Masuk“Kau? Kenapa di sini?”Anne masih terpaku. Wanita di hadapannya benar-benar seperti bercermin. Wajah itu sama persis dengannya, hanya saja dipenuhi luka. Ada bekas sayatan di pipi, lebam di bawah mata, dan bibir pecah yang belum sembuh sempurna.“Oh, Anne, ternyata kau masih ingat aku ya?” Wanita itu menyeringai mengerikan.“Elle,” suara Anne gemetar.Elle tersenyum miring. Senyumnya dingin dan penuh kebencian.“Akhirnya kita bertemu lagi, adikku,” ucap Elle dengan suara serak.“Kau terlihat baik-baik saja, Anne. Tidak seperti aku yang menyedihkan ini.” Elle menatap dirinya sendiri. Matanya menatap tajam pada Anne dan ia maju selangkah.“Elle, kau … kau mau apa di sini?” Anne mundur satu langkah refleks. Ingatannya langsung kembali pada kekacauan yang dulu terjadi karena wanita ini.“Kau seharusnya masih dipenjara,” ucap Anne pelan dan waspada.Elle tertawa pendek. “Dipenjara?” Ia mendengus. “Leon mengurungku di bawah tanah. Aku disiksa, dipukul, diikat dan hidup tanpa cahaya, tanpa w
Tawa Leon pecah pelan setelah pertanyaannya meluncur begitu saja.“Jadi, kapan kalian akan melamar mereka?” ulangnya santai, seolah sedang menanyakan cuaca.Adrian dan Jonathan langsung kikuk hampir bersamaan.“Aku … eh, Bos, ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.” Adrian berdeham, wajahnya tampak memerah samar.Jonathan pun ikut mengangguk cepat. “Itu benar, Bos. Kita … kita kan masih harus fokus kerja.”Leon menyeringai kecil. Ia menatap dua tangan kanannya itu dengan sorot mata yang penuh selidik, lalu menggeleng pelan.“Kalian ini lucu,” ucapnya. “Kalian lebih berani menghadapi peluru daripada menghadapi perasaan sendiri.”Adrian dan Jonathan sama-sama terdiam. Megan yang berdiri tak jauh dari mereka hanya melirik sekilas, lalu kembali bersikap seolah tidak mendengar apa pun. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ujung telinganya tampak memerah. Sebab ia samar-samar mendengar pembicaraan ketiga laki-laki itu.Leon tidak melanjutkan godaannya. Ia mengangkat bahu santai, lalu
Langkah Anne pun sontak terhenti seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak ketika sosok pria paruh baya itu berdiri tegak di hadapannya, dengan aura dingin dan tatapan yang sama seperti yang selalu ia ingat.Roberto Dominic, ayah angkatnya Leon.Pria yang selama ini menjadi bayang-bayang ketakutannya. Pria yang selama ini bahkan tak pernah menyukai keberadaannya. Pria yang pernah terang-terangan mengatakan bahwa Anne tidak pantas hidup di dunia mereka, hanya karena ia adalah anak dari Antonio, rival abadinya.“Kau …?”Tubuh Anne mendadak gemetar. Ia refleks mundur satu langkah. Napasnya tercekat, dan wajahnya seketika memucat. Semua kenangan buruk itu kembali menyeruak. Ancaman terselubung, tatapan membunuh, dan kebencian yang tak pernah disembunyikan Roberto padanya.Namun sebelum Anne benar-benar menjauh, sebuah tangan dengan kuat menahan lengannya. Lengan kekar Leon.Anne menoleh pelan. Ia seolah tak ingat jika Leon masih berdiri di sampingnya. Pria itu menggenggam lengan Anne
“Mau bicara apa?” tanya Megan dengan cuek, bahkan tanpa menoleh sedikit pun kepada Adrian.Adrian menghela napas panjang, seolah sedang mengumpulkan seluruh keberaniannya. Tangannya mengepal di atas paha, lalu mengendur lagi. Ia menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum akhirnya kembali menoleh ke arah Megan.“Mmm, Megan,” panggilnya lagi, kali ini suaranya terdengar lebih pelan.Megan melepas satu sisi earphone-nya dengan kasar. Ia lalu menoleh ke arah Adrian dengan setengah malas.“Ada apa, Adrian? Kalau soal Anne, dia pasti akan baik-baik saja bersama Leon.”Namun, bukan itu yang ingin Adrian bicarakan. Pria itu menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, jauh lebih cepat dibandingkan saat ia harus menghabisi musuh bosnya.“Aku tahu,” katanya singkat. “Aku hanya … hanya kepikiran satu hal.”Megan mengernyit tipis. “Soal apa?”Adrian terdiam terlalu lama. Keheningan di antara mereka menjadi kaku, dan hanya diisi dengung mesin jet. Hingga akhirnya ia memberanika
Pagi itu, rumah nenek Anne masih diselimuti suasana yang menegangkan. Sinar matahari musim gugur menembus jendela, tapi tidak sepenuhnya mampu menghangatkan hati orang-orang di dalamnya.Sejak kejadian tadi malam, suasana di rumah besar sedikit lebih mencekam daripada sebelumnya. Apalagi karena kini, pagi ini, Leon sudah bertamu bersama dengan Adrian.Pagi ini Leon sudah berdiri di ruang tamu rumah itu dengan sikap tenang, meski sorot matanya menunjukkan tekad yang bulat dan membara. Anne berdiri di sebelahnya. Tangan kiri Leon menggenggam jemari Anne, seolah takut wanita itu akan menghilang lagi jika ia lengah sesaat.Di sana, Valerie duduk bersebelahan dengan kakek dan nenek Anne. Megan berdiri di sebelahnya. Sesekali matanya bertatapan dengan Adrian yang tampak beberapa kali mencuri pandang ke arahnya.“Jadi apa yang kau inginkan sekarang?" tanya Valerie dengan nada dingin dan datar, matanya seolah enggan menatap Leon."Ma, hari ini aku ingin meminta izin. Aku ingin membawa Anne pu
Valerie jatuh tepat di depan mereka. Tubuhnya terkulai lemas di lantai teras, membuat suasana yang semula tegang kini berubah menjadi kepanikan total.“Mama!” jerit Anne histeris.Dengan cemas, Anne langsung berlutut di samping ibunya itu. Tangannya gemetar saat menggenggam bahu Valerie yang terasa dingin. Wajah wanita itu pucat pasi, dan napasnya tersengal panik.“Leon, tolong!” suara Anne bergetar hebat. Bahkan di saat genting seperti ini, justru Leon tetap menjadi orang pertama yang ia butuhkan.Leon bergerak cepat menghampiri Anne. Ia berlutut di sisi lain tubuh Valerie. Dengan sigap, ia mengecek napas dan denyut nadi mertuanya itu dengan wajah tegang.“Anne, mama pingsan karena shock,” ujar Leon cepat. “Kita harus segera menolongnya. Aku akan hubungi Adrian untuk memanggil dokter sekarang!”“Lakukan yang terbaik untuk mama, Leon." Suara Anne serak karena menahan tangis.Leon mengangguk. Dengan hati-hati, ia menggendong tubuh Valerie dan membawanya masuk ke ruang tengah. Anne berj






