LOGINVakum ruang angkasa di Sektor 09 tidaklah sunyi; ia berderit oleh frekuensi distorsi yang ditinggalkan oleh armada The Forgotten. Di pusat kekacauan ini, kapal induk Aethelgard meluncur seperti hiu obsidian yang terluka namun tetap mematikan. Di dalamnya, Arka Adiwangsa berdiri di anjungan utama, tangannya mencengkeram pinggiran meja taktis kristal hingga retak. Rambut putihnya berpendar di bawah cahaya merah darurat, memberikan kesan iblis yang sedang menanti mangsa. Di sampingnya, Valerie berdiri dengan ketenangan yang menghantui. Cincin emas di pupil matanya terus berputar, menandakan bahwa Malakor sedang melakukan simulasi tempur secara real-time di dalam benaknya."Mereka keluar dari lubang cacing dalam sepuluh detik," suara Valerie terdengar ganda—lembut seperti sutra namun tajam seperti sirkuit listrik."Ayah, aktifkan perisai entropi di sektor empat. Xerxes tidak akan menyerang secara frontal; dia akan mencoba membelah realitas kita," tambah
Keheningan yang menyelimuti aula singgasana Aethelgard setelah badai kosmik mereda terasa lebih berat daripada gravitasi planet raksasa. Cahaya bintang Andromeda yang masuk melalui jendela kristal yang retak tampak pucat, seolah-olah alam semesta sendiri sedang menahan napas menyaksikan apa yang tersisa dari keluarga Adiwangsa. Arka Adiwangsa berdiri di depan singgasana obsidiannya, napasnya pendek dan kasar. Rambutnya yang memutih seluruhnya berkibar ditiup angin buatan yang dingin, sementara tangannya yang masih ternoda darah perak gemetar hebat. Di depannya, Valerie berdiri tegak. Ia tidak lagi tampak lemas atau butuh perlindungan. Ada keanggunan yang tidak wajar dalam setiap gerakannya, sebuah presisi yang biasanya hanya dimiliki oleh Malakor. Matanya yang ungu kini memiliki cincin emas di sekitar pupilnya yang berdenyut selaras dengan sirkuit elektronik di dinding istana. "Victoria..." bisik Arka, suaranya parau oleh emos
Ruang angkasa di sekitar Andromeda tidak lagi hitam; ia memutih, seputih tulang yang terbakar, akibat pancaran frekuensi "Nol" yang dilepaskan oleh ribuan jarum kristal The Erasers. Gelombang penghapusan itu menghantam benteng Aethelgard dengan massa energi yang sanggup menguapkan jutaan matahari dalam sekejap. Di pusat badai ini, Arka Adiwangsa menjerit—sebuah raungan yang melampaui pita suara manusia, bergema melalui kanal Void ke seluruh penjuru galaksi. Ia terikat pada Throne of Agony, tubuhnya kini menjadi medan perang material. Garis-garis putih kode pencipta di kulitnya beradu dengan kabut hitam entropi, menciptakan ledakan mikro-nuklir di setiap sel tubuhnya."BAKAR AKU, TAPI JANGAN SENTUH DIA!" raung Arka. Matanya menyemburkan api ungu yang pekat.Arka bertindak sebagai Heat Sink raksasa. Ia menyerap setiap radiasi penghapusan yang seharusnya menghancurkan planet-planet di belakangnya. Ia merasakan jiwanya diparut, memori tentang masa l
Kehampaan di luar galaksi Andromeda tidak lagi terasa kosong; ia terasa seperti predator yang sedang menahan napas. Sejak konfrontasi dengan Architect-Primal, ruang angkasa di sekitar benteng Aethelgard membeku dalam anomali statis. Bintang-bintang yang meredup tidak kunjung bersinar terang kembali, meninggalkan klan Adiwangsa dalam remang-remang cahaya ultraviolet yang suram. Di dalam aula komando, atmosfer terasa kental dengan aroma ozon dan keringat dingin. Arka Adiwangsa terbaring di pusat sebuah lingkaran ritual bio-mekanis, tubuhnya tidak lagi sepenuhnya organik.Garis-garis putih dari kode cahaya sang Architect merayap di bawah kulitnya seperti sirkuit yang terbakar, mencoba menulis ulang DNA Primordial-nya menjadi kode pembersihan. Setiap kali sirkuit itu berpendar, Arka mengerang, otot-ototnya menegang hingga pembuluh darah hitamnya menyembul di leher. Ia sedang berperang di dalam selnya sendiri—sebuah perang saudara antara ego manusianya dan logika
Keheningan yang menyelimuti Andromeda pasca-penyatuan Trinity bukanlah keheningan perdamaian, melainkan keheningan sebelum badai kinetik menghancurkan segalanya. Di atas anjungan Aethelgard yang kini telah direstorasi oleh kehendak murni Valerie, Arka Adiwangsa berdiri dengan tangan bersedekap. Luka-luka putih di tubuhnya kini berpendar perak, sebuah sisa permanen dari percampuran esensinya dengan Malakor dan istrinya. Ia tidak lagi merasa seperti predator yang lapar, melainkan seperti penjaga gerbang yang sedang mengawasi kegelapan yang ia sendiri ciptakan.Di sampingnya, Valerie duduk di kursi komando yang kini tampak seperti singgasana organik, akar-akar cahaya melilit kakinya, menghubungkan sarafnya langsung ke inti benteng. Wajahnya tenang, namun matanya yang memiliki tiga lingkaran warna terus berdenyut cepat. Ia sedang memproses jutaan aliran data sensorik yang tidak bisa ditangkap oleh radar konvensional."Arka... kau merasakannya?" bisi
Cakrawala Andromeda tidak lagi berwarna jingga atau perak; ia telah berubah menjadi pusaran kelabu yang mendidih. Di satu sisi, armada The Sentinels of Order memancarkan frekuensi penghapusan yang murni, sebuah simfoni cahaya yang dingin. Di sisi lain, awan hitam The Hollowed yang dipimpin oleh Yudha merangkak dari arah Bima Sakti seperti kabut kematian yang lapar, membawa dendam jutaan nyawa yang pernah dikorbankan Arka. Di tengah jepitan dua kiamat ini, benteng Aethelgard tampak seperti titik kecil yang rapuh.Valerie Adiwangsa berdiri di pusat balkon observasi yang kini telah retak. Angin kosmik menyapu rambut peraknya, dan matanya memancarkan otoritas yang melampaui segala hukum alam. Di belakangnya, Arka dan Malakor berdiri dalam jarak yang sangat dekat—sebuah pemandangan yang mustahil terjadi beberapa jam yang lalu. Arka dengan nafasnya yang berat dan berbau entropi, dan Malakor dengan sirkuit emasnya yang bergetar karena beban kalkulasi yang gagal."Waktunya habis," suara Val







