공유

Bab 6

작가: Alisha Avandra
Jihan menundukkan pandangannya, bulu mata yang panjang dan lebat itu menciptakan bayangan di bawah kelopak matanya.

Sebuah jarum infus tertancap di punggung tangannya yang putih. Sementara itu, tangan satunya masih memegang buku kedokteran yang sedang dibacanya.

Di bawah cahaya lampu pijar rumah sakit, wajah Jihan tampak sedikit pucat.

Sean menatapnya lekat-lekat.

Namun, dia melihat bulu mata Jihan berkedip pelan. Detik berikutnya, wanita itu mengangkat pandangan dan mata mereka bertemu.

Jihan tidak menyangka akan bertemu Sean lagi di rumah sakit.

Sedikit terkejut, Jihan tersenyum tipis lalu melambaikan tangan untuk menyapanya.

Pria itu mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu mengalihkan pandangan dengan ekspresi dingin.

Setelah itu, dia berbalik dan melangkah pergi.

Jihan tertegun.

Jihan lalu menurunkan tangannya dengan canggung.

Sebenarnya, perkataan Susi bahwa dirinya keras kepala bukannya tanpa alasan.

Terutama saat masa remaja.

Semakin tidak dituruti keinginannya, dia justru akan semakin memaksakan kehendaknya. Saat mengejar Sean, pria itu mengabaikannya, tetapi Jihan justru terus mengejarnya tanpa tahu malu.

"Sean, orang miskin sepertimu seharusnya merasa terhormat karena disukai olehku. Jangan nggak tahu diri begitu."

"Kalau kau nggak menyukaiku, bersiaplah miskin seumur hidup!"

"Sean, kau benar-benar orang yang kaku!"

Saat itu, Jihan hanya memikirkan perasaannya sendiri dan langsung mengatakan apa pun yang terlintas di pikirannya.

Kalau dipikirkan sekarang, dia memang cukup keterlaluan dan sama sekali tidak memedulikan harga diri orang lain.

Namun, kalau dipikir-pikir lagi.

Sudah lebih dari sepuluh tahun berlalu, mungkinkah Sean masih menyimpan dendam padanya?

Jihan merasa sedikit tak berdaya.

Dia tidak memikirkannya lebih jauh. Setelah membaca buku sebentar, Jihan merasa haus. Saat hendak melepas botol infus dan mencari air minum, tiba-tiba sebuah bayangan jatuh di hadapannya.

Sebuah tangan dengan jari-jari panjang dan ramping menyodorkan gelas kertas sekali pakai berisi air hangat kepadanya.

Jihan mendongak. Di dalam matanya yang hitam pekat, terpantul wajah Sean yang dingin dan tenang.

"Terima kasih."

Dia menerima air itu dan meminumnya sedikit demi sedikit.

Dengan suara rendah dan dingin, Sean bertanya, "Sendirian?"

Ujung jari Jihan yang menggenggam gelas air itu mengencang hingga sedikit memucat, lalu menjawab pelan, "Iya."

Sean melirik kursi kosong di sebelahnya, lalu melihat cairan yang masih tersisa separuh di botol infus. Dia berjalan mendekat dan duduk dengan jarak satu kursi dari Jihan.

Pria itu tidak mengatakan apa-apa dan hanya duduk diam di dekatnya.

Jihan mencium aroma segar dan dingin yang berasal dari tubuh Sean.

Aromanya seperti daun mint yang dingin.

"Bagaimana kedaaan ibumu?"

Dia tahu bahwa Sean datang ke rumah sakit mungkin masih berkaitan dengan kondisi ibunya.

Sean meliriknya sekilas.

Jihan mengira Sean tidak ingin membicarakan topik itu, dan hendak menutup mulutnya dengan canggung, tetapi kemudian mendengar pria itu menjawab dengan suara rendah, "Jauh lebih baik daripada sebelumnya."

Jihan tersenyum menimpali, "Syukurlah kalau begitu."

"Ya."

Sean menjawab singkat.

Garis wajah pria itu tampak tegas dengan kontur yang jelas.

Terlihat lebih tajam daripada saat di sekolah dulu, dia kini lebih berwibawa dan mengintimidasi, sekaligus semakin sulit didekati.

Tetapi, pria itu benar-benar memikat dan luar biasa tampan.

Baru duduk di sana selama beberapa menit, sudah banyak tatapan kagum dan iri yang tertuju padanya.

Jihan teringat insiden tabrakan sebelumnya, lalu bertanya, "Soal mobilmu yang kutabrak waktu itu, kau belum memberitahuku berapa biaya ganti ruginya."

