LOGINWajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.
Deg.
Deg.
Deg.
Jantungnya berdetak kacau.
“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.
Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.
Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.
Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.
Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa yang hampir terjadi. Tangannya yang memeluk pinggang Naura juga mulai melepas. Namun sebelum benar-benar melepaskan, ia berbisik pelan,
“Hati-hati kalau jalan. Kecuali kamu pengen aku peluk lagi.” Nada suaranya berubah menjadi datar lagi. Seolah semua yang barusan terjadi hanyalah refleks biasa.
Naura langsung mundur satu langkah dengan tangan yang masih terasa gemetar. Ingatan akan kisah romantisnya bersama Raka kembali muncul. Bahkan tanpa sadar Naura juga sempat menatap bibir Pandu, bibir yang dulu pernah menyentuh bibirnya dengan lembut.
Naura menatap Raka dengan campuran bingung dan kesal. “Jangan seenaknya kalau ngomong, ya! Bisa jadi kamu juga cari kesempatan!” ucap Naura, mencoba terdengar tegas meski nafasnya belum stabil.
Raka hanya menatapnya singkat. “Kalau kamu nggak jatuh, aku juga nggak bakal pegang kamu.” Jawaban itu singkat dan terdengar dingin.
Naura menggigit bibirnya karena kesal. Ia juga kesal pada dirinya sendiri karena ingatan tentang masa lalunya dengan Raka selalu saja muncul.
“Aku bisa jaga diri. Jadi nggak usah sok jadi pahlawan,” balas Naura dan langsung berbalik. Langkahnya cepat menuju tangga. Namun sebelum benar-benar naik, Raka memanggilnya.
“Naura.” Suara Raka memanggil dari belakang.
Naura berhenti. Namun ia tidak menoleh. “Apa?” jawabnya datar.
Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu Raka berkata pelan, “Kamu kuliah hari ini, kan?”
Naura mengernyit kecil. Pertanyaan yang aneh dengan nada suara yang lebih lembut, dan terdengar seperti peduli.
“Iya,” jawab Naura singkat.
“Jam berapa?”
Naura akhirnya menoleh sedikit dan tatapan mereka kembali bertemu.
“Jam sembilan.”
Raka mengangguk singkat. “Nanti aku antar.”
Naura langsung mengerutkan kening. “Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”
“Aku disuruh Mama kamu. Lagian, kamu belum tau jalan di sini, kan? Nggak takut nyasar?” jawab Raka santai.
Naura mendesah pelan. “Oke, terserah.”
Naura tidak ingin berdebat lebih lama. Dengan segera, ia langsung naik ke lantai dua. Langkahnya terdengar cepat. Sementara dibawah, Raka berdiri diam sambil menatap arah tangga. Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.
“Sial…” gumamnya pelan sambil mengusap wajahnya kasar. Seolah kesal pada dirinya sendiri. Ya, sama hal nya dengan Naura, Raka juga mengingat kisah cinta mereka yang sudah berakhir.
*
Di kamar, Naura menutup pintu dengan cepat. Ia bersandar di balik pintu dengan nafas yang masih terasa berat. Tangannya naik perlahan ke dadanya sendiri, sembari merasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat.
“Apa sih barusan itu? Dia bisa tiba-tiba peduli, tiba-tiba dingin lagi,” gumamnya lirih sambil berjalan ke arah cermin dan menatap pantulan wajahnya sendiri. Pipinya terlihat sedikit memerah, dan ia pun langsung mengusap wajahnya kasar.
“Jangan bodoh lagi. Dia cuma orang asing. Dia pasti sengaja mempermainkan perasaan!” gumam Naura lirih.
Tapi, bayangan wajah Raka yang tadi begitu dekat terus terulang di kepalanya. Tatapan itu, bisikan itu dan kalimatnya yang mengatakan, "aku nggak janji bakal selalu bisa nahan diri."
Naura menggigit bibir pelan. Perasaannya jadi tidak tenang. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tinggal satu rumah hanya dengan Raka selama berminggu-minggu ke depan, tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Ia menarik nafas panjang, lalu berbalik menuju lemari. Tangannya bergerak cepat mengambil pakaian kuliah, berusaha menyibukkan diri agar pikirannya tidak kembali ke kejadian tadi.
