Share

Bab 52

Author: UmiPutri
last update Last Updated: 2026-02-15 18:36:35

Hujan turun rintik-rintik di halaman rumah sederhana tempat Alex kini tinggal. Udara terasa dingin, tetapi di ruang tamu kecil itu, suasana justru hangat oleh ketegasan yang akhirnya kembali ke wajah Alex. Di hadapannya, Lohan berdiri sambil memegang map tebal—hasil kerja berbulan-bulan yang melelahkan.

“Semua sudah lengkap, Tuan,” ucap Lohan pelan namun mantap. “Bukti pemalsuan dokumen, aliran dana, rekaman percakapan, saksi internal perusahaan. Tidak ada celah.”

Alex mengangguk. Matanya tajam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 57

    Tangisan Amara pecah tanpa bisa dibendung lagi. Tubuhnya gemetar hebat, lututnya terasa lemas hingga ia hampir ambruk kalau saja sepasang tangan tidak segera memeluknya erat.“Ibu… Bayu… Bayu diambil orang, Bu…” suara Amara putus-putus, nyaris tak terdengar karena terselip isak yang menyayat.Bu Laras memeluk putrinya kuat-kuat. Dada perempuan paruh baya itu ikut naik turun menahan sesak. Air matanya jatuh satu per satu, membasahi bahu Amara. Ia tidak pernah membayangkan ujian sekejam ini akan menimpa anaknya, apalagi cucu kecil yang baru saja mulai mengisi rumah dengan tangisan dan tawa.“Sabar, Ra… sabar, Nak…” Bu Laras berusaha menenangkan, meski suaranya sendiri bergetar. “Kita cari sama-sama. Bayu pasti kembali.”“Tadi… tadi Bayu di stroller, Bu…” Amara terisak makin keras. “Aku cuma nengok sebentar ke gudang. Cuma sebentar…” Ia memukul dadanya sendiri, menahan rasa bersalah yang menghantam bertubi-tubi. “Salah aku, Bu… semua salah aku…”“Tidak, Ra. Jangan begitu,” Bu Laras mengu

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 56

    Mas… aku tidak datang untuk memohon,” suara Masitoh bergetar, tangannya refleks mengusap perutnya yang mulai membuncit. “Aku hanya ingin Mas Alex tahu satu hal. Apa pun keputusan Mas nanti, aku akan menerimanya.”Alex terdiam. Tatapannya beralih pada perut Masitoh, lalu pada Danu yang berdiri kaku di samping istrinya. Lelaki yang dulu begitu pongah itu kini tampak seperti bayangan dirinya sendiri—mata cekung, wajah kusam, bahu merosot oleh beban kesalahan.“Masitoh sedang hamil,” ujar Alex pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Dan kau…,” pandangannya menusuk Danu, “kau tahu betul apa yang sudah kau lakukan.”Danu menelan ludah. “Aku tahu, Mas. Aku tidak membela diri. Aku hanya… siap menerima apa pun.”Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan menyesakkan. Angin sore menggerakkan dedaunan di halaman kecil rumah itu, tapi dada Alex justru terasa semakin sempit. Ada amarah yang belum padam, ada luka yang belum sembuh, namun di saat yang sama, rasa kemanusiaan yang lama ia tek

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 55

    Danu membeku di tempatnya berdiri. Kata-kata Masitoh barusan masih menggema di kepalanya, seperti palu yang memukul tanpa ampun. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan. Ia menatap Masitoh dengan mata terbelalak, seolah perempuan yang berdiri di hadapannya itu bukanlah Masitoh yang selama ini ia kenal—sederhana, lembut, dan selalu menunduk.“Apa… apa maksud kamu?” suara Danu serak, nyaris tak keluar.Masitoh menghela napas panjang. Ia duduk perlahan di kursi makan, tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Wajahnya pucat, tapi sorot matanya tenang, mantap, seolah keputusan yang ia ucapkan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba.“Kamu sekarang bekerja di perusahaan papa,” ulang Masitoh, lebih pelan namun tegas. “Bukan perusahaan yang selama ini kamu pegang.”Danu mundur selangkah, punggungnya hampir menyentuh dinding. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna setiap suku kata. Perusahaan papa? Papa siapa? Selama ini Masitoh hanya bercerita tentang ayahnya sebagai orang tua yang tegas, jar

