Home / Romansa / Sentuhan Pria Dewasa / Chapter 7 Hampir pingsan

Share

Chapter 7 Hampir pingsan

Author: Polcaa
last update publish date: 2025-10-30 12:37:30

POV OFF

Narine menghela napas pelan, antara gugup dan pasrah. Seolah dunia sekitar kehilangan suara.

Langkah mereka beriringan melewati lobi yang kini mendadak sunyi. Ratusan pasang mata memandang. Resepsionis yang biasanya cerewet tiba-tiba menahan napas. Dua karyawan magang yang baru masuk bahkan salah menjatuhkan map ke lantai.

Arkana dan Narine berjalan santai menuju lift.

“Pak Arkana pagi, Pak-Bu Narine” suara gugup dari salah satu staf terdengar lirih, nyaris gemetar.

Arkana hanya mengangguk ringan, tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Narine. Senyum tipisnya malah semakin memperjelas situasi ini bukan sekadar kebetulan.

Lift berdenting.

Orang-orang yang menunggu di depan lift sekitar tujuh atau delapan orang langsung menegang begitu pintu terbuka. Ruang di dalamnya cukup sempit, tapi Arkana tetap menarik Narine masuk.

Begitu mereka berdua masuk, orang-orang lain ikut berdesakan masuk juga, menciptakan ruang yang makin sempit. Narine nyaris kehilangan keseimbangan ketika seseorang dari belakang terdorong. Tapi sebelum tubuhnya tergeser, satu lengan kuat melingkari pinggangnya.

Seketika Arkana menarik Narine ke dadanya.

Ia berdiri di belakangnya, satu tangan menahan dinding lift, satu lagi menahan pinggang Narine agar tak tersentuh siapa pun. Tubuhnya menciptakan semacam “lingkar perlindungan” di tengah kerumunan itu.

Narine bisa merasakan napas Arkana di sisi telinganya hangat, dekat, terlalu dekat. Aroma cologne-nya yang lembut bercampur dengan wangi sabun pagi Narine, menimbulkan percikan kecil di dadanya.

“Tenang,” bisik Arkana tanpa suara keras. “Aku gak bakal biarin orang lain nyenggol kamu.”

Narine tak bisa bicara. Hanya jantungnya yang terdengar berdentum keras di kepala. Orang-orang di dalam lift sudah saling pandang, beberapa berpura-pura sibuk dengan ponsel, tapi sudut bibir mereka tak bisa menyembunyikan rasa terkejut.

Lift berhenti di lantai 12. Dua orang keluar. Beberapa lagi menatap keduanya dengan rasa penasaran yang nyaris menyala. Narine berusaha menjauh sedikit, tapi Arkana tak bergeser.

“Pak Arkana” bisiknya. “Mereka semua lihat.”

“Biarkan. Aku juga lihat, dan aku gak suka ada yang nyenggol kamu,” jawab Arkana pelan, namun penuh nada kepemilikan yang membuat Narine makin bingung dengan apa yang ia rasakan.

Lift berdenting lagi lantai 28. Kali ini hanya mereka berdua yang tersisa. Pintu tertutup, dan suasana jadi hening.

Arkana melepaskan pelukannya perlahan, menatap Narine lewat pantulan pintu baja. “Kamu tau? Mereka bakal ngomongin ini seharian.”

“Ya dan aku gak tau apakah itu bagus atau justru tambah parah,” jawab Narine, menatapnya lewat pantulan yang sama.

“Yang penting mereka berhenti ngomong omong kosong soal kamu dan Thor.” Suara Arkana terdengar lebih rendah dari biasanya. “Kalau mereka mau gosip, biar gosipnya tentang sesuatu yang aku kontrol.”

Narine menatapnya lurus kali ini. “Dan aku bagian dari kontrol itu?”

Arkana menatapnya balik dalam, serius, nyaris membuat udara di antara mereka menegang. “Kamu bagian dari hal yang gak bisa aku abaikan lagi.”

Pintu lift terbuka.

Sekejap kemudian, ruangan kantor yang tadinya dipenuhi suara keyboard dan telepon langsung senyap total. Semua mata beralih ke arah dua orang yang baru keluar dari lift.

Arkana berjalan lebih dulu, namun tidak melepaskan tangan Narine. Ia bahkan sempat menatap sekeliling dengan pandangan datar khas bos besar yang tidak peduli pada gunjingan. Tapi efeknya justru luar biasa.

Bisik-bisik bermunculan begitu mereka lewat:

“Gila. Itu Narine kan?”

“Loh bukannya dia kemarin sama Thor?”

“Tapi Pak Arkana gak pernah kayak gitu ke siapa pun loh.”

“Berarti gosip kemarin gak bener dong? Mereka deket banget.”

Maya yang kebetulan baru keluar dari pantry hampir menjatuhkan gelas kopinya. Ia menatap Narine dengan mata membulat, memberi ekspresi what the hell is going on?! tanpa berani bicara keras. Narine hanya menunduk sedikit, pura-pura sibuk dengan ponsel, padahal wajahnya sudah memanas sampai telinga.

