Home / Romansa / Sentuhan Pria Dewasa / Chapter 6 Permainan Dimulai

Share

Chapter 6 Permainan Dimulai

Author: Polcaa
last update Last Updated: 2025-10-30 12:25:01

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika suara notifikasi ponselku bergetar dua kali berturut-turut. Malam sudah lewat pukul sembilan, dan aku sama sekali tidak mengharapkan siapa pun menghubungiku, kecuali Maya yang biasanya spam voice note kalau lagi gosip gila. Tapi bukan nama Maya yang muncul di layar ponselku. Bukan juga pesan kerjaan dari kantor.

Arkana Rivard

Turun. Saya di depan.

Aku menatap layar ponselku selama beberapa detik, antara percaya dan tidak. Apa urusan CEO Aude’C Group nongol di depan apartemenku malam-malam begini? Setelah hari yang kacau di kantor karena gosip tolol soal aku jadi selingkuhan sepupuku sendiri aku pikir setidaknya malam ini aku bisa tenang. Ternyata salah. Sangat salah.

Aku membalas.

Loh ngapain pak?

Balasannya masuk dalam hitungan detik.

Saya Nggak suka ulang dua kali, Narine. Turun.

Aku memicingkan mata. Intens seperti biasa. Mengatur seperti biasa. Otoritatif seperti biasa. Dan entah kenapa aku turun juga. Sial.

Aku mengambil jaket denim dan sling bag kecil, lalu keluar dari unit apartemenku di lantai 18. Lift terasa lama seperti sengaja mempermainkanku. Begitu pintu lobby terbuka, mataku langsung menangkap sosok berdiri bersandar pada mobil hitam metalik di area drop off. Kemeja hitam, coat abu gelap, tangan satu masuk ke saku celana, tatapannya menusuk.

Arkana.

Dia menoleh pelan begitu melihatku. Tatapan pria itu seperti biasa membaca, menilai, menyingkap sesuatu dari balik wajahku tanpa perlu banyak kata.

“Turun,” katanya singkat. Cuek. Tanpa salam, tanpa basa-basi, tanpa menjelaskan apa-apa.

Aku langsung menarik tangan Arkana untuk masuk kedalam mobil, karena Maya sedang ada di dalam dan aku berpura-pura membuang sampah.

Kalau ketauan kan berabe.

“Jadi bapak ada keperluan apa malem-malem datang kesini, di dalem ada Maya” aku menyilangkan tangan.

“Saya cuma mau ngasih tau kalau besok saya akan jemput kamu, kita berangkat bareng ke kantor" Dia memposisikan badannya kehadapanku dan nggak tau kenapa ko degdegan juga ya.

“Kalau saya nggak mau?”

Arkana tidak menjawab. Dia hanya menatapku beberapa detik yang entah bagaimana cukup membuat kakiku bergerak sendiri masuk ke dalam mobil. Membuatku terasa kalah dalam diam. Lagi.

Dia dengan perlahan mendekatkan diri pada tubuhku, dan membenarkan helaian rambut dan menghalangi wajah ku.

“Kita partner mulai besok?” bisiknya sambil menyeringai.

"Saya udah gak sabar melihat kinerja partner saya ini, good luck" lanjutnya

DEG 

Meskipun aku keder juga tapi kita harus tetep kelihatan berani, aku memberanikan diri membalas tatapan nya. Aku membelai wajah Arkana dengan pelan “Let's see, aku juga gak sabar merasakan seberapa menyenangkan nya ini .”

Arkana hanya tersenyum melihat tingkah ku yang akhhh kayak orang gila.

“Saya pulang dulu kalau gitu, mau nyicil dulu dari sekarang?”

"Nyicil?" tanyaku bingung.

"Kisses".

Aku memundurkan kepala dan langsung keluar dari mobil, bayar hutang kali ah nyicil segala.

Aku melihat dia yang tertawa lepas untuk pertama kalinya, Arkana memang setampan dan sematang itu.

Suara mesin mobil itu sudah menjauh meninggalkan aku yang masih terdiam dan memikirkan atas apa yang aku lakukan tadi.

"Sialan Narine lo tadi kenapa malah nyentuh muka Pak Arkana!!!"

