LOGIN
“Ah… Kak Rafi, lebih cepat...!”
Suara desahan dan erangan yang saling bersahutan dari dalam kamar hotel itu membuat tubuh Ara mematung di depan pintu. Jantungnya berdegup cepat. Dadanya terasa sesak dan tubuhnya langsung bergetar hebat. “Oh… kamu cantik sekali, Sayang. Kamu sangat seksi!” Tangan Ara terkepal kuat mendengar suara familiar itu. Suara yang selama ini memanggil namanya penuh cinta, kini terdengar begitu menjijikkan. Brak! Begitu Ara menyentak pintu hingga terbuka, pemandangan itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. Rafi, kekasih yang sudah dijodohkan dengannya sejak kecil, sedang bersenggama mesra di atas ranjang dengan Ana—adik angkat Ara sendiri. Mata Rafi membelalak kaget, sementara Ana hanya menunduk dengan senyum tipis yang justru membuat darah Ara mendidih. “Ini yang kamu bilang nggak enak badan?” tanya Ara dengan suara getir. “A-Ara, ini nggak seperti yang kamu pikir—” Rafi tergagap, segera bangkit dan memungut pakaiannya yang tercecer di lantai. “Stop!” sela Ara sambil mundur satu langkah. Ia menggeleng sambil menahan air mata. “Aku nggak mau dengar apapun.” “Tunggu dulu, Sayang, dengerin penjelasan aku!” teriak Raffi segera mengenakan pakaiannya dan mengejar Ara. Tapi Ara tidak peduli. Ia pergi meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, hampir berlari menembus koridor hotel. Ia langsung mencegat taksi yang berhenti di lobi. “StarClub!” ucap Ara lirih namun tegas pada sopir taksi, suaranya bergetar seperti menahan sesuatu yang nyaris pecah. Di dalam taksi, Ara menatap kosong ke luar jendela. Bulir-bulir air mata jatuh tanpa ia bisa hentikan. Tangannya gemetar di pangkuan, dan napasnya berat, terputus-putus. Tadinya ia, Rafi, dan Ana menghadiri acara reuni SMA yang diadakan di hotel tersebut. Namun, di tengah acara, Rafi mengeluh tidak enak badan sehingga Ara menyarankannya untuk beristirahat di kamar. Tapi ternyata Rafi malah sibuk bermain api di belakangnya, dengan adik angkatnya sendiri! Tak butuh waktu lama, taksi itu pun tiba di sebuah club. Musik dentuman bass dari dalam terdengar hingga ke jalan, membuat dada bergetar. Ara segera turun setelah membayar, dan melangkah cepat menuju pintu masuk. Aroma parfum bercampur alkohol langsung menyergap hidungnya. Lampu-lampu stroboskop menari di udara, menyorot wajah-wajah orang yang sedang larut dalam musik dan tawa. “Vodka, yang paling kuat,” katanya singkat pada bartender. Gelas pertama ia tenggak habis dalam sekali teguk. Panas alkohol mengalir di tenggorokannya, memberi rasa perih yang entah mengapa terasa cocok dengan hatinya saat ini. “Brengsek! Bajingan! Kalian berdua jahat!” maki Ara di sela isak tangisnya. Ia memesan minuman lagi. Tangannya sedikit gemetar saat menuang. Sesekali ia mengumpat, sesekali ia hanya diam sambil menatap kosong ke arah botol-botol berderet di rak. “Ara?” “Apa?!” jawabnya ketus, suaranya serak. Ia menoleh dan mendapati seorang pria berdiri di sampingnya. “Kamu! Kamu temennya si brengsek itu, ‘kan!?” tudingnya dengan pandangan tidak fokus. “Kamu mau ngetawain aku, iya, hah?!” Namun, pria itu tampak tenang. “Lagi ada masalah sama Rafi?” tanyanya. Suara musik keras di belakang membuatnya sedikit harus membungkuk agar terdengar. “Puas kamu, hah?! Kamu puas?!” racau Ara sambil berteriak. Air mata kembali mengalir, membuat riasan di pipinya semakin berantakan. Aga—pria itu—menggelengkan kepala tidak mengerti. