Share

Bab 120

Penulis: Millanova
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 10:00:06

Dia menepuk debu di celananya dengan santai. Postur tubuhnya tegak kembali. Aura dominasinya kembali menyala, membuat Dirga yang berdiri di sebelahnya tiba-tiba terasa kerdil.

"Baiklah kalau itu maumu, Mantan Istriku," ucap Arka lantang.

Arka menjentikkan jarinya.

"Tangkap mereka."

Dalam sekejap, Bang Jago dan empat preman lainnya berbalik arah. Mereka tidak lagi menyerang Arka. Mereka menerjang ke arah Dirga dan Clara.

"Lho? Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan!" Dirga berteriak kaget saat kedua tangannya dipelintir ke belakang dengan profesional oleh preman yang tadinya dia pikir ada di pihaknya.

Clara menjerit saat seorang preman lain menahan lengannya (dengan sopan tapi tegas karena

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 139

    Rumah itu berdiri di sana. Dinding batako yang belum diplester sepenuhnya, atap asbes yang sudah kusam, dan halaman tanah yang baru saja disapu bersih. Di teras, tampak seorang wanita paruh baya sedang duduk menjahit di kursi rotan tua.Bu Ratih.Wanita itu mengenakan daster batik yang warnanya sudah pudar. Kacamata minus murahan bertengger di hidungnya. Dia fokus memasukkan benang ke jarum, belum menyadari kehadiran rombongan tamu agung di depan pagarnya."Bu..." panggil Nia, suaranya tercekat di tenggorokan.Bu Ratih mendongak. Matanya menyipit di balik lensa kacamata, mencoba mengenali sosok di depannya karena silau matahari siang.Lalu, dia berdiri. Kursi rotannya berderit."Nia?"Nia berlari kecil, membuka pagar bambu yang reyot, dan langsung menghambur ke pelukan ibunya. "Bu... Nia pulang..."Arka berdiri di luar pagar, menunggu dengan sabar. Dia memberi isyarat pada Anton dan pengawal untuk tetap di belakang, tidak masuk dulu agar tidak mengintimidasi.Setelah tangis rindu itu

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 138

    Satu minggu berlalu dengan cepat, namun terasa lambat bagi Arka.Tujuh hari itu dihabiskan Arka untuk menyelesaikan urusan administrasi pasca-pencabutan blokir asetnya. Dia memastikan pijakan bisnisnya kembali kokoh sebelum meninggalkan Jakarta. Di sela-sela kesibukannya, dia dan Anton diam-diam mempersiapkan segala keperluan untuk perjalanan ke kampung halaman Nia.Arka tidak main-main dengan ucapannya. Dia ingin datang dengan hormat.Pagi itu, hari Sabtu yang cerah. Di halaman rumah mewah tiga lantai milik Arka, kesibukan sudah terlihat sejak subuh.Tiga mobil berjejer rapi. Di depan dan belakang adalah SUV hitam kokoh yang dikendarai oleh tim pengawal pribadi—bagian dari fasilitas Garuda Hitam yang kini melekat padanya. Di tengah, Rolls-Royce Phantom kebanggaan Arka sudah mengkilap, siap menempuh perjalanan jauh."Anton, semua hantaran sudah masuk?" tanya Arka yang baru keluar dari pintu utama. Dia mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang berwarna cokelat tua yang elegan, membu

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 137

    "Besok pagi, kita pulang ke kampungmu," kata Arka mantap. "Aku ingin bertemu orang tuamu. Aku ingin meminta izin Ibumu secara langsung. Aku ingin membungkuk di hadapan beliau dan meminta restu untuk menjaga putri satu-satunya."Wajah Nia yang tadi berbinar bahagia, tiba-tiba berubah sedikit keruh. Dia menggigit bibir bawahnya, kebiasaannya saat sedang cemas."Ke... ke kampung, Mas?""Iya. Kenapa? Kamu malu punya calon suami duda tua sepertiku?" goda Arka, mencoba mencairkan suasana."Bukan!" Nia buru-buru menyanggah. "Bukan malu, Mas. Mas Arka itu kebanggaan aku. Cuma..."Nia menunduk, memainkan jari-jemarinya."Cuma apa?" desak Arka lembut."Ibu..." suara Nia mengecil. "Ibu itu orangnya keras, Mas. Dan trauma masa lalunya sama orang kaya itu dalam banget. Ditambah lagi..." Nia mendongak, menatap Arka dengan pandangan ragu. "...Mas Arka tahu kan, umur Mas Arka sama Ibu itu... nggak beda jauh?"Arka terdiam sejenak. Dia tahu usianya 45 tahun. Dan jika Nia 23 tahun, kemungkinan besar ib

