Share

Bab 2

Penulis: Mimi
Saat makan malam, Andrew memaksaku menghabiskan semangkuk kecil nasi.

Dia memegang sendok dengan lembut, berniat menyuapiku. "Kalau kamu nggak makan dengan baik, bagaimana tubuhmu bisa sehat?"

Kalau tubuhku tidak sehat, aku tidak bisa menyediakan organ yang sehat untuk kakakku. Begitu, ‘kan?

Melihat wajah lembut dan sopan yang penuh kepalsuan di depanku, rasa mual kembali melanda.

Aku berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Menghiraukan panggilan pria itu di luar, aku memuntahkan semua yang baru saja kumakan hingga bersih.

Ponsel di saku tiba-tiba bergetar.

[Apa kamu benar-benar sudah mempertimbangkan untuk pergi dari sini?]

Aku menggenggam ponselku, tak sengaja teringat nada bicara Andrew yang begitu dingin saat mengucapkan kata-kata itu.

[Benar. Secepat mungkin.]

Tak lama kemudian, Andrew menyuruh pelayan mencari kunci cadangan dan membuka pintu. Dia menatapku dengan kening berkerut. "Muntah lagi? Jangan minum obat penguat rahim yang kuberikan sebelumnya. Minum saja obat yang baru ini."

Setiap hari dia membohongiku. Jelas-jelas dia memberiku obat hormon, tetapi dia bilang itu obat penguat.

Dulu, aku sangat ingin memiliki anak darinya. Sepahit apa pun obatnya, aku akan menelannya sambil tersenyum penuh harapan.

Sekarang kalau dipikir lagi, aku benar-benar bodoh.

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya dengan tatapan kosong. "Apa aku akan mati? Apa kamu bisa jujur padaku, berapa lama lagi aku bisa hidup?"

Kilatan kepanikan melintas di wajah pria yang biasanya tenang itu. Dia tiba-tiba memelukku erat, suaranya terdengar tegang. "Jangan bicara sembarangan! Kamu harus menemaniku untuk waktu yang sangat lama."

Kata-kata manisnya selalu terdengar indah. Seperti selama dua tahun terakhir ini, setiap kali aku membahas soal kehamilan, dia selalu bilang tidak tega melihatku kepayahan karena mengandung.

Padahal, dia sudah tahu sejak awal bahwa aku tidak bisa punya anak. Namun, dia tetap menontonku bersusah payah menjalani program kehamilan setiap hari dan menelan berbagai obat yang pahit dan tidak enak.

Menontonku memimpikan kehidupan bahagia bertiga saat anak kami lahir nanti.

Baguslah. Tanpa anak, tidak akan ada ikatan di antara kami. Aku bisa meninggalkannya dengan bersih.

Sebelum tidur, Andrew seolah kesurupan dan menginginkanku berulang kali dalam waktu yang lama. Dia memerintahkanku untuk tidak pernah menyebut kata mati lagi.

Aku menerimanya dengan mati rasa. Setelah semuanya berakhir dan pria di sampingku terlelap, aku mengambil ponselnya di atas nakas dan masuk ke kamar mandi.

Kata sandi layarnya adalah hari ulang tahunku. Karena alasan inilah, aku tidak pernah memeriksa ponselnya. Sepertinya dia memang memanfaatkan psikologiku yang seperti itu.

Saat membuka WhatsApp, aku baru menyadari bahwa dia menamai kontak kakakku dengan "Eve".

Eve.

Itulah nama yang selalu dia bisikkan dengan penuh gairah saat kami sedang bermesraan di atas ranjang.

Ternyata, dia tidak pernah memanggil namaku. Dia hanya menjadikanku pengganti Everin untuk memuaskan dirinya sendiri.

Sungguh konyol.

Dengan ujung jari yang gemetar, aku membuka riwayat percakapan mereka.

Aku baru menyadari sesuatu.

Di saat aku menderita efek samping obat hormon dan muntah-muntah setiap hari, dia mendirikan "Yayasan Amal Eve" untuk Everin. Dia berharap amal kebaikan yang dilakukan atas nama kakaknya itu bisa mendatangkan berkah kesehatan bagi sisa hidup Everin.

Dia ingin menimbun kebajikan untuk wanita itu. Lalu, bagaimana dengan dosa-dosa yang mereka lakukan padaku?

Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipi. Aku menggigit bibir rapat-rapat, mengambil tangkapan layar percakapan mereka satu per satu. Hatiku sudah mati rasa karena rasa sakit yang teramat sangat.

