LOGINHappy Reading Aku lagi kehilangan ide guys
Malam di rumah orang tua Arkana akhirnya terasa jauh lebih tenang setelah drama hujan dan pot bunga sore tadi. Hujan sudah berhenti sejak satu jam lalu, menyisakan udara yang dingin dan segar. Lampu ruang keluarga menyala hangat. Televisi menyala pelan menyiarkan berita malam.Papa Arkana duduk santai di sofa sambil menyilangkan kaki, sesekali menyeruput kopi. Di kursi sebelahnya Arkana bersandar dengan satu tangan di sandaran sofa, terlihat lebih santai sekarang setelah keributan tadi.Di ujung ruangan, Narine duduk sambil memainkan ponselnya.Di karpet tebal ruang tamu, Arsya sedang bermain mobil-mobilan.Mobil kecil itu ia dorong pelan di atas karpet.“Blummm… blummm…”Kadang ia menabrakkan mobil itu ke sofa.“Duk!”Lalu ia tertawa kecil sendiri.Beberapa menit berlalu.Lalu perut kecilnya berbunyi.Arsya berhenti bermain.Ia menunduk menatap perutnya sendiri.Tangannya menepuk-nepuk piyama kecilnya.“Hmm…”Ia berdiri.Matanya langsung mencari papahnya.“Papah.”Arkana melirik seki
Hujan sore itu masih turun rintik-rintik ketika drama pot bunga akhirnya selesai. Halaman belakang rumah orang tua Arkana kembali agak tenang setelah pot-pot bunga yang mengambang di kolam berhasil diangkat satu per satu.Arsya sekarang berdiri di bawah handuk besar yang dibawakan Narine. Rambutnya masih basah oleh hujan, pipinya memerah karena udara dingin, dan sandalnya sudah entah ke mana.Arkana menaruh pot terakhir di pinggir kolam sambil menghela napas panjang.“Ini kerjaan siapa ya bikin papa capek gini…” gumamnya setengah kesal.Arsya yang berdiri di dekat Narine menatap papahnya dengan wajah bersalah, lalu pelan-pelan berjalan mendekat.Ia memeluk kaki Arkana.“Papah jangan malah… Alloh ndak suka.”Arkana langsung menatap ke bawah.Ia hampir tertawa, tapi menahan diri.“Buset, bawa-bawa Allah segala, iya dah anaknya ustadz somad” gumamnya.Ia menepuk kepala kecil itu pelan.“Nak, kelakuan kamu kayak gini juga Allah gak suka.”Arsya hanya mengedip polos.Di belakang mereka, pa
Hujan sore itu turun rintik-rintik di halaman rumah orang tua Arkana. Udara terasa dingin dan segar, khas setelah hujan panjang seharian.Di ruang keluarga, suasana hangat. Papa Arkana duduk di sofa sambil menonton berita, sementara Arkana bersandar di kursi lain sambil sesekali melihat ponselnya. Dari dapur terdengar suara Narine dan mamah Arkana yang sedang mengobrol sambil menyiapkan camilan.Arsya awalnya bermain mobil-mobilan di karpet ruang tamu.Mobil kecil itu ia dorong-dorong sambil membuat suara mesin.“Blummm… blumm…”Namun lama-lama ia bosan.Ia melirik ke arah jendela besar yang menghadap halaman belakang.Hujan masih turun tipis.Matanya langsung berbinar.“Hujan…”Ia berdiri, mendekati jendela, menempelkan wajah kecilnya ke kaca.Di halaman belakang terlihat kolam renang kecil milik papa Arkana. Airnya beriak terkena tetesan hujan. Di pinggir kolam berjejer beberapa pot bunga milik neneknya.Arsya menatapnya lama.Lalu menoleh ke ruang tamu.Papahnya masih duduk.Kakekn
Hujan turun sejak subuh. Rintik-rintik air memukul kaca jendela rumah Arkana dan Narine dengan ritme yang pelan tapi terus-menerus. Langit terlihat kelabu, membuat pagi terasa lebih dingin dari biasanya.Biasanya di jam seperti ini Arkana sudah bersiap berangkat kerja. Suara langkahnya yang terburu-buru, bunyi kunci mobil, atau aroma kopi yang cepat diminum sebelum keluar rumah hampir selalu menjadi rutinitas.Tapi hari ini berbeda.Arkana justru duduk santai di sofa ruang tamu dengan kaos rumah dan celana training. Sebuah selimut tipis menutupi kakinya, sementara di tangannya ada secangkir kopi hangat.Ia memandang keluar jendela sambil menikmati suara hujan. Dari dapur, Narine keluar sambil membawa satu cangkir lagi.Ia berhenti sebentar melihat suaminya yang tampak terlalu santai untuk ukuran hari kerja.“Mas,” katanya sambil menyerahkan cangkir itu.Arkana menerimanya.“Hmm?”“Mas jarang banget ya ada di rumah pagi-pagi begini.”Arkana tersenyum kecil.“Kangen ya kamu sama suaminy
Pagi itu rumah Arkana dan Narine terasa lebih tenang dibanding dua hari sebelumnya. Arsya sudah tidak lagi canggung dengan rutinitas sekolahnya. Anak kecil itu justru terlihat sangat bersemangat sejak bangun tidur.Dengan tas dinosaurus kecilnya yang tergantung di pundak, Arsya berlari-lari kecil di ruang tamu.“Papaaah! Cepet!” serunya dengan suara cadel khasnya.Arkana yang sedang duduk di sofa sambil membuka laptop hanya melirik sekilas.“Iya, iya sabar bujang papah juga kerja, bukan cuma kamu yang sekolah,” jawabnya santai.Arsya mendekat, menepuk paha Arkana.“Papah jangan lamaa.”Narine keluar dari dapur sambil membawa botol minum Arsya. Melihat pemandangan itu ia tersenyum kecil.“Mas, hari ini jangan lupa jemput Arsya ya,” kata Narine mengingatkan.Arkana masih mengetik sesuatu di laptopnya.“Iya.”Narine menatapnya dengan mata menyipit.“Mas denger gak?”Arkana mengangguk tanpa benar-benar menoleh.“Iya, denger sayangku cintakuuu.”Arsya ikut menimpali sambil menunjuk Arkana.
Pagi ini rumah terasa lebih sibuk dari biasanya. Narine sudah berada di dapur sejak subuh, menyiapkan bekal khusus untuk hari pertama Arsya masuk TK. Di meja dapur ada kotak bekal warna biru bergambar dinosaurus yang baru dibeli Arkana semalam dengan penuh semangat.Narine membuat nasi kepal kecil berbentuk beruang, telur dadar gulung, potongan apel, dan sedikit sosis yang dipotong seperti bunga.Sementara itu di ruang tengah, Arkana justru menjadi orang paling heboh.Ia sudah memegang ponsel sejak Arsya selesai mandi.Arsya keluar dari kamar memakai seragam TK kecilnya kemeja putih, celana pendek biru, dan sepatu kecil yang masih terlihat kaku karena baru.Arkana langsung berjongkok di depannya.“Ya ampun bujang papah udah sekolah,” katanya dramatis.Arsya mengernyit sedikit.“Papah jangan foto muluu…”Arkana tetap memotret.Cekrek“Ini dokumentasi yang sangat penting,” kata Arkana serius.Narine keluar dari dapur sambil membawa kotak bekal.“Mas, itu anak mau sekolah atau mau ikut p







