เข้าสู่ระบบMora langsung memohon izin keluar malam itu.
Bibi Greta yang melihat wajah pucat Mora juga segera memesankan taksi online, bahkan menyelipkan beberapa lembar uang pada Mora.
“Ini sedikit ongkos. Kamu tidak membawa uang saat diusir, kan? Pakai dulu,” bisik Bibi Greta ramah.
Mora sangat bersyukur. Matanya berkaca-kaca saat ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dan berjanji akan mengganti uang itu begitu menerima gaji pertamanya. Bibi Greta hanya mengangguk lembut, membiarkan Mora bergegas pergi.
Setengah jam perjalanan berlalu hingga taksi berhenti di depan kantor kepolisian. Langkah kaki Mora tergesa-gesa menerobos masuk ke koridor yang dingin.
Saat melangkah ke ruang pemeriksaan, ia melihat Gilang, adik angkatnya, duduk menunduk di depan dua orang polisi. Tidak ada tanda keberadaan Ronal di sana, hanya seorang pria berjas rapi duduk tenang di samping petugas membawa map tebal.
“Gilang!” panggil Mora parau.
Pemuda itu mendongak. Wajahnya yang biasa bersih kini dihiasi lebam kebiruan di sudut mata dan bibir yang sobek.
“Mbak Mora ...” bisiknya pelan, matanya memerah.
Mora mendekat, memegang bahu adiknya dengan tangan gemetar. “Kenapa kamu bisa ada di sini, Lang? Kenapa sampai berkelahi sama Ronal?!”
“Aku datang mau kasih kejutan buat Mbak. Tapi waktu aku ke rumah si bajingan itu, Ronal malah bilang dia sudah menceraikan Mbak dan fitnah Mbak selingkuh! Aku nggak terima Mbak dihina, jadi kuhajar habis-habisan!”
Hati Mora serasa diiris-iris. Gilang adalah anak yang dibesarkan orang tuanya sejak bayi. Saat orang tua Mora meninggal dalam kecelakaan, mereka sempat berpesan agar keduanya akur. Gilang pasti bertindak demi membela kehormatan kakaknya.
Pria berjas rapi di samping polisi berdiri tiba-tiba berdiri sambil berkata, “Nona Mora, saya pengacara Pak Ronal Wijaya. Klien kami mengalami cedera cukup parah akibat penganiayaan adik Anda.”
Mora menelan ludah yang terasa sepahit empedu, lalu menoleh pada salah satu polisi disana. “Pak, adik saya emosional karena diprovokasi. Anda harus mengusutnya dengan jelas.”
“Maaf, Nona. Tapi pihak korban mempunyai bukti rekaman dan saksi. Meski terprovokasi, tidak seharusnya adik Anda main hakim sendiri,” jawab petugas membuat Mora makin tersudut.
“Nona Mora, saya hanya memberitahu, adik Anda bisa terancam pidana atas tindakannya. Tapi tenang saja, klien saya memberikan dua opsi jika Anda mau berdamai. Pertama, Anda bisa kembali ke rumah dan menjadi istri yang baik. Kedua, bayar uang damai sebesar dua ratus juta sebagai kompensasi.”
Mora mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan.
Balikan sama Ronal? Sudi pun tidak!
Bayangan Ronal yang bercinta panas dengan sekretarisnya membuat perut Mora mual seketika. Ia tidak akan pernah mau menyerahkan tubuhnya lagi pada pria menjijikkan yang bisa menularkan penyakit kelamin.
“Dua ratus juta? Anda mau merampok atau bagaimana?”
“Kami sudah menghitung semuanya dari biaya medis dan trauma mental korban. Itu jumlah yang sepadan. Jika Anda setuju berdamai, kami akan menunggu sampai besok pagi,” ujar pengacara itu dingin sebelum pamit melangkah keluar.
Mora kembali ke mansion Vance menjelang tengah malam dengan tubuh lemas. Ia mengurung diri di kamar pengasuh, merenung linglung di tepi ranjang.
Pikirannya buntu.
Meminjam uang pada teman-teman jelas hal mustahil karena Ronal telah memutus seluruh akses komunikasinya selama dua tahun terakhir. Dan dua ratus juta bukanlah angka yang bisa didapatkan dalam hitungan jam. Kecuali, dengan cara nekat.
Malam itu juga, Mora mendatangi Paman Ben dengan niat meminta kasbon gaji sebesar dua ratus juta. Paman Ben tentu terkejut dengan nominal sebesar itu.
“Nona Mora, saya tidak berwenang memberi kasbon sebesar itu. Tapi tunggu sebentar, saya akan sampaikan pada tuan,” ucap Paman Ben sebelum akhirnya pergi menemui Aiden.
Mora sebenarnya malu, tak enak hati sebab ini hari pertamanya bekerja, tapi dia juga tidak punya jalan lain. Hanya hal ini yang bisa dia pikirkan saat itu.
Tak lama, Paman Ben kembali dan menyuruh Mora menghadap Aiden langsung. Mora sudah tidak punya jalan mundur lagi. Dengan kaki gemetaran, ia berjalan mengikuti langkah Paman Ben.
