LOGINNaura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.
“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.
Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah untuk masa lalu yang pernah mereka punya.
“Tenang aja. Aku nggak akan sentuh lagi,” ucap Naura yang kemudian berbalik.
Langkah Naura cepat, hampir seperti ingin segera keluar dari ruangan itu. Namun sebelum benar-benar pergi, Naura berhenti sebentar di dekat pintu. Dan tanpa menoleh, ia berkata lirih, "aku juga nggak suka masa lalu yang tiba-tiba muncul lagi tanpa izin.” Setelah itu Naura keluar dan pintu tertutup.
Dengan langkah berat, Naura kembali ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar di baliknya.
“Bodoh…” bisiknya pada diri sendiri.
“Ngapain juga aku buka itu…” ucap Naura sambil mengepalkan tangannya. Namun menyesal pun percuma.
Naura berjalan pelan ke arah ranjang, lalu menjatuhkan diri begitu saja. Matanya menatap langit-langit kamar. Tapi yang terlihat justru potongan-potongan kenangan. Tawa yang familiar, kenangan akan hujan, sebuah janji, dan kepergian Raka.
“Dia udah beda. Dan harusnya aku juga beda!" Gumam Naura lirih.
*
Keesokkan harinya, pagi datang terlalu cepat. Cahaya matahari masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Naura yang masih terpejam. Naura mengerjapkan mata pelan. Beberapa detik ia hanya diam, menatap kosong ke depan, lalu bayangan Raka kembali muncul.
"Sial! Mulai sekarang harus anggap dia orang asing!" Ucap Naura lirih sambil menghela nafas panjang.
"Kita itu cuma kebetulan tinggal di satu rumah yang sama, dan nggak lebih," imbuh Naura.
Perlahan Naura bangkit dari atas ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu turun ke lantai bawah. Saat menuruni tangga, suasana di lantai bawah sudah sedikit lebih hidup. Suara peralatan dapur terdengar pelan. Namun semakin menuruni anak tangga, langkah Naura sedikit ragu. Terlebih saat ia melihat Raka sudah duduk di sana.
Pria itu mengenakan kemeja hitam rapi, rambut sedikit basah, dan wajah setenang biasanya. Di depannya ada secangkir kopi dan ponsel yang terus ia genggam. Seolah dunia di sekitarnya tidak penting.
Naura diam di anak tangga terakhir. Beberapa detik kemudian Raka mengangkat kepala sedikit, membuat tatapan mereka bertemu.
“Naura, sarapan dulu, sayang.” Suara Maya membuat suasana sedikit berubah.
Naura langsung menoleh, sedangkan Raka mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada ponselnya.
“Iya, Ma.” Maya tersenyum, lalu duduk di kursi.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang dari arah kamar. “Ini pasti Naura.” Suara itu sangat asing, membuat Naura sedikit canggung.
“Iya… Om.”
“Akhirnya kita ketemu juga,” ucap Arman dengan ramah.
Naura mengangguk sopan. “Senang bertemu dengan Om.”
Maya tersenyum hangat. “Udah, ayo makan dulu. Nanti keburu dingin.”
Naura duduk di kursi yang kebetulan di samping Raka. Kini jarak mereka tidak terlalu jauh, tapi cukup untuk membuat suasana terasa tidak nyaman.
Naura berusaha fokus ke piringnya sendiri. Berusaha tidak melihat ke arah Raka, dan berusaha untuk tidak memikirkan apapun tentang Raka.
Naura mengambil nasi pelan. Lalu tangannya bergerak ke arah lauk di tengah meja. Di sana ada mangkuk kecil berisi sambal. Refleks Naura hendak mengambilnya. Namun sebelum tangannya menyentuh sendok, mangkuk berisi sambal itu bergeser menjauh darinya. Naura langsung berhenti. Tangannya menggantung di udara. Matanya perlahan beralih ke samping dan melihat Raka yang baru saja menggeser mangkuk itu dengan wajah yang tetap datar. Tatapannya bahkan tidak terangkat dari ponselnya.
Seketika jantung Naura berdegup aneh. Apa yang Raka lakukan pagi ini, sama persis dengan apa yang Raka lakukan saat mereka masih berpacaran. Dulu, setiap kali mereka makan, Raka selalu menjauhkan sambal darinya.
