Mag-log inBisik-bisik dan lirikan penuh rasa ingin tahu bertebaran di dalam ballroom yang dipenuhi Cahaya lampu kristal.
Setiap langkah Arthur dan Rose terasa menjadi pusat perhatian.
Rose menundukkan pandangannya, jemarinya meremas gaun halus yang ia kenakan.
Jantungnya berdebar terlalu cepat, seolah ikut bersaing dengan denting gelas para tamu.
“Jangan menunduk, Rose,” bisik Arthur, suaranya berat dan penuh wibawa tepat di telinga Rose. Hangat napasnya menyentuh kulit tipis dilehernya. “Percayalah pada dirimu sendiri. Kamu cantik, lebih dari cukup untuk berdiri di sisiku.”
Rose menelan ludah.
Tatapan mata Arthur yang singkat saja membuat dadanya sesak.
Ia mengangkat wajahnya, mencoba menegakkan diri.
Arthur lalu memeluk sahabatnya, Dave, sambil menyodorkan paper bag berisi hadiah. “Selamat ulang tahun, bro.”
Dave tertawa lalu menepuk bahu Arthur. “Hadiah lagi? Arthur, kamu ini terlalu repot. Kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup.”
Di sisi Dave, Julia memandangi Rose dengan tatapan penasaran. “Arthur, siapa gadis cantik ini?”
Dave menyelutuk dengan nada menggoda, ia menaik-turunkan alisnya. “Duda tampan akhirnya mengandeng seorang wanita juga. Wah, ini kabar baik.”
Arthur hanya tertawa, lalu ia merangkul pinggang Rose dengan erat. “Kalian lupa? Ini Rose, menantuku. Istrinya Zumi.”
Rose tersenyum kaku, lalu bersalaman dengan sopan. “Selamat ulang tahun, Om Dave.”
Dave mendekat dan berbisik di telingan Arthur, “Jujur saja, kalian tampak seperti pasangan sungguhan.”
Arthur hanya tersenyum tipis tapi dalam hati ia mengakui malam ini Rose terlihat menawan.
Arthur dan Rose menuju stand makanan, ketika suara seorang wanita memanggil dan lantang menusuk telinga.
“Arthur....”
Keduanya menoleh.
Dari arah kerumunan, seorang wanita melangkah anggun.
Gaunnya berkilau dan tatapannya penuh percaya diri.
Jessica, masa lalu yang selalu ingin dilupakan oleh Arthur.
Wajah Arthur langsung mengeras.
Dalam sekejap, kenangan kelam menyeruak.
Malam di hotel ketika Jessica menjebaknya dengan obat perangsang, hampir membuatnya hancur karena skandal.
Jessica menyiapkan fotografer bayaran untuk masuk kamar.
Kalau Ken tidak datang tepat waktu, mungkin foto Arthur yang setengah sadar bersama Jessica sudah tersebar di media.
Hari-hari ketika mendiang istrinya masih hidup, Jessica nekat mengirimkan pesan-pesan cabul.
Bahkan pernah menelepon istrinya Arthur secara langsung dan menyebut dirinya sebagai “wanita yang lebih tahu kebutuhan Arthur.” Malam itu, Arthur masih ingat jelas suara istrinya yang menangis diam-diam di dapur. Luka itu meninggalkan bekas tak terhapuskan.
Dan yang paling memuakkan, Jessica pernah memalsukan kontrak bisnis, membuat Arthur nyaris kehilangan investor besar.
Sejak saat itu, Arthur tidak hanya membencinya sebagai wanita, tetapi juga memandangnya sebagai pengkianat.
Setiap melihat Jessica, yang Arthur rasakan hanyalah jijik, marah dan rasa bersalah pada mendiang istrinya.
“Sudah lama kita tidak bertemu,” ucap Jessica dengan senyum manis tapi matanya menyalakan api sinis saat menatap Rose.
“Sudah lama, Jess,” jawab Arthur dingin, suaranya sedingin baja.
Jessica mendengus kecil. “Kamu tetap dingin padaku, Arthur. Ternyata sekarang kamu lebih suka daun muda, ya?” Tatapan melirik Rose dari kepala sampai kaki seola Rose tidak layak berada di samping Arthur.
Arthur mengeraskan rahang. “Selera hidupku bukan urusanmu.”
Rose hanya menahan napas, menunduk sekilas.
Jessica mendekat sedikit, seolah ingin mencium aroma parfume Rose lalu berbisik cukup keras untuk di dengar. “Wangi murah.”