Di dalam ruang kerja, Aiden sedang duduk bersandar di kursi kulit megahnya, menyesap kopi sambil menatap Mora yang baru masuk sendirian.
“Dua ratus juta?” ulang Aiden datar begitu Mora melangkah mendekati meja kerjanya. “Kau baru bekerja tiga hari di sini, Mora. Dari mana kau punya keberanian meminta pinjaman sebesar itu padaku malam-malam begini?”
“Saya tahu saya tidak tahu diri, Tuan!” potong Mora cepat, suaranya sedikit bergetar. “Tapi saya berjanji akan membayar seluruhnya! Potong gaji saya tiap bulan. Saya juga bersedia bekerja ganda, entah jadi pembantu rumah tangga, mencuci, membersihkan seluruh mansion ini. Saya akan lakukan pekerjaan apa pun!”
Aiden berdiri perlahan, melangkah mengikis jarak hingga mengurung sosok Mora dalam bayangannya. “Ooh ... melakukan apapun? Bagaimana kalau aku menyuruhmu buka baju?”
Mora terbelalak lebar, pipinya memerah. Malu luar biasa. Belum sempat Mora menyuarakan protes, Aiden lebih dulu menatapnya culas.
“Kenapa? Kaget? Sejak awal kamu masuk kesini dengan baju basah dan menyusup ke ruanganku malam-malam, bukankah tujuanmu memang untuk tidur denganku?”
“Saya sumpah mati, saya tidak pernah punya niat seperti itu!” jerit Mora tertahan, air matanya menetes.
“Jika Tuan tidak percaya, saya bisa menjual ginjal saya sendiri untuk melunasi pinjaman itu! Saya cuma butuh uang itu sekarang untuk menebus adik saya dari penjara. Sungguh. Saya tidak berbohong.”
Hening menyeruak. Aiden terdiam mengamati air mata Mora yang berlinang jatuh, sementara bibirnya digigit kuat berusaha menahan isak tangisnya agar tidak pecah.
“Seberapa penting adikmu itu ... sampai kamu rela menjual organ tubuhmu demi dia?” tanya Aiden.
“Dia satu-satunya keluarga yang saya punya di dunia ini, Tuan. Saya sudah tidak punya siapapun. Dan jika dia dipenjara, masa depannya bisa hancur. Saya mohon, Tuan. Saya sungguh butuh uang itu,” lirih Mora.
Aiden bersedekap dada, matanya masih menatap Mora yang berdiri di depannya dengan tajam, sebelum akhirnya, dia menunduk sambil tersenyum.
“Oke. Kalau begitu, buka bajumu dan puaskan aku malam ini! Aku ingin lihat seberapa serius niatmu menolong adikmu!”
Klek.Pintu di kamar utama lantai tiga itu tertutup rapat. Begitu melangkah keluar, Mora langsung menghampiri Bibi Greta yang berjalan kaku di depannya.“Bi … Bibi Greta, saya minta maaf,” bisik Mora tercekat, air matanya merebak lagi. Rasa bersalah menghimpit dadanya begitu sesak. “Gara-gara saya, Bibi jadi dimarahi Tuan Aiden. Saya benar-benar minta maaf, Bi …”Langkah Greta terhenti. Wanita paruh baya itu menoleh, menatap wajah sembab Mora yang pucat pasi.Tak ada amarah yang meledak dari mulutnya. Greta hanya menatap Mora lekat-lekat selama beberapa detik, lalu menghela napas panjang yang terdengar teramat berat dan lelah. Tanpa membalas sepatah kata pun, Greta membalikkan badan dan terus melangkah menuruni tangga, meninggalkan Mora yang mematung dengan rasa bersalah yang kian menyiksa.Mora menelan ludah getir, lalu perlahan mengekor turun ke lantai satu. Namun baru saja kakinya menjejak anak tangga terbawah, sayup-sayup bisikan pelan dari balik partisi ruang tengah menyapa teli
DEG!Mora membeku di tempat. Tubuhnya yang terhimpit rapat di antara pintu marmer dan dada bidang Aiden terasa kaku, tak mampu bergerak barang satu senti pun. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memukul-mukul rongga dadanya begitu menyakitkan.“Da-dari mana Tuan Aiden tahu?!”Mora menunduk dalam, mati-matian menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memutih. Otaknya berputar liar mencari jawaban.Bibi Greta? Tidak mungkin! Wanita itu sudah berjanji tidak akan mencampuri urusan ini, apalagi sampai membocorkannya secepat ini pada sang majikan.Lalu siapa?Pikiran Mora mendadak melesat pada kejadian di lorong tadi, saat ia merutuki dirinya sendiri sepulang dari kamar Bibi Greta. Derap langkah pelan ... dan seorang pelayan yang sedang mengelap jendela kaca!Atau jangan-jangan ... Tuan Muda Leo mendengarnya?Mata Mora membelalak panik. Suara gumamannya tadi memang agak keras sebelum ia melihat pelayan itu. Mungkinkah Leo yang kamarnya berada di lantai yang sama tanpa sengaja mendengarnya bicar
