LOGINNaura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.
Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.
“Dari tadi kamu memang sengaja goda aku, Naura. Mulai dari rambut, sampai sekarang masalah sabuk pengaman," ucap Raka hampir berbisik.
Naura menelan ludah. “Jangan ngaco,” balasnya cepat, berusaha terdengar tegas meski jantungnya mulai kacau lagi.
Raka terkekeh pelan. Tangannya bergerak turun ke arah sabuk pengaman di dekat bahu Naura.
“Diam dulu,” ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian sabuk pengaman terlepas. Namun Raka tidak langsung mundur. Wajahnya masih terlalu dekat. Tatapannya turun sejenak ke leher Naura yang terbuka karena rambut yang terurai. Naura langsung menahan napas.
“Lain kali jangan bikin aku salah fokus di jalan.” Kalimat itu membuat pipi Naura langsung memanas.
Naura segera mendorong bahu Raka pelan. “Udah, minggir!” ucapnya kesal. Sorot matanya tertuju tajam ke arah Raka.
Raka akhirnya mundur, seolah tidak terjadi apa-apa. Kemudian Naura langsung membuka pintu mobil dan turun dengan cepat.
“Makasih!” ucapnya singkat tanpa menoleh. Langkahnya cepat masuk ke area kampus. Namun baru beberapa langkah, “Naura!” Suara Raka membuat langkahnya berhenti. Naura ingin tidak berhenti, namun entah kenapa otomatis kakinya langsung terhenti.
Naura menghela nafas, lalu menoleh sedikit. “Apa lagi?”
Raka menatapnya dari dalam mobil. Tatapannya kali ini tidak sepenuhnya dingin.
“Pulang jam berapa?” tanya Raka.
Naura mengerutkan kening. “Jam empat.”
Raka mengangguk kecil. “Aku jemput.”
“Nggak perlu—”
“Perlu," Jawab Raka memotong cepat.
Naura terdiam dengan perasaan kesal. Namun ia juga tidak punya tenaga untuk berdebat lagi. Rasanya kesal dan percuma menanggapi ucapan Raka.
“Terserah!” gumam Naura pelan.
Raka tidak menambahkan apa-apa lagi. Mobilnya langsung melaju pergi. Sementara Naura, ia berdiri diam beberapa detik di depan gerbang kampus. Tangannya perlahan menyentuh lehernya yang tiba-tiba terasa hangat.
“Sial!” gumam Naura lirih sambil menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. “Fokus, Naura. Fokus kuliah.”
Namun sepanjang berjalan menuju kelas, pikirannya terus kembali ke satu hal. Bagaimana cara Raka mendekat, caranya berbisik, dan caranya menatap.
*
Hari di kampus berjalan lebih lama dari biasanya. Naura berusaha fokus, mencatat, dan mengikuti penjelasan dosen. Tapi beberapa kali ia melamun.
“Naura?” suara Bela membuatnya tersadar.
“Hah? Iya?”
“Kamu dari tadi bengong,” ucap Bela heran.
“Capek aja,” jawabnya santai sambil menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul empat. Seketika Naura langsung menghela nafas panjang.
“Ya ampun, udah jam empat aja. Mana harus pulang bareng dia lagi,” gumam Naura pelan. Ingin rasanya ia menghilang dan tidak bertemu dengan Raka.
Ketika kelas berakhir, Naura segera berjalan keluar gerbang kampus. Langkahnya langsung berhenti saat melihat mobil hitam milik Raka yang sudah terparkir. Raka bersandar di samping mobil, tangan dimasukkan ke saku celana seolah memang sudah menunggu cukup lama. Beberapa mahasiswi yang lewat bahkan sempat melirik ke arahnya.
Naura mendengus pelan. “Kenapa sih harus kelihatan mencolok banget…” gumam Naura.
Namun detik berikutnya, ekspresinya berubah sedikit seolah mendapat ide. Naura mengalihkan pandangannya, lalu ia melangkah ke arah lain. Di dekat parkiran motor, seorang pria berdiri sambil memainkan kunci motornya. “Gio!” panggil Naura.
