Share

Bab 5

Author: Alisha Avandra
"Urusan di antara kita ini, kau pikir semuanya bisa dibereskan begitu saja cuma dengan selembar surat perjanjian?"

Jevan mencibir dingin.

Jihan mengangguk dan berkata, "Memang benar, sama sekali nggak bisa menghitung berapa banyak kau berutang padaku. Sayangnya, perceraian cuma bisa membagi harta, bukan nyawa. Kalau nggak, setidaknya kau bisa melunasi utangmu dengan nyawamu itu."

Suasana hening.

"Apa kau harus selalu berbicara sekasar ini? Jihan, sudah bertahun-tahun berlalu, tapi kau tetap nggak pernah belajar berbicara dengan benar!"

Wajah Jevan yang tampan sekaligus mencolok itu kini menggelap karena amarah.

Jihan tetap tanpa ekspresi.

"Aku bisa saja bicara dengan baik, tapi dengan syarat lawannya harus manusia, yang bisa mengerti bahasa manusia."

Dia justru semakin menjadi-jadi dan melontarkan kata-kata yang lebih menyakitkan.

"Jevan, apa kau manusia?"

Begitu kata-kata itu terucap, keheningan yang mencekam menyelimuti keduanya.

Jihan tidak asing dengan suasana penuh ketegangan seperti ini, seolah-olah mereka ingin mencabik-cabik satu sama lain dalam keadaan hidup.

Tiga tahun lalu, sejak pertama kali mengetahui perselingkuhan Jevan ... saling menghina telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka berdua.

Dan Jihan selalu menjadi pihak yang memulai pertengkaran.

Dia membenci pengkhianatan Jevan, namun tidak sanggup pergi begitu saja, sehingga hari demi hari Jihan terjebak dalam rasa tidak rela dan ketidakpuasan, menyiksa Jevan sekaligus menyiksa dirinya sendiri.

Sampai saat ini.

Cintanya kepada pria itu, kebenciannya, harapannya, serta kekecewaannya, semua rasa itu akhirnya lenyap tanpa tersisa sedikit pun.

Jevan yang berdiri di hadapannya menyeringai sinis. Tatapannya tajam seperti pedang.

"Mau bercerai, ya?"

"Baiklah. Lahirkan seorang anak, dan aku akan langsung menceraikanmu saat itu juga."

Jihan tahu bahwa Jevan mengatakan hal itu sama sekali bukan karena benar-benar menginginkan anak.

Dia hanya mengejeknya.

Mengejeknya sebagai ayam betina yang tidak bisa bertelur.

Selama dua tahun pertama pernikahan, Jihan dan Jevan sebenarnya sudah berusaha mendapatkan anak, tetapi dia tetap tidak kunjung hamil.

Kemudian keduanya menjalani pemeriksaan, dan baru tahu bahwa masalahnya ada pada Jihan.

Saat itu, Jihan merasa bersalah. Demi bisa memiliki anak, dia mencoba berbagai macam pengobatan alternatif, menjalani beragam suntikan, dan meminum bermacam-macam obat hingga perutnya dipenuhi bekas tusukan jarum.

Jevan merasa iba melihatnya. Sambil memeluk Jihan, dia berkata, "Sayang, jangan suntik-suntik lagi. Kita nggak perlu punya anak. Kita berdua saja menghabiskan sisa hidup ini bersama, sampai rambut kita memutih."

Jihan berpikir, saat Jevan mengucapkan kalimat itu dulu, dia mungkin memang bersungguh-sungguh.

Hanya saja kemudian, belakangan dia tidak lagi sanggup menepati janjinya. Dan dalam hal itu pun, mungkin benar-benar bersungguh-sungguh.

"Kalau kau mau punya anak, tandatangani surat perceraian itu. Wanita di luar sana ada banyak, mereka bisa memberimu anak sebanyak apa pun yang kau mau."

Jihan melontarkan kalimat itu, lalu masuk ke ruang jaga.

Pintu tertutup dengan suara gedebuk.

Tegas dan tanpa keraguan.

Seolah-olah menjadi simbol bahwa segalanya telah berakhir.