"Nggak seberapa."

"Meski nggak seberapa, aku tetap harus membayarnya."

Jihan tidak ingin berutang budi kepada Sean, jadi dia bersikeras.

"Lagi pula, waktu kau mengantarku pulang hari itu, bukannya kau sendiri yang mengingatkanku soal biaya ganti rugi?"

Sean terdiam sejenak mendengar itu.

Jihan langsung merasakan aura pria itu menjadi semakin dingin.

Sean menyebutkan biaya ganti rugi sebesar ratusan ribu.

Jihan tahu mobil pria itu merupakan mobil mewah edisi terbatas yang harganya mencapai puluhan triliun. Meskipun mobil itu hanya mengalami sedikit goresan hingga catnya terkelupas akibat terserempet olehnya, kerusakan tersebut jelas tidak mungkin diperbaiki dengan biaya sekecil itu.

Setelah berpikir sejenak, dia bertanya, "Apa kau nggak mempermasalahkannya karena kasih muka sama Jevan?"

Sean menoleh menatapnya.

Tatapannya yang dingin dan datar turun pada jari-jari Jihan yang kosong.

Sama seperti sebelumnya, dia masih tidak mengenakan cincin pernikahan.

Tatapan pria itu lugas dan dingin, jelas-jelas tidak mengatakan apa-apa, namun seolah-olah telah memahami sesuatu.

Jihan menarik jarinya dengan canggung.

Dia tak bisa menggambarkan perasaan yang ada di hatinya.

Dulu Jihan pernah mengejar Sean tanpa henti. Namun pada akhirnya, dia justru diabaikan dan bahkan dianggap begitu menjengkelkan hingga pria itu enggan melihatnya lagi.

Kemudian, dia bertemu Jevan saat berusia delapan belas tahun, lalu menjalin hubungan asmara, melangkah ke jenjang pernikahan, hingga akhirnya pernikahan itu kini hancur berantakan.

Justru keduanya masih menjadi teman yang sangat dekat.

Jihan merasa seolah-olah dirinya telah dilempar begitu saja ke bawah terik matahari bersuhu empat puluh derajat.

Dia merasa malu sekaligus sangat canggung.

Di dadanya juga masih membara kemarahan yang entah berasal dari mana.

"Kalau ini karena Jevan, aku nggak butuh kebaikanmu itu."

Dia berkata dengan nada yang kurang ramah.

"Ini nggak ada hubungannya dengan Jevan," kata Sean dengan nada datar.

"Kalau begitu jangan menipuku dengan uang ratusan ribu," kata Jihan yang raut wajahnya sedikit melunak.

Sean tidak berkata apa-apa, hanya menunduk dan mengetuk ponselnya beberapa kali. Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Jihan.

Begitu membuka pesan itu.

Jihan tercengang.

Dia menatap Sean dengan tak percaya, lalu berkata, "Ganti rugi sampai miliaran? Apa kau nggak salah hitung?"

Dia sendiri juga sudah pernah memperkirakan biayanya.

Paling-paling juga cuma puluhan juta saja.

Sean berkata dengan tenang, "Mengantarmu pulang-pergi hampir lima jam. Aku sampai kehilangan satu kesempatan bisnis, jadi kerugian itu sudah kuhitung juga."

"Itu kau sendiri yang mau mengantarku!"

"Menghitung dengan jelas juga kau sendiri yang minta."

Hening.

Jihan melotot marah ke arah Sean. Wajahnya yang putih bersih memerah, entah karena marah atau karena demam.

Sean tetap tenang tanpa mengubah ekspresi. Dia mengangkat pandangan dan melirik botol infus yang hampir kosong.

Dia bangkit dan memanggil perawat.

Setelah jarum infus dilepas, pria itu berkata, "Aku akan mengantarmu pulang."

"Nggak perlu, biayanya terlalu mahal, aku nggak mampu bayar."

Jihan menekan pembuluh darahnya sambil menatap pria itu dengan waspada.

Sean mengangkat sedikit alisnya dan berkata, "Hari ini gratis untukmu."

Mendengar itu, Jihan tak bisa menahan diri untuk tidak memanfaatkan kesempatan, lalu berkata, "Kalau kali ini bisa gratis, kenapa yang kemarin nggak diberi diskon?"

Sean menundukkan pandangannya dan melirik ke arah Jihan, lalu membalas, "Pakaian yang kau beli tahun lalu, kalau tahun ini ada diskon, apa uangnya akan dikembalikan?"

Kembali hening.