Pria itu menoleh, lalu tersenyum. “Eh, Naura. Mau pulang, ya?"
Naura mengangguk. “Iya. Kamu juga mau pulang?”
“Iya nih.”
Naura tersenyum tipis. “Kalau aku ikut kamu, boleh?”
Gio terlihat sedikit terkejut, tapi jelas senang. “Serius? Boleh banget.”
Naura mengangguk santai, meski di dalam hatinya ada sedikit rasa bersalah. Ia melirik sekilas ke arah Raka. Pria itu masih di sana. Dan jelas sedang melihat ke arahnya.
“Yuk,” ucap Gio sambil menyerahkan helm.
Naura menerimanya. Ia mulai melangkah mendekat ke motor. Namun saat tangannya hampir menyentuh jok, tiba-tiba suara lantang terdengar dari belakang.
“Naura,” panggil Raka dengan suara dingin.
Tubuh Naura langsung menegang. Bahkan Gio ikut menoleh. Di sana sudah berdiri Raka yang sedang menatap lurus ke arah Naura.
“Ayo kita pulang,” ajak Raka tenang.
Naura mengerutkan kening. “Aku pulang sama Gio,” balas Naura ketus.
Gio mengernyit, lalu menatap Raka. “Maaf… ini siapa, ya?” tanyanya sopan.
Raka mengalihkan pandangan ke Gio. Tatapannya datar dan tenang. Namun entah kenapa terasa menekan.
“Saya kakaknya,” jawab Raka singkat.
Naura langsung menoleh cepat. “Kakak?” ulangnya tidak percaya.
Namun sebelum Naura sempat membantah, Raka kembali bicara, “dia harus pulang sama saya.” Nada suaranya tetap tenang dan terdengar tegas.
Gio terlihat ragu. “Oh… gitu ya. Tapi tadi Naura bilang—”
“Kami harus ke rumah sakit,” potong Raka. Kalimat itu membuat Naura langsung membeku.
“Apa?” ucapnya refleks.
Gio langsung menatap Naura dengan panik. “Naura, kamu sakit?”
Naura membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Ia menoleh ke arah Raka. Tatapan Raka lurus dan tidak berkedip, seolah menyuruhnya diam.
“Sakitnya kambuh lagi. Naura sakit parah, dan dokter sudah menunggu,” lanjut Raka santai.
Naura benar-benar kehabisan kata. Ia ingin membantah, namun tatapan Raka seolah menahannya.
Gio langsung terlihat khawatir. “Ya udah, kalau gitu mending kamu ikut kakak kamu aja. Lain kali kita bisa pulang bareng,” ucap Gio cepat.
Naura menggigit bibir. Ia sangat kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Gio akhirnya pergi meninggalkan mereka berdua. Naura langsung menoleh ke arah Raka dengan wajah kesal.
“Kamu apaan sih?! Rumah sakit? Sakit keras?” ucapnya setengah berbisik, menahan emosi.
Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura. "Ayo kita pulang," ucap Raka singkat.
Naura mendengus. “Kamu pikir aku bakal nurut gitu aja?”
Raka mendekat satu langkah. “Naura.” Nada suaranya berubah. Lebih rendah dan serius.
“Kamu mau lanjut drama di sini?” tanyanya pelan membuat Naura terdiam.
Naura terdiam sesaat. Namun hanya sebentar. “Aku nggak takut sama kamu!” balasnya pelan, tapi penuh penekanan.
Raka menghela napas pendek. Rahangnya mengeras dan tatapannya turun sejenak, kemudian kembali ke mata Naura.
“Kamu dari dulu nggak pernah berubah,” gumam Raka yang mulai kesal dengan semua tingkah Naura.
Naura langsung tersulut. “Dan kamu dari dulu juga suka maksa!”
Beberapa mahasiswa mulai melirik ke arah mereka. Suasana di parkiran yang tadinya biasa saja kini terasa sedikit tegang.
Naura berbalik, berniat pergi menjauh. Namun baru satu langkah, tangan Raka langsung menangkap pergelangan tangannya.
