Share

Bab 15

Penulis: Mommy_Ar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-21 08:37:15

Ara menyeret koper kecilnya di trotoar, langkahnya gontai, tubuhnya terasa lemah. Malam itu angin berhembus dingin, membuat rambutnya sedikit berantakan.

Di wajahnya masih terlihat bekas air mata yang belum lama kering. Sesekali ia mengusap hidungnya yang terasa perih, khawatir darahnya kembali mengalir.

Ketika ia hendak mengangkat tangan untuk menghentikan taksi, sebuah mobil berhenti mendadak tepat di depannya. Cahaya lampu mobil menyorot wajahnya, membuat Ara refleks menyipitkan mata.

“Ara,” suara bariton itu terdengar jelas.Ara tertegun, menoleh.

“Aga?” suaranya parau, nyaris berbisik.

Jendela mobil terbuka, menampakkan wajah Aga yang penuh keheranan sekaligus khawatir. “Kamu mau kemana?”

Ara menarik napas panjang, mencoba tersenyum meski bibirnya bergetar. “Bisa anterin aku ke hotel gak?”

“Hotel?” kening Aga mengernyit dalam. Ia menoleh ke arah koper yang digenggam Ara.

Ara hanya mengangguk pelan.

Aga mendesah, lalu membuka pintu mobil. “M
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
puspa Andriati
Untung saja ketemu dengan Aga, kalau tidak ketemu aga apa jadinya ara??.. Berceritalah kamu sama aga, spy bebanmu tidak berat dan sakitmu bisa hilang ara..
goodnovel comment avatar
enur .
lagi2 Aga datang di saat yang tepat ,, di saat Ara butuh sandaran, butuh seseorang untung menguat kan mental ny ,, Aga datang bagai pahlawan ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 44

    ‘’Aaahh!’’ Ciuman mereka semakin membara. Ara tak lagi menahan diri ia tahu rasa bersalah, marah, dan kecewanya hanya bisa luluh ketika bersama Aga. Tangannya menarik kemeja Aga, meremas kuat seakan ingin memastikan pria itu benar-benar nyata.Aga mengangkat tubuh Ara, membawanya perlahan ke kamar. Tanpa melepaskan bibir dari milik Ara, ia merebahkan gadis itu di atas ranjang. Pandangan mereka bertemu, saling bicara tanpa kata."Aku butuh kamu, Ga…" suara Ara bergetar, tapi matanya penuh keyakinan.Aga mengusap pipinya lembut, "Aku selalu ada buat kamu, sayang. Malam ini, biar aku yang sembuhin semua sakit kamu."Ara mengangguk kecil, lalu menarik wajah Aga kembali. Tak ada lagi keraguan. Hanya ada keinginan untuk saling memiliki, lagi dan lagi.Pakaian mulai terlepas satu per satu, meninggalkan desahan dan sentuhan yang semakin panas. Suasana kamar dipenuhi bisikan lirih mereka, panggilan sayang yang terus terucap di antara kecupan.Aga mencumbu le

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 43

    Aga menatap wajah Ara yang masih penuh air mata. Hatinya mencubit keras melihat gadis itu larut dalam luka yang tak seharusnya ia tanggung sendirian. Perlahan, Aga mengangkat kedua tangannya, menangkup lembut wajah Ara yang dingin karena terlalu lama basah oleh air mata."Ra… cukup, ya," bisiknya lirih, seolah suaranya saja sudah bisa jadi obat. Dengan gerakan hati-hati, ia mengusap butiran air mata yang jatuh di pipi Ara. Jempolnya menghapus perlahan, seolah tak ingin menyakiti kulit halus itu.Ara menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk. Dadanya sesak, pikirannya penuh, dan ia tak tahu lagi harus bagaimana. Tapi ketika Aga mendekat, menempelkan keningnya di dahi Ara, tubuhnya melemah."Aga…" suaranya nyaris bergetar, antara ragu dan pasrah.Aga mengecup lembut kening Ara. Satu kali… lalu dua kali. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan, melainkan doa tanpa suara yang ingin ia titipkan: agar Ara tidak lagi merasa sendirian.Ara menutup mata rapat-ra