Arkana membuka pintu ruangannya dan menoleh sebentar. “Masuk,” katanya datar.

Narine menelan ludah sebelum melangkah masuk. Pintu menutup pelan di belakang mereka, menyisakan kantor yang langsung meledak seperti pasar rumor.

Beberapa menit kemudian, Maya langsung menghampiri meja Narine tapi ruang sekretaris itu kosong. Maya berbisik ke staf lain, “Kalian liat tadi? Arkana ngerangkul pinggang Narine, cuy!”

“Seriusan?!” sahut yang lain dengan suara lebih tinggi. “Gila berarti mereka beneran official?!”

“Entah official atau nggak, tapi itu wow banget sih.”

Dalam waktu kurang dari setengah jam, hampir semua lantai sudah tahu cerita versi masing-masing. Ada yang bilang Arkana sudah go public karena mau tunangan, ada juga yang lebih ekstrem bilang Narine sengaja jadi “peliharaan” bosnya supaya terbebas dari title simpenan.

Sementara itu, di dalam ruang kerja Arkana, suasananya sangat berbeda.

Narine berdiri di depan meja besar dari marmer abu-abu itu, menatap Arkana yang sedang membuka laptopnya seolah tak terjadi apa-apa.

Jantung Narine masih berdetak dengan kencang, gugup dan ia merasakan panas pada pipinya.

Narine bergumam dalam hati apakah sandiwara ini akan membantu nya melewati masalah atau malah menambah masalah baru.

Arkana terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Kamu jangan ngelamun gitu, kesambet nanti"

"Oh ya saya mau bilang dalam permainan ini gak boleh ada yang baper, shall we?"

Ucapan itu membuat Narine tersenyum sinis "Saya gak mungkin baper sama bapak, bapak bukan tipe saya"

Arkana terkekeh dan menghampiri Narine yang masih berdiri di depan pintu itu "Kalaupun ada yang baper, saya pastikan itu kamu bebek" dengan sentilan kecil dibibir Narine.

Dan sebelum Narine sempat protes, tangan Arkana menyentuh pipinya dengan kecupan tipis di bibir mungil Narine.

Narine yang dicium mendadak seperti itu hanya bisa mematung dengan mata melotot. 

Arkana tersenyum "Good girl" dan kembali ke kursi kebanggaanya dengan tenang bahkan setelah membuat Narine hampir pingsan.

Polcaa

Happy reading guys Tinggalkan jejak dengan komen dan berikan kritik juga saran ❤️❤️

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 138 Buat Ade Baru aww

    Malam itu turun dengan tenang di rumah mereka. Tidak ada suara televisi yang menyala, tidak ada langkah kecil berlarian di ruang tamu, tidak juga suara cerewet Arsya yang biasanya masih minta satu cerita lagi sebelum tidur. Semuanya terasa lebih sunyi dari biasanya.Arsya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu, setelah seharian penuh bermain di luar rumah bersama Ken. Bahkan tadi sempat protes karena dipaksa mandi, lalu berakhir tertidur di pangkuan Narine dengan rambut masih setengah basah.Kini, kamar utama hanya menyisakan dua orang.Narine duduk di tepi tempat tidur, melepas jepit rambutnya perlahan. Rambut panjangnya terurai jatuh ke bahu, sedikit berantakan, tapi justru membuatnya terlihat lebih… lembut.Arkana bersandar di headboard, memperhatikan tanpa banyak bicara.Ada sesuatu yang berbeda malam ini.Bukan suasananya. Bukan juga rutinitasnya.Tapi cara Narine diam.“Capek?” tanya Arkana akhirnya, suaranya pelan.Narine mengangguk kecil. “Lumayan.”Hening lagi.Namun bukan h

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 137 Happy Birthday Ibuu

    Pagi itu datang dengan cara yang sama seperti hari-hari biasannya matahari yang menyelinap lewat celah tirai, udara yang masih menyisakan dingin semalam, dan suara langkah kecil yang biasanya akan berlari ke arah tempat tidur sambil memanggil, “Ibuu!”Namun hari ini berbeda.Narine membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang ia tunggu. Sesuatu yang bahkan tanpa ia sadari, ia harapkan sejak semalam.Hari ini adalah ulang tahunnya.Ia diam sejenak, menatap langit-langit kamar. Menunggu.Mungkin pintu akan terbuka tiba-tiba. Mungkin Arsya akan lompat ke atas kasur. Mungkin Arkana akan menyelinap mendekat, berbisik di telinganya seperti biasa.Tapi tidak ada apa-apa.Hanya sunyi.Narine menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. “Yaudah…” batinnya. “Mungkin mereka gak inget.”Ia turun dari tempat tidur, berjalan ke luar kamar.Di ruang makan, Arkana sudah duduk dengan laptopnya, secangkir kopi di tangan. Wajahnya tenang seperti biasa.“Pagi,” ucap Arkana singkat, bahk

