekarang dia entah dimana. Aku tersiksa, Papa.” Tangis Rose pecah, semua yang dia pendam selama ini terbongkar di depan Arthur, Papa mertuanya.

Arthur memejamkan matanya, rahangnya semakin mengeras. “Rose....” suaranya hampir seperti erangan.

Rose menempelkan tubuhnya pada Arthur.

Tangannya memeluk Arthur.

Rose menempelkan bibirnya pada bibir Arthur.

Tidak ada yang bisa Rose pikirkan selain menghilangkan rasa panas dan gairah pada tubuhnya.

Arthur membuka matanya, pandangannya bergetar dan nafsu yang ditahan mati-matian.

Arthur terus memperkuat pertahanan dirinya.

Dia tidak mungkin melakukan hal keji itu walaupun Arthur akui jika ia jatuh cinta dengan Rose.

Dia laki-laki normal, melihat wanita yang ia sayang seperti itu tentu membangunkan api gairah yang selama ini terpendam.

Arthur tidak ingin menghancurkan Rose.

Rose berbisik di telinga Arthur.

“Papa hanya Papa tiri Zumi. Malam ini hanya ada aku dan Papa.” Suara lembut Rose membuat pertahanan Arthur runtuh.

Arthur meraup bibir ranum Rose dengan penuh gairah. 

Rose juga membalas ciuman Arthur dengan penuh gairah. 

Bahkan terdengar bunyi decapan antara pertarungan dua bibir yang sama-sama saling mengesap.

Lidah mereka saling bertautan.

Tangan Arthur tidak diam begitu saja.

Sejak ciuman terjadi, tangannya bergerilya di tubuh Rose.

Ciuman yang membangunkan api gairah di tubuh mereka.

“Aaahhhh....” Desahan Rose terdengar di sela ciuman mereka.

Arthur mengangkat Rose keluar dari bathub.

Tubuh Rose basah, air menetes dari rambut dan kulitnya tapi hal itu tidak menghentikan mereka.

Arthur membawa Rose ke ranjang dan meletakkan Rose dengan hati-hati sebelum nafsu mengambil alih sepenuhnya.

“Papa...” Suara Rose bergetar saat Arthur melihatnya dengan tatapan sayu.

“Sekali ini saja.”

Lalu Arthur menunduk dan mencumbu leher Rose, membuat Rose mendesah tak terkendali.

Tangan Arthur sudah mendarat di dua gunung kembar milik Rose.

Arthur membantu Rose membuka gaun yang masih menempel di tubuh Rose.

Saat gaun itu terlepas dari tubuh Rose, Arthur langsung terpana melihat tubuh indah Rose.

Dada sintal yang sangat menggoda dan menantang untuk segera Arthur eksekusi.

Semua yang ada di tubuh Rose sangat indah bagi Arthur.

Jakun Arthur sudah turun naik sejak tadi.

Ukuran Arthur yang besar ala pria atletis, semakin menonjol kuat.

Arthur berdiri untuk melepas kain yang masih menempel di tubuhnya.

Kemeja dan celana kain yang Arthur gunakan sudah terjatuh di lantai.

Hanya tersisi celana boxer yang membungkus benda purbakalanya.

Di tengah kesadarannya, Rose terpesona melihat tubuh Arthur.

Dada bidang dengan otot perut yang padat bahkan tidak ada tumpukan lemak di sana.

Arthur membuka celana boxernya sehingga tampaklah benda purbakala yang sudah mengeras sejak tadi.

Rose menelan ludah dengan susah payah, matanya tertuju pada benda purbakala milik Arthur yang besar dan berurat.

Arthur langsung naik kembali ke atas ranjang dan mengungkung Rose. “Setelah aku memulainya, aku tidak akan berhenti, Rose,” bisik Arthur di telinga Rose.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 156

    "Sayang.." Rose mengabaikan panggilan dari Arthur. Bahkan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk segera bersih-bersih.Ia sedang kesal karena tatapan Ririn yang terang-terangan menunjukkan terpesona pada Arthur.Arthur memang tidak salah, toh pria itu juga mengabaikan Ririn. Bahkan dengan sengaja Arthur menunjukkan perhatian padanya.Tapi hatinya tetap saja masih kesal."Di sampingnya ada suaminya saja masih bisa-bisanya terpesona dengan pria lain. Zumi juga diam-diam saja. Apa dia nggak sadar tingkah istrinya seperti itu. Rasanya ingin aku olesin sambal saja matanya itu," gerutu Rose.Lalu Rose mulai bersih-bersih.Beberapa menit kemudian setelah selesai bersih-bersih, Rose langsung keluar dari kamar mandi.Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Arthur langsung menoleh ke arah kamar mandi. Ia langsung menyimpan ponselnya di atas meja.Arthur menghampiri Rose.Begitu keluar dari kamar mandi, Rose langsung masuk ke walk in closet untuk mengganti bajunya dengan baju tidur."S

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 155

    Rose berdiri di depan cermin kamar, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya masih menyisakan bekas pucat, meski luka-luka itu perlahan memudar. Tangannya sempat gemetar saat ia merapikan rambut, lalu menghela napas pelan.Arthur sebenarnya sudah memintanya makan malam di kamar saja. Pria itu bahkan bersedia menemaninya, membawakan makanan, dan memastikan Rose tidak perlu bertemu siapa pun jika ia belum siap. Namun Rose menolak. Bukan karena ia merasa benar-benar baik-baik saja, melainkan karena ia sadar menghindar bukan solusi yang baik.Tidak selamanya ia bisa menghindar untuk bertemu dengan Zumi. Dan yang lebih penting ia harus bisa melawan ketakutan itu.Sepanjang sore tadi ia terus berpikir, ia harus bisa melewati ini. Lagi pula Arthur sudah mengatakan jika saat itu apa yang dilakukan oleh Zumi hanyalah acting semata demi mengelabui David, Rio dan Jessica tidak curiga dengan apa yang ia rencanakan.Selagi ada Arthur di sampingnya, ia pasti akan baik-baik saja."Aku pasti bisa,"

