Home / Mafia / Sentuhan Panas Tuan Mafia / 5. Mendambakan Sebuah Sentuhan

Share

5. Mendambakan Sebuah Sentuhan

last update Last Updated: 2025-08-27 15:38:17

“Apa mungkin kalau Megan itu ….”

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kamarnya itu tiba-tiba membuyarkan lamunan Anne. Gadis itu mendongak cepat, dan saat itulah ia melihat pintu terbuka dari luar. Martha masuk dengan langkah berwibawa.

“Nona Anne, Tuan Leon memanggilmu. Bersiaplah!” Suara Martha terdengar tenang dan tegas.

Anne sontak menegakkan tubuhnya. Urat lehernya menegang, setengah terkejut dengan kedatangan Martha yang tiba-tiba.

“Memanggilku? Tapi untuk apa, Martha?” Kening Anne mengernyit.

“Sebaiknya kau ikut saja dan tanyakan langsung pada Tuan Leon. Sekali lagi aku peringatkan, kalau Tuan Leon itu tidak suka dibantah. Dia juga tidak suka menunggu. Jadi kalau kau masih ingin hidup, sebaiknya kau menurut saja dan lakukan perintahnya segera!” Martha memberikan penekanan pada kata-katanya.

“Baik, Martha.” Anne mengangguk singkat.

Martha berjalan lebih dulu keluar dari kamar, sedangkan Anne mengekor di belakangnya. Gadis itu berjalan tanpa ekspresi, tangannya saling meremas. Sepanjang ia berjalan, pikirannya terus berkecamuk. Ia memikirkan setiap kata-kata penekanan yang diucapkan oleh Martha.

Saat mengikuti Martha menyusuri lorong ruangan yang terasa sangat panjang, Anne menunduk, wajahnya datar, seolah-olah ia memang sudah menyerah. Namun di dalam benaknya, ia justru menghitung setiap langkah demi langkah. Setiap belokan di lorong, setiap jendela dengan tirai tipis, bahkan pintu samping yang sempat setengah terbuka, semua itu tak luput dari perhatiannya dan ia catat diam-diam di dalam pikirannya.

"Kalau suatu hari aku kabur dari sini, aku harus tahu jalan mana yang akan aku lalui," bisiknya dalam hati.

Beberapa pelayan lewat sambil membawa baki atau kain pel. Mata mereka langsung menunduk cepat begitu melihat Anne bersama Martha. Namun, Anne terus menatap secara sembunyi-sembunyi ke arah mereka. Ia memperhatikan siapa yang berjalan cepat, siapa yang terlihat gugup, serta siapa yang berani meliriknya sekilas.

Sekecil apa pun, semua itu ia simpan dalam ingatannya.

“Aku pasti akan membutuhkan semua informasi sekecil apapun di rumah ini untuk bisa kabur nanti.” Anne bergumam dalam hatinya.

Martha menoleh sekilas, memastikan bahwa Anne masih mengikutinya.

“Jangan macam-macam. Tuan tidak suka menunggu. Ayo cepat!”

Anne mengangguk dan menunduk lebih dalam.

“Aku tahu itu.”

*

Pintu besar di ruang kerja Leon pun terbuka perlahan. Begitu Anne masuk, aroma harum yang sangat mahal bercampur cerutu segera memenuhi indera penciuman. Leon duduk di kursi kulit hitam di balik meja panjang. Satu tangannya memegang gelas anggur. Ia menoleh ke arah pintu. Tatapannya langsung menusuk begitu melihat kedatangan Anne.

“Duduk!” perintahnya tanpa basa-basi.

Anne mengangguk pelan, dan duduk perlahan. Tangannya ia taruh di pangkuan, wajahnya tetap menunduk, dan hanya sesekali mencuri pandang ke arah Leon.

“Kenapa kau lama sekali?” Suara Leon terdengar menggelegar di telinga Anne.

“Maaf, Tuan, tadi ….”

“Bukankah Martha sudah bilang, kalau aku paling tidak suka menunggu lama? Jadi sebaiknya kau jangan melakukan hal-hal yang tidak aku suka, atau aku tidak segan-segan untuk melenyapkanmu.”