Aku segera pergi ke rumah sakit lain untuk melakukan pemeriksaan tubuh.

Dokter menatap laporanku dengan dahi berkerut dalam. "Sudah berapa kali Anda dioperasi? Kenapa satu ginjal dan rahim Anda hilang? Bahkan ada bekas kerusakan pada organ hati Anda."

Aku tersenyum getir. "Sangat sering, aku sampai nggak ingat lagi. Dengan kondisi seperti ini, berapa lama lagi aku bisa hidup?"

Dokter tidak mau memberikan kesimpulan pasti. Dia hanya menghela napas dan menyarankanku untuk tidak terlalu banyak pikiran.

Keluar dari rumah sakit, aku pergi ke kantor Andrew. Aku ingin membicarakan perceraian secara resmi dengannya.

Namun, sekretaris di resepsionis menghadangku. Aku bilang aku adalah Nyonya Keluarga Giovani.

Wanita itu menatapku dengan tatapan hina. "Banyak orang yang ingin jadi Nyonya Keluarga Giovani. Ngaca dulu, berani-beraninya kamu menyamar sebagai Beliau. Nyonya Keluarga Giovani yang asli sedang berada di lantai atas sekarang."

Jantungku terasa sesak. Aku langsung menelepon Andrew di tempat, tetapi tidak ada jawaban.

Senyum mengejek di wajah sekretaris itu semakin dalam.

Aku menunggu dengan tenang di lobi sampai larut malam. Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri Andrew menggendong Everin keluar dari lift.

Saat mata kami bertemu, dia tampak sedikit canggung. "Kamu ... kenapa kamu ke sini? Itu, kaki Everin terkilir. Dia sedang hamil, sulit baginya untuk berjalan, jadi aku membantunya."

Everin bersandar di pelukan Andrew sambil tersenyum lembut. "Evelin, kakak iparmu sedang dinas ke luar negeri, jadi aku pinjam suamimu sebentar ya untuk menjagaku."

Otakku hanya dipenuhi oleh dua kata: Sedang hamil.

Everin menggunakan rahimku, dan dia hamil.

Hatiku rasanya seperti digilas oleh duri tajam, sesak sampai sulit bernapas. "Andrew, ada yang ingin kubicarakan."

"Apa pun itu bicarakan nanti saja. Kakakmu sudah lapar, kita ke rumah Ibu dulu untuk makan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 8

    Tak lama setelah pria itu keluar, suasana di luar tiba-tiba menjadi kacau, seolah terjadi peristiwa yang sangat genting. Beberapa perawat masuk dengan terburu-buru dan tanpa penjelasan langsung membantuku naik ke kursi roda."Kalian mau membawaku ke mana?""Pak Andrew sudah tidak tertolong. Dia mau bertemu Anda untuk terakhir kalinya. Nyonya, kumohon temuilah dia.""Mana mungkin?" Instingku mengatakan mereka berbohong. Seseorang yang tadi baru saja berbicara denganku, mana mungkin tiba-tiba akan mati.Perawat menjelaskan dengan sangat cepat, "Everin baru saja meninggal. Ibunya seperti sudah gila, dia membawa pisau buah dan menikam Pak Andrew berkali-kali."Di ruang gawat darurat, Andrew terbaring bersimbah darah. Darah terus mengalir dari perut bagian bawahnya, seolah tidak bisa dihentikan. Begitu aku masuk, dia langsung menatapku dan menjulurkan tangannya yang berlumuran darah.Aku tertegun sejenak, namun akhirnya tetap menyambut tangannya. Darah terus menyembur dari mulutnya saat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 7

    Terperangkap di sisi Andrew, aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Aku benar-benar tidak ingin bangun. Pingsan menjadi cara yang paling efektif bagiku untuk melawan kurungan pria itu.Kesadaranku seolah melayang di udara, setiap hari menyaksikan betapa dia tidak berdaya menghadapi ragaku. Wajahnya kian hari kian kuyu dan tegang. Dia hanya bisa meluapkan amarah pada dokter, berkali-kali bertanya kapan transplantasi bisa dilakukan padaku."Kita harus menunggu indikator vital pasien stabil. Melakukan operasi saat ini risikonya terlalu besar, pasien bisa saja tidak turun hidup-hidup dari meja operasi."Andrew kembali meledak marah. Dia melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau kata-kata sial lainnya. Seolah-olah jika mereka tidak menyebutnya, maka aku tidak akan mati.Everin yang mendengarnya, justru merasa senang. "Kalau begitu biarkan dia dirawat beberapa hari lagi. Kalau kondisinya buruk, nanti malah berimbas padaku. Andrew, kamu jangan khawatir, aku pasti akan turun da