****

POV Arkana 

Basement kantor itu selalu punya bau oli dan karet ban yang membuat orang biasa merasa kecil. Aku memilih tempat ini bukan karena romantis justru sebaliknya. Di ruang yang remang dan sepi, segala tindakan terasa lebih nyata karena tidak ada saksi selain dinding beton dan kamera keamanan yang mungkin lagi tersambung ke server internal. Aku butuh bukti visual. Aku butuh narasi yang bungkam gosip sebelum kursi Kabinet gosip sempat mengunyahnya lebih jauh.

Narine berdiri di bawah lampu yang redup, tampak ringkih di balik jaket denimnya, tapi matanya tetap berapi. Itu yang paling aku suka kontradiksi antara tampilan rapuh dan sikap yang tak mudah ditaklukkan. Dia menolak ketika aku memintanya turun tadi, tapi datang juga. Itu artinya dia juga membaca permainan atau mungkin dia juga ingin tahu seberapa jauh aku akan pergi.

“Sebenernya rencana bapak apa?” suaranya menahan. Ada nada menantang di balik bisik itu.

"Jangan bapak dong emang saya bapak kamu, kan kita partner AKU KAMU" tekan ku.

“Biar mereka lihat,” jawabku. Aku membiarkan mobil tetap menyala, lalu keluar, langkahku pasti di lantai beton. Aku berjalan mendekat, mengambil jarak aman. “Kita bukan mau pamer mesra untuk orang lain. Kita mau pura-pura pacaran kan, kita mulai dari sini. Cukup jelas buat menutup mulut orang-orang bodoh.”

“Kita akan tampak seperti benar-benar dekat. Cukup dekat supaya satu foto di grup chat kantor jadi cukup untuk menutup spekulasi. Inget, kita tidak butuh cinta di foto itu. Kita butuh kepastian di kepala mereka.”

Tangannya meremas tepi jaket. “Kalau orang-orang nggak percaya?”

“Akan ada yang percaya,” aku bilang. “Dan yang nggak percaya? Mereka akan bingung, dan gosip kehilangan nyawanya.”

Aku melangkah pelan menuju Narine. Aroma parfum ringan menyergap manis yang mampu membuat siapa saja yang menghirup tersenyum. Aku tak menyentuhnya dulu. Hanya berdiri cukup dekat supaya napas kami hampir berbaur.

“Kamu siap?” tanyaku.

****

POV Narine 

Adrenalin menari di nadiku, bukan cuma karena ide Arkana yang gila itu, tapi karena sensasi di tubuhku setiap kali dia mendekat sebuah magnetisme yang tak kutahu harus kutaklukkan atau kuikuti. Aku menatap pria itu, membaca keinginannya, dan sadar bahwa permainan ini juga memberiku sesuatu kontrol, kebebasan untuk memilih kapan menyerah dan kapan menahan.

“Siap,” kataku, suaraku lebih pelan dari yang kutujukan ke diriku sendiri.

Dia menggandeng lenganku dengan lembut, tapi pasti. Di bawah lampu neon yang berkedip, dia menekan punggung tangannya di pinggangku, isyarat yang cukup untuk menunjukkan kepemilikan, tapi tidak melewati batas. Ini terasa aneh dan menyenangkan sekaligus. Aku merasa seperti sedang memainkan peran dalam sesuatu yang dirancang oleh orang dewasa berbahaya: sensual tapi terukur.

Tepat saat itu, langkah kaki terdengar di kejauhan suara sepatu menapak pada beton. Kami berhenti. Jantungku berdetak cepat bukan hanya karena Arkana, tetapi karena ketegangan bahwa ini akan menjadi gosip panas lagi.

Seorang petugas keamanan lewat, menengok. Ia tak melihat kami langsung, tapi ponselnya menyala, kamera kecil di pojok. Dalam hitungan detik, dua sorot lampu dari kamera ponsel menangkap siluet kami Arkana membelai rambutku, aku menoleh, bibir kami hampir bersentuhan. Itu cukup.

Petugas itu melambaikan tangan, sekilas berbisik ke walkie-talkie, dan melanjutkan jalannya. Namun ponsel di sakunya tetap menyala. Di dunia sekarang, satu foto yang tersimpan di ponsel seseorang bisa menjadi bukti yang menyebar lebih cepat dari isu.

Arkana menarikku lebih dekat, menyentuh pipiku dengan ujung ibu jarinya gesture kecil, namun publik. “Ingat aturannya,” gumamnya, hampir tak terdengar. “Kita percaya, kita tenang, kita lakukan ini bukan untuk show, tapi untuk menutup mulut.”

