Share

Fatal

#Sepupu _dari_Kampung

Bab 7

Fatal

"Ini kah tempatnya?"

"Iya,"

"Kau yakin?"

"Tentu saja, aku sudah bertanya pada temanku."

Ega memberhentikan sepeda motornya tidak jauh dari sebuah rumah berpagar besi tinggi. Jendela rumah itu, tertutup korden semua. Halamannya tak terawat. Rumput liar tampak memanjang. Sepintas seperti bukan rumah tinggal.

Beberapa sepeda motor terparkir di garasi rumah itu. Ega membuka kancing helm, kemudian mengajak Neni turun.

"Ayo!" Ajak Ega pada kekasihnya. Neni tak segera mengikuti Ega. Gadis itu ragu.

"Aku takut, Ga!" Wajah Neni menegang. Ega menghampiri gadis cantik berkulit putih itu.

"Nggak usah takut, ada aku." Tangan Ega, menarik Neni.

Neni pun mengangguk. Dia berusaha menepis rasa takutnya. Fokus pada niatnya kemari, itu saja.

Berjalan lurus memasuki garasi itu, mereka melewati sebuah taman. Setelah itu ada pintu ke samping. Ega membukanya. Wow! Ternyata, di dalam ruangan ada beberapa orang yang duduk-duduk di kursi. Menilik dari deretan kursi yang tertata, ini seperti ruang tunggu. Beberapa pasangan muda-mudi terlihat menunggu dengan wajah gelisah. Terutama yang perempuan. Sama seperti Neni.

Ega berjalan ke konter resepsionis. Perempuan gemuk berbaju putih mirip suster rumah sakit berdiri menyambutnya. Raut wajahnya judes, tanpa senyum.

"Berapa bulan?"

"Ehe, tiga Minggu, Bu ..."

Perempuan itu melihat Neni. Tatapannya sinis. Neni menghela nafas, berusaha menenangkan batinnya.

"Masuk ruangan sana!" Ibu gemuk itu menunjuk sebuah pintu di seberang konter ini. Ega dan Neni mengangguk, kemudian berjalan ke sana.

Ini adalah tempat aborsi ilegal. Tempat ini terkenal dari mulut ke mulut, bahkan anak-anak kampus juga banyak yang tahu tempat ini. Tidak hanya itu, yang lebih miris, anak putih abu-abu juga ada yang mengenal tempat ini. Sudah sangat parah memang kenakalan remaja jaman sekarang.

Ega dan Neni memasuki ruangan lagi. Di dalam, sudah ada seorang lelaki berkemeja biru muda dan seorang perempuan muda yang lagi-lagi berbaju putih mirip suster. Kedua sejoli dipersilakan duduk.

"Telat berapa?" Lelaki yang masih muda tadi bertanya pada Neni.

"Kurang lebih tiga Minggu,"

"Masih kecil," lelaki itu berdiri, " periksa dulu, ya."

Perempuan berbaju suster membawa Neni memasuki ruang periksa. Ega menunggu di tempat duduknya. Beberapa saat kemudian, Neni keluar.

Lelaki itu kembali duduk. Neni duduk dengan terus menunduk. Kedua jemari tangannya saling meremas. Sepertinya gadis itu sedang gugup.

"Bukan tiga Minggu. Itu sekitar enam Minggu," lelaki itu bicara sambil menatap Ega.

"Masih kecil. Masih bisa pakai obat. Tapi kalau mau di paksa, juga bisa, terserah kalian."

Ega menoleh pada Neni. Disentuhnya tangan Neni. "Gimana?" Tanyanya. Neni terdiam agak lama. Sebenarnya, Neni sedang dilanda ketakutan. Kalau disuruh memilih, Neni lebih milih pakai obat. Membayangkan disedot, membuat gadis itu merinding.

"Aku mau pakai obat aja," kata Neni akhirnya.

"Ok, gapapa," lelaki di depannya tersenyum. Dia menulis sesuatu, kemudian diberikan kepada perempuan berbaju putih tadi.

"Ayo Mbak, Mas, nunggu di luar." Perempuan itu menyuruh Ega dan Neni keluar dari ruangan. Kedua sejoli duduk di ruang tunggu luar.

Setelah menunggu beberapa saat, seorang perempuan lain menghampiri mereka. Dia menyerahkan plastik klip berisi enam butir obat.

"Ini obatnya. Minum dua butir pagi, siang dan malam. Kalau ada apa-apa, langsung ke rumah sakit, ya?" Bisik perempuan itu. Neni menerima obat itu dan memasukkan ke dalam tas.

Keluar dari rumah tadi, Ega mengajak Neni ke sebuah cafe.

"Kita makan dulu, ya, Nen."

Neni tak menjawab, dia menurut saja. Memesan makan siang dan minuman, mereka kemudian duduk berhadapan. Neni masih diam. Batinnya berkecamuk, ada rasa takut di sana. Sudah berzina, sekarang membuat dosa lagi dengan menggugurkan. Menyesal memang datangnya belakangan.

Berbeda dengan Neni yang tak nafsu makan. Ega justru bisa makan dengan lahap. Neni melihatnya kesal.

"Ga, kamu santai amat, sih?" Ujar Neni gusar. Ega menghentikan suapan.