Beberapa menit kemudian, Naura sudah siap. Rambutnya diikat sederhana, tas kuliah tersampir di bahu. Ia berdiri di depan pintu kamar beberapa detik sebelum membukanya.
“Tenang aja… cuma dianter doang,” bisiknya pada diri sendiri.
Namun begitu pintu dibuka, jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat. Naura melangkah pelan menuju tangga. Setiap langkah terasa sedikit ragu, seolah ia berharap Raka belum ada di bawah.
Tapi harapan itu langsung pupus saat ia sampai di anak tangga terakhir. Raka sudah berdiri di dekat pintu depan. Masih dengan kemeja rapi, kunci mobil berputar-putar di jarinya. Seolah ia memang sudah menunggu cukup lama.
“Kamu lama banget,” ucap Raka datar tanpa menoleh.
Naura mengerutkan kening. “Aku nggak lama.”
Raka akhirnya menoleh. Tatapannya singkat, lalu berhenti. Matanya tertuju pada rambut Naura yang diikat rapi di belakang kepala. Seketika tatapannya berubah sedikit lebih tajam.
Naura mengernyit kecil. “Kenapa?”
Namun tanpa menjawab, Raka melangkah mendekat, membuat Naura refleks mundur setengah langkah.
“Apa sih?”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Raka sudah terangkat. Tangannya menyentuh rambut Naura, membuat Naura membeku. Dengan cepat Raka menarik ikatan rambut Naura, membuat ikatan itu terlepas dan rambut Naura terurai jatuh ke bahunya.
“Apa sih kamu?!” protesnya kesal sambil memegang rambutnya.
Raka menatapnya lurus. Sorot matanya tajam, hampir membuat Naura kehilangan kata-kata.
“Bukannya berulang kali aku pernah bilang untuk jangan pernah ikat rambut kamu?” ucap Raka pelan, namun suaranya penuh penegasan.
Naura mengerutkan kening. “Apa urusannya sama kamu?”
Namun Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya turun perlahan ke leher Naura. Sejak dulu, Raka benci jika leher mulus Naura terlihat oleh banyak orang.
“Leher kamu bisa terlihat,” lanjutnya singkat. Kalimat itu membuat Naura terdiam sesaat. Kalimat yang dulu pernah ia dengar.
Kini tatapan Raka begitu tajam, seolah tidak memberi ruang untuk bantahan. Beberapa detik hening, sampai Naura akhirnya mendengus kesal.
“Nyebelin banget sih kamu,” gumamnya pelan sambil merapikan rambutnya dengan tangan.
Raka berbalik begitu saja.
“Ayo cepat. Kita bisa telat," ucapnya santai sambil berjalan lebih dulu.
Naura hanya bisa menatap punggung Raka dengan kesal. “Aneh banget jadi orang!” gumamnya lirih. Namun tanpa sadar, jantungnya kembali berdetak tidak karuan.
Beberapa menit kemudian, mereka keluar rumah dan menuju mobil. Udara pagi terasa sejuk. Namun suasana di antara mereka tetap terasa canggung. Raka membuka pintu mobil, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Sementara Naura, ia berdiri beberapa detik di samping mobil, kemudian menghela nafas pelan.
“Cuma diantar. Nggak usah mikir macem-macem,” bisiknya pelan sambil membuka pintu penumpang dan duduk di kursi depan. Aroma parfum Raka langsung terasa lagi. Aroma familiar yang bodohnya selalu Naura suka.
Mesin mobil menyala. Selama beberapa menit, tidak ada satu kata pun yang keluar. Naura menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran Raka di sampingnya. Sampai akhirnya, Raka memulai pembicaraan.
“Jurusan apa kamu sekarang?” Suara Raka memecah keheningan.
Naura sedikit terkejut. Ia menoleh cepat. “Manajemen,” jawabnya singkat.
Raka mengangguk kecil. "Oh. Di kampus Harapan Bangsa, kan?" tanyanya lagi
“Ya,” jawab Naura singkat, dan seketika mobil kembali sunyi.
Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang kampus. Naura langsung membuka sabuk pengamannya. Namun sabuk itu tidak lepas. Naura mengerutkan kening dan kembali mencoba lagi. Tapi sayang, sabuk itu masih tidak bisa terlepas.