Arthur mengepalkan tangan dan rahangnya mengeras.
Jessica menautkan lengannya ke lengan Arthur dengan seenaknya, lalu tertawa sinis. “Arthur, kamu ingat dulu... Kalau saja aku mau buka mulut, mungkin sekaranf reputasimu sudah hancur. Tapi lihat, aku masih menyimpan rahasia itu untukmu. Harusnya kamu berterima kasih.”
Arthur segara menepis tangannya dan meraih Rose lebih dekat. “Jangan pernah sentuh aku lagi, Jess. Seharusnya kamu cukup tahu diri dan jangan lupa bercermin. Kamu bersyukur aku tidak membuatmu hancur,” ucap Arthur dengan tegas.
Tatapan Jessica beralih ke Rose. “Kamu beruntung bisa ada di sisinya. Tapi percayalah, Arthur lebih cocok dengan wanita yang berpengalaman....sepertiku.”
Rose menahan napas, merasakan darahnya mendidih tapi Arthur segera menariknya menjauh dari Jessica.
Jessica mengepalkan tangan, bibirnya bergetar menahan amarah. “Arthur, malam ini kamu akan jadi milikku,” gumamnya dengan senyum licik.
Pesta berlanjut, musik dan tawa bercampur dalam keramaian.
Namun di balik meja-meja penuh gelas kristal, Jessica bersekongkol dengan seorang pelayan.
Sebuah plastik putih kecil berpindah tangan. “Masukkan ke cocktail itu,” bisiknya. “Bawa ke meja Arthur.”
Pelayan itu ragu sejenak tapi tatapan tajam Jessica membuatnya tak berani membantah.
Tak Lama kemudian, gelas cocktail berisi obat itu mendarat di meja Arthur.
Dari kejauhan, Jessica menyeringai puas.
Arthur pamit sebentar ke toilet.
Rose duduk sendiri, merasa haus. Ia mencari pelayan, tapi tak ada.
Lalu matanya menangkap gelas di depan kursi Arthur.
Tanpa pikir panjang, ia meraihnya dan meneguk habis.
Beberapa menit kemudian, Arthur kembali.
Ia menatap kaget ketik melihat Rose memegangi kepalanya dan wajahnya pucat.
“Rose? Kamu kenapa?”
“Papa, kepalaku pusing. Badanku panas sekali,” lirih Rose.
Arthur meraih gelas kosong di meja. B
egitu mencium sisa aromanya, wajahnya langsung berubah tegang. “Damn! Ini.....” Tangannya gemetar, rahangnya menegang penuh amarah.
Arthur segera menyambar tas Rose, lalu mengangkat tubuhnya yang mulai lemas. “Kita pulang sekarang.”
Mobil melaju kencang menembus jalanan malam.
Di dalam mobil, Rose menggeliat gelisah, tubuhnya basah oleh keringat. “Papa, AC mobil rusak? Kenapa panas sekali?” Tangannya mengibas wajah dan napasnya memburu.
“AC sudah maksimal, Rose. Kamu tahan sedikit lagi. Kita hampir sampai di rumah.” Arthur menggenggam setir dengan kuat, urat-urat tangannya menegang.
Sesekali Arthur melirik Rose yang tubuhnya bergetar. Dadanya sesak, ketakutan bercampur amarah memenuhi benaknya.
"Damn!! Siapa yang melakukan ini.”
Begitu mobil memasuki halaman rumah, Arthur langsung turun dan mengendong Rose yang tubuhnya terasa panas bagai bara.
Arthur membawa Rose ke kamarnya sendiri.
Entahlah apa yang dibenak Arthur padahal kamar Rose berada di lantai yang sama dengannya.
Arthur membaringkan Rose di atas ranjang.
Rose terus menggeliat, matanya berair dan bibirnya bergetar.
“Panah...” lirihnya.
Arthur mengepalkan tangan, wajahnya penuh amarah.” Damn! Seberapa besar dosis yang mereka masukkan?” Arthur tahu apa yang di minum oleh Rose.
Ada orang yang ingin menjebaknya dengan obat laknat itu.
Dan sialnya Rose salah minum sehingga Rose yang mengalami efek dari obat laknat itu.
Rose meraih lengan Arthur, matanya berkaca-kaca.
“Papa, tolong aku.”
Arthur tertegun.
Pandangannya kabur oleh dilema yang menghantam dengan keras.
Hatinya berperang antara rasa ingin melindungi Rose, tapi di sisi lain, tubuh Rose yang berada di bawah pengaruh obat itu membuat pikirannya goyah.
