Compartilhar

Masih Posesif

Autor: Dahlia Cici
last update Data de publicação: 2026-05-07 20:41:13

Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.

Deg.

Deg.

Deg.

Jantungnya berdetak kacau.

“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.

Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.

Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.

Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.

Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa yang hampir terjadi. Tangannya yang memeluk pinggang Naura juga mulai melepas. Namun sebelum benar-benar melepaskan, ia berbisik pelan,

“Hati-hati kalau jalan. Kecuali kamu pengen aku peluk lagi.” Nada suaranya berubah menjadi datar lagi. Seolah semua yang barusan terjadi hanyalah refleks biasa.

Naura langsung mundur satu langkah dengan tangan yang masih terasa gemetar. Ingatan akan kisah romantisnya bersama Raka kembali muncul. Bahkan tanpa sadar Naura juga sempat menatap bibir Pandu, bibir yang dulu pernah menyentuh bibirnya dengan lembut.

Naura menatap Raka dengan campuran bingung dan kesal. “Jangan seenaknya kalau ngomong, ya! Bisa jadi kamu juga cari kesempatan!” ucap Naura, mencoba terdengar tegas meski nafasnya belum stabil.

Raka hanya menatapnya singkat. “Kalau kamu nggak jatuh, aku juga nggak bakal pegang kamu.” Jawaban itu singkat dan terdengar dingin.

Naura menggigit bibirnya karena kesal. Ia juga kesal pada dirinya sendiri karena ingatan tentang masa lalunya dengan Raka selalu saja muncul.

“Aku bisa jaga diri. Jadi nggak usah sok jadi pahlawan,” balas Naura dan langsung berbalik. Langkahnya cepat menuju tangga. Namun sebelum benar-benar naik, Raka memanggilnya.

“Naura.” Suara Raka memanggil dari belakang.

Naura berhenti. Namun ia tidak menoleh. “Apa?” jawabnya datar.

Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu Raka berkata pelan, “Kamu kuliah hari ini, kan?”

Naura mengernyit kecil. Pertanyaan yang aneh dengan nada suara yang lebih lembut, dan terdengar seperti peduli.

“Iya,” jawab Naura singkat.

“Jam berapa?”

Naura akhirnya menoleh sedikit dan tatapan mereka kembali bertemu.

“Jam sembilan.”

Raka mengangguk singkat. “Nanti aku antar.”

Naura langsung mengerutkan kening. “Nggak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”

“Aku disuruh Mama kamu. Lagian, kamu belum tau jalan di sini, kan? Nggak takut nyasar?” jawab Raka santai.

Naura mendesah pelan. “Oke, terserah.”

Naura tidak ingin berdebat lebih lama. Dengan segera, ia langsung naik ke lantai dua. Langkahnya terdengar cepat. Sementara dibawah, Raka berdiri diam sambil menatap arah tangga. Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.

“Sial…” gumamnya pelan sambil mengusap wajahnya kasar. Seolah kesal pada dirinya sendiri. Ya, sama hal nya dengan Naura, Raka juga mengingat kisah cinta mereka yang sudah berakhir.

*

Di kamar, Naura menutup pintu dengan cepat. Ia bersandar di balik pintu dengan nafas yang masih terasa berat. Tangannya naik perlahan ke dadanya sendiri, sembari merasakan detak jantung yang berdetak semakin cepat.

“Apa sih barusan itu? Dia bisa tiba-tiba peduli, tiba-tiba dingin lagi,” gumamnya lirih sambil berjalan ke arah cermin dan menatap pantulan wajahnya sendiri. Pipinya terlihat sedikit memerah, dan ia pun langsung mengusap wajahnya kasar.

“Jangan bodoh lagi. Dia cuma orang asing. Dia pasti sengaja mempermainkan perasaan!” gumam Naura lirih.

Tapi, bayangan wajah Raka yang tadi begitu dekat terus terulang di kepalanya. Tatapan itu, bisikan itu dan kalimatnya yang mengatakan, "aku nggak janji bakal selalu bisa nahan diri."

Naura menggigit bibir pelan. Perasaannya jadi tidak tenang. Dan entah kenapa, ia mulai merasa tinggal satu rumah hanya dengan Raka selama berminggu-minggu ke depan, tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Ia menarik nafas panjang, lalu berbalik menuju lemari. Tangannya bergerak cepat mengambil pakaian kuliah, berusaha menyibukkan diri agar pikirannya tidak kembali ke kejadian tadi.

Beberapa menit kemudian, Naura sudah siap. Rambutnya diikat sederhana, tas kuliah tersampir di bahu. Ia berdiri di depan pintu kamar beberapa detik sebelum membukanya.

“Tenang aja… cuma dianter doang,” bisiknya pada diri sendiri.

Namun begitu pintu dibuka, jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat. Naura melangkah pelan menuju tangga. Setiap langkah terasa sedikit ragu, seolah ia berharap Raka belum ada di bawah.

