Share

6. Fakta yang Membingungkan

Bel tanda berakhirnya pelajaran kedua sudah dibunyikan. Beberapa murid langsung berhamburan dari kelas dan terburu-buru menuju kantin. Sudah pasti mereka menghindari yang namanya antrian panjang. Begitupun dengan Ratna yang seperti cacing kepanasan. Agak mengomel saat dua sahabatnya justru bergerak layaknya binatang moluska. Sangat lamban.

“Lis, Sar. Ayok, dong ...,” tegur Ratna yang sudah tidak sabaran. “Kalian tau nggak, sih? Cacing-cacing diperut gue udah pada koprol minta makanan.”

“Iya-iya, sabar, dong.” Sarah segera bangkit, tapi ia melihat Ailis masih duduk diam dan merasa heran.

“Nungguin Alarik, ya?” tanya Sarah mulai menebak.

Ailis lantas menaikkan wajah menatap dua sahabatnya, dan terlihat ragu untuk menjawab.

“Akhirnya ... si Arik dapet hidayah juga.”

Ailis tidak heran dengan sindiran Ratna, karena dia sendiri lupa kapan terakhir kali Alarik mengajaknya makan di kantin—berduaan. Hanya saja bukan itu alasan sebenarnya. Bukan karena Alarik mengajaknya makan, tapi karena seseorang di belakang sana—yang ia lihat—masih duduk di kursinya; menunduk diam dan entah apa yang sedang cowok itu pikirkan.

Sarah sempat mengikuti arah tujuan pandangan Ailis, dan itu membuat mimik wajahnya berubah curiga.

“Ya udah, lo tungguin aja si Arik itu. Kita berangkat duluan nggak apa-apa, kan?” Ratna kembali menyahut yang dibalas anggukan pelan oleh Ailis.

Lantas Ratna menarik tangan Sarah.

Sebenarnya Sarah enggan. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Tiba-tiba terlintas di pikirannya, jika Ailis akan berbuat sesuatu pada Ares. Namun, ia juga tidak punya alasan untuk menolak ajakan Ratna. Lagian kenapa dia harus setakut itu?

“Dadah, Lis. Sampe ketemu di kantin!” seru Ratna sebelum berlalu.

Sekarang yang ada di dalam kelas hanya ada dia dan Ares. Gadis itu bingung juga harus memulainya dari mana, lebih-lebih rasa gugup tiba-tiba muncul dan membuat napasnya sulit diatur. Namun, kapan lagi? Ini kesempatan yang bagus, bukan?

Sehingga ia memberanikan diri untuk segera berdiri dan tanpa aba-aba langsung berbalik badan.

“Uh!” pekiknya yang lumayan kaget, sebab satu langkah lagi kakinya melangkah, ia akan bertabrakan dengan Ares—yang tidak tahu menahu sudah beranjak dan hendak pergi. “Ma-maaf.” 

Kata itu langsung muncul begitu saja, membuat ia pun refleks mundur satu langkah. Sedangkan Ares sama sekali tidak berbicara, dan malah melewatinya.

“Tunggu!” Sigap saja Ailis mamanggil dan berlari menyusul, sampai berdiri lagi tepat di depan Ares. Mata mereka sempat bertemu, sampai kemudian gadis itu berkata sambil menjulurkan tangan, “Namaku Ailis.”

Cowok itu lagi-lagi masih diam. Keningnya mengernyit sebagai reaksi dari kebingungan yang saat ini ia rasakan.

Dari mimik yang ditunjukkan saja, Ailis sudah bisa menebak sesuatu—membuat sudut bibirnya menukik tipis.

“Kemarin kita ketemu di kebun belakang sekolah. Masih inget, kan?” Gadis itu terus melancarkan rencananya. “Kamu abis ngerokok dan sama sekali nggak minta maaf udah bikin tangan aku kena puntungnya.”

Iris hitam seperti kopi itu melirik tangan Ailis—yang menunjukkan luka bakarnya—walaupun hanya setitik.

“Sebenernya aku udah yakin siapa kamu, tapi ... aku pengen denger nama itu dari mulut kamu.”

“Beb.”

Belum juga Ailis menyelesaikan rencananya, seseorang sudah datang dan membuyarkan suasana tenang yang tercipta; membuat Ailis lantas menurunkan tangan, dan mereka berdua menoleh ke sumber suara.

Ailis menyesalkan kehadiran Alarik. Dia sama sekali tidak tahu kenapa cowok itu harus datang di waktu yang tidak tepat. Padahal Alarik sama sekali tidak mengirimkan pesan untuknya. Namun, bukannya menyapanya, cowok dengan hidung bangir itu malah terkejut dengan keberadaan Ares.

“Eh, lo anak baru itu, ya?” tanya Alarik setelah berada lebih dekat sambil telunjuknya mengarah ke wajah Ares. “Tapi ... muka lo kayak nggak asing. Kita pernah ketemu sebelumnya nggak, sih?”

“Mungkin lo salah lihat,” jawab Ares singkat, yang untuk pertama kalinya membuka suara di depan Ailis. Bahkan sampai membuat gadis itu melongo menatapnya.

“Umm....” Alarik masih berusaha untuk berpikir. “Ah, ya. Gue inget.”

Ucapan setengah girang itu menarik tatapan penasaran dari Ares dan Ailis. Gadis itu tentu saja tidak meragukan ingatan cowok jenius tersebut, tapi di mana mereka pernah bertemu dan kapan?

“Waktu itu kita ketemu di rumah Ailis, kan?”

“Hah?! Rumah aku?” Ailis tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutannya. “Gimana bisa?”

Alarik serta merta melangkah ke samping Ailis dan merangkul pundak kekasihnya itu. “Malem itu aku mau nengok kamu, terus aku ngelihat dia ada di ruang tamu lagi ngobrol sama Bunda dan Teh Risna. Iya, kan?” Tatapannya kembali tertuju pada Ares yang masih bungkam, dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari Ailis. “Katanya sih dia ini pengantar pizza dan lagi nganterin pesanannya Teh Risna. Cuma kayaknya udah akrab banget sama orang rumah.”

“Nggak mungkin.”

Ailis mulai lelah menanggapi semua yang mereka ceritakan tentang Ares. Rasa-rasanya ia sudah kehabisan napas dan benar-benar bingung. Lebih lagi cowok yang ada di hadapannya itu tidak berniat untuk membuka suara dan menjelaskan sesuatu.

“Jadi, ternyata lo sekolah di sini juga,” kata Alarik yang masih bersikap welcome padanya.

Berbeda sekali dengan Ailis yang sudah meledak-ledak. Sehingga tanpa antipati lagi, gadis itu menarik kakinya satu langkah hingga lebih dekat dengan cowok jangkung tersebut. Sikapnya itu tentu saja mengundang kebingungan di pikiran Alarik.

“Jadi kamu sempet ke rumah aku, tapi sama sekali nggak nemuin aku?” ucapnya agak gemetar. Bahkan air matanya sudah hampir berlinang. “Di rumah, kamu bersikap baik sama Bunda dan Teh Risna, tapi di sekolah kamu cuek sama aku? Jadi, sebenernya apa maksud kamu pura-pura nggak kenal aku?!” []

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status