…

Akhir pekan, Jihan pergi ke rumah Susi untuk makan bersama.

Setelah makan, Susi mengeluarkan setumpuk barang yang dibungkus rapat-rapat entah dari mana, lalu meletakkannya di hadapan Jihan.

Bahkan dengan terhalang kertas cokelat pembungkusnya, aroma menyengat dari bungkusan itu sudah membuat Jihan mengernyit.

Susi juga menyodorkan selembar resep obat kepadanya.

"Jihan, bawa obat ini pulang, rebus dan minum sesuai resepnya, lalu coba kembali program hamil dengan Jevan."

"Ibu, aku dan Jevan sedang mengurus perceraian. Buat apa Ibu memberiku semua ini?"

Jihan mengerutkan kening.

Susi berkata, "Ibu tahu kau keras kepala, dan keputusan cerai itu cuma karena emosi sesaat. Kau dan Jevan selama bertahun-tahun punya banyak konflik, pada dasarnya, itu semua karena nggak punya anak."

"Kalau kalian punya anak, semua pasti baik-baik saja."

Tinggal punya anak saja.

Ini bukan pertama kalinya Jihan mendengar kalimat itu.

Tiga tahun lalu, saat mengetahui Jevan berselingkuh, dia sebenarnya pernah berpikir untuk bercerai.

Dia menceritakan semuanya kepada Susi sambil menangis, dan ibunya berusaha menghibur.

Namun, setelah menghiburnya, Susi tetap mengucapkan kalimat usang yang sama.

"Nanti kalau kalian sudah punya anak, semuanya akan baik-baik saja. Begitu punya anak, Jevan pasti akan berhenti bermain-main dan kembali fokus pada keluarga."

Saat itu, Jihan terus terombang-ambing di antara cinta dan kebencian. Dia memercayai perkataan tersebut, sehingga di tengah pertengkarannya dengan Jevan, Jihan tetap memaksa diri menjalani suntikan-suntikan yang sebenarnya sama sekali tidak membuahkan hasil.

Namun, setelah menjalani suntikan itu, ketika Jevan kembali memeluknya, Jihan justru merasa muak hingga mendorong pria itu menjauh.

Dengan perasaan getir, Jihan menyadari bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi menerima sentuhan pria itu.

Urusan memiliki anak pun tak kunjung terwujud.

Sekarang kalau dipikir-pikir, gagasan untuk mengikat Jevan dengan anak itu sendiri merupakan ironi terbesar terhadap hubungan mereka di masa lalu.

Dua orang yang menikah karena saling mencintai ternyata sampai pada titik harus mengandalkan seorang anak untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Sungguh menggelikan.

"Aku nggak akan minum obat ini."

Jihan mendorong resep dan obat itu kembali ke arah Susi.

"Bu, aku nggak mengajukan cerai cuma karena emosi sesaat. Aku benar-benar sudah nggak mencintai Jevan lagi. Aku ingin memulai hidup yang benar-benar baru."

"Jihan."

Susi menatapnya.

"Cinta dan pernikahan sejak awal memang bukan hubungan sebab-akibat."

Jihan membalas tanpa ekspresi, "Kalau begitu, kenapa Ibu tetap bercerai dengan ayah?"

Wajah Susi tampak muram.

Di wajahnya yang mulai berkeriput, melintas sebersit luka.

Jihan merapatkan bibirnya sejenak, lalu berkata pelan, "Maaf, Bu. Aku nggak bermaksud begitu."

Susi menggelengkan kepala.

Setelah terdiam cukup lama, barulah Susi berkata, "Dulu, saat bisnis ayahmu bangkrut dan masa-masa paling sulit, Jevan banyak membantu keluarga kita. Saat aku dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi, Jevan juga yang mengundang spesialis terbaik untuk merawatku."

"Saat itu, kalian bahkan masih berpacaran dan belum pernah membicarakan pernikahan, tapi dia sudah bersedia melakukan begitu banyak hal untuk kita."

"Sekarang, kalau kau menceraikannya, bagaimana kita akan membalas semua utang budi ini?"