“Ckk… kenapa sih…” gumamnya kesal.
Tiba-tiba, Raka mendekat, membuat Naura langsung membeku. "Kamu memang sengaja menggodaku, Naura," ucap Raka lirih tepat di telinga Naura.
"Iya," bisiknya akhirnya. Suaranya nyaris tak terdengar. "Hangatkan aku. Aku kedinginan." Raka tidak perlu mendengar ucapan itu dua kali. Ia menarik Naura ke dalam pelukannya dengan erat. Tubuh Naura yang menggigil perlahan mulai tenang, tenggelam dalam kehangatan yang terpancar dari Raka. Tapi pelukan itu tidak bertahan lama. Karena keduanya tahu, pelukan saja tidak cukup. Raka melepas pelukannya perlahan, tapi tangannya tetap di pinggang Naura. Matanya menatap gadis itu, mencari persetujuan, mencari kepastian. "Naura," bisiknya. "Aku sudah mengunci pintu. Dan aku sudah kirim pesan ke sekretarisku kalau aku ingin istirahat dan tidak mau diganggu. CCTV pun sudah aku non aktifkan." Naura tersenyum kecil. "Kamu sudah merencanakan ini?" "Nggak. Tapi aku tahu aku nggak akan bisa berhenti jika sudah mulai." Naura menggigit bibir bawahnya. Tangannya naik ke dada Raka, jari-jarinya menyentuh kancing kemeja pria itu. "Raka." "Hm?" "Aku takut." "Takut apa?" "Takut ini salah. Takut
Mereka berpelukan cukup lama. sampai akhirnya, Raka melepaskan pelukannya perlahan, tapi tangannya masih bertahan di pinggang Naura. "Naura," panggil Raka dengan lembut. "Hm?" "Aku harus selesaikan kerjaan dulu. Ada laporan yang harus dikirim sore ini." Naura mengangguk. "Oke. Aku nggak ganggu." Raka tersenyum. "Kamu sudah ganggu sejak pertama kali kamu masuk ke ruangan ini." Naura mendengus. "Itu bukan ganggu. Itu... menghibur." "Menghibur?" Raka mengangkat alis. "Dengan cara membuatku cemburu?" "Aku nggak sengaja!" "Iya, iya." Raka terkekeh kecil. Lalu ia mengecup kening Naura sekali lagi sebelum melepaskan tangannya dan berjalan ke meja kerjanya. Naura kembali ke sofa, menarik jaket Raka lebih erat ke tubuhnya. Ia memperhatikan pria itu yang kini kembali fokus di depan laptop, alis sedikit mengernyit, jari-jarinya mengetik dengan cepat, sesekali berhenti untuk membaca dokumen. 'Ganteng banget kalau serius,' ucap Naura dalam hati. Raka mengangkat wajah tanpa berhenti men
Selesai makan, mereka kembali ke lantai delapan. Naura berjalan di samping Raka, masih dengan jaket pria itu melingkar di tubuhnya. Suasana di lift terasa hangat dan nyaman, sampai mereka melangkah keluar menuju ruang terbuka. Di sana, seorang karyawan laki-laki mungkin umur dua puluh lima tahun, dengan kemeja biru dan senyum ramah sedang berdiri di dekat mesin kopi. Begitu melihat Naura, matanya berhenti. Bukan lirikan biasa. Tatapan itu terlalu lama. Naura menangkap tatapan itu. Tanpa berpikir, ia tersenyum kecil ke arah pria itu. Hanya senyum sopan, tidak lebih. Tapi bagi Raka, Naura tidak seharusnya membalas senyuman pria yang tidak ia kenal. Seketika rahang Raka menegang. Matanya menyipit. Ia melangkah lebih cepat, hampir menarik Naura melewati ruang terbuka dengan langkah panjang. "Raka, kenapa cepat-cepat?" tanya Naura bingung. "Nggak kenapa-kenapa." "Nggak. Kamu jalannya cepet banget." Raka tidak menjawab. Ia membuka pintu ruangannya, masuk lebih dulu, lalu menun