“Jangan makan pedas,” katanya dulu. “Perut kamu nggak kuat.”
Naura menelan ludah. Tatapannya masih tertuju pada mangkuk sambal yang kini sedikit menjauh. Pelan-pelan ia menarik tangannya kembali. Pikirannya mulai berisik.
'Apa dia masih ingat? Atau ini cuma kebetulan?' ucap Naura dalam hati.
Naura menggigit bibir pelan. “Ngapain sih kamu mikir begitu…” gumamnya sangat lirih.
Naura kembali makan, tapi rasanya hambar. Di sampingnya, Raka tetap diam. Namun jari yang memegang ponsel itu sempat berhenti bergerak. Hanya sebentar, lalu kembali seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
*
Setelah sarapan, Maya terlihat sibuk. Beberapa koper kecil sudah disiapkan di ruang tengah.
Naura mengernyit. “Mau pergi, Ma?”
Maya menoleh. “Oh iya, Mama lupa bilang. Mama sama Om Arman harus ke luar kota.”
Naura langsung diam. “Ke luar kota?".
“Iya. Ada urusan kerja. Mungkin… sekitar dua sampai tiga minggu.”
Naura menelan ludah. “Lama juga…”
Maya tersenyum menenangkan. “Tenang aja, kamu di sini sama Raka. Ada Bu Surti juga yang biasa memasak dan membersihkan rumah.”
Naura melirik sekilas ke arah Raka. Namun Raka tidak bereaksi. Seolah itu bukan masalah.
“Kalau ada apa-apa, kamu bilang ke Raka, ya. Dia juga bisa antar kamu ke kampus,” lanjut Maya.
Naura hanya mengangguk pelan. “Iya, Ma. Mama dan Om hati-hati.” Maya dan Arman langsung mengangguk dan tersenyum ke arah Melody.
Beberapa jam kemudian, mobil sudah siap di depan. Maya memeluk Naura erat. “Jaga diri baik-baik, ya.”
“Iya, Ma.”
Arman menepuk bahu Naura pelan. “Anggap saja ini rumah kamu sendiri."
Naura hanya bisa tersenyum tipis. “Iya, Om.”
Maya dan Arman akhirnya pergi dan pintu tertutup. Rumah besar itu tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Naura berdiri di ruang tengah, memandangi pintu yang baru saja ditutup. Beberapa detik ia hanya diam. Lalu perlahan, ia menoleh. Dan Raka ternyata juga sedang menatapnya. Tatapan mereka bertemu, namun kali ini sudut bibir Raka juga terangkat tipis. Senyum itu sangat tipis, tapi cukup membuat jantung Naura berdegup lebih cepat.
“Tenang aja,” ucap Raka santai.
Naura mengernyit. “Apa?”
Raka melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. “Kamu nggak perlu takut aku bakal menerkam,” lanjutnya ringan, nada suaranya terdengar santai tapi entah kenapa terasa mengganggu.
Naura langsung menegakkan tubuhnya. “Aku nggak takut.”
Raka berhenti tepat di depan Naura, membuat tubuh Naura membeku. Kini jarak mereka terlalu dekat sampai Naura refleks menahan napas. Dengan berani, Raka sedikit menunduk, lalu tangannya menyentuh dagu Naura pelan. Mengangkatnya sedikit agar menatapnya lurus.
“Itu nggak akan terjadi selama kamu nggak datang dulu ke kamarku seperti yang kamu lakukan semalam,” suara itu rendah, hampir berbisik.
Naura menelan ludah. Namun detik berikutnya, ia menguatkan diri dan menepis tangan Raka dari dagunya.
“Tenang aja,” balas Naura tegas. “Itu nggak akan kejadian lagi.” Tatapan Naura lurus, seperti tidak mau kalah.
Naura langsung berbalik, kemudian ia segera melangkah. Namun baru dua langkah, tiba-tiba, "ah!"
Kaki Naura terpeleset. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Naura refleks memejamkan mata. Namun bukannya jatuh, sebuah tangan kuat menarik pinggangnya, lalu menahannya dengan kuat. Perlahan Naura membuka mata, dan wajah Raka sangat dekat. Tangannya masih memeluk pinggang Naura. Sementara tangan Naura tanpa sadar mencengkeram kemeja Raka.