“Raka, lepas!” desis Naura kesal sambil mencoba menarik tangannya.
“Sudah cukup,” jawab Raka singkat.
“Cukup apanya? Aku mau pulang sendiri—”
Belum sempat Naura menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba tubuhnya terangkat.
“RAKA!” pekiknya kaget.
"Iya," bisiknya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. "Hangatkan aku. Aku kedinginan." Raka tidak perlu mendengar ucapan itu dua kali. Ia menarik Naura ke dalam pelukannya dengan erat. Tubuh Naura yang menggigil perlahan mulai tenang, tenggelam dalam kehangatan yang terpancar dari Raka. Tapi pelukan itu tidak bertahan lama. Karena keduanya tahu, pelukan saja tidak cukup. Raka melepas pelukannya perlahan, tapi tangannya tetap di pinggang Naura. Matanya menatap gadis itu, mencari persetujuan, mencari kepastian. "Naura," bisiknya. "Aku sudah mengunci pintu. Dan aku sudah kirim pesan ke sekretarisku kalau aku ingin istirahat dan tidak mau diganggu. CCTV pun sudah aku non aktifkan." Naura tersenyum kecil. "Kamu sudah merencanakan ini?" "Nggak. Tapi aku tahu aku nggak akan bisa berhenti jika sudah mulai." Naura menggigit bibir bawahnya. Tangannya naik ke dada Raka, jari-jarinya menyentuh kancing kemeja pria itu. "Raka." "Hm?" "Aku takut." "Takut apa?" "Takut ini salah. Takut
Mereka berpelukan cukup lama. sampai akhirnya, Raka melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Naura. "Naura," panggil Raka dengan lembut. "Hm?" "Aku harus selesaikan kerjaan dulu. Ada laporan yang harus dikirim sore ini." Naura mengangguk. "Oke. Aku nggak ganggu." Raka tersenyum. "Kamu sudah ganggu sejak pertama kali kamu masuk ke ruangan ini." Naura mendengus. "Itu bukan ganggu. Itu... menghibur." "Menghibur?" Raka mengangkat alis. "Dengan cara membuatku cemburu?" "Aku nggak sengaja!" "Iya, iya." Raka terkekeh kecil. Lalu ia mengecup kening Naura sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan berjalan ke meja kerjanya. Naura kembali ke sofa, menarik jaket Raka lebih erat ke tubuhnya. Ia memperhatikan pria itu yang kini kembali fokus di depan laptop, alis sedikit mengernyit, jari-jarinya mengetik dengan cepat, sesekali berhenti untuk membaca dokumen. 'Ganteng banget kalau serius,' ucap Naura dalam hati. Raka mengangkat wajah tanpa berhenti men
Selesai makan, mereka kembali ke lantai delapan. Naura berjalan di samping Raka, masih dengan jaket pria itu melingkar di tubuhnya. Suasana di lift terasa hangat dan nyaman, sampai mereka melangkah keluar menuju ruang terbuka. Di sana, seorang karyawan laki-laki mungkin umur dua puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan senyum ramah sedang berdiri di dekat mesin kopi. Begitu melihat Naura, matanya berhenti. Bukan lirikan biasa. Tatapan itu terlalu lama. Naura menangkap tatapan itu. Tanpa berpikir, ia tersenyum kecil ke arah pria itu. Hanya senyum sopan, tidak lebih. Tapi bagi Raka, Naura tidak seharusnya membalas senyuman pria yang tidak ia kenal. Seketika rahang Raka menegang. Matanya menyipit. Ia melangkah lebih cepat, hampir menarik Naura melewati ruang terbuka dengan langkah panjang. "Raka, kenapa cepat-cepat?" tanya Naura bingung. "Nggak kenapa-kenapa." "Nggak. Kamu jalannya cepet banget." Raka tidak menjawab. Ia membuka pintu ruangannya, masuk lebih dulu, lalu menun
