Share

Bab 2

Author: Alisha Avandra
Suaranya terdengar dingin dan berat, bahkan lebih dingin dan tak berperasaan daripada salju.

Jihan menundukkan pandangannya dan menjawab, "Aku baru saja mau pulang."

Sean melirik ke arah dari mana Jihan datang.

Tatapannya datar hingga sulit menebak perasaannya, namun Jihan merasa sangat malu.

Sean adalah sahabat karib Jevan, tentu saja dia tahu bahwa arah yang ditempuh Jihan berlawanan dengan Griya Cendana, dan tentu saja pria itu tahu betul betapa bebasnya Jevan bermain-main dengan wanita lain selama bertahun-tahun ini.

Jihan adalah bahan pembicaraan sekaligus lelucon di lingkaran pergaulan mereka.

"Biaya perbaikan tabrakan ini, kirimkan tagihannya padaku, aku akan mentransfer uangnya."

Dia tidak ingin berada di dekat siapa pun yang memiliki hubungan dekat dengan Jevan.

Sean melirik bagian kedua mobil yang bertabrakan. Saat menundukkan pandangannya, dia melihat sudut mata Jihan yang masih memerah bekas air mata, tersembunyi di balik bulu mata yang lentik.

Pandangannya kemudian turun ke jari-jari tangan Jihan yang terkulai di sisi tubuhnya, kosong tanpa cincin.

"Pindah ke samping!"

Sean berkata dengan suara dingin dan tegas.

Jihan belum sempat memahami apa yang terjadi, tiba-tiba pria itu sudah membungkuk dan masuk ke mobilnya. Pada saat yang sama, Sean memerintahkan asistennya untuk membawa pergi mobil Bently tersebut.

Asistennya semula ingin mengingatkan bahwa sebentar lagi bosnya harus menemui klien penting. Namun, melihat ekspresi Sang Bos yang tidak memberi ruang untuk dibantah, dia memilih untuk tutup mulut.

Sean melirik ke arah wanita yang masih berdiri mematung di luar mobil, lalu berkata, "Naiklah, aku antar."

Jihan menjawab, "Terima kasih, tapi aku nggak perlu."

Dia meminta pria itu turun dari mobilnya.

Sean seolah tidak mendengar ucapannya, dan berkata, "Dengan kondisi emosimu sekarang, apa kau yakin bisa menyetir? Mau menabrak Bently lagi, atau Ferlari?"

Jihan terdiam.

Angin dan salju membuat ujung hidung Jihan memerah. Dia menatap Sean dengan kesal dan malu, tidak habis pikir bagaimana pria dengan wajah setampan itu bisa mengucapkan kata-kata sepedas itu.

Namun, dia tidak menyangka masih ada kata-kata yang lebih menyebalkan.

Sean berkata dengan wajah datar, "Kalau nggak naik, aku pergi sekarang."

Jihan membalas dengan geram, "Ini mobilku!"

"Makanya, kusuruh kau naik."

Jihan kembali terdiam.

Akhirnya, Jihan pun duduk di kursi penumpang depan mobilnya sendiri.

Dia memberi tahu alamat tempat tinggalnya kepada Sean. Pria itu hanya menjawab singkat, "Hm," lalu mulai menyetir tanpa menyalakan navigasi. Jari-jarinya yang beruas tegas menggenggam kemudi, mengantarnya ke tujuan dalam keheningan sepanjang perjalanan.

Setelah mobil berhenti. Jihan melepas sabuk pengaman dan hendak turun, tetapi Sean meliriknya sekilas, lalu berkata, "Apa kau lupa sesuatu?"

Jihan menatapnya dengan bingung.

Sean menjawab, "Biaya ganti rugi."

Tentu saja Jihan tidak akan mengelak soal uang ganti rugi itu. Namun, setelah diingatkan oleh Sean, dia baru teringat bahwa dirinya belum memiliki kontak pria itu. Jihan pun berinisiatif mengeluarkan ponsel dan berkata, "Berapa nomor kontakmu? Nanti kirimkan tagihannya padaku."

Sean tidak bersikap sungkan padanya.

Jihan menyimpan ponselnya, berpikir sejenak, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Terima kasih sudah mengantarku."

Lalu dia menambahkan, "Di sini sulit mendapatkan taksi, kau bawa saja mobilku pulang, besok aku akan datang ke tempatmu untuk mengambilnya."

Sean mengangguk singkat, lalu melangkah pergi.

…

Malam harinya, Jihan menerima pesan dari Sean.

Pesan itu hanya berupa sebuah lokasi, mungkin untuk memberitahunya tempat mengambil mobil keesokan hari. Selain itu, tidak ada pesan lain.

Jihan membalas Sean dengan kata-kata: [Baiklah, terima kasih.]

Tidak ada balasan dari pihak sana.

Jihan membuka lokasi tersebut, lalu mencarinya di peta. Barulah dia menyadari bahwa perjalanan ke sana saja membutuhkan waktu satu jam dalam kondisi normal, apalagi saat cuaca buruk disertai angin dan salju.

Jadi, apakah Sean baru tiba pada jam segini?

Tiga jam penuh.

Jihan sangat memahami betapa berharga waktunya bagi seseorang dengan status dan kedudukan seperti Sean.

Dia menatap foto profil Sean yang sepenuhnya berwarna hitam pekat, lalu termenung sejenak.

Sebenarnya, dia sudah mengenal Sean lebih lama daripada Jevan.

Sean dan Jevan adalah teman kuliah, sedangkan dia dan Sean bersekolah di SMA yang sama, berada di kelas yang sama, bahkan pernah duduk sebangku selama beberapa waktu.