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. “Aku telepon Rafi sekarang.” “Enggak! Jangan!” Ara segera mencengkeram lengan kekar Aga dengan kuat. “Jangan telepon dia… jangan kasih tahu dia aku di sini…” Suaranya pecah di akhir kalimat, seperti tali yang sudah terlalu sering ditarik hingga nyaris putus. “Kamu mabuk, Ra!” suara Aga meninggi, bukan karena marah, tapi karena frustrasi melihat kondisi gadis di hadapannya. “Aku nggak mabuk!” seru Ara, menatapnya tajam walau matanya sudah berat. “Dan aku sadar… aku nggak mau sama bajingan kayak dia!” Aga menghela napas berat. Dia memandang Ara cukup lama, seolah mencoba membaca isi kepalanya yang kusut. Musik, tawa, dan denting gelas di sekitar seperti tak berarti dibanding tatapan dua pasang mata itu. “Aga…” suara Ara lebih pelan kali ini, tapi masih mengandung getir. Ia mengedipkan mata perlahan, mencoba fokus. “Kamu temannya Rafi… apa kamu juga bajingan kayak dia?” Aga mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan kesabaran yang sudah nyaris habis. “Ikut aku sekarang!” Aga langsung menarik lengan Ara. Gadis itu menolak di awal, menggumamkan kata-kata yang tak jelas, tapi akhirnya membiarkan Aga menuntunnya keluar dari klub. “Aku nggak mau pulang! Aku udah nggak punya rumah!” Aga tidak menjawab dan terus menuntun Ara menuju parkiran. “Oh, kamu mau bawa aku check in ya? Sama kayak mereka?” goda Ara sambil terkekeh. “Terserah!” cetus Aga sekadarnya. Ia membawa Ara masuk ke dalam mobil dan memasangkan seat belt. Mobil melaju menembus jalanan kota yang mulai lengang. Sepanjang perjalanan, Ara tak berhenti bicara. Kadang ia mengumpat nama Rafi, kadang ia memuji wajah Aga, kadang ia tertawa sendiri. Tapi yang paling membuat Aga tidak tenang adalah ketika Ara mulai memiringkan tubuhnya, mendekat ke kursi pengemudi. “Aga…” bisiknya, jarak wajah mereka hanya beberapa senti. “Kalau dilihat-lihat, kamu itu ternyata lebih ganteng dari Rafi…” Aga menelan ludah, matanya tetap fokus ke jalan. “Ara, duduk yang benar.” Namun, Ara justru menyentuh lengannya, jemarinya menyusuri perlahan otot di bawah kaus yang tipis. “Wah… keras banget Ga…” katanya sambil tertawa kecil. Suaranya terdengar berat… dan menggoda. “Hentikan, Ra!’’ Aga merapatkan rahangnya. Konsentrasinya buyar. Ia mencoba memusatkan perhatian ke jalan, tapi ketika tangan Ara berpindah menyentuh pahanya, ia spontan menginjak rem. “Arabella!” Ara terkekeh senang melihat Aga tampak panik. Gadis itu semakin memajukan tubuhnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. “Aga, kiss me, please?”Bandara Soekarno–Hatta sore itu terasa lebih ramai dari biasanya. Suara roda koper beradu dengan lantai, pengumuman keberangkatan yang bergema, aroma kopi dari kafe dekat gate, semuanya menyatu dalam suasana yang sibuk dan sendu. Miko dan Kayla berjalan berdampingan di antara kerumunan. Keduanya membawa koper masing-masing, ditemani Rafi dan Marsha yang terus menatap mereka seolah tak mau kehilangan sedetik pun. Kayla mengenakan hoodie abu muda dan celana jeans. Rambutnya diikat tinggi, rapi, tapi ada sedikit getaran di ujung matanya. Miko, seperti biasa, tampil tenang setidaknya di luar. Begitu mendekati tempat check-in, Marsha langsung meraih tangan Kayla. “Sayang,” suaranya bergetar halus, “Mama gak nyangka hari ini tiba dengan sangat cepat,” Kayla tersenyum kecil, tapi yang keluar justru getaran napas yang menahan tangis. “Iya, Ma… Kayla juga gak nyangka.’’ Marsha tidak tahan. Ia langsung menarik Kayla ke dala
Hari demi hari berlalu. Awalnya perlahan… lalu seperti berlari.Minggu-minggu penuh kecemasan berubah menjadi bulan-bulan yang sedikit lebih hangat. Waktu memang tidak menghapus luka, tapi setidaknya memberi ruang bagi seseorang untuk bernapas dan itulah yang terjadi pada Kayla.Setiap pagi, Miko memastikan adik kembarnya bangun dengan perlahan, tanpa terkejut. Ia selalu mengetuk pintu terlebih dahulu, menyapa dengan suara lembut.“Kay… sarapan udah siap.”Dan perlahan, Kayla mulai menjawab. Kadang lirih, kadang hanya gumaman singkat. Tapi itu sudah cukup membuat Miko tersenyum setiap pagi.Lalu datanglah hari-hari ujian nasional.Kayla belajar, bukan karena ambisi… tetapi karena Miko selalu duduk di sampingnya, memastikan ia tak kehilangan fokus atau terjebak dalam pikiran buruk.“Mik… aku takut nilainya jelek,” keluh Kayla suatu malam. Miko tersenyum sambil menepuk kepalanya.“Tenang. Kita belajar bareng. Kalau kamu jatuh, aku juga jatuh, Kay. Jadi kita harus sama-sama naik.”Dan b
