Share

Bab 2

Author: Moona
Setelah Rina pergi, Alya tinggal seorang diri di kamarnya untuk memulihkan luka.

Di luar jendela, suara tonggeret bersahut-sahutan. Hawa panas musim panas yang menyengat bercampur dengan rasa nyeri di sekujur tubuhnya membuatnya tidak bisa tidur semalaman.

Hingga hari pesta ulang tahun Permaisuri tiba, Alya terpaksa menyeret tubuhnya yang belum benar-benar pulih dan bersusah payah merias diri.

Namun, saat tiba di gerbang kediaman adipati, dia melihat Adrian telah menuntun seekor kuda sambil menunggu di halaman. Di sisinya, Nadia berdiri sambil tersenyum manis dalam balutan pakaian mewah.

"Alya." Adrian mengangkat pandangannya ke arahnya dan berkata dengan nada datar. "Pengeluaran kediaman setiap hari hanya sepuluh koin tembaga. Uang itu hanya cukup untuk menyewa seekor kuda yang hanya bisa ditunggangi dua orang."

"Aku akan mengantar Nadia ke istana terlebih dahulu. Kamu berjalan saja ke sana."

Ujung jari Alya bergetar. Tangannya mengepal erat ujung lengan bajunya.

Dari kediaman adipati menuju istana, setidaknya membutuhkan waktu satu jam.

Dia membuka mulut, tetapi pada akhirnya hanya menjawab pelan, "Baik."

Alya memandangi Adrian yang membantu Nadia naik ke punggung kuda dengan penuh kehati-hatian. Setelah itu, Adrian melompat naik ke atas kuda dengan lincah, melingkarkan tangannya di pinggang Nadia, lalu memeluk dan melindunginya erat di dalam pelukannya.

Suara derap kaki kuda makin lama makin menjauh. Alya masih berdiri di tempatnya ketika tiba-tiba sebuah kenangan terlintas di benaknya.

Tiga tahun lalu, saat pertama kali memasuki istana, Adrian khawatir dia tidak terbiasa menunggang kuda. Karena itu, dia sengaja memerintahkan pelayan menyiapkan tandu yang nyaman dan mengawalnya sepanjang perjalanan.

Adrian berkata, "Istriku tidak boleh menderita sedikit pun."

Kini, rupanya kata-kata itu ditujukan untuk wanita lain.

Alya berjalan seorang diri di jalan menuju istana. Tiba-tiba langit menjadi gelap. Hujan deras dengan butiran sebesar kacang menghantam bumi dan dalam sekejap membasahi seluruh tubuhnya.

Saat dia tiba di istana dalam keadaan basah kuyup dan berantakan, perjamuan ulang tahun sudah dimulai.

Di dalam aula, cahaya lilin menyala terang benderang, alunan musik menggema, dan di tengah kemeriahan jamuan, dia melihat Nadia tengah duduk di kursi yang seharusnya menjadi tempat nyonya kediaman adipati.

"Bukannya itu nyonya kediaman adipati? Kenapa dia malah berdiri di sana?"

"Aku dengar adipati sekarang sangat memanjakan gadis pemetik bunga teratai itu. Di hatinya sudah tidak ada lagi tempat untuk nyonya kediaman adipati."

"Ah, dulu adipati sampai berlutut selama tiga hari tiga malam hingga akhirnya memperoleh dekret kekaisaran untuk menikahinya. Sekarang malah ...."

Bisikan-bisikan itu menusuk telinganya seperti jarum. Alya hanya menundukkan kepala dan diam-diam berdiri di tempat para pelayan.

Dia melihat Adrian sempat meliriknya sekilas, tetapi tidak mengatakan apa pun. Dia justru berbalik menuangkan secawan arak untuk Nadia.

"Persembahan hadiah ulang tahun."

Seiring seruan lantang kasim, para nyonya bangsawan maju satu per satu.

Saat giliran Kediaman Adipati Wira tiba, Nadia melangkah maju sambil membawa sebuah kotak brokat yang indah.

"Rakyat jelata Nadia mengucapkan selamat ulang tahun kepada Yang Mulia Permaisuri. Semoga kebahagiaan Yang Mulia seluas Laut Timur, dan berumur panjang setinggi Gunung Selatan."

Permaisuri menerima kotak brokat itu sambil tersenyum. Namun, begitu kotak dibuka, raut wajahnya langsung berubah.

"Kurang ajar!" Kotak brokat itu dibanting keras ke lantai. Beberapa manisan buah sanca menggelinding keluar dari dalamnya. "Beraninya kamu menghadiahkan benda seperti ini padaku?"

Nadia tertegun, lalu buru-buru menjelaskan, "Yang Mulia, selama ini Yang Mulia sudah terbiasa menikmati makanan lezat dari gunung dan laut. Saya rasa Yang Mulia juga sebaiknya mencicipi makanan yang biasa dimakan orang-orang miskin."