"Lha kan udah dikasih obat, kamu makan dulu terus minum itu obat. Besok, pasti keluar." Kepala Ega mengangguk.

"Akutu takut!" Wajah Neni berubah seperti mau menangis. Ega mengambil air putih dan diberikan pada gadis di depannya.

"Minum lah obat itu sekarang, agar masalah cepat selesai." Tatap Ega serius. Neni mengeluarkan obat dari tasnya.

"Minum tiga sekalian, gapapa," ucapnya pada Neni.

"Yang benar?" Mata Neni melebar.

"Iya, temanku bilang begitu. Dulu ceweknya juga begitu," jawab Ega santai. Bodohnya, Neni malah mengikuti saran Ega, dia meminum tiga butir.

Ega tersenyum dengan mata berbinar. Dalam pikirannya, semoga 'anak' itu segera keluar.

"Antar aku ke kampus, Ga. Aku ada mata kuliah."

"Ok!"

**

"Nen, lo kenapa, kok kelihatan pucat?"

Erni, teman kampus Neni bertanya setelah melihat Neni tampak pucat dan tidak tenang saat di kelas tadi.

"Kepalaku pusing banget, Er. Perutku juga sakit," jawab Neni lemah.

"Duduk sana, yuk." Erni menunjuk sebuah bangku di taman. Neni mengangguk. Dari tadi dia merasa perutnya seperti diremas-remas. Kepalanya pening tidak karuan. 'apakah ini efek dari obat itu?' Neni bertanya dalam hati.

"Aduuh, Erni, antar aku ke toilet dong. Perutku mules banget ..."

"Ayo." Digandeng Erni, Neni menuju toilet terdekat. Kebetulan sepi. Neni masuk ke dalam toilet. Dia meremas perut bawah sebelah kirinya yang terasa amat sakit. Dengan bersandar di dinding, Neni mengatur nafasnya. Kepalanya bertambah pening. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.

Setelah mengaitkan tas di cantelan, Neni membuka celana panjangnya. Dia berasa mules. Betapa kagetnya Neni melihat bercak darah di celana dalamnya. Neni menjadi panik. "Aku keguguran!"

Menelan ludah beberapa kali karena gugup, kemudian Neni meraih tasnya. Dia mengambil pembalut yang selalu tersedia di dalam tasnya. Setelah memakai, Neni segera keluar.

"Sudah?" Tanya Erni. Neni mengangguk.

"Aku mau menelepon Ega dulu." Neni mengeluarkan ponsel.

"Ga, jemput aku sekarang," kata Neni terengah-engah. Erni yang melihat menjadi bingung.

"Nen, lo gapapa?"

"Enggak. Antar aku ke depan ya, aku nunggu Ega."

"Ok!"

Ega datang menjemput Neni dengan motor sportnya. Setelah berpamitan dengan Erni, Neni segera menaiki boncengan motor Ega.

"Ga, perutku sakit banget. Kepalaku juga pening," kata Neni.

"Itu mungkin reaksi obat, Nen. Berarti berhasil!" Ega bicara dengan berteriak, karena sedang naik motor.

"Ada darah di celanaku, Ga."

"Bagus dong!"

"Ga, aku nggak kuat ..." Tiba-tiba Neni menyandarkan kepalanya di punggung Ega.

"Pusing, Ga," Neni merasa tubuhnya semakin lemah. Sakit di perutnya semakin tidak tertahan. Ega menjadi panik. Lelaki itu menepikan motornya.

"Nen! Neni! Kamu gapapa?" Ega menoleh ke belakang. Kekasihnya tampak lunglai. Gegas Ega turun dari motor. Dilihatnya wajah Neni yang memucat.

"Sakit, Ga ..." Neni meremas perutnya. Ega dengan cepat melepas helm dari kepala Neni. Keringat dingin membasahi kening Neni. Badan gadis itu gemetar hebat. Nafasnya tersengal. Seketika Ega panik.

"Nen! Neni!" Tangan Ega memegang memegang pipi Neni dan menggoyangnya. Neni lemas tak berdaya. Matanya sayu menatap Ega. Segera Ega menopang tubuh gadis itu. Mulut Ega tak henti memanggil nama Neni.

Kejadian itu, menarik perhatian orang sekitar. Seorang pejalan kaki mendekat.

"Kenapa, Mas?"

"Ini, teman saya sakit, Mas," jawab Ega panik.

Orang-orang mulai berdatangan. Neni semakin lemah dan hampir pingsan.

"Gotong ke sana, Mas!" Seorang ibu menunjuk teras sebuah ruko.

"Iya, Mas, baringkan dulu."

"Baik!"

Dibantu beberapa orang, Ega membawa Neni ke teras ruko. Neni sudah tak merasakan apapun. Bahkan dia sudah tak peduli lagi dibawa ke mana. Yang dia rasa adalah sakit dan nyeri hebat di perutnya.

"Mas, ada darah itu!" Seorang perempuan menunjuk warna merah yang masih basah di celana panjang Neni. Kebetulan Neni memakai celana perempuan model pinsil dengan bahan kain berwarna crem. Noda darah itu menjadi nyata warnanya.

"Iya, itu darah sepertinya," sahut yang lain.

"Bawa ke rumah sakit, aja!"

Rupanya, Neni pendarahan.

Bersambung

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status