Aku menutup mata sebentar, meresapi sentuhan itu ikut memainkan peran. Di dalam, aku bertanya-tanya siapa yang akan memegang kendali ketika foto itu menyebar, dan apakah permainan ini benar-benar akan membunuh gosip, atau justru menyalakannya lebih terang.

Untuk beberapa detik aku lupa bernapas. Arkana terlalu dekat. Terlalu intens. Ini bukan lagi sekadar aksi untuk kameranya satpam tadi. Ini terasa seperti sesuatu yang baru saja bergerak di antara kami.

“Ini belum selesai,” katanya.

Aku menatapnya, mencoba memastikan apakah dia serius atau hanya manipulatif. 

'Mati lo Narine, pokoknya harus nyiapin telinga deh abis ini'

Dia tidak melepaskan genggamannya di pinggangku, malah semakin mengeratkan pelukannya “Ayo kita masuk, angkat kepala kamu dan jangan sampe gugup alami aja biar orang kantor percaya.”

Aku mengikuti instruksi yang Arkana katakan, berjalan tegak dan percaya diri.

Polcaa

Happy Reading guys❤️❤️

| 2
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 115 Day One Arsya Playgroup

    Pagi itu rumah Arkana dan Narine sudah ramai bahkan sebelum matahari benar-benar naik tinggi. Jam dinding di ruang makan baru menunjukkan pukul enam lewat sedikit, tapi Narine sudah mondar-mandir dari kamar ke dapur, dari dapur ke ruang tamu, membawa berbagai barang kecil yang menurutnya penting.Di atas meja makan ada sebuah tas kecil berwarna biru muda dengan gambar dinosaurus. Tas itu terbuka, dan Narine sedang memasukkan berbagai benda ke dalamnya dengan penuh perhatian. Botol minum kecil.Kotak camilan.Tisu basah.Baju ganti.Arkana berdiri di dekat meja sambil menggendong Arsya yang masih terlihat agak mengantuk. Rambut kecil anak itu sedikit berantakan, pipinya masih tembam, dan matanya setengah terbuka.Arkana menatap tas kecil itu dengan ekspresi seperti sedang melihat sesuatu yang terlalu serius.“Ini beneran perlu?” tanyanya.Narine bahkan tidak menoleh.“Perlu.”Arkana mengerutkan dahi.“Dia masih bayi.”Narine akhirnya berhenti memasukkan barang lalu menoleh ke suaminya

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 114 Ibu Sakit, Kepala Papa pusing

    Pagi itu rumah Arkana terasa lebih tenang dari biasanya, tapi bukan dalam arti yang menyenangkan. Biasanya, sejak subuh Narine sudah bangun, menyiapkan sarapan ringan atau sekadar duduk di meja makan sambil minum teh hangat. Namun hari ini, kamar mereka masih gelap dan sunyi.Arkana berdiri di sisi tempat tidur sambil menatap istrinya yang masih terbaring di bawah selimut. Wajah Narine terlihat sedikit pucat, dan rambutnya terurai berantakan di atas bantal.Arkana mengulurkan tangan dan menyentuh dahi istrinya.“Masih hangat,” gumamnya pelan.Narine membuka mata perlahan. Suaranya serak saat berbicara.“Cuma demam sedikit kok.”Arkana menghela napas.“Sedikit tapi tetap sakit namanya.”Narine tersenyum tipis.“Kamu kerja aja. Aku istirahat.”Arkana masih terlihat ragu. Ia tidak suka meninggalkan Narine saat kondisinya seperti ini.Belum sempat ia menjawab, tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah pintu kamar.“Bu...”Keduanya menoleh bersamaan.Di sana berdiri Arsya dengan rambut aca

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 113 Proyek Adek Baru Gagal

    Setelah seharian dipenuhi suara langkah kecil, tawa, dan ocehan cadel seorang anak berusia dua tahun yang tidak pernah benar-benar bisa diam, malam menjadi seperti hadiah. Lampu ruang keluarga redup, televisi hanya menyala tanpa suara, dan udara malam terasa lebih damai dari biasanya.Arsya akhirnya tidur. Butuh hampir empat puluh menit bagi Narine untuk membuat anak itu benar-benar terlelap. Mulai dari membaca buku bergambar yang sama tiga kali, menyanyikan lagu yang bahkan Narine sendiri sudah lupa liriknya, sampai mengelus rambut halus Arsya yang akhirnya membuat matanya tertutup perlahan.Sekarang pintu kamar Arsya sudah tertutup.Dan untuk pertama kalinya hari itu, rumah benar-benar sunyi di jam 8 malam karena biasanya Arsya belum bisa tidur.Arkana menjatuhkan tubuhnya ke sofa seperti orang yang baru selesai lari maraton.“Damai banget si mbul tidur” gumamnya dramatis.Narine yang duduk di sebelahnya hanya melirik sambil tersenyum kecil. Ia masih memegang ponselnya, tapi perhat

