Share

Bab 5

Author: Nabila Ara
last update Last Updated: 2025-09-25 09:49:56

“Malam ini aku milik Papa.” Suara Rose terdengar sama di sela-sela kesadarannya.

Arthur mulai menelusuri tubuh Rose, mulai dari telinga lanjut ke mata lanjut ke bibir ranum yang membuat candu untuk Arthur.

Cukup lama Arthur dan Rose berciuman.

Arthur melepaskan ciumannya pada Rose, lidah Arthur mulai terjulur pada belahan dada Rose yang sudah terlepas dari kain penutupnya.

Kedua telapak tangan Arthur menangkup sepasang bukit milik Rose dan menciumnya secara bergantian.

“Papaaaa....” Rose menarik kepala Arthur agar leluasa menempel pada dadanya.

Arthur memilin salah satu puncak bukit Rose kemudian menggunakan ibu jarinya membelai, sementara lidahnya menjilati bagian lainnya dengan gerakan memutar dan menyesap kuat.

Arthur seperti bayi besar yang sedang menikmati sumber kehidupan.

“Papaaa....” Rose semakin bergerak gelisah dibawah kungkungan Arthur.

“Sebut namuku, Rose,” erang Arthur.

“Arthur, aaaaahhhhh” desahan Rose semakin menggila karena ulah Arthur.

Arthur membuka kedua kaki Rose lebar-lebar.

Bibirnya bergerak menjilati jari-jari kaki Rose dan merayap ke atas pahanya, memberikan kecupan-kecupan kecil disertai sesapan yang membuat tubuh Rose mengejang gelisah.

Walaupun dalam kondisi setengah sadar, Rose bisa merasakan sentuhan yang diberikan oleh Arthur itu nyata.

Ia merasakan miliknya di bawah sana telah basah.

Lidah Arthur menerobos masuk ke dalam lembah basah milik Rose, menjilat, menyesap dan mengigit lembut.

Bukan hanya memberikan kenikmatan kepada Rose tetapi apa yang dilakukannya juga menghadirkan denyut nikmat yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.

Suara desahan dari bibir mungil Rose menjadikan Arthur seperti di serang oleh dorongan hasrat yang menggila.

Hati kecilnya berkata apa yang ia lakukan saat ini salah tapi hasrat yang sudah terlanjur membakarnya sehingga mematikan logikanya.

Benda purbakalanya telah menegang sempurna dan tidak mungkin lagi bisa dicegah untuk segera bertemu dengan lembahh kenikmatan Rose.

Arthur menegakkan tubuhnya, pria itu kembali mengusap kepala benda purbakalanya yang sudah siap tempur, memegangnya dan menggesekkan pada pintu gerbang lembah Rose yang sudah siap dengan ucapan selamat datang.

“Rose, aku mulai ya,” bisik Arthur.

“Iya, Papa... Ahhhh aku sudah tidak tahan Pa,” desah Rose.

Arthur menggesekkan kepala purbakalanya pada pintu lembah basah milik Rose yang membuat Rose semakin bergerak gelisah.

Arthur semakin membuka kedua kaki Rose lebar-lebar dan mendorong pinggulnya pelan, sangat pelan hingga kemudian menyentak dengan sedikit keras.

“Arthur...”

“Milikmu sangat sempit, Rose. Enaak...” erang Arthur.

Untuk pertama kalinya Arthur melampiaskan hasrat yang sudah bertahun-tahun tidak dilampiaskan setelah sang istri meninggal.

“Cepat, Arthur.” Suara rengekan manja itu semakin membakar gairah Arthur.

Gerakan pinggul Arthur yang awalnya pelan sedikit demi sedikit berubah menjadi cepat.

Arthur terus menghentakkan pinggulnya dengan cepat.

Tubuh Rose bergerak seirama dengan hentakan pinggul Arthur.

Gerakan Arthur semakin cepat, ketika ibu jari Rose memainkan puting payudara Arthur yang kecil dan keras, tubuh Arthur yang ada di atas tubuh Rose kelimpungan.

Salah satu titik sensitif yang membangkitkan libidonya dengan cepat berhasil dikuasai Rose.

“Oh... Rose... nikmat sekali,” racau Arthur sambil terus memompa tubuh Rose.

Peluh keringat membanjiri tubuh Arthur hingga terlihat seksi di mata Rose.

Rose menjerit saat tiba-tiba Arthur membalik tubuhnya dan melesakkan benda purbakalanya dari belakang.

Kedua telapak tangan Arthur menepuk bokong sintal Rose sehingga membuat Rose semakin menggila.

Lalu tangannya merayap ke depan menangkap sepasang aset Rose yang menggantung.

Suara desahan dan erangan seperti alunan musik yang memenuhi kamar Arthur.

Tubuh Rose dan Arthur menyatu dalam irama yang tak pernah Rose bayangkan selama ini.

