Share

Bab 3

Author: Alisha Avandra
Pada tahun Jihan dan Jevan menikah, Susi dan Lino Maharani bercerai.

Bisnis Lino bangkrut, tetapi utang-utangnya bukanlah hal yang menghancurkan keluarga itu. Yang menjadi penyebabnya justru perselingkuhannya dengan seorang wanita lain yang akhirnya terbongkar.

Keluarga Maharani kembali terlibat dalam pertengkaran besar yang entah sudah keberapa kalinya.

Jihan masih ingat sampai sekarang, pada malam Lino pergi, Susi dengan wajah murka berteriak kepada ayahnya.

"Kalau berani, pergi saja ke wanita itu, dan jangan pernah kembali!"

Kalimat yang sebenarnya diucapkan untuk menahan seseorang agar tidak pergi itu justru menjadi kesempatan bagi Lino untuk meninggalkan semuanya tanpa beban.

Saat itu, Jihan sama tenangnya dengan Susi hari ini. Dengan tenang, dia mendengarkan ibunya berkata, "Begitulah pernikahan. Pikirkan baik-baik apa kau benar-benar ingin menikah dengan Jevan."

Jihan juga tidak mau mendengarkannya.

Seperti semua wanita yang sedang dimabuk cinta, dia begitu yakin bahwa dirinya berbeda dari wanita lain. Dia bahkan pernah mengatakan sesuatu yang kejam kepada Susi.

"Aku nggak seperti Ibu, dan Jevan juga nggak seperti ayah."

Lalu, apa?

Dia justru menempuh jalan yang sama dengan ibunya.

Percakapan telepon itu berakhir dengan ketegangan. Jihan bersandar lemas pada dinding.

Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sementara rasa muak yang mendalam perlahan menjalar dari lubuk hatinya.

Bukan terhadap Jevan.

Bukan pula terhadap Susi.

Melainkan terhadap dirinya sendiri.

Pertengkaran dan perang dingin dalam pernikahan hanyalah wujud luarnya yang mengerikan. Hal yang jauh lebih kejam adalah bagaimana semua itu perlahan menggerogoti batinnya, membuatnya terus-menerus meragukan, merendahkan, dan membenci dirinya sendiri.

Saat Jihan sedang menyeka air mata, dia melihat Sean keluar dari pintu belakang di sebelahnya.

Pria itu mengenakan setelan jas yang rapi, tampak dingin dan sopan. Jari-jarinya yang panjang dan berkulit putih menjepit sebatang rokok yang belum dinyalakan. Ketika mata hitamnya menatap Jihan, tidak tampak emosi apa pun di sana.

"Ambil mobil?" tanyanya dengan nada datar.

"Ya."

Jihan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya dengan susah payah.

"Terima kasih untuk kemarin," kata Jihan.

Sean meliriknya sekilas dan membalas, "Dulu aku nggak pernah melihatmu begitu suka berterima kasih."

Jihan tidak tahu dulu yang dimaksud Sean itu merujuk pada kapan.

Namun, saat masih sekolah dan terus mengejarnya tanpa menyerah, Jihan memang benar-benar mengandalkan cara-cara agresif untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.

Memanfaatkan keuntungan karena mereka duduk sebangku, dia malah tidak pernah duduk di kursinya sendiri. Setiap kali Sean tidak ada, Jihan akan duduk di tempat pria itu, lalu berdalih dengan alasan yang terdengar masuk akal bahwa dirinya suka duduk dekat jendela.

Tentu saja, Jihan pada masa itu jauh lebih tidak tahu malu. Setelah Sean duduk di kursinya dengan wajah dingin tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia akan mendekat dan berbisik.

“Aku juga menyukaimu.”

Tentu saja tidak ada tanggapan.

Bukan hanya tidak ada, dia malah mendapat tatapan Sean yang semakin muram dan dingin.

Jihan yang sekarang tidak akan pernah lagi merasakan debaran khas seorang gadis remaja saat berhadapan dengan orang yang disukainya, apalagi memiliki keberanian luar biasa untuk mengungkapkan perasaan itu melalui tindakan.

Sepuluh tahun bersama Jevan telah mengikis habis seluruh keberanian, temperamen, dan semangatnya yang menggebu-gebu.

Ucapan Sean tadi membuat Jihan kehabisan kata-kata untuk menjawab.

Dan pria itu tampaknya juga tidak berniat berbincang lama dengannya. Dia menarik kembali tatapan mata hitamnya itu, lalu menjauh untuk merokok.

…

Jihan mengemudi kembali ke rumah sakit.

Setelah mengenakan jas putihnya, Jihan pergi ke toilet, namun saat keluar, dia melihat Nadya berdiri di depan wastafel.

Begitu melihatnya, Nadya tampak sedikit gugup. Namun, dia kembali memberanikan diri untuk bertanya dengan nada penuh perhatian, "Bu Jihan, kemarin saljunya sangat lebat, apa Anda nggak masuk angin dalam perjalanan pulang?"

Jihan membuka keran untuk mencuci tangan, tanpa mengangkat kelopak matanya sedikit pun, lalu menjawab, "Kalau masuk angin, apa kau masih bisa melihatku di sini?"

Nada bicaranya dingin, dan raut wajahnya pun sama sekali tidak ramah.

Wajah Nadya tampak sedikit masam.

"Bu Jihan, apa Anda nggak menyukai saya?"

Jihan mematikan keran, lalu meliriknya sekilas, dan menjawab, "Kenapa harus menyukaimu? Apa kau orang yang pantas disukai?"

