Home / Urban / Sentuhan Pembalasan / Bab 116: Pelarian Menuju Bintang

Share

Bab 116: Pelarian Menuju Bintang

Author: Beya
last update publish date: 2026-04-11 20:22:07

Raungan sirine polisi dan helikopter militer membelah kesunyian malam Jakarta yang baru saja diguncang ledakan cahaya kosmik. Di lantai 99 gedung Adiwangsa Tech, debu dari kaca yang hancur masih melayang di udara, berkilauan seperti salju hitam di bawah lampu darurat yang berkedip merah. Arka Adiwangsa berdiri terengah-engah, bersandar pada pilar beton yang retak.

Darah hitam—sisa dari energi *Void* yang belum sepenuhnya berasimilasi dengan raga manusianya—menetes dari sudut bibirnya, menodai
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 135: Gema di Balik Kesunyian

    Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat bagi sebuah peradaban untuk bersiap menghadapi kiamat, namun bagi Malakor Adiwangsa, tiga hari adalah keabadian yang harus ia manfaatkan untuk mengukuhkan kedaulatannya. Di dalam ruang kerja ayahnya yang kini telah ia bersihkan dari sisa sisa energi Lilith, Malakor menatap layar monitor yang menampilkan file Proyek Reinkarnasi Kedua. Data di dalamnya bukan sekadar instruksi biologis, melainkan sebuah algoritma pemindahan kesadaran dimensi tinggi kembali ke dalam materi organik.Arka Adiwangsa ternyata tidak pernah berniat membiarkan Valerie dan dirinya sendiri terjebak di singgasana ketiadaan selamanya. Ia telah membangun jalan pulang, namun harga yang harus dibayar adalah pengorbanan seluruh cadangan energi Void yang

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 134: Embrio Kegelapan

    Lift berkecepatan tinggi meluncur turun menuju kedalaman seribu meter di bawah permukaan tanah Jakarta, menuju sebuah sektor yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru resmi Adiwangsa Tech. Sektor itu disebut sebagai Lab Sembilan, sebuah tempat yang dibangun Arka Adiwangsa untuk menyimpan kegagalan kegagalan penciptaan yang terlalu berbahaya untuk dimusnahkan. Di dalam lift yang sempit itu, Malakor berdiri diam, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Arion berada di sampingnya, mengenakan zirah cadangan yang masih dialiri energi perak, meski napasnya masih terasa berat akibat luka sebelumnya. Tuan Muda, jika apa yang dikatakan Gerry benar, Lilith tidak hanya ingin membangkitkan monster biasa, ucap Arion. Dia mencari raga. Sebuah wadah

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 133: Cermin Retak Sang Permaisuri

    Kemenangan atas Galactic Collectors seharusnya membawa ketenangan bagi penduduk Bumi, namun bagi Malakor Adiwangsa, aroma kemenangan itu terasa amis oleh firasat buruk. Setelah serangan di atmosfer berakhir, Malakor kembali ke kantor pribadi ayahnya di puncak gedung Adiwangsa Tech. Ruangan itu telah disegel selama dua puluh tahun, hanya bisa dibuka oleh seseorang yang memiliki frekuensi biologis yang identik dengan sang pemilik asli.Begitu pintu geser logam itu terbuka, Malakor merasakan tekanan udara yang aneh. Suhu di dalam ruangan sangat dingin, namun bukan dinginnya es Himalaya, melainkan dingin yang hampa, seolah-olah oksigen di tempat itu telah dihisap oleh sesuatu yang tidak terlihat. Arion, yang selalu waspada di belakang Malakor, segera menghunus ped

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 132: Kolektor Galaksi dan Fajar Baru

    Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion meninggalkan puncak Himalaya yang membeku, meluncur menembus awan tebal menuju markas besar Adiwangsa Tech di Jakarta. Namun, pemandangan dari jendela kokpit tidak lagi menampilkan langit biru yang jernih. Di atas atmosfer, bintik bintik perak raksasa mulai terlihat melalui sensor optik pesawat. Itu bukan satelit, dan bukan pula sampah luar angkasa. Itu adalah armada kapal induk milik Galactic Collectors, entitas pengumpul sumber daya yang telah mengincar Bumi sejak jatuhnya para Arsitek.Malakor menatap layar hologram yang menampilkan analisis data dari Gerry. Kapal kapal itu memiliki panjang ribuan kilometer, ditenagai oleh mesin penghisap inti planet. Mereka tidak datang untuk menjajah atau berkomunikasi; merek

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 131: Dinginnya Makam Sang Kaisar

    Pesawat siluman yang membawa Malakor dan Arion membelah badai salju di atas pegunungan Himalaya dengan kecepatan supersonik. Di bawah mereka, puncak-puncak gunung yang tajam tampak seperti taring raksasa yang mencoba menggapai langit yang terluka. Lokasi ini bukan sekadar tempat penyimpanan; ini adalah sebuah fasilitas yang dibangun dengan teknologi isolasi termal dan gravitasi tingkat tinggi, tempat di mana raga fisik Arka Adiwangsa dibekukan dalam kondisi stasis abadi.Malakor duduk di kursi pilot, matanya menatap lurus ke arah radar. Tato ular di lengan kanannya terasa panas, seolah-olah energi Void yang baru saja ia jinakkan di dasar samudra sedang bereaksi terhadap kedekatan dengan sumber aslinya. Malakor bisa merasakan detak jantung yang samar, bukan mil

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 130: Manifestasi Sang Pewaris

    Malam di Jakarta tidak pernah terasa sesunyi ini. Meskipun lampu-lampu kota masih berpijar, ada frekuensi rendah yang membuat bulu kuduk berdiri, sebuah getaran yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki koneksi dengan dimensi di luar nalar manusia. Malakor Adiwangsa berdiri di pusat kendali bawah tanah rumahnya, menatap barisan layar yang menampilkan data satelit real-time. Di sampingnya, Arion berdiri diam seperti patung perak, sementara Gerry sibuk mengoperasikan sistem Protokol Warisan Terakhir yang baru saja diaktifkan.Tuan Muda, koordinat yang diberikan oleh Nyonya Valerie mengarah pada sebuah lokasi di kedalaman Samudra Pasifik, tepat di atas Palung Mariana, ucap Gerry. Suaranya mengandung kecemasan yang mendalam. Ada aktivitas seismik yang ti

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 62: Negosiasi di Atas Mayat

    Angin malam di pantai utara Australia membawa aroma garam yang bercampur dengan bau mesiu dan daging terbakar. Di bawah langit yang dihiasi aurora ungu permanen—warisan kiamat elektronik dari Arka—berdiri sebuah benteng beton tua peninggalan Perang Dunia II yang kini telah disulap menjadi pu

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 54: Pertarungan Dua Predator Puncak

    Kegelapan di Isle of Silence bukan sekadar ketiadaan cahaya; itu adalah entitas fisik yang seolah-olah memiliki berat, menekan paru-paru dan membungkam indra. Di luar laboratorium beton yang lembap, Arka Adiwangsa berdiri tegak di tengah padang rumput yang tinggi dan tajam seperti silet.

  • Sentuhan Pembalasan   Bab 53: Pulau Pembuangan yang Terlarang

    Kapsul darurat itu terombang-ambing di atas permukaan Laut Cina Selatan seperti peti mati logam yang terbakar matahari. Di dalamnya, udara terasa pengap, berbau keringat, sisa air laut yang menguap, dan feromon yang kental. Arka Adiwangsa duduk bersandar pada dinding kapsul yang sempit, napa

  • Sentuhan Pembalasan    Bab 49: Kedaulatan Sang Bayi Tuhan

    Kesunyian yang jatuh di atas Singapura setelah tangisan Altair adalah kesunyian yang lebih mengerikan daripada ledakan bom mana pun. Di dalam laboratorium The Genesis Spire, ribuan pasukan Lazarus—monster-monster tanpa jiwa yang tadinya dikirim untuk melakukan genosida—kini bersimpuh dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status