Arthur sangat pandai membuat ia hilang kendali.

Rose tidak berhenti mendesah karena ulah Arthur.

Rose dan Arthur kembali ke gaya semula.

Arthur menghentak dan menghujam lebih dalam.

Tubuh Rose mengerjang beberapa kali.

Beberapa kali Arthur sempat memutar pinggulnya, mengeluarkan miliknya yang besar dan berurat itu, melesakkan kembali ke dalam dengan dorongan kuat hingga ledakan gairah itu menerjang dirinya.

Tiga kali hentakan kuat ia lakukan dan ditutup dengan sebuah hujaman terdalam pada titik terdalam hingga menyentuh rahim Rose disertai cairan hangat yang keluar di dalam.

Rose dan Arthur tidak hanya melakukan satu kali tapi lebih dari itu hingga mereka kelelahan dan tidur sambil berpelukan.

Sinar matahari menembus tirai kamar.

Rose membuka matanya. Tubuhnya terasa lemas.

Rose menoleh ke samping, ia melihat Arthur tidur di sisi ranjang, wajahnya tenang meski penuh dengan garis lelah.

Rose mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kamar.

Rose tahu dimana dia berada saat ini.

Ini bukan kamarnya.

Rose membuka selimut dan betapa dia terkejut saat melihat tubuhnya tidak tertutup oleh benang sehelai pun.

Saat kesadaran Rose kembali seutuhnya, seperti ditampar keras. Semua yang terjadi semalam.

Tuhan... Apa benar aku melakukannya dengan Arthur, Papa mertuaku?

Rose mendadak bangkit dari tidurnya, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Rasa marah, malu dan bingung bercampur menjadi satu.

“Papa!” teriakan Rose membuat Arthur terbangun.

Ia menoleh ke arah Rose, Arthur tahu Rose sudah mengingat apa yang mereka lakukan semalam.

“Rose, aku bisa jelaskan....”

“Jelaskan apa?” Rose menatap Arthur dengan air mata yang sudah mengalir. “Mengapa Papa lakukan itu padaku? Papa......” Rose tidak bisa meneruskan ucapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Liaintan Intan
Kamu sendiri yang minta dipuaskan
goodnovel comment avatar
Putri Fashion
dia sndri yg mnta di puaskan, rose rose
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 235

    Tolong aku, Pa.Tanpa membalas pesan itu, Arthur langsung menelpon Zumi."Kamu kenapa, Zumi?" tanya Arthur saat sambungan telepon terhubung."Pa, tolong aku untuk cek kondisi Ririn di apartemenku yang di daerah Senopati, Tadi dia ada hubungi aku jika sedang sakit, tapi dia tidak bisa pergi ke rumah sakit karena badannya sangat lemas. Aku sudah hubungi dia lagi tapi Ririn tidak menerima telponku, Pa. Aku khawatir dengan dia karena di apartemen itu dia tinggal sendirian. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mengecek kondisinya. Papa bisa tolong aku kan, Pa?" tanya Zumi. Suara pria tu tampak bergetar dan Arthur yakin karena sedang mengkhawatirkan kondisi istrinya.Arthur menghela napas. "Baiklah, Zumi. Tolong kirimkan pasword apartemen kamu. Jaga-jaga jika saat sudah sampai di depan apartemen kamu, malah nggak dibukakan oleh Ririn," ucap Arthur.Mendengar nama Ririn disebut oleh sang suami, sontak membuat Rose menegakkan tubuhnya yang tadinya sedang bersandar di bahu Arthur."Sia

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 234

    "Pa, ponsel Papa berdering terus dari tadi. Coba deh di angkat dulu, siapa tahu penting Pa," ucap Rose.Arthur yang sedang berada di dalam walk in closet untuk mengambilkan baju ganti untuk Rose, akhirnya keluar sembari membawa satu set baju rumahan untuk Rose.Mereka memang baru selesai mandi setelah jalan-jalan sore bersama Dave dan Julia.Arthur sudah selesai memakai baju kaos dengan celana pendek, ia memang meminta Rose untuk menunggu di sofa saja. Seperti yang ia bilang tadi pagi jika hari ini Arthur benar-benar ingin memanjakan Rose."Siapa yang menelpon, Sayang?" tanya Arthur sembari memberikan baju untuk Rose.Rose menggeleng karena ia memang tidak melihat ponsel Arthur. "Nggak tahu. Aku nggak lihat siapa yang menelpon. Sudah dua kali berdering itu, aku nggak enak mau angkatnya. Siapa tahu klien Papa kan," jawab Rose.Arthur tersenyum lalu ia mengecup pipi Rose. "Lain kali kamu boleh angkat kok, Sayang. Kalau kamu mau periksa ponsel aku juga nggak papa. Aku membebaskan kamu un