Nadya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan berkata, "Anda itu ‘kan istrinya Pak Jevan, dan Pak Jevan adalah atasan saya, jadi tentu saja saya berharap bisa mendapat pengakuan dari Anda."

"Bagaimana mungkin aku nggak mengakuimu?"

Jihan menarik sudut bibirnya tanpa ekspresi.

"Aku bahkan sudah mengakuimu sebagai pacarnya Jevan, bukannya itu sudah disebut pengakuan? Atau, apa jangan-jangan kau ingin menjadi istri bosmu?"

Sambil berkata begitu, dia tersenyum lagi, "Oh ya, sekadar pengingat saja, kalau jadi istri Jevan, kau harus siap diselingkuhi berkali-kali, mengerti?"

Mata Nadya sampai memerah.

"Bu Jihan, saya cuma ingin menunjukkan perhatian dan menyapa Anda, nggak perlu berbicara setajam itu."

"Nggak apa-apa kalau Anda salah paham pada saya, tapi mengatakan hal seperti itu tentang Pak Jevan, bukannya itu sudah berlebihan? Beliau kurang sehat sejak semalam, jadi pagi ini saya langsung mengantar ke rumah sakit. Tapi, Anda bukan cuma nggak peduli padanya, malah menyindir dan mengejeknya. Anda benar-benar terlalu …."

Nadya menatapnya dengan sorot mata tajam.

Sikapnya yang begitu percaya diri dan merasa paling benar justru membuat Jihan tampak seperti penjahat besar.

Jihan mengambil selembar tisu untuk mengeringkan tangan.

"Apa otak Jevan bermasalah?"

Nadya tertegun sejenak, dan menjawab, "Pak Jevan minum terlalu banyak sampai pendarahan lambung."

Jihan meliriknya tajam dan berkata, "Kalau begitu, apa otakmu yang bermasalah?"

Nadya terdiam.

Nadya berkata, "Bu Jihan, Anda itu seorang dokter, bagaimana bisa Anda memaki orang? Apa Anda nggak punya sopan santun?"

Jihan tidak menghiraukannya dan langsung berjalan keluar dari toilet.

Tangan kirinya dimasukkan ke saku jas putihnya, sedangkan tangan kanannya mengepal dengan ibu jari menunjuk ke papan petunjuk yang tidak jauh dari sana.

"Jevan pendarahan lambung, tapi kau bukannya di bagian gastroenterologi di lantai bawah, malah muncul di sini, di bagian bedah saraf. Kalau bukan untuk memeriksa otakmu, coba jelaskan, untuk apa kau ada di sini? Apa kau dilarang masuk ke toilet wanita di lantai bawah?"

Suasana hening.

Ekspresi Jihan tampak dingin.

Nadya mengepalkan tangannya erat-erat.

Dia menatap wanita di hadapannya, yang wajahnya begitu cantik hingga sulit diungkapkan dengan kata-kata. Wajah itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi, tetapi sepasang mata indahnya berkilau seperti air, seolah-olah mampu memikat siapa pun.

Dia sudah sering mendengar desas-desus di perusahaan.

Konon, dia diterima bekerja karena wajahnya tujuh puluh persen mirip dengan istri bos saat masih muda, ditambah lagi nama mereka yang serupa, sehingga berhasil menarik perhatian sang bos.

Tetapi, dia tidak peduli.

Menurutnya, dia lebih lembut daripada Jihan dan lebih memahami isi hati Jevan.

Yang terpenting, Jihan sudah hampir berusia tiga puluh tahun, sedangkan dia baru dua puluh dua tahun, jauh lebih muda dari wanita itu.

Tidak ada pria yang tidak menyukai wanita muda.

"Bu Jihan."

Bibir Nadya yang mungil dan menawan membentuk senyum penuh percaya diri.

"Gadis muda yang berduri bisa menjadi mawar yang cantik, tapi wanita tua berduri hanya akan jadi wanita tua yang menyebalkan. Saya rasa Anda paling paham hal ini, kan?"

Jihan mengangkat kelopak matanya dan meliriknya.

Tatapan Jihan datar, pembawaannya dingin, dan jas putih bersih yang dikenakannya membuatnya terlihat semakin sulit didekati.

Tanpa sadar, Nadya mundur dua langkah.

Jihan berkata, "Kenapa terburu-buru sekali menyebut wanita berusia dua puluh delapan tahun sebagai wanita tua yang menyebalkan? Apa ibumu nggak hidup sampai usia dua puluh delapan tahun, atau kau sendiri akan mati begitu sampai usia dua puluh delapan tahun?"

Pupil mata Nadya membesar, wajahnya memerah karena marah dan berseru, "Jihan, kau …."

"Aku apa hah?"

Jihan memotongnya dengan tidak sabar.

"Kalau otakmu bermasalah dan ingin berkonsultasi, daftarkan diri dulu di lobi lantai satu."

"Lagi pula, kalau kau mau pria kotor seperti Jevan, ambil saja. Aku nggak tertarik bersaing denganmu menjadi tempat penampungan sampah."

Setelah dia selesai berbicara, air mata menggenang sudut mata Nadya. Namun, ketika tatapannya beralih ke belakang Jihan, dia kembali menahan air matanya dengan tegar.

Jihan menoleh.

Jevan berdiri bersandar pada dinding dengan kemeja dan celana panjang bermerek. Kerah kemejanya sedikit terbuka, sementara tubuhnya yang tinggi tampak santai bersandar di sana.

Wajah pria itu tampak pucat dan lemah, tetapi tatapannya tetap tertuju tajam pada Jihan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status