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 42

    "Kamu lihat kan, Ga? Seberapa berharganya dia buat orang tua ku?" Gumam Ara getir, nyaris seperti bisikan yang pecah bersama isak tertahan. Tatapannya kosong menembus jendela mobil, mengikuti cahaya lampu jalanan yang berkelebat. Suara Ara bergetar, seakan-akan setiap kata yang keluar adalah serpihan luka yang menekan dadanya.Aga melirik ke arahnya. Hatinya diremas perih melihat perempuan itu, yang biasanya berdiri tegar, kini begitu rapuh. Ia meraih tangan Ara, hangatnya genggaman itu seperti usaha untuk mengingatkan, Ara tidak sendirian. "Kita pulang aja, ya?" ucap Aga lembut, suaranya rendah dan penuh kesabaran.Ara menoleh sekilas. Tatapannya samar, matanya masih sembab, wajahnya lelah. Ada rasa bingung dalam dirinya, antara ingin melawan kenyataan atau menyerah. Perlahan ia mengangguk, pasrah mengikuti alur yang Aga tentukan.Sepanjang perjalanan pulang, hening mendominasi. Hanya suara mesin mobil dan hiruk-pikuk jalan raya yang terdengar, tapi itu pun terasa jauh. Ara bersan

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 40

    Di sebuah ruangan rumah sakit yang remang dengan aroma obat-obatan, Ana duduk di atas brankar. Tangannya memeluk perut, seolah sedang menahan sakit, padahal wajahnya sama sekali tak menunjukkan penderitaan, hanya ekspresi kesal yang dibuat-buat. Seorang dokter paruh baya berdiri di hadapannya, mengenakan jas putih yang sudah sedikit kusut. Ia menghela napas berat sambil menatap catatan medis kosong yang seharusnya terisi data pasien sebenarnya. “Kenapa lagi sekarang?” tanya dokter itu dengan suara lelah, jelas-jelas sudah terbiasa dengan ulah Ana. Ana memanyunkan bibir mungilnya, memainkan jarinya di tepi brankar. “Darurat! Nanti kamu bilang aja aku kritis,” katanya ringan, seolah permintaan itu hal sepele. Dokter itu mengerutkan kening, tatapannya menajam. “Kamu yakin masih mau main drama ini? Berapa kali kamu sudah minta aku bikin rekayasa hasil tes, rekam medis palsu, laporan kritis? Kamu nggak capek

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 39

    Aga mengangguk pada salah satu pria yang membawa flashdisk. Tanpa perlu banyak kata, pria itu berjalan menuju meja kendali multimedia di sisi ruangan. Semua mata mengikuti langkahnya.“Ga! Jangan coba-coba!” Rafi berteriak, suaranya penuh panik, tak lagi sekencang tadi.Tapi terlambat.Beberapa detik kemudian, layar besar di belakang panggung yang tadinya hanya menampilkan dekorasi pesta, berubah.Tayangan pertama muncul. Foto-foto Rafi bersama Ana di sebuah restoran mewah. Tangan mereka saling menggenggam, tatapan penuh cinta.“Ya Tuhan…” beberapa tamu menutup mulut mereka.Disusul rekaman pesan singkat di layar. Suara narasi dari sistem otomatis membacakan:“Sayang, jangan lupa ketemu malam ini. Aku rindu…”Teriakan kecil terdengar dari beberapa tamu perempuan.“Apa-apaan ini!” teriak Mama Hera, wajahnya pucat pasi. Ia langsung menatap ke arah Rafi dengan sorot mata kecewa bercampur marah.Namun itu belum selesai. Tiba-tiba video diputar. Ra

  • Sentuhan Panas Sahabat Pacarku   Bab 39

    Suasana hening. Semua tamu menatap Rafi yang baru saja menampar wajah Ara. Ara tersenyum sinis sambil memegang pipinya. Sementara Aga ingin langsung membalas akan tetapi tangan nya di tahan oleh Ara. ‘’Thanks Raf!’’ ucap Ara datar. “Ara… kamu ini makin gak masuk akal. Jangan bikin orang-orang lihat sisi buruk kamu. Bukan hanya selingkuh, tapi kamu juga suka memutar balikkan fakta.’’ Ucap Raffi. Pyarrrr! Gelas wine yang ada di depan Ara terhempas ke lantai, pecah berantakan. Suara itu memantul di seluruh ruangan, membuat banyak orang tersentak. Beberapa tamu wanita menjerit kecil. “Fitnah?” suara Ara bergetar namun lantang. “Benarkah itu fitnah?’’ Ana menutup wajah dengan kedua tangannya, berpura-pura menangis tersedu. “Mama… lihat sendiri kan? Kak Ara benci sama Ana. Ana gak tahu lagi harus gimana, Ma…” Mama Indri langsung merangkul Ana, wajahnya penuh amarah bercampur bingung. “Ara! Kamu keterlaluan! Apa pantas kamu mempermalukan adikmu sendiri di depan semua orang? Ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status