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 233

    "Papa, aku bosan. Kita jalan-jalan yuk. Dari tadi pagi kita di kamar saja. Apa kata Bi Arum dan yang lain, hampir sepanjang hari kita di kamar terus. Sarapan dan makan siang saja di kamar. Aku malu sama mereka, Pa." Rose merengek pada Arthur agar suaminya itu mengajaknya jalan-jalan. Tidak harus jauh, jalan-jalan santai di kompleks saja ia sudah senang. Apalagi Rose tahu jika Dave dan Julia menginap di rumah yang baru dibeli mereka. Ia juga ingin mengajak Julia untuk jalan-jalan santai di kompleks."Kita nonton film saja biar nggak bosan ya. Jalan-jalan juga bisa buat lelah, Sayang."Rose cemberut. "Sekurang-kurangnya kalau jalan-jalan itu aku bisa menggerakkan tubuhku, Pa. Sejak tadi aku lebih banyak baring. Badanku sakit semua kalau tidak bawa aktivitas. Jalan kaki nggak melelahkan kok, Pa. Lagian aku ini hanya hamil bukan sakit, Pa. Boleh ya kita jalan-jalan santai sekalian ajak Tante Julia ya, Pa. Tante Julia dan Om Dave belum kembali ke Bali kan?" tanya Rose.Arthur tersenyum m

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 232

    Pagi ini terasa berbeda dari biasanya. Pagi pertama setelah Artur dan Rose sah menjadi pasangan suami istri.Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar, menerangi ruangan yang masih dipenuhi aroma bunga dari sisa dekorasi pernikahan semalam. Di atas ranjang besar itu, Rose masih terlelap dalam pelukan hangat Arthur. Tangan pria itu melingkar protektif di pinggang sang istri, seolah tidak ingin melepaskannya sedikit pun.Arthur terbangun lebih dulu.Perlahan ia membuka matanya, menatap wajah Rose yang masih tertidur dengan damai di pelukannya. Bibir Arthur tersenyum tipis. Ada rasa hangat yang memenuhi dadanya. Rasa yang belum pernah ia rasakan sekuat ini sebelumnya.“Istriku…” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.Tangannya bergerak lembut, menyibakkan rambut Rose yang menutupi sebagian wajah gadis itu. Ia mengecup kening Rose dengan penuh kasih, lalu tanpa sadar mengusap perut sang istri dengan sangat hati-hati.“Selamat pagi, kesayangan Papa…” gumamnya lembut.

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 231

    Arthur baring di samping Rose, lalu ia membawa sang istri dalam pelukannya."Kamu bahagia hari ini, Sayang?" tanya Arthur.Rose mengangguk. Saat ia mendongak untuk menatap sang suami, Arthur mencium bibirnya. "Bahagia banget. Papa benar-benar mengabulkan semua keinginanku. Intimate wedding dan hanya dihadiri oleh orang-orang yang dekat denganku dan juga Papa. Terima kasih banyak ya, Pa. Aku tidak akan bosan-bosan mengucapkan terima kasih sama Papa. Jika tidak bersama Papa, mungkin aku tidak akan mendapatkan kebahagian yang luar biasa seperti ini. Kadang aku pernah berpikir jika semua ini mimpi sampai aku berharap tidak terbangun dari mimpi ini. Setelah semua sakit yang aku alami, aku sama sekali tidak berekspektasi akan mendapatkan kebahagiaan yang sangat besar, Pa."Arthur mengusap punggung sang istri dengan lembut. "Kamu tidak sedang mimpi, Sayang. Kebahagiaan ini nyata. Kamu sangat pantas untuk mendapatkannya. Ini hadiah dari Tuhan karena selama ini kamu sudah sabar, Sayang. Kamu h

  • Sentuhan Panas Papa Mertua   Bab 230

    Acara perayaan pernikahan Arthur dan Rose sudah selesai. Para tamu undangan sudah pulang satu jam yang lalu.Tim dekor sudah mulai melepaskan dekorasi tempat pernikahan Arthur dan Rose tadi. Begitu juga dengan tim catering yang sudah mulai berkemas.Para asisten rumah tangga juga ikut membantu.Arthur dan Rose sudah masuk ke kamar karena Arthur meminta Rose untuk segera istirahat. Sejak mereka selesai melaksanakan ijab qobul, Rose memang lebih banyak berdiri karena bercengkrama dengan para tamu undangan dan asisten rumah tangga. Arthur yang sangat mengkhawatirkan kondisi sang istri, akhirnya memaksa Rose untuk istirahat.Belum lagi gaun pengantin yang Rose gunakan pasti berat, Arthur tidak ingin Rose kelelahan."Aku bantu lepas gaun pengantinnya ya, Sayang." Arthur yang sudah berdiri di belakang Rose langsung membuka risleting gaun pengantin Rose."Makasih, Papa." Rose menatap Arthur lewat pantulan cermin. Mereka memang berdiri di dekat meja rias Rose. Tidak membutuhkan waktu yang la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status