Tapi harapan itu langsung pupus saat ia sampai di anak tangga terakhir. Raka sudah berdiri di dekat pintu depan. Masih dengan kemeja rapi, kunci mobil berputar-putar di jarinya. Seolah ia memang sudah menunggu cukup lama.

“Kamu lama banget,” ucap Raka datar tanpa menoleh.

Naura mengerutkan kening. “Aku nggak lama.”

Raka akhirnya menoleh. Tatapannya singkat, lalu berhenti. Matanya tertuju pada rambut Naura yang diikat rapi di belakang kepala. Seketika tatapannya berubah sedikit lebih tajam.

Naura mengernyit kecil. “Kenapa?”

Namun tanpa menjawab, Raka melangkah mendekat, membuat Naura refleks mundur setengah langkah.

“Apa sih?”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tangan Raka sudah terangkat. Tangannya menyentuh rambut Naura, membuat Naura membeku. Dengan cepat Raka menarik ikatan rambut Naura, membuat ikatan itu terlepas dan rambut Naura terurai jatuh ke bahunya.

“Apa sih kamu?!” protesnya kesal sambil memegang rambutnya.

Raka menatapnya lurus. Sorot matanya tajam, hampir membuat Naura kehilangan kata-kata.

“Bukannya berulang kali aku pernah bilang untuk jangan pernah ikat rambut kamu?” ucap Raka pelan, namun suaranya penuh penegasan.

Naura mengerutkan kening. “Apa urusannya sama kamu?”

Namun Raka tidak langsung menjawab. Tatapannya turun perlahan ke leher Naura. Sejak dulu, Raka benci jika leher mulus Naura terlihat oleh banyak orang.

“Leher kamu bisa terlihat,” lanjutnya singkat. Kalimat itu membuat Naura terdiam sesaat. Kalimat yang dulu pernah ia dengar.

Kini tatapan Raka begitu tajam, seolah tidak memberi ruang untuk bantahan. Beberapa detik hening, sampai Naura akhirnya mendengus kesal.

“Nyebelin banget sih kamu,” gumamnya pelan sambil merapikan rambutnya dengan tangan.

Raka berbalik begitu saja.

“Ayo cepat. Kita bisa telat," ucapnya santai sambil berjalan lebih dulu.

Naura hanya bisa menatap punggung Raka dengan kesal. “Aneh banget jadi orang!” gumamnya lirih. Namun tanpa sadar, jantungnya kembali berdetak tidak karuan.

Beberapa menit kemudian, mereka keluar rumah dan menuju mobil. Udara pagi terasa sejuk. Namun suasana di antara mereka tetap terasa canggung. Raka membuka pintu mobil, lalu duduk tanpa berkata apa-apa. Sementara Naura, ia berdiri beberapa detik di samping mobil, kemudian menghela nafas pelan.

“Cuma diantar. Nggak usah mikir macem-macem,” bisiknya pelan sambil membuka pintu penumpang dan duduk di kursi depan. Aroma parfum Raka langsung terasa lagi. Aroma familiar yang bodohnya selalu Naura suka.

Mesin mobil menyala. Selama beberapa menit, tidak ada satu kata pun yang keluar. Naura menatap keluar jendela, berusaha mengabaikan kehadiran Raka di sampingnya. Sampai akhirnya, Raka memulai pembicaraan.

“Jurusan apa kamu sekarang?” Suara Raka memecah keheningan.

Naura sedikit terkejut. Ia menoleh cepat. “Manajemen,” jawabnya singkat.

Raka mengangguk kecil. "Oh. Di kampus Harapan Bangsa, kan?" tanyanya lagi 

“Ya,” jawab Naura singkat, dan seketika mobil kembali sunyi.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan gerbang kampus. Naura langsung membuka sabuk pengamannya. Namun sabuk itu tidak lepas. Naura mengerutkan kening dan kembali mencoba lagi. Tapi sayang, sabuk itu masih tidak bisa terlepas.

“Ckk… kenapa sih…” gumamnya kesal.

Tiba-tiba, Raka mendekat, membuat Naura langsung membeku. "Kamu memang sengaja menggodaku, Naura," ucap Raka lirih tepat di telinga Naura.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Serumah Dengan Mantan   Aku Mau Senang-Senang

    Malam hari. Rumah besar itu sudah mulai sepi. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam. Dari celah pintu kamar, Naura mengintip pelan ke arah koridor. Suasana begitu sunyi. Naura langsung menarik napas lega.“Oke… sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan.Ia sudah berganti pakaian sejak tadi. Dress hitam sederhana dengan jaket tipis di luar. Rambutnya dibiarkan terurai natural. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat dirinya terlihat berbeda.Naura berjalan pelan sembari berjinjit menuruni tangga. Matanya beberapa kali melirik ke arah ruang kerja Raka yang pintunya tertutup.“Aman…”Namun baru satu langkah menuju pintu depan...“Naura.”Tubuhnya langsung membeku. Pelan-pelan Naura menoleh. Dan benar saja, Raka duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang laptop di pangkuannya. Lampu ruang tamu yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin.“Kamu mau ke mana?”Naura langsung salah tingkah sepersekian detik, tapi ia cepat-cepat memasang wajah santai.“Kelua

  • Serumah Dengan Mantan   Cemburu?