Jihan kehabisan kata-kata, lalu tak bisa menahan diri untuk bergumam pelan, "Dulu aku nggak pernah tahu kalau kau sepandai ini membalas perkataan orang."

Sean bertanya, "Dulu kenapa?"

"Nggak ada apa-apa."

Dia pun terdiam dan menutup mulutnya.

…

Setelah mengantar Jihan sekali sebelumnya. Kali ini, Sean mengantar Jihan sampai ke bawah gedung apartemennya dengan lancar.

Saat turun dari mobil, Jihan bertanya lagi, "Apa biaya ganti ruginya benar-benar nggak bisa dikurangi sedikit?"

Sean terdiam sejenak, lalu menjawab, "Bisa."

Jihan terkejut dan bertanya, "Serius?"

Sean mengeluarkan sebuah kartu nama berlapis emas dari kompartemen konsol tengah, lalu menyerahkannya kepada Jihan sambil berkata, "Pengacara di firma hukum ini semuanya ahli. Kalau kau bernegosiasi dengan mereka, mungkin biaya itu bisa dikurangi dua puluh atau empat puluh juta. Anggap saja mereka membulatkan jumlahnya untukmu."

Jihan berkata, "… Terima kasih."

Sean menjawab datar, "Sama-sama."

Jihan tertegun.

Dengan wajah masam, Jihan menerima kartu nama itu, memandangi Bently yang melaju pergi, lalu melihat kembali tagihan senilai miliaran tersebut. Kepalanya terasa semakin pening.

Dia masuk ke lift. Namun, saat keluar dan melihat sosok tinggi berdiri di depan pintunya, dahinya langsung berkerut.

"Untuk apa kau datang ke sini?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 50

    Jihan terdiam sejenak saat mengingat masa lalu, tetapi akhirnya tetap berkata kepada Sean."Ada satu hal lagi, alasan kenapa Jevan menghalangiku datang ke sidang hari itu adalah karena dia tiba-tiba tahu …."Jihan berhenti sejenak, lalu melanjutkan perkataannya, "Dulu aku pernah menyukaimu."Pilihan katanya benar-benar tepat.Dulu.Pernah menyukai.Dua kata sederhana itu sudah cukup untuk menunjukkan bahwa sekarang dia tidak lagi memiliki perasaan terhadap pria tersebut.Sosok dan wajah Sean menyatu dengan kegelapan malam, membuat Jihan semakin sulit melihat ekspresinya dengan jelas.Setelah hening sejenak, barulah Jihan mendengar suaranya yang dingin."Kenapa? Apa kau malu mengakui kalau dulu pernah menyukaiku?"Bukan itu maksud Jihan."Aku cuma merasa dalam situasi seperti sekarang, sebaiknya kita lebih berhati-hati."Dia menatap Sean dengan lekat, lalu dengan serius mengungkapkan apa yang ada di benaknya, "Aku nggak mau ada masalah lain yang menghambat proses perceraianku."Setelah

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 49

    Begitu Fajar selesai berbicara, Jihan belum sempat menjawab, dia justru merasakan udara di sekitarnya mendadak menjadi jauh lebih dingin dari biasanya.Dia menoleh. Saat melihat Sean, matanya kembali berbinar, lalu menyapanya, "Kak Sean, kenapa kau juga ada di sini?"Dia lalu melirik ke dalam restoran dan bertanya, "Kak Jevan masih di dalam ya? Aku mau masuk sebentar menyapanya!""Dia nggak ada di sini.”Sean menjawab dengan datar.Fajar terkejut sejenak.Jihan pun melirik Sean dengan sedikit heran.Bukankah ini sama saja dengan memberitahu Fajar secara terang-terangan bahwa mereka berdua makan bersama tanpa orang lain?Jihan memang tidak merasa bersalah saat berduaan dengan Sean. Namun, bagaimanapun juga, surat cerainya dengan Jevan belum resmi keluar. Jika sampai muncul masalah baru di saat seperti ini, tentu bukan hal yang baik.Begitu memikirkannya, rasa heran di mata Jihan perlahan berubah menjadi sedikit ketidaksetujuan.Sean melirik ke samping dan melihat jelas perubahan emosi d