Sebelum menikah dengan Jevan, Jihan sering mendengar orang berkata bahwa di kalangan keluarga kaya, tidak ada pria yang tidak memiliki selingkuhan di luar.

Jihan saat itu tidak memikirkan hal lain, hanya bertanya dengan sederhana.

"Terus bagaimana dengan istri mereka? Apa nggak minta bercerai?"

Orang-orang hanya tersenyum dan berkata bahwa pernikahan tidak sama dengan hubungan pacaran. Bercerai bukanlah perkara yang semudah itu.

Uang, kekuasaan, status, lingkungan sosial, hingga omongan orang lain, semuanya merupakan hal yang harus mereka pertimbangkan.

Masing-masing bebas bermain dengan orang lain pun dianggap bukan sesuatu yang terlalu buruk.

Saat itu, Jihan belum sepenuhnya memahami semua hal tersebut.

Apalagi tidak pernah terpikir bahwa suatu hari nanti, dirinya akan menjadi orang yang dibicarakan orang lain sebagai wanita yang tetap tidak mau bercerai meskipun telah dikhianati suaminya.

Dan keputusannya untuk melepaskan, terlambat tiga tahun.

Tetapi setidaknya dia bisa melepaskan.

Itu hal yang baik, kan?

Jihan bangkit dan berjalan ke pintu, lalu berkata dengan nada datar ke Susi.

"Urusan kusut antara aku dan Jevan akan kuserahkan ke pengacara. Kalau pengacara nggak bisa mengatasinya, biar pengadilan yang menangani. Apa pun isi putusannya nanti, aku akan menerimanya. Ibu nggak perlu mencemaskan urusan ini lagi."

Susi tidak menanggapi.

Namun, dia tetap menyelipkan sekantong ramuan obat itu ke tangan Jihan.

"Sekalipun kau benar-benar bercerai, kenyataan kau nggak bisa punya anak tetap jadi masalah. Usiamu sudah hampir tiga puluh. Lalu, bagaimana dengan masa depanmu?"

"Memangnya kenapa kalau usiaku tiga puluh? Memangnya kenapa kalau aku hidup sendirian? Apa semua orang lajang berusia tiga puluh tahun di seluruh dunia harus mati?"

Jihan sama sekali tidak mau menerima nasihat ibunya.

Susi merasa kesal dan kecewa karena Jihan tidak kunjung menyadari apa yang menurutnya terbaik.

"Mereka masih perawan di usia tiga puluh tahun. Memangnya kau begitu? Kau itu wanita bercerai yang nggak bisa melahirkan anak!"

"Jihan, bukan maksud Ibu mengkritikmu, tapi jangan salahkan Jevan kalau dia nggak tahan dengan sifatmu. Kalau wanita nggak lembut, apa bisa disebut wanita?"

Susi berbicara tanpa batasan, tetapi wajah Jihan sama sekali tidak menunjukkan perubahan emosi.

Setelah Susi selesai menegurnya, barulah Jihan berbicara dengan nada datar.

"Izinkan aku meluruskan satu hal. Penentu jenis kelamin itu kromosom seks, bukan apakah seseorang bersikap lembut atau nggak."

Susi terdiam.

Jihan berkata, "Aku sudah mantap untuk bercerai. Ibu nggak perlu membuang tenaga untuk membujukku lagi."

Setelah selesai berbicara, Jihan langsung meninggalkan rumah Susi.

Dia kembali ke rumah sakit untuk bertugas.

Setelah selesai menulis catatan medis pasien, kepalanya terasa agak berat dan pening. Jihan mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuhnya, dan ternyata dia sedang demam.

Dua hari ke depan, dokter bedah pembimbing Jihan memiliki jadwal operasi. Meskipun saat ini dia hanya seorang asisten, Jihan tidak ingin absen karena sakit, jadi dia pergi untuk mengambil obat infus agar demamnya segera turun.

Ruang infus penuh dengan pasien, sehingga Jihan duduk di kursi koridor luar sambil menjalani infus.

Sean datang ke rumah sakit untuk menjenguk ibunya. Saat hendak pergi, dia melihat Jihan di luar ruang infus.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status