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 136 Ndak Mau Mati

    Pagi itu rumah terasa lebih ribut dari biasanya. Karena apa?Narine sudah bangun sejak subuh, sibuk mondar-mandir dari kamar ke ruang tengah sambil membawa berbagai perlengkapan. Di sofa, tergeletak sebuah kostum berbulu putih lengkap dengan telinga panjang dan buntut kecil bulat.“Kostumnya jangan sampai ketinggalan…” gumam Narine sambil mengecek lagi isi tas.Di sisi lain, Arsya masih duduk di lantai, memeluk botol minumnya, wajahnya masih setengah mengantuk. Rambutnya acak-acakan, matanya belum sepenuhnya terbuka.“Arsya, sini. Kita pakai kostumnya dulu ya,” panggil Narine lembut.Arsya menoleh pelan. Begitu matanya menangkap kostum kelinci itu, ekspresinya langsung berubah.“Ini?” tanyanya.“Iya, kamu kan jadi kelinci hari ini.”Arsya berdiri, lalu mendekat. Tangannya menyentuh telinga panjang itu.“Lucu…” gumamnya.Beberapa menit kemudian, Arsya sudah berubah jadi kelinci kecil yang super gemas. Kostum itu sedikit kebesaran, telinganya agak miring ke samping, dan buntut kecil di

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 135 Cilok Mantul

    Sore itu suasana komplek terasa hangat. Matahari belum sepenuhnya tenggelam, tapi sinarnya sudah mulai lembut. Angin kecil berhembus, membawa aroma tanah dan suara anak-anak yang riuh bermain di lapangan kecil depan rumah.Arsya berlari kecil bersama Ken dan beberapa anak lain. Tawa mereka pecah setiap kali bola plastik yang mereka tendang melenceng entah ke mana. Wajah Arsya merah, napasnya sedikit terengah, tapi matanya berbinar penuh semangat.Sampai tiba-tiba “Cilok mantul cilok mantul!”Suara khas itu langsung memecah fokus semua anak.“CILOK!” teriak Ken paling kencang.Anak-anak langsung bubar, berhamburan ke arah gerobak cilok yang berhenti di pinggir jalan. Arsya yang tadi masih pegang bola ikut terpaku. Matanya membesar, memperhatikan satu per satu temannya yang mulai mengantre.Dia melangkah pelan mendekat, berdiri di samping Ken.Ken dengan santainya merogoh saku, mengeluarkan uang receh, lalu berkata dengan percaya diri, “Bang, dua ribu, yang banyak sambalnya.”Arsya mel

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 134 Arsya Mode Cowok Cool

    Pagi itu suasana di sebuah TK kecil yang penuh warna terasa lebih ramai dari biasanya. Anak-anak berlarian dengan tas kecil di punggung mereka, beberapa masih digandeng orang tua, beberapa sudah berani masuk sendiri.Di antara keramaian itu, satu sosok kecil berjalan santai, hampir tanpa beban.Arsya.Langkahnya ringan, wajahnya tenang, bahkan tanpa menoleh ke belakang. Sementara di belakangnya, Arkana berdiri dengan kedua tangan di pinggang, memperhatikan anaknya dengan ekspresi antara bangga dan sedikit tidak percaya.“Ini anak gak ada drama sama sekali,” gumamnya.Biasanya, yang Arkana lihat anak-anak seusia Arsya masih ada yang nangis, ada yang tarik-tarik orang tuanya, bahkan ada yang mogok di depan gerbang. Tapi Arsya?Masuk aja.Tanpa pamit.Tanpa noleh.Tanpa rasa bersalah.“Sya” Arkana sempat mau manggil.Tapi Arsya sudah keburu masuk ke dalam kelas, langsung menuju rak mainan seolah dunia luar sudah tidak penting lagi.Arkana menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Oke baik.

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 133 Pamer Mobil Sama Pusat

    Hujan tipis masih menyisakan jejak di jalanan saat mobil Arkana meluncur pelan memasuki kompleks rumah orang tuanya. Udara sore itu terasa adem, khas setelah hujan, dengan aroma tanah basah yang menenangkan. Tapi suasana tenang itu jelas tidak berlaku di dalam mobil.“Papaaah, cepetan dong nanti Oppa sama Oma kebulu tidul!” suara kecil Arsya terdengar tak sabaran dari kursi belakang.Arkana melirik lewat kaca spion, sudut bibirnya naik tipis. “Ini juga udah cepet, Bos. Rumah Oppa Oma gak pindah, santai aja.”“Enggaaa! Alsya mau tunjukin mobil Alsyaaa!” Arsya menggoyang-goyangkan kakinya, suaranya penuh semangat.Narine yang duduk di samping Arkana cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. “Dari tadi di jalan gak berhenti ngomong itu.”“Biarin,” sahut Arkana santai. “Lagi bangga dia.”“Bangga banget malah,” balas Narine, lalu menoleh ke belakang. “Nanti ngomongnya yang bener ya, Sayang.”“Iyaa!” jawab Arsya cepat. Tapi dari nadanya, jelas tidak ada jaminan apapun.Mobil akhirnya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status