"Diam!" Seorang istri pejabat di sampingnya langsung memotong dengan suara keras. "Apa kamu tidak tahu bahwa dulu Yang Mulia Permaisuri hampir keguguran karena memakan buah sanca? Sejak itu, Yang Mulia paling membenci makanan ini! Terlebih lagi, bagaimana mungkin Ibu Negara memakan makanan sekasar ini?"

Wajah Nadia memucat, tetapi dia tetap mendongakkan kepala. "Sa ... saya tidak tahu. Selain itu, manisan buah sanca begitu enak. Mana mungkin Yang Mulia membencinya hanya karena dulu hampir keguguran setelah makan buah sanca? Lagi pula, bukankah pada akhirnya Yang Mulia juga tidak jadi keguguran."

"Kurang ajar!" Permaisuri memukul meja dengan keras hingga hiasan mutiara di mahkota burung foniks di kepalanya berguncang hebat. "Pengawal! Seret keluar perempuan rendahan yang tidak tahu diri ini!"

Wajah Nadia seketika memucat. Baru saat itulah dia benar-benar panik. Tiba-tiba dia menunjuk Alya. "Yang Mulia, mohon ampuni saya! Hadiah ulang tahun ini disiapkan oleh nyonya. Saya hanya mewakilinya untuk mempersembahkannya!"

Alya bagai disambar petir. Dia sama sekali tidak menyangka Nadia berani memutarbalikkan fakta seperti itu.

Dia maju ke depan dengan langkah sempoyongan. "Apa yang kamu bicarakan? Sekarang, kamulah yang mengurus seluruh urusan kediaman adipati. Bagaimana mungkin hadiah ulang tahun ini aku yang menyiapkannya?"

"Ini pertama kalinya aku masuk ke istana. Mana mungkin aku tahu hadiah apa yang pantas diberikan?" Mata Nadia memerah, suaranya tercekat oleh isak. "Kalau bukan karena nyonya yang menyuruhku, bagaimana mungkin aku melakukan kesalahan sebesar ini?"

"Kamu ...."

Keduanya terus berdebat tanpa henti. Permaisuri mendadak memukul meja dengan keras. "Cukup! Kalian membuat kepalaku sakit!"

Sepasang mata itu beralih kepada Adrian. "Adrian, katakan, sebenarnya hadiah ulang tahun ini ide siapa?"

Seketika seluruh aula menjadi sunyi.

Adrian melangkah maju perlahan. Jubah brokat hitam yang dikenakannya memantulkan cahaya dingin di bawah sinar lilin.

Dia terdiam cukup lama. Akhirnya, dia membuka mulut. "Lapor Yang Mulia, hadiah ulang tahun ini ... memang disiapkan oleh Alya."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 23

    Adrian mengulurkan tangan, tetapi bagaimanapun juga, dia tidak mampu meraih sosok itu.Dia hanya bisa terpaku di tempat, menyaksikan Alya pergi meninggalkannya.Beberapa saat kemudian, Nadia merangkak hingga ke dekat kakinya."Adipati, lihatlah aku. Asal kamu menyelamatkanku, aku pasti tidak akan meninggalkanmu seperti wanita jalang Alya itu. Aku ...." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Adrian menendangnya dengan keras."Siapa yang mengizinkanmu menghina Alya? Kamulah biang keladinya! Nadia, kalau bukan karena ulahmu, mana mungkin aku dan Alya berakhir seperti ini!" Dalam amarahnya, dia terus menendang Nadia hingga kesadarannya hampir hilang.Mungkin karena menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak memiliki harapan lagi, di tengah rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, Nadia justru tertawa getir."Adrian, kamu terus menyalahkanku, tapi kamu menutup mata atas semua penderitaan yang dialami Alya! Kalau bukan karena persetujuan diam-diam darimu, mana mungkin aku bisa melak

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 22

    Tujuan mereka adalah ibu kota. Dari Kota Nordan ke ibu kota, bahkan melalui rute tercepat pun membutuhkan waktu setengah bulan. Selama setengah bulan di perjalanan itu, Adrian terus membicarakan masa lalu. Dia berharap bisa melihat sedikit saja tanda bahwa Alya masih memiliki perasaan padanya. Namun, sebesar apa pun usahanya, di mata Alya hanya ada Ryan.Setiap hari mereka duduk bersama sambil mengobrol dan tertawa. Senyum mereka begitu menyilaukan di mata Adrian. Tangan mereka pun hampir tidak pernah terlepas. Bahkan saat Alya tertidur, Ryan tetap menggenggam tangannya dan sesekali memainkan jemarinya dengan lembut.Hari-hari itu terasa sangat menyiksa bagi Adrian. Namun, demi bisa terus berada di dekat Alya, dia hanya bisa menahan semuanya.Hari mereka tiba di ibu kota adalah hari yang paling membahagiakan bagi Adrian.Dengan penuh semangat, dia memimpin jalan menuju sebuah gang kumuh. Di sana dipenuhi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, yaitu para pengemis. Alya tidak me