Naura membeku, begitu juga dengan Raka.Kancing lengan kemeja Raka benar-benar tersangkut di rambut Naura, terjalin di antara helai-helai rambut panjang gadis itu. Keduanya terdiam, terkejut dengan situasi yang tiba-tiba terjadi.Raka mencoba menarik tangannya perlahan, tapi rambut Naura justru semakin kusut."Aduh!" Naura merintih pelan."Maaf, tunggu..." Raka berusaha melepaskan dengan hati-hati, tapi posisi mereka malah semakin tidak nyaman. Kini Raka harus membungkuk lebih dekat ke arah Naura, satu tangannya terangkat di dekat kepala gadis itu, sementara tubuhnya hampir menempel. Jarak mereka menjadi sangat dekat.Naura bisa merasakan napas Raka di wajahnya. Bisa melihat bulu matanya yang lebat. Bisa mendengar detak jantung yang berdegup kencang walaupun mungkin itu detak jantungnya sendiri."Naura... diam dulu," bisik Raka, suaranya serak."Aku diam," jawab Naura dengan suara hampir tak terdengar.Raka mencoba lagi melepaskan kancingnya dari rambut Naura. Jari-jarinya bergerak pe
Tiba di Kantor RakaGedung itu tidak terlalu besar, tapi terlihat modern dengan kaca-kaca gelap yang membentang dari lantai satu hingga delapan. Raka memarkir mobil di basement, lalu berjalan di samping Naura menuju lift.Naura diam-diam memperhatikan sekeliling. Semua tampak rapi dan bersih. Lantai marmer mengkilap, dinding putih dengan lukisan abstrak, dan meja resepsionis di lantai dasar yang dijaga oleh seorang wanita muda dengan senyum ramah.“Selamat pagi, Pak Raka,” sapa resepsionis itu.“Pagi, Maya.” Raka mengangguk singkat. Lalu ia menoleh ke Naura. “Ini adik saya. Naura.”Naura tersenyum kaku. “Halo.”“Oh, selamat pagi, Mbak Naura.” Maya tersenyum ramah, tapi matanya sempat melirik sekilas, terlalu lama untuk sekadar lirikan biasa.Kenapa ya? pikir Naura. Tapi ia mengabaikannya.Lift membawa mereka ke lantai delapan. Begitu pintu lift terbuka, Naura disambut oleh ruang terbuka dengan beberapa meja kerja, komputer, dan karyawan yang mulai sibuk. Suasana kantor terasa santai t
Naura langsung membulatkan matanya.Wajahnya yang mulai reda kembali memerah dalam sekejap. Ia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Kata-kata Raka tadi menusuk tepat sasaran. Karena memang benar. Mereka sudah macam-macam. Bahkan lebih dari sekedar macam-macam.“Itu... itu beda!” jawab Naura akhirnya dengan suara meninggi.“Beda apa?”“Beda! Kalau dulu aku mabuk! Aku nggak sadar kalau kita...”“Iya iya... jadikan terus itu sebagai alasan. Nyatanya kamu begitu menikmati.""RAKA!" bentak Naura.Raka hanya cekikikan. Ia sangat suka menggoda Naura, terlebih saat wajah Naura kini terlihat memerah."Naura, coba lihat aku," pinta Raka.Naura yang masih memalingkan wajah dan menatap ke arah jendela, ia hanya diam. Ia benar-benar malu, apalagi jika ingatan malam itu terus diungkit. Naura tau jika malam itu, ia lah dalang dari semuanya, sampai akhirnya kesuciannya terenggut."Ayo lihat ke sini. Aku pengen lihat wajah kamu.""Enggak."Raka menghela napas. Dengan lembut ia meraih dagu
Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi
Naura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah
Isakan Naura pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sempit. “Hiks…” Naura menunduk, memeluk lututnya sendiri. “Kenapa sih…” gumamnya lirih. “Aku cuma mau hidup tenang setelah kepergian Ayah.”Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi. Hanya suara hujan yang masih turun tipis di luar jend
“Hujannya tambah deres, Mbak. Yakin mau turun di depan gerbang saja?” Suara sopir taksi memecah lamunan Naura.Naura tersadar. Ia menatap keluar jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di balik kaca buram itu, berdiri rumah besar bercat putih dengan gerbang hitam tinggi.“Iya, Pak. Di sini aja,” jaw