Mereka berpelukan cukup lama. sampai akhirnya, Raka melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Naura. "Naura," panggil Raka dengan lembut. "Hm?" "Aku harus selesaikan kerjaan dulu. Ada laporan yang harus dikirim sore ini." Naura mengangguk. "Oke. Aku nggak ganggu." Raka tersenyum. "Kamu sudah ganggu sejak pertama kali kamu masuk ke ruangan ini." Naura mendengus. "Itu bukan ganggu. Itu... menghibur." "Menghibur?" Raka mengangkat alis. "Dengan cara membuatku cemburu?" "Aku nggak sengaja!" "Iya, iya." Raka terkekeh kecil. Lalu ia mengecup kening Naura sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan berjalan ke meja kerjanya. Naura kembali ke sofa, menarik jaket Raka lebih erat ke tubuhnya. Ia memperhatikan pria itu yang kini kembali fokus di depan laptop, alis sedikit mengernyit, jari-jarinya mengetik dengan cepat, sesekali berhenti untuk membaca dokumen. 'Ganteng banget kalau serius,' ucap Naura dalam hati. Raka mengangkat wajah tanpa berhenti men
Selesai makan, mereka kembali ke lantai delapan. Naura berjalan di samping Raka, masih dengan jaket pria itu melingkar di tubuhnya. Suasana di lift terasa hangat dan nyaman, sampai mereka melangkah keluar menuju ruang terbuka. Di sana, seorang karyawan laki-laki mungkin umur dua puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan senyum ramah sedang berdiri di dekat mesin kopi. Begitu melihat Naura, matanya berhenti. Bukan lirikan biasa. Tatapan itu terlalu lama. Naura menangkap tatapan itu. Tanpa berpikir, ia tersenyum kecil ke arah pria itu. Hanya senyum sopan, tidak lebih. Tapi bagi Raka, Naura tidak seharusnya membalas senyuman pria yang tidak ia kenal. Seketika rahang Raka menegang. Matanya menyipit. Ia melangkah lebih cepat, hampir menarik Naura melewati ruang terbuka dengan langkah panjang. "Raka, kenapa cepat-cepat?" tanya Naura bingung. "Nggak kenapa-kenapa." "Nggak. Kamu jalannya cepet banget." Raka tidak menjawab. Ia membuka pintu ruangannya, masuk lebih dulu, lalu menun
Naura membeku, begitu juga dengan Raka.Kancing lengan kemeja Raka benar-benar tersangkut di rambut Naura, terjalin di antara helai-helai rambut panjang gadis itu. Keduanya terdiam, terkejut dengan situasi yang tiba-tiba terjadi.Raka mencoba menarik tangannya perlahan, tapi rambut Naura justru semakin kusut."Aduh!" Naura merintih pelan."Maaf, tunggu..." Raka berusaha melepaskan dengan hati-hati, tapi posisi mereka malah semakin tidak nyaman. Kini Raka harus membungkuk lebih dekat ke arah Naura, satu tangannya terangkat di dekat kepala gadis itu, sementara tubuhnya hampir menempel. Jarak mereka menjadi sangat dekat.Naura bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Bisa melihat bulu matanya yang lebat. Bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang walaupun mungkin itu detak jantungnya sendiri."Naura... diam dulu," bisik Raka, suaranya serak."Aku diam," jawab Naura dengan suara hampir tak terdengar.Raka mencoba lagi melepaskan kancingnya dari rambut Naura. Jari-jarinya bergerak pe
