Share

Bab 4

Author: Alisha Avandra
Jihan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun, lalu melangkah maju.

Saat melewati Jevan, pria itu menyunggingkan senyum sinis dan berkata, "Kau menganggapku kotor?"

Jihan membalas, "Memangnya kau nggak kotor?"

Jevan tertawa, lalu berkata, "Terus bagaimana, padahal aku sekotor ini, tapi kau juga sudah berkali-kali kutiduri, kan?"

Sebelum menikah, Jihan sebenarnya sudah sering mendengar banyak cerita tentang pria yang berselingkuh.

Cinta yang tumbuh sejak muda, hubungan yang terjalin sejak kecil, bahkan ikatan yang telah melewati hidup dan mati, seindah apa pun awal sebuah hubungan, semuanya bisa berakhir menjadi tragedi dengan akhir yang menyedihkan.

Jihan selalu mengira bahwa dirinya adalah orang yang diberkati oleh Tuhan.

Jevan tidak akan mengkhianatinya. Pernikahan mereka akan bahagia, mereka akan terus saling mencintai, dan kelak akan memiliki anak sebagai buah cinta mereka.

Namun, bagaimana kenyataannya?

Pernikahannya tidak bahagia, dia dan Jevan juga tidak akan memiliki anak, mereka bukan hanya sudah tidak saling mencintai, tetapi bahkan kini menggunakan kenangan masa lalu yang paling intim untuk saling menyakiti.

"Jevan."

Jihan memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya kembali, tatapannya sedingin es.

"Jangan paksa aku sampai menyesal pernah mencintaimu."

Tubuh Jevan menegang sesaat.

Saat itu, seorang perawat menghampiri dan mengingatkan Jihan, "Dokter, operasi akan dimulai setengah jam lagi, sudah waktunya bersiap."

"Ya."

Saat ini, Jihan adalah dokter residen di Departemen Bedah Saraf Rumah Sakit Kota Kencana. Karena pengalamannya belum cukup, dia belum bisa memimpin operasi. Di ruang operasi, dia hanya bertindak sebagai asisten dokter bedah utama.

Namun, meskipun hanya menjadi asisten, menjalani satu operasi pembedahan tengkorak saja sudah sangat menguras tenaga dan konsentrasi.

Malam ini, Jihan masih harus bertugas jaga malam.

Setelah selesai memeriksa pasien pada malam hari, Jihan kembali ke ruang jaga untuk beristirahat.

Begitu memejamkan mata, pertengkaran menyakitkan dengan Jevan sore tadi kembali terlintas di benaknya.

Jevan sangat ambisius dan bekerja keras. Dia bahkan sudah beberapa kali jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit akibat minum alkohol demi urusan bisnis.

Beberapa tahun yang lalu saat Jevan mabuk, karena takut Jihan marah dan tidak ingin membuatnya khawatir, pemuda kaya raya keturunan pejabat itu hanya berani diam-diam pergi ke klinik untuk diinfus.

Tak disangka, dia justru mendatangi klinik yang tidak bertanggung jawab. Tukak lambung yang dideritanya malah berujung menjadi perdarahan lambung akibat penanganan yang buruk.

Dia dibawa ke rumah sakit kota pada tengah malam dan kebetulan bertemu Jihan, yang saat itu sedang menjalani masa magang.

Jihan merasa marah sekaligus sedih melihat keadaannya.

Mulutnya terus mengomeli Jevan, tetapi Jihan tetap menjaganya tanpa beranjak sedikit pun.

"Jevan, kalau kau terus minum seperti ini, percaya nggak aku pasti akan bercerai denganmu! Aku nggak mau bersamamu lagi."

"Sayang, aku salah. Aku janji lain kali aku nggak akan menyembunyikannya darimu."

"Jangan pernah menyembunyikan apa pun dariku, dan jangan minum lagi!"

"Iya, iya, iya. Aku janji."

Hal yang saat itu tampak seperti bukti betapa harmonisnya hubungan mereka. Namun, jika dipikirkan sekarang, sebenarnya sudah ada pertanda tertentu yang tersirat di dalamnya.

Jihan tidak ingin dia minum lagi.

Namun, Jevan sama sekali tidak mendengarkannya.

Saat itu hubungan mereka masih mesra, bahkan menyebut kata "cerai" pun terasa seperti candaan mesra.

Sebaliknya, ketika hubungan mereka perlahan merenggang, sekalipun bertengkar hebat dan saling melontarkan kata-kata paling menyakitkan, kata "cerai" justru menjadi semacam tabu, tak ada lagi yang berani mengatakannya.

Sampai kemarin.

Jihan menyerahkan surat perjanjian perceraian kepadanya.

Setelah beristirahat selama setengah jam di ruang jaga, Jihan melepas jas putihnya, mengenakan jaket bulu angsa, lalu bersiap turun untuk mencari makan.

Pintu lift terbuka.

Jihan mengangkat pandangannya, lalu tertegun sejenak.

Dia tidak menyangka akan bertemu Sean.

Pria itu mengenakan setelan hitam pekat yang dirancang khusus, dengan aura berkelas dan berwibawa. Saat melihatnya, sikap pria itu tetap dingin dan menjaga jarak seperti biasa.

Jihan melangkah masuk ke dalam lift.

Di dalam ruang sempit dan tertutup itu, hanya ada mereka berdua.

Sean bertubuh tinggi dan tegap. Saat mendongak, Jihan melihat garis rahangnya yang tegas.

Tiba-tiba dia teringat masa sekolah, saat pria itu duduk di sampingnya dan dirinya sering memandangnya seperti ini.