Suasana di lorong lantai dua mendadak dingin mencekam. Sorot mata Nyonya Besar menyapu Mora dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh penghakiman, sebelum akhirnya beralih pada cucunya yang masih sesenggukan di ceruk leher Aiden.“Kalau kelakuannya sama saja seperti pengasuh-pengasuh sebelum nya, untuk apa kamu pertahankan?” cibir wanita tua itu sinis. “Pecat saja dia sekarang, Aiden! Buang-buang uang menggaji wanita yang kerjanya cuma bikin cucuku histeris begini!”DEG!Jantung Mora serasa anjlok ke perut. Keringat dingin langsung mengucur di pelipisnya. Tangannya meremas celananya kuat-kuat, kepalanya tertunduk makin dalam.Rasa takut seketika mencengkeram dadanya. Bukan cuma takut ditendang keluar dari mansion mewah ini, tapi jeratan utang dua ratus juta pada Aiden yang belum lunas.Kalau detik ini juga ia dipecat dan diusir tanpa membawa uang sepeser pun, mau bayar pakai apa? Diseret ke kantor polisi lagi? Atau Aiden bakal menagihnya dengan cara yang jauh lebih gil
Langkah kaki Mora terasa berat saat menyusuri lorong panjang menuju ruang tengah. Kepalanya tertunduk lesu, kedua sudut bibirnya ditekuk dalam-dalam sembari merutuki kebodohannya sendiri.“Bisa-bisanya mulutku lancang bilang mau berhenti setelah utang lunas …” gumam Mora lirih, menggigit bibir bawahnya cemas. “Bagaimana kalau Tuan Aiden menolak melepaskanku? Atau lebih buruk lagi … bagaimana kalau aku sendiri yang gagal menepati janji itu pada Bibi Greta?”Dilema itu berputar kusut di kepalanya. Di satu sisi, nuraninya berteriak bahwa ia terlalu kotor untuk tetap berada di dekat Leo setelah apa yang terjadi di atas ranjang majikannya. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa Aiden belum sepenuhnya melepaskan jeratan utang itu membuatnya tak berdaya.Deg.Telinganya tiba-tiba menangkap suara derap langkah pelan di dekat lorong. Mora tersentak, refleks mendongak dan menyapu pandangannya ke sekeliling. Lorong itu sepi. Hanya tampak seorang pelayan wanita yang tengah sibuk mengelap jendela kac
“Apa? Mengundurkan diri?!” ulang Bibi Greta dengan mata membulat tak percaya.Mora yang masih bersimpuh lemas di atas lantai kayu hanya bisa mengangguk kaku. Air matanya terus menetes membasahi pipi, meresap jatuh ke serat pernis tua kamar itu.“I-iya, Bi. Saya merasa tidak tahu malu jika harus terus bekerja di sini setelah apa yang terjadi,” rintih Mora parau. Napasnya tersengal menahan sesak yang mencekik dada. “Setiap kali menatap mata polos Tuan Muda Leo ... hati saya tidak tenang. Rasanya seperti ditikam pisau. Saya merasa sangat bersalah. Saya terlalu kotor untuk mengurus anak sebaik dia.”Bibi Greta mematung. Amarah yang semula membakar ubun-ubunnya mendadak surut, ditampar oleh realitas yang menohok sekaligus rasa kecewa. Wanita paruh baya itu mundur selangkah, lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi ranjang. Tangannya memijat pelipis yang berdenyut kencang.Dadanya terasa sesak. Baru kemarin ia mempercayakan luka lama dan trauma kelam Leo yang selama ini ditutup rapat dari siapapu
Bibi Greta langsung mendekat, lalu mencengkeram dan menarik turun kerah baju Mora dengan satu gerakan tegas. Mora terkesiap kaku, napasnya tersangkut di kerongkongan.“A-astaga, Mora!” lirih Bibi Greta menatap tak percaya.Sebagai wanita dewasa yang kenyang makan asam garam, dia cukup paham dengan apa yang ia lihat. Bercak lebam keunguan itu bertumpuk pekat di ceruk leher, disusul bekas gigitan yang belum sepenuhnya kering, jelas ulah seorang pria.Takut ada pelayan lain yang melihat, Bibi Greta buru-buru menaikkan kembali kerah baju Mora. Dadanya naik-turun menahan amarah yang mendadak membakar ubun-ubunnya. Leo yang masih berdiri di atas sofa mengerjap polos, sama sekali tidak menyadari hawa dingin yang mencekik di sekitarnya.“Kalau di kamar Mora banyak nyamuk nakal, tidur di kamar Leo aja mulai nanti malam,” celetuk bocah itu dengan nada riang. “Biar nyamuknya nggak berani gigit Mora lagi.”Darah Mora terasa membeku. Lidahnya kelu, tak sanggup menyusun sepatah kata pun untuk memb