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 136

    Mobil sedan hitam itu meluncur perlahan memasuki gerbang rumah mewah berlantai tiga di kawasan elite Jakarta Selatan. Hari sudah beranjak senja, menyisakan semburat jingga yang perlahan ditelan kelabu malam.Arka menghela napas panjang saat mesin mobil dimatikan oleh Anton. Lelah di tubuhnya bukan karena fisik, melainkan sisa ketegangan mental di ruang interogasi Kejaksaan tadi. Namun, melihat pilar-pilar kokoh rumahnya, perasaan lega perlahan menjalar.Rumah ini adalah saksi bisu segalanya. Dulu, lantai dua adalah tempat Clara mengubah ruang kerja Arka menjadi kamar bayi yang tak pernah diinginkannya, sebuah simbol dominasi Clara yang menyesakkan. Kini, Arka telah memindahkan pusat komandonya ke lantai tiga sebuah ruang kerja baru yang luas, privat, dan tak tersentuh oleh jejak masa lalu. Lantai tiga adalah simbol kebangkitannya."Istirahatlah, Anton. Besok kita punya agenda besar," kata Arka saat turun dari mobil."Siap, Tuan Muda," jawab Anton sigap, meski matanya juga menyiratkan

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 135

    Melainkan seorang pria paruh baya berseragam dinas kejaksaan dengan bintang di pundaknya. Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati), atasan langsung Harris. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi pelipisnya.Di belakang Kajati, barulah Anton muncul, didampingi dua orang pria berjas rapi yang membawa tas dokumen berlogo Kedutaan Besar Swiss."Pak Kajati?" Harris terkejut, langsung berdiri hormat. "Izin, Pak. Saya sedang memproses tersangka TPPU ""Hentikan," potong Kajati dengan suara bergetar. Dia berjalan cepat ke arah Arka, menyingkirkan Harris dengan kasar. "Lepaskan semua tuduhan. Sekarang."Harris bengong. "Ta-tapi Pak, alirannya mencurigakan! 3 Triliun dari ""Harris!" bentak Kajati. "Kamu mau kita semua dipecat?! Lihat dokumen ini!"Kajati melempar sebuah dokumen tebal berstempel emas ke dada Harris. Harris menangkapnya dengan bingung. Dia membacanya. Matanya membelalak semakin lebar di setiap baris.Itu bukan sekadar bukti transfer.Itu adalah Sovereign Wealth Declaration. Surat per

  • Sentuhan Pembantu Seksi Sang Tuan   Bab 134

    Pagi yang cerah di kantor Arka berubah menjadi mimpi buruk dalam hitungan menit.Arka sedang menandatangani dokumen persetujuan takeover aset Mahendra Group bersama Anton, ketika pintu ruangannya didobrak tanpa ketukan. Sekretaris Arka berusaha menahan, tapi tubuh kecilnya tidak berdaya melawan empat pria berbadan tegap yang mengenakan rompi taktis bertuliskan: SATGAS SUS - KEJAKSAAN AGUNG.Seorang pria berkacamata dengan tatapan tajam, Jaksa Harris, melangkah maju. Dia melempar sepucuk surat berwarna merah muda ke atas meja Arka."Saudara Arka," suara Harris dingin, penuh intimidasi. "Berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Nomor 09/Dik/Sus, Anda kami amankan atas dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) lintas negara."Arka meletakkan penanya perlahan. Dia tidak panik, tapi jantungnya berdesir. Dia melirik Anton. Wajah Anton mengeras, tangannya bergerak sedikit ke arah saku jas kode untuk menghubungi tim legal, bukan pasukan Garuda Hitam. Ini ranah hukum, bukan rimba."Pencucian uan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status