Tiba di Kantor RakaGedung itu tidak terlalu besar, tapi terlihat modern dengan kaca-kaca gelap yang membentang dari lantai satu hingga delapan. Raka memarkir mobil di basement, lalu berjalan di samping Naura menuju lift.Naura diam-diam memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan bersih. Lantai marmer mengkilap, dinding putih dengan lukisan abstrak, dan meja resepsionis di lantai dasar yang dijaga oleh seorang wanita muda dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Pak Raka,” sapa resepsionis itu.“Pagi, Maya.” Raka mengangguk singkat. Lalu ia menoleh ke Naura. “Ini adik saya. Naura.”Naura tersenyum kaku. “Halo.”“Oh, selamat pagi, Mbak Naura.” Maya tersenyum ramah, tapi matanya sempat melirik sekilas, terlalu lama untuk sekadar lirikan biasa.Kenapa ya? pikir Naura. Tapi ia mengabaikannya.Lift membawa mereka ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, Naura disambut oleh ruang terbuka dengan beberapa meja kerja, komputer, dan karyawan yang mulai sibuk. Suasana kantor terasa santai t
Naura langsung membulatkan matanya.Wajahnya yang mulai reda kembali memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Kata-kata Raka tadi menusuk tepat sasaran. Karena memang benar. Mereka sudah macam-macam. Bahkan lebih dari sekedar macam-macam.“Itu... itu beda!” jawab Naura akhirnya dengan suara meninggi.“Beda apa?”“Beda! Kalau dulu aku mabuk! Aku nggak sadar kalau kita...”“Iya iya... jadikan terus itu sebagai alasan. Nyatanya kamu begitu menikmati.""RAKA!" bentak Naura.Raka hanya cekikikan. Ia sangat suka menggoda Naura, terlebih saat wajah Naura kini terlihat memerah."Naura, coba lihat aku," pinta Raka.Naura yang masih memalingkan wajah dan menatap ke arah jendela, ia hanya diam. Ia benar-benar malu, apalagi jika ingatan malam itu terus diungkit. Naura tau jika malam itu, ia lah dalang dari semuanya, sampai akhirnya kesuciannya terenggut."Ayo lihat ke sini. Aku pengen lihat wajah kamu.""Enggak."Raka menghela napas. Dengan lembut ia meraih dagu
Raka tidak memberi Naura waktu untuk berpikir. Satu tangannya menarik dagu Naura dengan lembut tapi tegas. Lalu bibirnya mendarat di bibir Naura, bukan ciuman singkat seperti sebelumnya. Bukan pula ciuman penuh tanya. Ini adalah ciuman yang sudah lama tertahan. Ciuman yang tercipta dari rasa frustrasi, rindu, dan semua kata yang tidak bisa diucapkan.Naura membeku. Tangannya otomatis naik ke dada Raka, bukan untuk membalas, tapi untuk mendorong. Ia menekan dada bidang pria itu, berusaha menciptakan jarak."Raka.. mmph..."Tapi Raka tidak bergerak. Ia tetap di tempatnya, bibirnya tetap menempel di bibir Naura, tangannya tetap memegang dagu gadis itu dengan hati-hati. Bukan memaksa. Bukan menahan. Tapi juga tidak membiarkan Naura pergi begitu saja.Dorongan Naura semakin melemah.Satu detik.Dua detik.Tiga detik.Dan pada detik keempat, tangan yang tadinya mendorong berubah menjadi menggenggam. Naura menggenggam kemeja Raka. Bukan untuk mendorong lagi, tapi untuk menarik. Ia membalas c
Bibir Naura hampir menyentuh pipi Raka. Satu senti lagi. Dua senti lagi. Naura bisa merasakan hangatnya kulit Raka. Bisa mencium wangi sabun yang melekat di tubuh pria itu. Jantungnya berdebar begitu kencang, hampir meledak di dadanya. Dan saat bibirnya hampir mendarat... Klik. Suara pintu ut
"Naura! Sayang, sudah bangun?" Suara Mama Maya terdengar ceria dari lantai bawah. "Mama bawa sarapan! Ayo turun!"Naura menegang. Ia menatap kaca rias di seberang ranjang. Wajahnya masih pucat, rambutnya kusut tak karuan, dan bibir bawahnya hampir berdarah karena terus ia gigit."Sebentar, Ma!" bal
Raka langsung membeku.Matanya menatap Naura tidak percaya. Bibir gadis itu baru saja menyentuh bibirnya singkat, namun cukup membuat seluruh pikirannya kacau dalam satu detik.“Naura…” suaranya berubah serak.Sementara Naura hanya menatapnya dengan mata setengah sadar. Wajahnya memerah karena alko
Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi







