author-banner
UmiPutri
UmiPutri
Author

Novel-novel oleh UmiPutri

Satu Miliar Untuk ART

Satu Miliar Untuk ART

Nilam, seorang ART yang belum lama bekerja di rumah majikannya yang kaya raya. Suatu hari, ketika ia sedang menggendong anak majikannya yang baru lahir, tubuhnya terlonjak kaget ketika mendengar permintaan dari majikannya. "Aku bayar satu miliar!" ucap majikan wanitanya yang merupakan seorang model. "Kamu tahu sendiri kondisi anakku? Mana mungkin aku membawa anak yang cacat dan penyakitan, tolonglah Nilam." Apakah Nilam akan menerima, atau menolak permintaan tersebut?
Baca
Chapter: Bab 70. Tamat
Dikarenakan keluarga Tuan Alex sudah terkumpul, Belda dan Mira bergegas berpamitan meninggalkan rumah sakit. Karena mereka berdua merasa tidak enak, lagian mungkin Zahrani sudah menunggu terlalu lama di salon itu. "Ternyata Nilam hatinya benar-benar mulia Belda, tidak sia-sia kamu mempercayakan Nizam sama Nilam, aku yakin Nilam akan menjadi Ibu yang baik bagi anakku," ucap Mirna dalam perjalanan menuju salon. "Iya, hatiku sekarang tenang dan lega. Apalagi melihat Nizam tadi tumbuh menjadi anak yang kuat dan sehat, aku benar-benar tenang Mira," ucap Belda."Bersyukurlah kamu, anakmu berada di lingkungan yang sangat menyayangi dirinya, kamu terus mendoakan Nizam, agar anakmu bisa berhasil sampai suatu saat nanti, dan bisa membuat kamu bangga," ucap Mira.Tak lama kemudian mobil tiba di salon, setelah memarkirkan mobil, keduanya keluar dan langsung masuk ke dalam salon. Mata Belda dan Mira terbelalak melihat perubahan pada diri Zahrani. "Masya Allah, wowwwww, ini benar Zahrani kan?"
Terakhir Diperbarui: 2025-06-10
Chapter: Bab 69
"Ngapain kamu datang ke sini Belda?" Tanya Nyonya Arimbi tiba-tiba. "Mah," panggil Nilam dengan lemah lembut, Nilam tidak ingin terjadi keributan antara Nyonya Arimbi dan Belda. "Mbak Belda datang ke sini hanya ingin ketemu dengan anaknya mah, kasihan Mbak Belda. Apalagi dia sedang sakit, tolong ya mama," ucap Nilam kembali. Belda langsung berdiri walaupun hatinya terasa rapuh berhadapan dengan mantan mertuanya. Lalu dia meraih tangan Nyonya Arimbi. Tiba-tiba air mata Belda jatuh di atas punggung tangan Nyonya Arimbi. "Bagaimana kabar nyonya?" Tanya Belda dengan penuh hormat, kan dia tidak berani memanggil Nyonya Arimbi dengan sebutan mama. "Baik," jawab Nyonya Arimbi dengan ada ketus. "Nyonya," Mira ikut mencium punggung tangan ibunya Tuan Alex.Nyonya Arimbi bukannya ikut duduk, setelah bersalaman dia lalu pergi ke ruang dapur, entah apa yang dilakukannya, karena memang sudah kebiasaan, kalau datang ke rumah Nilam, pasti Nyonya Arimbi langsung makan. Beliau selalu mengatakan,
Terakhir Diperbarui: 2025-06-10
Chapter: Bab 68
Belda melihat seorang anak kecil berlari-lari ke arah seorang wanita cantik, yang tak lain wanita itu, Nilam. Yang sudah dianggap sebagai ibu kandung oleh Nizam yang berusia 3 tahun. Ada perasaan nyeri yang menjalar di hati Belda, saat anak kandung sendiri memanggil ibu sama wanita yang bukan ibu kandungnya."Nizam," desis Belda sambil menatap nanar keduanya, mana Nizam tampak tertawa-tawa dalam pelukan Nilam."Itu Nizam sama Nilam kan?" Tanya Mira sambil menatap ke arah mereka berdua.Belda langsung menganggukan kepalanya, tak terasa air matanya menggenang di pipi, ternyata pemandangan yang ada di depannya membuat hatinya terasa perih."Ayo kita cepat ke dalam, pasti Nilam akan mengizinkan kamu bertemu dengan anaknya sendiri," ajak Mira.Mobil Mira langsung bergerak menuju pintu gerbang rumah tuan Alex. Pintu gerbang besi yang menjulang tinggi, si sopir langsung menyembunyikan klakson, tak lama yang terlihat seorang satpam berlari ke arah pintu gerbang. Yang membuka pintu gerbang l
Terakhir Diperbarui: 2025-06-10
Chapter: Bab 67
"Kenapa? Kamu kaget tentunya Mira, kamu tahu kan tadi yang membawa makanan dan minuman ke sini? Itu Zahrani namanya, Dia asisten rumahku, wajahnya cantik kan? Tubuhnya tinggi semampai, cuma anak itu tubuhnya tertutup dengan gamis lebar, aku melihat rambut dia juga sangat terlihat indah," ucap Belda."Oh, anak yang tadi rupanya ya, tapi apakah dia bersedia?" Tanya Mira. "Menurut aku pasti dia bersedia, dan aku tahu dia itu seorang pekerja keras, dia bahkan mau menjadi asisten rumah di sini, untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Dia tinggal berdua bersama ibunya, rumahnya juga tidak jauh dari sini," ucap Belda.Zahrani memang bercerita tentang kehidupan dia waktu itu. Belda ingin mengangkat derajat Zahrani, dia harus menjadi seorang foto model walaupun dengan pakaian tertutup. Karena sekarang banyak pakaian model muslimah yang sedang ngetrend."Baiklah besok aku akan menghubungi temanku, tolong dandani Zahrani sedikit ya, wajahnya kelihatan fresh, atau aku bawa ke salon saja, bia
Terakhir Diperbarui: 2025-06-10
Chapter: Bab 66
Panggilan Karin terhadap Perta, langsung bunyi tak perhatian para karyawan yang akan masuk kerja. Hampir semua para karyawan mendengar panggilan itu, mereka menautkan kedua alisnya heran. "Kok bu Karin, panggil Pak Petra dengan sebutan Mas? Ada apa di antara mereka ya?" Tanya salah seorang karyawan sambil berbisik."Jangan-jangan mereka ada hubungan spesial, tapi sudahlah kita jangan banyak bicara. Kamu tahu sendiri kan Karin itu siapa? Dia adik bos perusahaan kita, kalau kita terus saja membicarakan dirinya, bisa-bisa kita dipecat dari perusahaan ini, ayo kita masuk," ucap karyawan itu. "Mas, Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Karin, karena Karin merasa wajah Perta sedikit keruh. "Sewaktu kita pergi ke puncak, rupanya ada seseorang yang sengaja mengirimkan foto ke istriku," ucap Perta."Hah! Yang benar saja kamu bicara! Masa sih ada yang berani mengirim foto kita berdua," tukas Karin tidak percaya. Walaupun sebenarnya dalam hati Karin dia merasa bahagia, seandainya Belda tahu, te
Terakhir Diperbarui: 2025-06-10
Chapter: Bab 65
"Darimana kamu Mas?" Tanya Belda sambil menyalakan lampu ruang tengah. Belda menyipitkan matanya, karena melihat rambut Perta sepertinya habis keramas. Perta langsung terperanjat, saat melihat istrinya sudah berdiri di ruang tengah, padahal sewaktu masuk tadi, ruangan masih gelap gulita. Wajah Perta langsung terlihat pucat pasi. "Haruskah aku mengulangi kembali pertanyaanku?" Tanya Belda sambil menatap tajam ke arah suaminya. Buru-buru Perta menguasai keadaan, lalu berkata sama Belda, " aku habis ada urusan kantor dari luar, aku habis menemani si Bos untuk bertemu dengan klien, Maaf aku pulang terlambat," ucap Perta."Oh, ya? Bertemu dengan klien sampai dini hari begini? Memangnya klien itu cukup penting ya? Kenapa bertemu dengan klien, rambut kamu basah seperti itu? Habis keramas sama klien ya?" Kembali Belda menyindir suaminya. Perta seketika langsung tersentak, wajahnya terlihat tegang. Dia buru-buru menghindar dari Belda, anehnya lagi Perta masuk ke dalam kamar yang satunya, b
Terakhir Diperbarui: 2025-06-07
Rahasia Besar Suami Pemulung

Rahasia Besar Suami Pemulung

Zahra Fatimah dipaksa oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah. Itu semua dikarenakan adiknya yang sudah bertunangan akan segera menikah bulan depan. Orang tuanya sudah berusaha menjodohkannya dengan anak rekan mereka, tapi sayang Zahra menolak dan memilih untuk mencari sendiri calon suaminya. Hingga pada suatu ketika, mobil Zahra mogok dan dia meminta tolong pada sosok pemulung yang berwajah tampan, yang justru membuatnya terkejut karena meminta imbalan yang tidak terduga! Entah apa yang membuat Zahra mengiyakan pinangan dadakan Nazar, pemulung tampan tersebut. Hanya saja, banyak kejanggalan yang Zahra temukan ketika dia telah menikahi Nazar. Siapakah Nazar sebenarnya?
Baca
Chapter: Bab 167
setelah kejadian itu, Nazar kondisinya semakin membaik. Zia tidak berani lagi menampakan wajahnya di rumah Zahra, barang-barang Zia diantar ke rumah Ahmad sama Pak Karni. "besok ikut sama mas," ucap Nazar setelah makan malam. Zahra mengganggukan kepalanya, karena mulutnya sedang penuh dengan makanan. keesokan harinya Zahra terlihat sangat cantik sekali, Dia memakai gaun dengan perhiasan yang sederhana tapi terlihat Elegan. Nazar berkali-kali mencium pipi istrinya. "ayah sama ibu langsung datang ya mas," ucap Zahra saat mereka sedang dalam perjalanan menuju perusahaan. Ahmad dan Hanum diundang ke acara ulang tahun perusahaan di mana tempat Zahra dulu bekerja. ternyata perusahaan itu milik Nazar. Nazar sengaja mengundang kedua orang tua Zahra ke acara ulang tahun perusahaan itu. "ayah, bukannya perusahaan ini tempat dulu Zahra bekerja ya?" tanya Hanum sedikit heran. "iya, kenapa Kita diundang ke perusahaan ini ya?" Ahmad malah balik bertanya. "aduh Ibu juga kurang paha
Terakhir Diperbarui: 2024-09-20
Chapter: Bab 166
Zia benar-benar kesal sekali, karena selalu gagal menjebak Nazar kakak iparnya. Zia ingin memiliki Nazar dan menyingkirkan kakak sendiri. dirinya sudah bercerai dengan Dilan, karena Dilan saat ini benar-benar bangkrut, dan hidup bersama kedua orang tuanya. malah Nazar semakin terlihat lengket sama Zahra. Nazar sering memamerkan kemesraan dengan Zahra, di depan semua penghuni rumah termasuk Zia.bibir Zia selalu tersenyum sinis, melihat kemesraan antara Nazar dan Zahra. Zia semakin iri hati sama kakaknya sendiri. "mas, bolehkan aku bertemu dengan teman-teman?" tanya Zahra meminta izin sama suaminya untuk bertemu dengan Sinta dan Nita. Nazar mengganggukan kepalanya, jari-jari tangannya masih terlihat lincah dia mengetik huruf yang ada di laptop. cup.... Zahra mengecup pipi Nazar dengan mesra.jam 04.00 sore, Zahra sudah nangkring di depan kantor tempat Shinta dan Nita bekerja. rupanya Zahra sengaja menjemput temannya itu ke kantor. rencananya mereka akan pergi ke sebuah restoran sa
Terakhir Diperbarui: 2024-09-20
Chapter: Bab 165
Zia langsung berlari naik ke lantai atas, dia masih terisak menangis, Zia benar-benar seorang artis drama Korea. Zahra menghembuskan nafasnya secara kasar, adiknya sudah keterlaluan. sampai-sampai masuk ke dalam kamar pribadinya. "Maafkan Aku," ucap Zahra lalu berjalan dan masuk ke dalam kamar, diikuti Nazar dari belakang. Zahra duduk di atas tempat tidur, air matanya mengalir di pipi, matanya terpejam. hati dia sebenarnya tidak tega memarahi adiknya. tapi harus bagaimana lagi Zia benar-benar keterlaluan. mata Zahra menangkap laci meja riasnya terbuka. Nazar yang baru masuk ke dalam kamar menautkan kedua alisnya melihat Zahra berjalan ke arah meja rias. "yang, ada apa?" tanya Nazar. Zahra tidak menjawab, lalu memeriksa lagi yang sudah terbuka. mata Zahra langsung memeriksa isi laci meja rias itu. tangannya sedang memeriksa barang yang ada di laci meja itu. terdengar suara ketukan pintu kamar. "siapa?" tanya Nazar. "saya tuan," rupanya Mbok Minah yang ada di luar kamar.