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 154

    Ririn yang masuk ke dalam kamar Zumi yang ada di rumah Arthur tampak takjub dengan kamar sang suami saat masih tinggal di rumah itu.Kamar ini memang bukan kamar yang ditempati oleh Rose dan Zumi saat mereka melewati malam pengantin. Ya, Zumi dan Rose berada di dalam satu kamar saat malam pengantin mereka saja. Hari kedua pernikahan Zumi dan Rose, pria itu sudah pergi meninggalkan Rose dengan alasan ada urusan bisnis ke luar negeri."Kamar ini sangat luas sekali Sayang. Nuansanya kamu banget karena dominan abu-abu. Sayang banget kamar seluas ini harus dibiarkan kosong. Andai saja kita tetap tinggal di Jakarta, kita kan bisa tinggal di rumah ini. Lagi pula rumah Papa kamu itu luas sekali. Rasanya sayang banget jika hanya Papa kamu dan Rose yang menempatinya. Walaupun aku yakin asisten rumah tangga banyak tapi kan mereka nggak masuk hitungan karena mereka hanya pekerja," ucap Ririn sambil duduk di ranjang yang ada di kamar itu.Kamar Zumi memang selalu di bersihkan walaupun pemilik kama

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 153

    Arthur turun ke bawah untuk bertemu dengan Zumi dan Ririn.Ia hanya turun sendiri tanpa Rose karena gadis itu tidak ingin bertemu dengan Zumi.Rose tidak ingin bertemu dengan Zumi bukan karena masalah perasaannya terkait masa lalu tapi rasa takut karena kejadian penculikan itu masih sangat membekas di benaknya.Arthur juga tidak ingin membuat Rose ketakutan. Lagi pula ia yakin Zumi dan Ririn tidak akan mempermasalahkan Rose yang tidak ingin bertemu dengan mereka.Arthur langsung duduk di depan Zumi dan Ririn saat ia tiba di ruang tamu. Sejak tiba di ruang tamu, ia tidak nyaman dengan tatapan Ririn. Namun ia tetap tenang untuk menjaga perasaan Zumi."Maaf harus menunggu lama," ucap Arthur."Tidak masalah, Pa.""Rose tidak bisa turun ke bawah karena dia harus banyak istirahat," ucap Arthur karena Zumi memandang ke arah tangga."Semoga dia lekas sembuh.""Aamin. Terima kasih sudah mendoakan Rose."Ririn sejak tadi terus mencuri pandang ke arah Arthur. Ia tidak menyangka jika Papa angkat

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 152

    Seperti yang disampaikan oleh Agam terkait Zumi dan istinya akan berkunjung ke rumah Arthur memang benar. Saat ini Zumi dan Ririn sudah berada di rumah Arthur.Zumi memang mengajak Ririn untuk berkunjung ke rumah Papa-nya sore ini karena tadi pagi ia mendapatkan kabar jika Papa-nya dan Rose sudah pulang dari rumah sakit.Sejak masuk ke dalam rumah, Ririn terus saja memandanga ke sekeliling rumah. Ia sangat takjub dengan dekorasi yang ada di dalam rumah."Rumah Papa kamu sangat besar, Sayang. Kenapa kamu lebih memilih tinggal di luar jika rumah ini sangat besar," bisik Ririn pada Zumi."Ini kan rumah Papa bukan rumahku, Sayang.""Berarti selama ini Rose enak dong bisa tinggal di rumah semewah ini. Biarpun dulu kamu tinggalkan tapi dia bisa menikmati semua kemewahan di dalam rumah ini. Pantas saja dia betah di sini sampai membuat Papa kamu tertarik padanya. Pasti karena dia sudah kerasan tinggal di sini. Apalagi nanti dia bakal jadi Nyonya di rumah ini. Enak banget hidupnya," ucap Ririn

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 151

    Ponsel Arthur di atas nakas berdering. Rose yang sudah bangun dari tidurnya langsung menoleh ke arah Arthur yang sama sekali tidak terganggu dengan bunyi ponselnya.Arthur terlihat sangat nyenyak, Rose tidak tega untuk membangunkan pria itu.Akhirnya ia duduk dari posisi baring lalu mengambil ponsel Arthur untuk melihat siapa yang menghubungi Arthur.Ternyata ada nama Agam yang tertera di layar ponsel Arthur."Papa.." Rose membangunkan Arthur karena ia khawatir Agam akan menyampaikan informasi penting pada sang kekasih.Dua kali Rose membangunkan Arthur namun pria itu tetap tidak bergeming."Sepertinya Papa benar-benar lelah hingga aku gerakkan lengannya saja tetap tidak bangun. Biasanya sedikit saja ada gerakan Papa pasti terbangun. Aku angkat saja kali ya telponnya, siapa tahu penting."Akhirnya Rose menerima panggilan telepon dari Agam."Hallo," ucap Rose begitu sambungan telepon terhubung."Nona, Tuan Arthur Ada? Saya ada perlu menyampaikan sesuatu dengan Tuan." Terdengar suara Ag

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status