Apa dia harus memanfaatkan keadaan ini atau menahan diri?
Pelipisnya berdenyut, jemarinya menggenggam seprai hingga berkerut. “Aku harus bagaimana?” bisiknya pada diri sendiri.
Di antara rasa bersalah, malah dan dorongan yang tidak bisa ia kendalikan.
"Pa, bangun." Rose langsung membangunkan suaminya karena saat ini ia menginginkan sesuatu yang tidak bisa ia tunda lagi.Arthur yang mendengar suara istrinya, langsung membuka matanya."Ada apa, Sayang." Suara pria itu serak khas orang bangun tidur."Bangun dulu," ucap Rose.Arthur mengucek matanya sebentar lalu ia pun bangun dari tidurnya. Pria itu duduk di samping Rose."Kenapa, Sayang?" tanya Arthur yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya. Ia tatap bare face istrinya, meski baru bangun tidur, Rose tetap terlihat cantik paripurna. Apalagi semenjak hamil, aura kecantikan istrinya semakin naik berkali-kali lipat.Sejak awal, Arthur lebih menyukai bare face istrinya. Meski mau kondisi apapun, ia tetap menyukai kecantikan Rose."Mau makan cendol," ucap Rose."Cendol?" tanya Arthur dan Rose langsung mengangguk.Semalam ia mimpi melihat suaminya membawa cendol saat pulang ke rumah. Dan saat ia makan cendol itu rasanya sangat enak. Alhasil, saat bangun tidur tadi ia langsung menginginkan
"Hmmmm.... eegghhh...."Tidur Alana terganggu saat ia merasa ada benda kenyal sedang menyentuh wajahnya.Begitu ia membuka mata, Ken langsung menghujani wajahnya dengan ciuman."Bangun dulu, Sayang. Sudah jam lima pagi, kamu mandi dulu. Ayo kita melaksanakan kewajiban kita dulu, setelah itu kalau masih mengantuk kamu lanjut tidur," ucap Ken."Masih mengantuk, Ken. Badanku rasanya sakit semua. Kayak habis digebukin satu RT. Kamu sih semalam kayak orang maniak, nggak mau berhenti. Ini saja baru satu jam tidurnya," gerutu Alana.Gadis itu bahkan belum sadar jika saat ini selimutnya tersingkap sehingga sepasang bukit kembar miliknya terlihat jelas oleh Ken. Tampak jakun pria itu naik turun namun sekuat tenaga Ken menahan dirinya untuk tidak menyerang Alana lagi karena mereka harus segera mandi dan menjalankan kewajiban sebagai manusia kepada sang pemilik kehidupan."Ayo mandi dulu, Sayang. Kita mandi bersama agar menghemat waktu," ucap Ken.Alana langsung menggeleng karena di benaknya ti
Tangan Alana menggapai-gapai hingga ia menemukan remote untuk mengatur suhu udara di ruangan kamar mewah itu."Sudah di atur di suhu terendah, Sayang. Panas ya?" tanya Ken saat melihat istrinya yang ingin menurunkan suhu AC.Alana mengangguk.Panas yang tercipta dari aktivitas AH dan OH yang mereka lakukan tadi ternyata sama-sama mengalirkan keringat yang berlebih pada tubuh keduanya, hingga rasanya Alana ingin berendam air dingin saat ini juga.Berada di dalam pelukan suaminya, Alana merasakan damai dan nyaman pada perasaannya.Seumur hidup untuk pertama kalinya ia merasa diinginkan begitu berlebih oleh seorang pria yang sanggup memberikan perlindungan untuknya, baik jiwa dan raga pria itu tanpa rasa takut dan was-was. Bersama pria yang sedang memeluknya ini, Alana memiliki keluarga kembali setelah kedua orang tuanya kembali pada sang pemilik kehidupan."Ken, tubuhku sangat lengket. Rasanya ingin mandi saat ini. Kamu nggak ingin mandi? Ayo mandi dulu agar kita bisa tidur dengan nyam