Sean yang berusia tujuh belas tahun memiliki pesona khas remaja. Namun, sama seperti sekarang, dia juga dingin dan pendiam.

Hanya saja, saat itu dia berpakaian sederhana dan hidup dalam kemiskinan.

Barang paling berharga yang dimilikinya hanyalah seragam sekolah dengan kombinasi warna hitam, merah, dan putih yang mencolok.

Saat itu, tak ada yang menyangka bahwa Sean yang tak memiliki apa-apa akan menjadi tokoh terkemuka di dunia bisnis seperti sekarang, dia bagaikan sebuah keajaiban yang berhasil mencapai ketinggian yang tak mampu dijangkau orang lain.

Dari sudut matanya, Jihan melihat pria itu membawa sebuah kotak bekal makanan dengan jari-jarinya yang panjang dan bergaris tegas.

Dia berinisiatif bertanya, "Ada anggota keluargamu yang dirawat di rumah sakit?"

"Ya."

Ekspresi Sean tetap datar dan acuh tak acuh. Jelas, dia tidak berniat melanjutkan pembicaraan itu.

Namun, Jihan teringat bahwa di lantai atas departemennya hanya ada bagian psikiatri.

Ibu Sean menderita gangguan jiwa.

Kalau dipikir-pikir, ini juga semacam kesalahpahaman yang tidak disengaja.

Dulu, saat mengejar Sean, dia tidak menghiraukannya, mulutnya seolah ditutup dengan lem super, sehingga apa pun yang ditanyakan Jihan, pria itu tetap tidak mau menjawab.

Namun, dia justru semakin gigih.

Jihan bahkan menyuap si biang gosip kelas untuk mencari tahu sedikit tentang minat dan kesukaan Sean.

Tak disangka, informasi yang didapat justru mengungkap seluruh keadaan keluarga Sean hingga ke akar-akarnya.

Kabar bahwa ibu Sean menderita gangguan kejiwaan pun menyebar tanpa diduga.

Anak-anak remaja pada masa pubertas sering berbicara tanpa berpikir. Mereka bahkan sengaja menyebut gangguan kejiwaan dengan istilah hinaan seperti "orang gila".

Jihan saat itu tidak mengetahui kebenarannya.

Dia hanya sibuk berkata dengan penuh keyakinan kepada Sean, "Sean, nanti aku akan belajar kedokteran dan menyembuhkan penyakit Bibi secara gratis. Sebagai gantinya, kau harus menikah denganku."

Sean memasang wajah kaku, tatapannya semakin dingin dan muram.

Baru setelah masuk universitas dan benar-benar mulai belajar kedokteran, Jihan memahami bahwa Ratih Wicaksono memiliki gangguan kejiwaan, bukan seperti makian "orang gila" yang biasa dilontarkan orang.

Hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan bidang bedah saraf yang akan dipelajarinya.

Namun, mungkin karena sejak dini sudah mengenal bedah saraf, tanpa sadar dia akhirnya memilih jalan ini.

Kabar tentang penyakit Ratih menyebar saat mereka masih sekolah, dan Jihan merasa ikut bertanggung jawab atas hal itu. Meskipun perasaan cinta monyetnya pada masa remaja telah lama hilang, dia tetap merasa bersalah atas kejadian tersebut.

"Ada yang bisa kubantu?"

"Aku bekerja di bagian bedah saraf dan juga akrab dengan dokter di bagian psikiatri. Kalau butuh bantuan, kau bisa menghubungiku kapan saja."

Di depan pintu lift, Jihan keluar dan mengikuti langkah Sean sambil berbicara.

Mendengar itu, Sean menunduk dan meliriknya sekilas.

Setelah mengalihkan pandangannya, dia menjawab datar, "Aku nggak butuh bantuanmu."

Nada suaranya dingin dan tegas.

Seolah-olah, Sean bahkan lebih muak kepadanya sekarang dibandingkan saat mereka masih sekolah dulu.

Jihan yang dahulu begitu bahagia hingga dirinya sendiri menjadi seseorang yang penuh energi. Dia begitu bahagia sampai-sampai tidak merasa kesal ataupun meragukan dirinya sendiri, bahkan ketika harus menghadapi sikap dingin.

Tetapi sekarang?

Dia telah kehilangan dirinya yang bahagia itu.

Ditolak dengan dingin oleh Sean, dia pun sudah tak lagi bisa bersemangat seperti dulu.

Hanya bisa diam saja.

Kalau dipikir-pikir, dengan status dan kekuasaan Sean sekarang, sumber daya medis seperti apa yang tidak bisa dia dapatkan? Jika Jihan mengatakan hal-hal seperti itu sekarang, justru akan terlihat seperti sedang berpura-pura peduli.

…

Jihan makan semangkuk kecil pangsit wonton di restoran dekat rumah sakit. Lalu kembali ke rumah sakit.

Namun, dia mendapati Jevan sedang berdiri depan ruang jaga.

Pria itu menatapnya lekat-lekat dengan mata gelapnya, jelas menunjukkan ketidaksenangan.

"Kau pergi ke mana saja?"

Nada suara Jevan penuh dengan tuntutan, tetapi Jihan malas menanggapinya.

Jevan mengernyit dan berkata, "Jihan, kau terus-terusan memasang wajah sedingin itu padaku, apa nggak bosan?"

"Dibandingkan kebiasaanmu yang suka berkencan dengan wanita lain setiap hari, memang nggak seberapa."

Jihan menyeringai sinis saat mengatakannya.

Dia berhenti sejenak, lalu menatap pria itu dengan tatapan dingin dan bertanya, "Surat perjanjian cerainya sudah kau tandatangani?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status