Terakhir Diperbarui: 2024-09-20
Chapter: Bab 164
"saudara Fatih, Anda dinyatakan bersalah, Anda dihukum seumur hidup," hakim langsung mengetuk palu, setelah memberikan keputusan buat Fatih. Fatih terdiam saja sambil menundukkan kepalanya, dia tidak mau naik banding atau apapun. dia akan menjalani hukuman ini dengan ikhlas. percuma saja ada pengacara juga, kalau toh akhirnya dia masih tetap dihukum. Nazar dan Zahra bernapas dengan lega, karena Fatih dihukum sesuai keinginan Nazar. Fatih langsung digiring ke mobil tahanan, tidak berniat sedikitpun untuk mendekati Nazar atau Mirna yang datang bersama Pakde Seno. Lukman datang seorang seorang diri, duduk di samping Nazar, matanya terpejam saat mendengar keputusan dari hakim tadi. rasa perih dan lupa di bisa digambarkan dari ekspresi wajahnya. "ya Allah, tolong kuatkan Fatih jaga selalu anakku ya Allah, hanya itulah yang hamba bisa doakan," gumam Lukman dalam hati. Mirna langsung memeluk k Pakde Seno, hatinya merasa sakit, anak kesayangannya divonis seumur hidup di balik jeruji
Terakhir Diperbarui: 2024-09-20
Chapter: Bab 163
"dasar pelayan tidak tahu diri! kenapa harus ikut makan bersama di meja makan ini" Zia terus saja ngomel-ngomel di dalam hatinya. Nazar serta yang lainnya terlihat santai menikmati makan malam. bahkan Zahra sesekali bercanda dengan adik iparnya. selesai makan, Naima langsung masuk ke kamarnya. begitu pula dengan Nazar dan Zahra.sedangkan Zia sejak tadi sudah terlebih dahulu naik ke lantai atas, mungkin karena hatinya kesal."besok Mas mau ke kantor polisi, Mas mau lihat keadaan Fatih. katanya persidangan Fatih baru minggu depan digelar," ucap Nazar."baiklah Mas," tapi jawaban Zahra terlihat dingin. Nazar merasa ada yang sedang dipikirkan sama Zahra."Kamu kenapa sih sayang?" tanya Nazar. "mas, aku kan keluar kerja, terus bagaimana dengan hidupku?" tanya Zahra seperti orang kebingungan. Nazar kaget mendengar jawaban istrinya, karena merasa aneh di telinga Nazar. "maksud kamu apa sih sayang? ya tidak apa-apa keluar kerja juga, toh, aku masih bisa menafkahi kamu.""tapi....." waj
Terakhir Diperbarui: 2024-09-19
Chapter: Bab 162
"kenapa kak? kok malah membentak aku. Aku kan tanya dia itu siapa," tanya Zia sama Zahra. Zahra rasanya tidak punya muka lagi di depan keluarga suaminya, itu semua karena tingkah Zia yang sangat memalukan itu. "Siapa kamu sebenarnya?" tanya Zia sama Naima dengan tatapan mata menyelidiki.Sari datang sambil membawakan pesanan Naima, siomay yang sudah dikasih bumbu. "non Naima, ini siomaynya," ucap Sari sambil meletakkan piring siomay di depan Naima."terima kasih Bik Sari," ucap Naima."Kak Zahra mau?" tanya Naima, yang tidak menghiraukan pertanyaan Zia."terima kasih," jawab Zahra singkat, Karena hati Zahra masih kesal dengan tingkah Zia.Naima langsung memasukkan potongan siomay ikut dalam mulutnya. Zia menatap Naima dengan tatapan tak suka. "hei! kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku!" Zia membentak Naima, karena merasa jengkel, Naima tidak menjawab pertanyaannya. "Zia! jaga sikap kamu! kamu ingin tahu siapa dia!" malah Zahra yang terlihat emosi. "dia adik mas Nazar, pa
Terakhir Diperbarui: 2024-09-19
Sentuhan Panas Suami Cacat

Sentuhan Panas Suami Cacat

Amara dijual sama bapaknya demi hutang keluarga pada seorang rentenir, bapaknya terpaksa melakukan semua itu, untuk menyelamatkan rumahnya yang akan disita rentenir. hingga suatu hari bapaknya Amara bertemu dengan seorang pria kaya raya. dan mereka membuat perjanjian. sampai-sampai bapaknya berbohong di depan Amara, bahwa Amara akan bekerja di tempat orang kaya raya. tapi ternyata.... kenyataannya tidak sesuai apa yang ada dalam pikiran Amara.. ikuti cerita novel ini, yang banyak menguras air mata.