Anne tersentak, bahunya bergetar halus. Namun yang keluar dari bibirnya hanya kata-kata singkat.

“Baik, Tuan.”

“Hahaha, Kau cepat sekali menurut. Apa kau tidak punya kehendak sendiri? Atau kau hanya boneka yang bisa kuperintahkan sesuka hati?” Leon tertawa puas, melihat Anne benar-benar seperti boneka yang bebas ia mainkan begitu saja.

Anne semakin tersudut. Giginya bergemeretak lirih, tapi dalam hati dia justru semakin yakin untuk bermain peran lemah demi mencari celah agar bisa kabur dari tempat ini.

Leon menyandarkan punggung ke kursi, lalu mengangkat dagu tinggi. Ia meneguk anggurnya dengan sangat seksi, membiarkan jakunnya naik turun. Leon juga menjilat bibirnya sendiri, menyeka sisa anggur yang masih menempel.

“Ingat, Anne. Kau masih hidup, karena aku menginginkannya. Kalau aku tidak membelimu di aula lelang itu, mungkin sekarang kau sudah jadi budak nafsu di sana. Bahkan mungkin kau sudah diperjualbelikan sampai di luar negeri, dan kau bisa dibunuh di sana. Jadi jangan pernah lupa itu. Aku yang berjasa besar menyelamatkan hidupmu.”

Anne menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa kering. Jantungnya berdebar keras, tapi ia berusaha menahan diri agar suaranya tidak pecah.

“Apa saya sudah melakukan sesuatu yang salah, Tuan? Saya tidak mengerti kenapa saya di sini. Kenapa harus saya? Kenapa bukan orang yang kau inginkan saja?”

Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Anne lama, lalu bibirnya melengkung sinis.

“Karena kau adalah cerminan dari seseorang yang telah berdosa besar padaku. Dan aku tidak akan pernah berhenti sampai aku puas. Bukan hanya dia, tapi kau juga harus ikut merasakan akibat dari kemarahanku.”

Anne menggigit bibir. Dalam hatinya ia tahu bahwa lagi-lagi itu tentang Elle. Namun, ia masih belum mengerti kenapa Leon bisa sampai semurka itu pada Elle.

Apa dosa yang dia maksud?

Kenapa Leon tidak menangkap Elle saja, dan kenapa harus dirinya?

Suasana ruangan itu pun mulai hening. Anne menunduk makin dalam, tapi sesekali ia memperhatikan apa yang dilakukan oleh Leon. Cara Leon meletakkan gelas, posisi tangannya, dan nada suaranya yang berubah tiap kali bicara. Semuanya ia amati.

Leon tiba-tiba berdiri dan berjalan mengitari meja. Suara sepatunya menghentak lantai marmer, membuat Anne semakin menunduk. Saat Leon berhenti di belakangnya, jantungnya terasa semakin berdetak kencang.

Tiba-tiba jemari Leon menyentuh bahunya ringan, membuat Anne refleks menegang.

“Lihat aku,” ucap Leon pelan tapi menekan.

Anne mengangkat wajah dengan gemetar. Mata mereka bertemu sesaat. Tatapan Leon tajam, mencari sesuatu di dalam mata Anne. Tapi yang ia temukan hanyalah ketakutan dan kepasrahan.

Leon tersenyum miring, seolah puas.

“Begitu lebih baik.”

Tok!

Tiba-tiba saja, Leon meletakkan gelasnya keras di meja. Suara gelas beradu dengan meja, membuat tubuh Anne tersentak kaget.

“Mulai besok kau akan selalu berada di sisiku. Kau harus ikut ke mana pun aku pergi. Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa bertahan.”

“Ba … baik, Tuan.” Suara Anne bergetar.

Ia menunduk lebih rendah, berusaha menutupi napasnya yang memburu. Dari luar, ia tampak seperti gadis lemah yang hanya pasrah menerima perlakuan Leon. Akan tetapi di balik wajahnya, pikirannya berputar dengan cepat dan begitu rumit.

"Jika aku ikut ke luar, mungkin aku bisa melihat dunia di luar mansion ini. Dan itu bisa jadi celah untukku kabur dari tempat ini.”