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 48

    Semakin Sean mengabaikannya, semakin Jihan menjadi-jadi.Sampai akhirnya, Sean benar-benar menjauh darinya dan bahkan tidak mau berbicara dengannya.Baru saat itulah dia menyadari, ternyata Sean benar-benar membencinya.Jihan melamun sambil mengingat masa lalu.Tanpa disadari, beberapa helai rambut di dekat telinganya terurai dan jatuh perlahan, menyapu bahu Sean seperti bulu yang ringan.Meski terhalang kain jas, sentuhan itu tetap menimbulkan rasa geli yang mengusik hati.Ketika tersadar dari lamunannya, dia melihat Sean tiba-tiba berdiri dan menjauh darinya.Sepertinya sama seperti dulu, dia tidak mau berada terlalu dekat dengan Jihan.Jihan mengedipkan mata, melirik jam, lalu bertanya, "Kau sudah makan malam?"Sean tidak menatapnya dan menjawab, "Aku sedang menunggumu."Jihan sedikit tertegun.Lalu tersenyum sambil berkata, "Kalau begitu, tunggu aku sebentar, aku mau menyerahkan giliran jaga dulu, nanti kita makan malam bersama."…Setelah keluar dari rumah sakit, Sean mengemudi, s

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 47

    Jihan terkejut sejenak, lalu bertanya, "Kenapa kau datang ke sini?""Ganti perban."Suara Sean terdengar datar.Mendengar jawaban pria itu, Jihan tanpa sadar menatap bahu kirinya dengan penuh perhatian. Namun, Sean mengenakan setelan jas dan tampak begitu tenang sehingga tidak terlihat ada yang salah.Dia berkata, "Kalau begitu, tunggu sebentar, aku ambilkan obatnya."Jihan berbalik hendak pergi ke apotek. Kebetulan Sonia juga sedang turun. Saat mereka masuk ke lift bersama, Sonia berkata dengan nada penuh arti, "Pria tampan itu cuma pasien? Kulihat kalian berdua kelihatannya lumayan akrab."Jihan berpikir dalam hati bahwa sebenarnya mereka belum terlalu akrab sekarang, tetapi entah bagaimana hubungan mereka nanti, itu belum bisa dipastikan."Dia teman Jevan, terluka dua hari yang lalu, kebetulan saja bertemu denganku."Jihan menjelaskan.Sonia mengangkat alisnya sambil berkata, "Temanmu ini memang sangat tampan. Bahkan lebih tampan daripada calon mantan suamimu."Jevan adalah tipe pri

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 46

    Saat melihat Jevan turun dari mobil Maibara, Jihan sempat bertatapan dengannya sesaat, lalu dengan tenang berbalik dan lebih dahulu memasuki Kantor Catatan Sipil.Jevan mengikutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.Keduanya mengisi formulir permohonan cerai di meja pelayanan.Saat mendengar petugas menjelaskan tentang masa tunggu perceraian selama tiga puluh hari, Jihan mengernyit, lalu bertanya, "Maksud Anda, kalau salah satu pihak tiba-tiba berubah pikiran, permohonan cerai ini bisa dicabut?""Benar, Bu."Jihan melirik Jevan.Matanya penuh dengan keraguan."Aku sudah menandatanganinya, apa lagi yang kau khawatirkan?"Jevan menyerahkan kembali formulir yang sudah diisi kepada petugas, lalu berkata pada Jihan, "Tanda tangan nggak bisa ditarik lagi. Sekarang, kau bahkan nggak percaya padaku?"Jihan menjawab dengan datar, "Orang yang kemarin memaksaku nggak hadir di sidang, apa pantas bilang begitu?"Suasana canggung.Baik dari raut wajah maupun nada bicaranya, Jihan tampak begitu din

  • Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu   Bab 45

    Apa lagi yang bisa dikatakan? Mantan istri dan mantan suami justru merupakan ancaman yang lebih besar daripada orang ketiga.Jevan tetap diam.Haris tahu kapan harus berhenti. Setelah selesai berbicara, dia menunggu dengan tenang di samping, tanpa mendesak ataupun pergi.Rumah besar Keluarga Adiwangsa begitu luas dan sunyi sampai suara jarum jatuh pun seolah bisa terdengar. Hanya ada suara pelan para pelayan yang berlalu-lalang sambil bekerja.Entah sudah berapa lama waktu berlalu.Jevan mengambil surat perjanjian perceraian itu, lalu berjalan ke ruang kerja di sebelah. Dari tempat alat tulis, dia mengambil acak sebuah pena.Pena itu terbuat dari bahan berkualitas, berwarna hitam pekat, dan sangat sesuai dengan selera gayanya.Tangan Jevan terhenti saat hendak membuka tutup pena.Pena ini adalah hadiah dari Jihan saat mereka masih kuliah.Dulu, Jihan sering memuji tulisan tangannya yang indah. Karena itu, pada ulang tahun pertama Jevan yang dirayakan bersamanya, dia menghadiahkan pena

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status