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Ban 54

    Rumah Masitoh yang biasanya terasa tenang mendadak berubah tegang sore itu. Langit mendung seolah ikut menjadi pertanda. Masitoh baru saja selesai menyeduh teh ketika suara deru mobil berhenti kasar di depan rumah. Jantungnya berdegup tidak nyaman. Belum sempat ia bertanya, pintu pagar sudah dibuka tanpa salam.Ibunya Danu melangkah masuk paling depan, wajahnya keras, sorot matanya tajam seperti hendak menelan siapa pun yang dilewatinya. Di belakangnya, ayah Danu menyusul dengan wajah masam, diikuti Salwa dan Fitri yang berbisik-bisik penuh emosi.Danu yang sedang duduk di ruang tamu langsung berdiri. “Bu… Pak… kenapa datang mendadak?” tanyanya, meski ia sudah bisa menebak alasan kedatangan mereka.Masitoh berdiri di ambang dapur, tangannya gemetar memegang nampan. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar. “Silakan duduk,” ucapnya pelan, berusaha sopan.Namun ibunya Danu sama sekali tidak menggubris. “Tidak usah basa-basi!” sentaknya. “Aku mau dengar langsung dari mulutmu, Dan

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 53

    Pagi itu, Danu baru saja tiba di kantor ketika resepsionis memanggilnya. Wajah perempuan itu tampak tegang, berbeda dari biasanya.“Pak Danu, ada surat resmi dari Pengadilan Negeri,” ucapnya sambil menyerahkan amplop cokelat tebal dengan cap merah yang mencolok.Baru melihat logo pengadilan saja, jantung Danu sudah berdetak tidak beraturan. Tangannya refleks berkeringat. Ia menerima amplop itu, melangkah cepat menuju ruang kerjanya, lalu menutup pintu rapat-rapat.Dengan napas tertahan, Danu membuka amplop itu. Matanya menyapu barisan kata demi kata. Semakin dibaca, semakin pucat wajahnya.Panggilan sebagai terlapor.Dugaan pemalsuan dokumen dan penggelapan aset perusahaan.Pelapor: Alex.“Gawat…” desis Danu lirih, hampir tak bersuara.Matanya melebar. Kepalanya terasa berdenyut. Semua yang selama ini ia kubur rapat-rapat, semua keyakinan bahwa rencananya rapi dan aman, runtuh dalam satu lembar kertas. Surat-surat palsu itu ketahuan. Pengalihan saham, akta kepemilikan, tanda tangan—se

  • Sentuhan Panas Suami Cacat    Bab 52

    Hujan turun rintik-rintik di halaman rumah sederhana tempat Alex kini tinggal. Udara terasa dingin, tetapi di ruang tamu kecil itu, suasana justru hangat oleh ketegasan yang akhirnya kembali ke wajah Alex. Di hadapannya, Lohan berdiri sambil memegang map tebal—hasil kerja berbulan-bulan yang melelahkan.“Semua sudah lengkap, Tuan,” ucap Lohan pelan namun mantap. “Bukti pemalsuan dokumen, aliran dana, rekaman percakapan, saksi internal perusahaan. Tidak ada celah.”Alex mengangguk. Matanya tajam, bukan penuh amarah, melainkan ketenangan yang lahir dari keputusan yang matang. “Hubungi pengacara. Kita laporkan Danu dan Anisa. Bukan untuk balas dendam,” katanya lirih, “tapi untuk keadilan.”Lohan segera menunduk hormat. Ia tahu, kalimat itu bukan basa-basi. Alex telah melewati fase marah, terluka, bahkan hampir putus asa. Kini, yang tersisa hanyalah prinsip: kebenaran harus berdiri.Di kamar sebelah, Amara menimang Bayu yang tertidur pulas. Ia mendengar sepintas percakapan itu, lalu terse

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status