Baca
Chapter: bab 28
Empat bulan telah berlalu sejak hari ketika koper itu ditutup dan Tuan Alex melangkah keluar dari kamar pernikahannya bersama Anisa.Waktu berjalan, tapi tidak bagi semua orang dengan cara yang sama.Di rumah Nyonya Ambarwati, pagi itu terasa berbeda. Udara dipenuhi aroma masakan tradisional—opor, sayur lodeh, tumpeng kuning yang menjulang rapi di tengah meja panjang. Beberapa kerabat dekat dan tetangga pilihan tampak sibuk membantu, wajah-wajah mereka cerah oleh senyum dan doa.Hari itu adalah syukuran empat bulan kehamilan Amara.Amara duduk di ruang tengah, mengenakan kebaya sederhana berwarna krem pucat. Wajahnya terlihat lebih berisi, pipinya sedikit merona. Tangannya beberapa kali mengusap perutnya yang mulai membulat—gerakan refleks seorang ibu yang mulai merasakan ikatan batin dengan kehidupan kecil di dalam rahimnya.Nyonya Ambarwati berdiri tak jauh darinya, sesekali mengawasi dengan mata penuh kasih.“Kamu capek?” tanyanya lembut.Amara menggeleng. “Tidak, Ny—eh… Mama,” kat
Terakhir Diperbarui: 2026-01-13
Chapter: Bab 27
Pak Joko tidak punya siapa-siapa lagi.Setelah diusir dari rumah Bu Laras dan dipermalukan di depan warga, ia hidup menumpang dari satu tempat ke tempat lain. Uang yang pernah ia terima kini hampir habis—sebagian untuk menutup hutang lama, sebagian lagi lenyap untuk bertahan hidup.Namun yang paling menyiksanya bukan kemiskinan.Melainkan rasa bersalah.Setiap malam, wajah Bu Laras yang tegar bercampur dengan tatapan dingin Amara terus menghantuinya. Ia sadar, satu-satunya orang yang mendorongnya ke jurang ini adalah perempuan yang kini hidup nyaman di rumah megah—Anisa.Sore itu, dengan sisa harga diri yang hampir punah, Pak Joko memberanikan diri menemui Anisa di apartemen kecil yang biasa ia sewa diam-diam.Pintu terbuka.Anisa berdiri dengan pakaian rapi, wajahnya cantik seperti biasa. Namun senyumnya hilang begitu melihat siapa yang datang.“Kamu?” nada Anisa datar. “Ngapain ke sini?”Pak Joko masuk tanpa diundang. Wajahnya kusut, matanya cekung.“Hidup saya hancur,” katanya lang
Terakhir Diperbarui: 2026-01-12
Chapter: Bab 26
Fitnah itu menyebar seperti api yang disiram bensin.Awalnya hanya bisik-bisik kecil di warung kopi. Lalu berpindah ke pos ronda. Dari mulut ke mulut, cerita itu berubah bentuk—semakin kejam, semakin keji.“Katanya Bu Laras itu yang menjual anaknya sendiri.”“Iya, demi harta orang kaya.”“Pantas sekarang hidupnya enak.”“Anaknya dijadikan istri kedua. Jijik!”Bu Laras tidak tahu dari mana semua itu bermula.Ia hanya merasakan perubahan sikap orang-orang di sekitarnya. Senyum yang dulu ramah kini menghilang. Sapaan yang biasanya hangat berubah dingin. Tatapan mata penuh curiga dan jijik mengikuti setiap langkahnya.Suatu sore, saat Bu Laras pulang dari sawah dengan tubuh letih dan kaki berlumpur, ia mendapati beberapa orang sudah berkumpul di depan rumahnya.Pak RT berdiri paling depan. Wajahnya keras.“Bu Laras,” katanya lantang. “Kita perlu bicara.”Bu Laras mengangguk gugup. Alif dan Alya berdiri di belakangnya, saling menggenggam tangan.“Ini soal apa, Pak?” tanya Bu Laras pelan.P
Terakhir Diperbarui: 2026-01-11
Chapter: Bab 25