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 6

    Di luar layar, aku menikmati tontonan konyol itu dengan puas. Kilian meneleponku. Suaranya terdengar agak lemah. "Ada hal lain yang kamu butuhkan? Anggap saja ini termasuk dalam paket perceraian, nggak ada biaya tambahan."Aku berpikir sejenak tentang apa yang belum selesai. "Hmm, setelah aku mati, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarkan Andrew mengurungku. Aku nggak mau masuk ke pemakaman Keluarga Giovani."Sisi sana terdiam beberapa detik, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa menjamin hal itu, karena ada kemungkinan aku akan mati sebelum dirimu.""Kenapa?" Orang ini aneh sekali, bagaimana mungkin dia mati mendahuluiku?"Penyakit jantung. Aku hidup hari demi hari saja." Nada bicara pria itu terdengar santai, seperti orang yang sudah pasrah pada nasib.Aku menghela napas. "Kalau begitu, bertahanlah beberapa hari lagi. Kalau suatu hari aku sudah nggak kuat, aku akan mendonorkan jantungku untukmu."Saat ini, hanya jantungku yang masih berfungsi dengan baik. Anggap saja ini

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 5

    Andrew seolah tidak peduli dengan kata-kata kasarku. Dia menggenggam tanganku, mengeluarkan sebuah cincin dari saku, lalu memasangkannya erat-erat ke jari manisku. Dia berkata dengan lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang, kenapa nggak minta padaku? Jangan pernah menjual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah. Tanpa memedulikan tangan satunya yang masih terpasang infus, aku mencabut cincin yang dipaksakannya dan melemparnya sekuat tenaga."Andrew, aku mau cerai! Aku mau cerai, apa kamu nggak mengerti?"Darah mulai mengalir balik ke selang infus di punggung tanganku. Sebenarnya, aku sudah mati rasa terhadap rasa sakit seperti ini. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan tubuh yang penuh rasa sakit. Hingga akhirnya, pria inilah yang memberikan pukulan mematikan.Aku benar-benar merasa sangat sakit, bahkan mulai menantikan kematian. Aku mencabut paksa jarum infus dari tanganku, menatap dingin pria di depanku, dan bertanya datar, "Andrew,

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 4

    Satu setengah bulan kemudian, pada suatu siang, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai. Aku menjual cincin pernikahanku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Kini setiap hariku ditemani makanan lezat dan pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku terkadang masih terasa nyeri. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan deburan ombak, aku merasa bahwa dalam dua puluh tujuh tahun hidupku, aku belum pernah merasa sebebas dan senyaman ini.Sesosok bayangan berjalan ke arahku. Dia adalah pengacara perceraianku, Kilian Hiwara. Katanya, julukannya di kalangan hukum adalah "Dewa Kekayaan". Selama bayarannya cocok, dia akan menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani mengambil kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan, dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik daripada wanita. Kemejanya selalu dibiarkan terbuka dua kancing terat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 3

    Ibuku sudah menyiapkan semeja penuh makanan kesukaan Everin untuk merayakan kehamilannya. Everin menutup hidungnya, mengeluh nafsu makannya buruk. Andrew mengusulkan untuk mengirim pengasuh yang biasa merawatku ke rumah Everin untuk memasak untuknya.Sudut bibir Everin terangkat sedikit, dia menunjuk ke arahku. "Sebaiknya jangan deh. Lihat, sepertinya Evelin nggak senang. Aku nggak mau kalian bertengkar gara-gara aku."Ibuku seketika melotot dan membentakku, "Kamu, ‘kan nggak hamil! Punya tangan dan kaki lengkap, kenapa nggak bisa mengurus diri sendiri? Sejak kecil kamu memang egois, disuruh melakukan sesuatu sedikit saja sudah mengeluh sakit!"Ibu melahirkanku hanya untuk mengambil darah tali pusat demi mengobati kakak. Di matanya, aku hanyalah alat medis untuk kakakku, aku tidak boleh membangkang sedikit pun. Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku meletakkan sumpit, ingin masuk ke kamar kecilku dulu untuk menenangkan diri, tapi aku mendapati kamar itu sudah berubah menjadi gudang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status