“Walaupun aku akan mengajakmu keluar, tapi jangan pernah berpikir kalau kau bisa kabur dari sini. Kau akan dijaga ketat oleh para pengawal ku. Bahkan untuk sekedar ke toilet saja, kau akan selalu dikawal oleh mereka.” Leon menyeringai menatap Anne.

Sialan!

“Kenapa dia seperti mengetahui apa yang sedang aku pikirkan?” batin Anne terkejut.

Dengan hati-hati, Anne berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dan memberanikan diri bertanya lagi pada Leon. Suaranya bahkan terbata-bata.

“Maaf, Tuan. Kalau saya boleh tahu, apa yang sebenarnya sudah Elle lakukan padamu?”

Langkah berat Leon terdengar mendekat. Ia semakin menatap Anne dengan buas. Matanya merah menyala, dan raut wajahnya tak ramah sama sekali.

Anne masih duduk kaku di kursinya. Ia menahan napas ketika pria itu tiba di hadapannya. Leon menunduk begitu dekat, hingga hangat napasnya membelai telinga Anne.

Leon meraih dagu Anne, memaksa gadis itu untuk mendongak menatapnya. Ada rasa jijik dan takut menjalari tubuh Anne. Tapi ia juga sadar, kalau dia menolak atau melawan, maka dia bisa mati saat itu juga.

“Tanyakan itu langsung pada Elle,” bisiknya dengan suara dingin dan tajam.

“Itu pun kalau kau masih bisa menemukannya hidup-hidup.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   152. Restu dari Roberto

    Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   151. Sosok di Mansion Dominic

    “Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   150. Kembali Bersamamu

    Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   149. Jika Bukan Denganku, Bukan dengan yang Lain

    Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   148. Kembali Padanya

    Sosok yang berdiri dalam bayang-bayang itu akhirnya melangkah mundur perlahan. Lampu-lampu Heidelberg masih berkilau indah, tapi bagi Damara, pemandangan itu terasa seperti ejekan. Ia sangat muak melihatnya.Dada pria itu naik turun menahan amarah yang membakar. Tangannya mengepal semakin kuat saat melihat Leon memeluk Anne dengan erat. Ia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat ini wanita yang sejak awal ingin ia lindungi dan ingin ia lindungi, justru sedang menyandarkan tubuhnya dalam pelukan Leon, rival abadinya itu.“Jadi pada akhirnya, kau tetap memilih dia, Anne,” gumam Damara dengan suara rendah dan dingin.Matanya memerah, bukan hanya karena luka, tapi karena ego yang terinjak. Ia bukan pria yang terbiasa kalah. Terlebih kalah dari Leon, musuh yang selama ini selalu berusaha keras ia kalahkan dengan cara halus.“Aku sudah memberimu ruang,” lanjutnya lirih, senyum tipis berbahaya terukir di bibirnya.“Dan aku juga sudah membiarkanmu untuk mengambil keputusanmu sendiri

  • Sentuhan Panas Tuan Mafia   147. Satu Kesempatan Lagi

    “Lepaskan aku, Leon! Aku bukan milikmu.” Anne berontak dan berusaha berpaling untuk pergi dari Leon, tetapi pria itu dengan cepat menahan tangan Anne dan menariknya ke dalam pelukannya.“Tidak, Sayang. Sampai kapan pun, kau adalah milikku. Kau masih istriku, selamanya." Leon mendekap tubuh Anne semakin erat.Kedua tangannya melingkar di pinggang Anne, dagunya ia letakkan di puncak kepala Anne, dan sesekali Leon mengecup kepala wanita yang sangat dicintainya itu.Anne berontak, tapi ia tak bisa lepas. Ia tak punya pilihan lain, selain hanya diam beberapa saat dan merasakan pelukan Leon yang sebenarnya selama ini sangat dia rindukan.Malam di Heidelberg itu terasa begitu sunyi, seolah dunia sengaja menahan napas hanya untuk mereka berdua. Angin dingin menyapu pelan, membawa aroma sungai dan semerbak dedaunan. Cahaya kota tua berkilau di kejauhan, sementara Anne dan Leon terdiam dengan posisi saling berpelukan.“Leon, lepaskan aku! Jangan seperti ini!" Anne berusaha mendorong dada Leon.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status