“Oke… kita ke London,” katanya mantap, seolah keputusan itu sudah ditulis di batu.“Tapi!” Ia mengangkat jari telunjuknya dramatis, “Janji! Kamu harus ajarin aku. Nilai aku jangan sampai lebih rendah dari kamu!”Kayla menatap kakaknya dengan wajah yang sedikit mengendur, mata yang tadinya redup kini memantulkan sedikit cahaya.Sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil… tapi nyata.“Oke,” jawab Kayla pelan.Senyum itu membuat dada Miko seperti menghangat. Rasanya ia baru saja melihat matahari muncul di tengah musim hujan.“Nah gitu dong!” seru Miko senang. “Nanti aku bilang ke Papa soal London.”Kayla langsung menunduk sedikit, suara hatinya dipenuhi keraguan. “Emang… Papa bakal kasih izin?”“Kasih lah,” jawab Miko santai sambil menyandarkan punggung ke sandaran kursi.“Tenang aja. Papa sama Mama kayaknya malah seneng kalau kita keluar negeri berdua.”Kayla mengerutkan alis, tidak mengerti. “Kenapa?”Miko langsung menatap adiknya dengan tatapan penuh arti. “Ya… biar mereka bisa puas.”Kay
“Pa, Miko mau bicara sama Papa, ” ucap Miko tiba-tiba, suaranya serak dan lelah.Marsha yang masih sibuk mengganti baju Kayla menoleh sekilas. Wajahnya kusut, mata bengkak, tapi ia tetap berusaha tegar.“Kalian bicaralah di luar. Biar aku ganti baju Kayla dulu, sebelum masuk angin. Bajunya basah semua,” ujar Marsha lembut sambil merapikan rambut Kayla.Miko dan Rafi sama-sama mengangguk. Suasana kamar terasa berat, udara dipenuhi aroma hujan dan ketegangan.Miko sempat melirik Kayla sebelum akhirnya berjalan keluar. Mereka masuk ke ruang kerja Rafi, ruangan yang selalu rapi dan dingin, namun malam itu entah kenapa terasa sesak.Rafi duduk, bersandar pelan di kursinya. “Ada apa?” tanyanya perlahan, khawatir membaca ekspresi anak lelakinya.Miko mengambil napas panjang, menatap lantai.“Arion yang udah buat Kayla begini, Pa.”Rafi mengerutkan dahi, jelas terkejut. “Arion?”“Iya, Pa, ” Miko menyentuh tengkuknya gugup. “Ternyata Arion dan Kayla u
“Kay, Kayla dengerin aku!” Suara Miko tercekat, namun tetap tegas.Ia mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa ia tidak akan bergerak sembarangan.“Jangan bodoh! Aku mohon, jangan sakitin diri kamu, oke?”Kayla menangis semakin keras. “Aku jahat, Miko, AKU ANAK DURHAKA!!”Teriaknya meledak, membuat hujan terasa semakin bising. “Aku udah kecewain Mama sama Papa, Kecewain kamu juga, ”Bahunya bergetar hebat. “Aku, nggak bisa, aku nggak mau, aku, aku—ARRGHHH!!”Kayla memegangi kepalanya tiba-tiba. Rasa sakit menjalar mendadak, membuat tubuhnya limbung.Miko tahu itu satu-satunya kesempatan. Tanpa ragu sedetik pun, Miko menerjang ke depan.“Kayla!!” Ia menarik tubuh adiknya dengan kekuatan penuh sebelum Kayla sempat jatuh.Tubuh Kayla oleng ke belakang dan langsung terjatuh ke pelukan Miko. Keduanya ambruk ke lantai balkon yang dingin dan basah.Miko memeluk Kayla erat, hampir sampai mengguncang.“Kayla!!! Jangan tinggalin aku, Ja
Hari-hari yang terasa panjang, berat, dan penuh kecemasan.Kayla akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Luka fisiknya memang membaik pendarahan hebat itu sudah berhenti, jahitan internalnya sudah pulih perlahan. Tetapi luka di dalam hati dan benaknya, masih berdarah, masih menganga, masih menjerit setiap malam.Rumah yang dulu riuh oleh suara tawa kembar itu kini terasa sunyi. Hampa. Seperti ada sesuatu yang hilang dan belum kembali.Rafi dan Marsha sebenarnya berharap, dengan pulang ke rumah, Kayla bisa lebih tenang. Bisa merasa aman. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.Kayla semakin tenggelam dalam kesunyian.Setiap hari ia mengurung diri di kamar. Tirai jendela selalu tertutup rapat, membuat kamar itu redup sepanjang waktu. Kayla hanya duduk di sudut tempat tidurnya, menekuk lutut ke dada, memeluk dirinya sendiri seperti sedang mencoba tidak hancur berkeping-keping.Kadang Rafi dan Marsha mengetuk pintu berkali-kali, memanggil namanya