Naura membeku, begitu juga dengan Raka.Kancing lengan kemeja Raka benar-benar tersangkut di rambut Naura, terjalin di antara helai-helai rambut panjang gadis itu. Keduanya terdiam, terkejut dengan situasi yang tiba-tiba terjadi.Raka mencoba menarik tangannya perlahan, tapi rambut Naura justru semakin kusut."Aduh!" Naura merintih pelan."Maaf, tunggu..." Raka berusaha melepaskan dengan hati-hati, tapi posisi mereka malah semakin tidak nyaman. Kini Raka harus membungkuk lebih dekat ke arah Naura, satu tangannya terangkat di dekat kepala gadis itu, sementara tubuhnya hampir menempel. Jarak mereka menjadi sangat dekat.Naura bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Bisa melihat bulu matanya yang lebat. Bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang walaupun mungkin itu detak jantungnya sendiri."Naura... diam dulu," bisik Raka, suaranya serak."Aku diam," jawab Naura dengan suara hampir tak terdengar.Raka mencoba lagi melepaskan kancingnya dari rambut Naura. Jari-jarinya bergerak pe
Tiba di Kantor RakaGedung itu tidak terlalu besar, tapi terlihat modern dengan kaca-kaca gelap yang membentang dari lantai satu hingga delapan. Raka memarkir mobil di basement, lalu berjalan di samping Naura menuju lift.Naura diam-diam memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan bersih. Lantai marmer mengkilap, dinding putih dengan lukisan abstrak, dan meja resepsionis di lantai dasar yang dijaga oleh seorang wanita muda dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Pak Raka,” sapa resepsionis itu.“Pagi, Maya.” Raka mengangguk singkat. Lalu ia menoleh ke Naura. “Ini adik saya. Naura.”Naura tersenyum kaku. “Halo.”“Oh, selamat pagi, Mbak Naura.” Maya tersenyum ramah, tapi matanya sempat melirik sekilas, terlalu lama untuk sekadar lirikan biasa.Kenapa ya? pikir Naura. Tapi ia mengabaikannya.Lift membawa mereka ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, Naura disambut oleh ruang terbuka dengan beberapa meja kerja, komputer, dan karyawan yang mulai sibuk. Suasana kantor terasa santai t
Naura langsung membulatkan matanya.Wajahnya yang mulai reda kembali memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Kata-kata Raka tadi menusuk tepat sasaran. Karena memang benar. Mereka sudah macam-macam. Bahkan lebih dari sekedar macam-macam.“Itu... itu beda!” jawab Naura akhirnya dengan suara meninggi.“Beda apa?”“Beda! Kalau dulu aku mabuk! Aku nggak sadar kalau kita...”“Iya iya... jadikan terus itu sebagai alasan. Nyatanya kamu begitu menikmati.""RAKA!" bentak Naura.Raka hanya cekikikan. Ia sangat suka menggoda Naura, terlebih saat wajah Naura kini terlihat memerah."Naura, coba lihat aku," pinta Raka.Naura yang masih memalingkan wajah dan menatap ke arah jendela, ia hanya diam. Ia benar-benar malu, apalagi jika ingatan malam itu terus diungkit. Naura tau jika malam itu, ia lah dalang dari semuanya, sampai akhirnya kesuciannya terenggut."Ayo lihat ke sini. Aku pengen lihat wajah kamu.""Enggak."Raka menghela napas. Dengan lembut ia meraih dagu
Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan ma
Naura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah
Isakan Naura pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sempit. “Hiks…” Naura menunduk, memeluk lututnya sendiri. “Kenapa sih…” gumamnya lirih. “Aku cuma mau hidup tenang setelah kepergian Ayah.”Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi. Hanya suara hujan yang masih turun tipis di luar jend
“Hujannya tambah deres, Mbak. Yakin mau turun di depan gerbang saja?” Suara sopir taksi memecah lamunan Naura.Naura tersadar. Ia menatap keluar jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di balik kaca buram itu, berdiri rumah besar bercat putih dengan gerbang hitam tinggi.“Iya, Pak. Di sini aja,” jaw