Malam semakin larut.Lampu-lampu kota berkilau seperti bintang yang jatuh ke bumi, tapi di salah satu kafe kecil yang tersembunyi di sudut jalan, cahaya justru terasa muram. Musik instrumental mengalun pelan, namun tidak mampu menutupi ketegangan dua orang yang duduk saling berhadapan di sudut ruangan.Anisa menyilangkan kaki dengan anggun. Gaun hitamnya menempel sempurna di tubuh, mempertegas aura dingin yang kini melekat padanya. Di hadapannya, Pak Joko duduk dengan gelisah, tangannya tak berhenti memainkan sendok kecil di cangkir kopi yang sudah dingin.“Katakan saja rencananya, Nyonya,” ucap Pak Joko akhirnya. “Saya orang desa, tidak suka bertele-tele.”Anisa tersenyum tipis.“Justru karena itu saya memilih Bapak,” katanya lembut, tapi matanya tajam. “Bapak terlihat polos… tapi saya tahu Bapak cerdik.”Pak Joko mendengus kecil. “Kalau memang cerdik, tentu tahu semua ada harganya.”Anisa tertawa pelan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel, lalu memutar layar ke arah Pak Joko. Di
Terakhir Diperbarui: 2026-01-11
Chapter: Bab 23
Pak Joko datang tanpa memberi kabar.Mobil sewaan yang ditumpanginya berhenti tepat di depan gerbang rumah Nyonya Ambarwati saat matahari hampir tenggelam. Pak Joko turun dengan langkah tergesa, mengenakan kemeja kusut yang belum disetrika, celana kain yang warnanya mulai pudar, dan sandal jepit yang kontras dengan lantai halaman berlapis batu alam.Ia menatap rumah besar itu dengan sorot mata campur aduk—takjub, iri, dan marah.“Ini rumahnya?” gumamnya, lalu melangkah masuk tanpa ragu, seakan tempat itu memang layak ia datangi kapan saja.Satpam sempat menghentikan, namun setelah Pak Joko menyebut nama Bu Laras dan Amara dengan suara tinggi, ART bergegas memanggil Nyonya Ambarwati.Di ruang tengah, suasana mendadak berubah.Amara yang sedang duduk bersama ibunya dan adik-adiknya langsung menegang ketika mendengar suara berat yang sangat ia kenal—suara yang membawa begitu banyak kenangan pahit.“Bu Laras!”Tubuh Bu Laras membeku. Wajahnya memucat.Amara bangkit berdiri perlahan. Tatap
Terakhir Diperbarui: 2026-01-08
Chapter: Bab 22
Kamar itu sunyi.Hanya ada dua perempuan di dalamnya—seorang ibu dan anak yang terlalu lama dipisahkan oleh keadaan, hutang, dan keputusan-keputusan pahit yang tidak pernah benar-benar mereka pahami sepenuhnya.Pintu kamar sengaja ditutup perlahan oleh Nyonya Ambarwati. Wanita itu bahkan memberi isyarat halus pada ART agar tidak mendekat. Kedua adik Amara sudah dibawa ke taman belakang, bermain bersama Nyonya Ambarwati dan salah satu ART dengan tawa kecil yang sesekali terdengar samar dari kejauhan.Waktu ini… memang milik Amara dan ibunya.Begitu pintu tertutup, Amara langsung berbalik.Tanpa kata.Tanpa ragu.Ia melangkah cepat lalu memeluk Bu Laras erat-erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan ibunya untuk kedua kali. Tubuhnya bergetar hebat, napasnya tersengal, dan air matanya tumpah begitu saja.“Ibu…” suara Amara pecah. “Ibu tahu rasanya Amara waktu itu?”Bu Laras membeku.Tangannya yang kasar karena kerja sawah terangkat perlahan, lalu membalas pelukan Amara dengan penuh
Terakhir Diperbarui: 2026-01-07
Anda juga akan menyukai
Kesempatan Kedua
Kesempatan Kedua
Romansa · DiianaN94_
119.4K Dibaca
Istri Kecil Om Dingin
Istri Kecil Om Dingin
Romansa · Saraswati_5
119.2K Dibaca
GARA-GARA SALAH KIRIM
GARA-GARA SALAH KIRIM
Romansa · Reinee
118.9K Dibaca
Suamiku Miskin Tapi Bohong
Suamiku Miskin Tapi Bohong
Romansa · Meriatih Fadilah
118.8K Dibaca
Perfect Partner
Perfect Partner
Romansa · Yuyun Batalia
118.5K Dibaca
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status