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 112 Jatuh Bangun

    Cahaya biru dari kaca raksasa aquarium menyelimuti lorong panjang tempat Narine, Arkana, dan Arsya berjalan. Air yang bergerak pelan membuat bayangan ikan-ikan besar melintas di atas kepala mereka. Anak-anak kecil di sekitar berlarian sambil menunjuk-nunjuk kaca, tapi yang paling heboh justru Arsya.Anak kecil berusia dua tahun itu berjalan dengan langkah yang masih agak goyah. Kakinya pendek, jalannya sedikit oleng ke kiri ke kanan, tapi wajahnya penuh semangat.“Paaah!” Arsya menunjuk kaca besar dengan jari kecilnya. “Ikannn!”Arkana yang berjalan di sampingnya melirik santai.“Iya itu ikan,” jawabnya. “Papah juga tahu itu ikan.”Arsya langsung mendekat ke kaca sampai hampir menempel.“Ikannn becal banget!” katanya lagi dengan suara cadel.Seekor ikan pari besar melintas di depan kaca, membuat Arsya melonjak kecil karena terlalu senang.Narine yang berjalan di belakang mereka tertawa pelan.“Lucu banget sih,” katanya.Arkana mengangkat alis. “Lucu banget ya? Ini anak 100% Arkana DNA

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 111 Drama Toddler

    Malam sudah cukup larut ketika rumah Arkana dan Narine akhirnya benar-benar sunyi. Lampu kamar sudah dimatikan, pendingin ruangan berdengung pelan, dan dari ranjang kecil di sisi tempat tidur mereka terdengar napas halus Arsya yang sedang terlelap.Namun berbeda dengan dua penghuni rumah lainnya, Arkana justru terbangun.Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar dengan wajah datar.Perutnya berbunyi.“Krrrkk…”Arkana mengerjap, lalu menghela napas panjang.“Astaga… kenapa malah lapar sih jam segini,” gumamnya pelan.Ia melirik ke samping. Narine tidur nyenyak dengan posisi memeluk bantal. Sementara Arsya meringkuk lucu di kasur kecilnya, pipinya tembam dan rambutnya sedikit berantakan.Arkana bangkit pelan dari tempat tidur, berusaha tidak menimbulkan suara.“Masak sendiri aja deh, tidur yang nyenyak sayang,” gumamnya sembari mencium kepala Narine dan mengusap anaknya.Ia berjalan keluar kamar dengan langkah hati-hati lalu menuju dapur. Lampu dapur dinyalakan setengah tera

  • Sentuhan Pria Dewasa   Chapter 110 Perdebatan Kecil

    Hari itu adalah hari Sabtu yang jarang sekali benar-benar kosong di jadwal Arkana Rivard. Tidak ada meeting, tidak ada panggilan klien mendadak, dan untuk pertama kalinya setelah sekian minggu, Narine berhasil memaksa suaminya untuk benar-benar meninggalkan laptop kerja.Arkana masih duduk di sofa ruang keluarga dengan tablet di tangannya ketika Arsya datang berlari kecil sambil membawa mainan ikan plastik.“Papa! Papa!”Arkana menurunkan tabletnya sedikit.“Iya?”Arsya mengangkat mainan ikan itu tinggi-tinggi.“Ikaaaan calmon!”Narine yang sedang duduk di karpet sambil merapikan mainan langsung tersenyum.“Aku ada ide,” katanya santai.Arkana mengangkat alis.“Apa?”“Kita ajak Arsya ke aquarium.”Arkana menoleh.“Aquarium?”Arsya langsung melonjak kecil.“Ikaaaan!”Narine tertawa.“Tuh kan, dia setuju.”Arkana menatap anaknya beberapa detik. Arsya masih memegang ikan plastiknya sambil menatap penuh harap.“Ikan besal papa?” tanya Arsya.Arkana mengangguk kecil.“Iya. Ikan besar.”Ars

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status