Ken menatap lekat mata istrinya yang masih larut dalam kubangan gairah.Sedikit mengangkat pinggul istrinya, Ken menuntun jaguarnya kembali menerobos lembah kenikmatan milik Alana.Pria itu meletakkan telapak tangan Alana pada kedua bahunya.Pemandangan yang indah pada sepasang bukit kembar yang kencang dengan ukuran yang memanjakan mata membuat mata Ken kembali lapar untuk mereguk nikmatnya.Hanya beberapa menit saja karena ketegangan yang tercipta di bawah sana tidak bisa lagi dikendalikan hingga Ken mengangkat tubuh Alana.Berulang-ulang hingga gadis itu memilih untuk mengangkat tubuhnya sendiri dan melakukan manuver di atas pangkuan suaminya.Ken mengarahkan telapak tangannya pada sepasang bukit kembar istrinya yang sudah ia klaim sebagai bagian kesukaannya dan bahkan ia sudah merencanakan setiap malam harus menikmati itu sebagai nutrisinya layaknya seperti bayi. Ken semakin memegang bukit kembar milik istrinya ketika pinggul Alana mulai bergerak di atas pangkuannya.Suara desahan
Tubuh Ken kembali merunduk lalu pria itu mendorong pinggulnya perlahan-lahan hingga pria itu bisa merasakan jaguar kebanggaannya terdorong ke dalam, seperti melewati sebuah goa sempit yang menghimpit pusat hasratnya dalam kondisi primanya."Sayaaaang.... ouuhhhh...."Bibir Ken mengerang kembali ketika lagi lagi seperti ada gaya tarik begitu dahsyat yang membuat jaguar kebanggaannya itu terbenam sempurna di goa sempit milik istrinya.Bersama sentakan kuat yang dilakukan pinggulnya, tidak ada bagian dari jaguarnya yang berada di udara terbuka.Ken merengkuh kepala Alana untuk memberikan ciuman kilat di bibir ranum gadis itu yang sudah membuatnya candu.Pria itu kembali menegakkan tubuhnya, bersimpuh di hadapan Alana dengan kedua kaki gadis itu telah ia buka lebar-lebar.Dengan gerakan refleks, Alana mengangkat kedua kakinya, melingkari pinggul suaminya bersamaan dengan pinggul Ken yang mulai bergerak maju mundur."Aaaaahhh.... Keeenn...."Alana benar-benar merasakan sengatan atas geraka
Untuk beberapa saat tatapan mereka beradu. Degup jantung mereka beradu di keheningan malam.Di kamar mewah yang luas itu, Ken masih mencoba untuk menyelami perasaannya hingga akhirnya, pria itu merundukkan tubuhnya lalu mengangsurkan bibirnya pada leher Alana.Sentuhan bibir pria itu membangkitkan gelora di dada mereka. Apalagi bibir Ken sudah bergerilya, menjamah permukaan kulit Alana dengan posisi lidah yang sama aktifnya dengan bibirnya.Tangan Ken menopang punggung Alana yang melengkung ke atas saat leher gadis itu sedang di jamah oleh dirinya.Jejak-jejak cinta kembali Ken berikan. Ia mengabaikan permintaan istrinya agar tidak membuat jejak-jejak cinta di tempat yang mudah terlihat orang lain. Bagi Ken selagi ada salep ajaib, ia bebas untuk membuat jejak cinta dimana pun yang ia inginkan. Apalagi ia sangat menyukai hasil maha karyanya tercetak jelas di permukaan kulit leher istrinya yang putih.Kaki Alana di bawah sana semakin bergerak resah. Sensasi sentuhan yang diberikan Ken p
Setelah beristirahat sejenak dan menyegarkan diri, Arthur dan Rose keluar dari villa mereka. Udara Puncak yang sejuk langsung menyapa kulit, membawa aroma dedaunan basah dan angin pegunungan yang menenangkan.Rose menatap sekeliling dengan mata berbinar, jalan setapak dengan bebatuan alam, pepohona
Rose belum sempat membalas ucapan Arthur ketika suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.Tokk.... Tokk.... Tokk.....Rose langsung berdiri tegak dan mundur setengah langkah dengan wajah yang langsung berubah panik. Arthur hanya tersenyum kecil melihat ekspresi lucu itu.“Masuk,” ucap Arthur, kembal
PRAAANG!!!Rose dan Bi Arum sontak saling pandang saat mendengar bunyi nyaring terdengar dari lantai satu."Apa itu, Bi?" tanya Rose sambil memegang dadanya karena ia terkejut."Ayo kita lihat ke bawah, Non."Bi Arum langsung mengajak Rose untuk melihat ke lantai satu. Mereka pun keluar kamar Rose
Tokk.... Tokk.... Tokkk...Arthur yang baru keluar dari kamar mandi langsung menoleh ke arah pintu kamarnya karena terdengar ketukan pintu.Ia pun langsung berjalan menuju pintu dan langsung membuka pintu kamarnya.Begitu pintu kamar terbuka, Arthur langsung terpaku dengan pemandangan di depannya.