    “RAKA!” pekik Naura kaget.Tubuhnya langsung terangkat begitu saja ke pundak Raka.“Turunin aku!” teriak Naura sambil memukul punggung Raka pelan karena panik. Beberapa mahasiswa langsung menoleh heboh ke arah mereka.“Ya Tuhan, itu Naura, kan?” “Cowoknya siapa?”Namun Raka berjalan tetap tenang seolah tidak peduli dengan semua tatapan itu. Wajahnya masih dingin. Rahangnya mengeras. Satu tangannya menahan kaki Naura agar tidak jatuh.“Raka! Aku malu!” desis Naura panik.“Kalau nggak mau malu, seharusnya dari tadi nurut,” jawab Raka datar.Naura semakin kesal. “Aku bisa jalan sendiri!”“Tapi kamu keras kepala.”“Dan kamu nyebelin!”Raka tidak membalas lagi. Ia langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Naura ke kursi dengan cepat namun tetap hati-hati.Brak.Pintu mobil tertutup. Naura langsung menatap tajam ke arah Raka dari dalam mobil. “Kamu gila ya?!”Raka berjalan memutari mobil tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobil.Suas

  • Serumah Dengan Mantan   Mister Posesif

    Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi kamu memang sengaja goda aku, Naura. Mulai dari rambut, sampai sekarang masalah sabuk pengaman," ucap Raka hampir berbisik.Naura menelan ludah. “Jangan ngaco,” balasnya cepat, berusaha terdengar tegas meski jantungnya mulai kacau lagi.Raka terkekeh pelan. Tangannya bergerak turun ke arah sabuk pengaman di dekat bahu Naura.“Diam dulu,” ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian sabuk pengaman terlepas. Namun Raka tidak langsung mundur. Wajahnya masih terlalu dekat. Tatapannya turun sejenak ke leher Naura yang terbuka karena rambut yang terurai. Naura langsung menahan napas. “Lain kali jangan bikin aku salah fokus di jalan.” Kalimat itu membuat pipi Naura langsung memanas.Naura segera mend

  • Serumah Dengan Mantan   Masih Posesif

    Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa

  • Serumah Dengan Mantan   Sebuah Perhatian

    Naura menatap Raka beberapa detik. Dadanya terasa semakin sesak, tapi kali ini bukan karena terkejut, melainkan karena sakit yang terlalu familiar.“Iya… harusnya aku sadar dari tadi,” gumam Naura pelan sambil tertawa kecil.Raka tidak menjawab. Namun tatapannya tetap dingin, seolah tidak ada celah untuk masa lalu yang pernah mereka punya.“Tenang aja. Aku nggak akan sentuh lagi,” ucap Naura yang kemudian berbalik.Langkah Naura cepat, hampir seperti ingin segera keluar dari ruangan itu. Namun sebelum benar-benar pergi, Naura berhenti sebentar di dekat pintu. Dan tanpa menoleh, ia berkata lirih, "aku juga nggak suka masa lalu yang tiba-tiba muncul lagi tanpa izin.” Setelah itu Naura keluar dan pintu tertutup.Dengan langkah berat, Naura kembali ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, ia langsung bersandar di baliknya.“Bodoh…” bisiknya pada diri sendiri.“Ngapain juga aku buka itu…” ucap Naura sambil mengepalkan tangannya. Namun menyesal pun percuma.Naura berjalan pelan ke arah ranjang,

  • Serumah Dengan Mantan   Menyimpan Masa Lalu

    Isakan Naura pelan, tapi cukup untuk membuat dadanya terasa semakin sempit. “Hiks…” Naura menunduk, memeluk lututnya sendiri. “Kenapa sih…” gumamnya lirih. “Aku cuma mau hidup tenang setelah kepergian Ayah.”Di luar kamar, rumah itu tetap sunyi. Hanya suara hujan yang masih turun tipis di luar jendela. Beberapa menit berlalu. Naura akhirnya menarik napas panjang dan mengusap wajahnya kasar. “Udah… cukup.” Ia berdiri perlahan, meski kakinya masih terasa lemas.Matanya merah saat menatap kamar itu lagi. Kasur besar, meja belajar mewah, dan lemari yang besar. Semuanya terlihat seperti kamar orang yang hidupnya rapi dan bahagia.Naura tertawa kecil, hambar. “Enak ya… punya hidup kaya gini.” Ia berjalan ke jendela dan membuka tirainya sedikit. Taman belakang terlihat luas dan hijau. Lampu taman memantulkan cahaya di permukaan daun yang basah oleh hujan. Cantik. Tapi tetap terasa asing.Naura menghela napas panjang. “Sabar ya, Naura. Ini cuma sementara,” bisiknya pada diri sendiri. “Cuma sa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status