Saat itu, Sean selalu bertahan di peringkat pertama angkatan, dia bahkan meraih juara pertama dalam kompetisi matematika tingkat provinsi saat masih di kelas satu. Namun, pria itu juga sangat pendiam, dingin, angkuh, dan tertutup. Bahkan Jihan yang duduk sebangku dengannya, hampir tidak pernah berhasil mengajaknya berbicara.

Kondisi ekonomi keluarga Sean begitu buruk hingga kata "miskin" saja terasa terlalu sederhana untuk menggambarkannya.

Bahkan Jihan pernah mendengar bahwa ayahnya Sean dipenjara karena terlibat dalam kasus yang merenggut nyawa seseorang dan memiliki utang ganti rugi senilai miliaran. Ibunya juga menderita gangguan jiwa, sementara dia masih harus mengurus adik laki-lakinya yang berusia lima tahun lebih muda.

Ada tiga orang di keluarganya yang harus diberi makan, dan semuanya bergantung pada Sean yang saat itu bahkan masih duduk di bangku SMA.

Namun, bagaimanapun juga, sekolah adalah tempat yang semuanya diukur dari nilai.

Sebagai seorang siswa yang berasal dari keluarga kaya raya, Jihan sulit untuk bisa benar-benar memahami penderitaan hidup seperti itu.

Dia sendiri tidak tahu apakah itu kecenderungan mengagumi sosok yang kuat, atau hanya sekadar tertarik pada penampilannya.

Suatu kali saat belajar malam, dia menulis secarik kertas untuk Sean dan bertanya, "Sean, kau sangat tampan. Bagaimana kalau kuberi kau kesempatan untuk jadi pacarku?"

Sean tidak membalasnya.

Pada tahun itu, keluarga Maharani belum bangkrut dan belum terlilit utang puluhan miliar. Jihan masih seorang putri kecil yang hidup tanpa beban dan tanpa rasa takut. Dia bahkan mengejar Sean dengan sangat bersemangat selama beberapa waktu.

Hingga akhirnya, Sean berinisiatif pindah tempat duduk dan tidak pernah lagi meliriknya sedikit pun.

Sejak saat itu, Jihan hampir tidak pernah berinteraksi lagi dengan Sean.

Ketika mereka kembali berhubungan, dia sudah menjadi pacar Jevan.

Menurut Jevan, ketika sedang berusaha mendapatkan hati Jihan, dia pernah meminta informasi tentang kesukaan Jihan kepada Sean. Dia bahkan memuji Sean sebagai sosok yang sangat berjasa dalam perjalanan cinta mereka.

Entah cerita itu benar atau tidak.

…

Keesokan harinya, salju telah reda dan langit mulai cerah. Setelah mengambil mobilnya, Jihan menerima telepon dari Susi Permatasari yang memintanya pulang bersama Jevan untuk makan bersama keluarga pada akhir pekan.

"Bu, aku sudah mengajukan cerai pada Jevan. Mulai sekarang, kalau ada acara makan bersama keluarga, Ibu nggak perlu mengundangnya lagi."

Suasana hening.

Susi terdiam sejenak sebelum bertanya, "Cuma karena dia berselingkuh?"

Cuma karena?

Dada Jihan terasa sesak, seolah gunung berapi di dalam dirinya hampir meletus.

Di mata semua orang, menikah dengan Jevan merupakan keberuntungan luar biasa yang baru bisa diperoleh Jihan setelah mengumpulkan pahala selama delapan putaran kehidupan.

Karena ayah Jevan adalah pejabat tinggi di Kota Kencana, karena Jevan berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya, serta karena ketika Jihan menikah dengannya, Keluarga Maharani sudah tak lebih dari sekadar cangkang kosong.

Sementara itu, Jevan dianggap begitu mulia dan murah hati karena telah memberikan kehidupan mewah kembali kepada putri yang jatuh miskin.

Karena pria itu memiliki segalanya, Jihan dianggap harus selalu mengalah dan terus-menerus berkompromi.

"Perceraian itu perkara besar, Jihan. Pikirkan baik-baik. Kau sudah hampir berusia tiga puluh tahun. Belum tentu bisa menemukan pria lain yang setara dengan Jevan, bahkan pria biasa pun belum tentu mau menerimamu."

"Pernikahan perlu diusahakan. Dengan sifatmu yang seperti itu, kau nggak bisa berharap Jevan akan terus memaklumimu seumur hidup. Semua pria punya harga diri dan kebanggaan. Kau juga harus belajar untuk mengalah."

Gunung berapi di dada Jihan mengeluarkan gemuruh rendah, berada tepat di ambang letusan.

"Bu, aku menceritakan hal ini bukan untuk meminta nasihat."

"Selama lima tahun menikah dengan Jevan, dalam hal urusan rumah tangga, aku selalu mengutamakan perasaan dan kepentingannya. Aku juga nggak pernah melakukan hal apa pun yang mengecewakannya."

"Tapi apa yang dia berikan padaku? Pria itu memperlakukanku seperti gantungan baju, terus-menerus mengkhianatiku! Apa sekarang aku sudah nggak punya hak untuk bebas dan bahagia?"

"Atau jangan-jangan, Ibu sama seperti orang lain. Di mata Ibu, hanya uangnya, rumahnya, dan kekuasaannya yang dianggap sebagai pengorbanan, sedangkan pengorbananku untuk keluarga, aku yang terus mengalah untuknya, dan semua penderitaanku ini sama sekali nggak berarti?"

Jihan berteriak dengan histeris, namun satu kalimat tenang dari Susi langsung menghancurkan seluruh luapan emosinya dan membuatnya kembali terdiam.

Susi berkata, "Jihan, jangan lupa, Jevan itu pilihanmu sendiri, nggak ada yang memaksamu."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status