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 21

    Ryan bergegas datang. Tanpa sedikit pun gentar, dia berdiri di antara Adrian dan Alya, menggunakan tubuhnya untuk melindungi wanita itu.Alya pun tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kamu tadi pergi ke mana, Ryan?"Senyum Alya dipenuhi kelembutan dan kepercayaan, sesuatu yang sudah lama tidak dilihat Adrian. Hanya dengan melihatnya, hatinya langsung diliputi kepanikan. Dengan suara berat, dia membentak, "Siapa kamu? Alya adalah wanitaku! Siapa yang mengizinkanmu memanggilnya seperti itu?"Ryan berbalik. Baru saat itu Alya menyadari bahwa biasanya pria itu selalu mengenakan pakaian putih sederhana dari kain biasa. Namun, hari ini, pakaian putihnya dihiasi motif-motif samar yang membuatnya tampak jauh lebih elegan dan mewah. Meski tidak mencolok, jelas terlihat bahwa pakaian itu dibuat dari bahan yang mahal.Untuk sesaat, sebuah pertanyaan muncul di benak Alya. Benarkah Ryan hanyalah seorang tabib biasa di Kota Nordan?Ryan memandang Adrian sambil mencibir. "Kalian sudah bercerai. Orang yang d

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 20

    Keesokan harinya, Adrian menunggang kuda hingga tiba di depan toko Alya di Kota Nordan.Sebagai Adipati Wira, menemukan Alya adalah perkara yang sangat mudah baginya. Karena itu, Alya tidak terkejut dengan kemunculan pria tersebut. Setelah mendapat penghiburan dari Ryan, dia sudah memikirkannya baik-baik. Bagaimanapun juga, hubungan antara dirinya dan Adrian memang harus diselesaikan dengan jelas.Begitu melihat Alya, Adrian langsung menghampirinya.Selama beberapa bulan berada di medan perang, Adrian selalu memikirkan Alya setiap detik. Bahkan setelah memenangkan perang, satu-satunya orang yang memenuhi hatinya tetaplah Alya. Dia pun memacu kudanya kembali ke ibu kota secepat mungkin. Kaisar berjanji akan memberinya kenaikan pangkat dan gelar, tetapi semuanya Adrian tolak. Dia hanya menginginkan sebuah dekret kekaisaran yang memberinya kesempatan untuk mendapatkan Alya kembali.Setelah melewati hidup dan mati, bertemu kembali dengan Alya membuatnya merasa seolah menemukan kembali sesu

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 19

    Setelah itu, Alya membuat sendiri sebuah payung dan menghadiahkannya kepada Ryan sebagai bayaran atas jasa pengobatannya selama ini. Saat menerimanya, Ryan tampak begitu bahagia. Sorot matanya dipenuhi kegembiraan yang tidak mampu dia sembunyikan.Tatapan penuh kehangatan itu membuat jantung Alya ikut berdebar lebih cepat.Tanpa terasa, tiga bulan pun berlalu. Alya sudah terbiasa dengan kehadiran Ryan di sisinya. Bahkan Rina terkadang tidak kuasa mengeluh karena tabib itu selalu mengambil alih pekerjaannya dan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk tampil menonjol di depan nonanya.Melihat Rina merajuk dengan pipi menggembung, Alya tidak kuasa menahan tawa.Namun, sebelum cuaca panas benar-benar berakhir, kabar dari ibu kota akhirnya sampai ke Kota Nordan. Adipati Wira, Adrian, kembali setelah meraih kemenangan besar. Kabarnya, dia bertempur dengan sangat gagah berani hingga berhasil memenggal kepala Raja Borea dan membawanya kembali untuk dipersembahkan kepada Kaisar.Rumor yang ber

  • Sepuluh Koin Tembaga, Seumur Hidup Penyesalan   Bab 18

    Tentu saja Alya tidak keberatan.Sebenarnya, dia sempat mengajak Rina untuk ikut, tetapi Rina buru-buru kabur menjauh. Mau tidak mau, akhirnya hanya Alya dan Ryan yang pergi bersama.Belum lama mereka berjalan, hujan mulai turun. Wilayah Kota Nordan memang sering diguyur hujan, terlebih saat musim semi yang kerap diselingi gerimis. Ryan sudah terbiasa dengan cuaca seperti ini. Dia segera membuka payung dan mengarahkannya ke atas kepala Alya."Hati-hati, jangan sampai kehujanan." Sambil berkata begitu, dia sengaja menggeser payung sedikit ke arah Alya.Air hujan membasahi sebagian bahu pria itu, tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya.Baru setelah mereka tiba di tujuan, Alya menyadari bahwa bahu Ryan hampir seluruhnya basah, memancarkan hawa lembap."Kenapa tadi tidak bilang? Bajumu sudah basah kuyup." Nada suara Alya menyiratkan kekhawatiran.Namun, Ryan hanya menepuk-nepuk air di pakaiannya dengan acuh tak acuh, lalu tersenyum kepadanya. "Tubuhmu lemah. Kalau sampai kamu kehujanan,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status