Share

Bab 3

Penulis: Mimi
Ibuku sudah menyiapkan semeja penuh makanan kesukaan Everin untuk merayakan kehamilannya.

Everin menutup hidungnya, mengeluh nafsu makannya buruk. Andrew mengusulkan untuk mengirim pengasuh yang biasa merawatku ke rumah Everin untuk memasak untuknya.

Sudut bibir Everin terangkat sedikit, dia menunjuk ke arahku. "Sebaiknya jangan deh. Lihat, sepertinya Evelin nggak senang. Aku nggak mau kalian bertengkar gara-gara aku."

Ibuku seketika melotot dan membentakku, "Kamu, ‘kan nggak hamil! Punya tangan dan kaki lengkap, kenapa nggak bisa mengurus diri sendiri? Sejak kecil kamu memang egois, disuruh melakukan sesuatu sedikit saja sudah mengeluh sakit!"

Ibu melahirkanku hanya untuk mengambil darah tali pusat demi mengobati kakak. Di matanya, aku hanyalah alat medis untuk kakakku, aku tidak boleh membangkang sedikit pun.

Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku meletakkan sumpit, ingin masuk ke kamar kecilku dulu untuk menenangkan diri, tapi aku mendapati kamar itu sudah berubah menjadi gudang barang bekas.

Air mata tiba-tiba tumpah, aku menyekanya dengan kasar.

"Apa kamu sedang marah pada Andrew? Sepertinya kamu belum sadar posisimu. Hubunganku dan Andrew sudah terjalin bertahun-tahun, itu bukan sesuatu yang bisa kamu lampaui." Everin menyusul masuk, nadanya sombong seolah istri tua yang sedang menceramahi selir.

Aku mencibir, "Kalau begitu kenapa kamu nggak menikah dengannya saja?"

Senyum di sudut bibirnya menjadi penuh arti. "Sesuatu yang nggak didapatkan justru adalah yang terbaik. Aku ingin dia terus mengingatku dan menjadi pelindungku selamanya."

Aku terdiam, menatap perutnya dengan nanar. Tanpa sadar tanganku terulur ingin menyentuhnya.

Everin tertawa semakin puas, dia mendekat dan berbisik di telingaku, "Iri? Sayang sekali, seumur hidup ini kamu nggak akan pernah punya anak lagi. Karena rahimmu, ada di dalam perutku."

"Kudengar hidup tanpa rahim itu sangat menyiksa ya? Harus minum obat hormon seumur hidup, belum lagi efek sampingnya yang parah. Saat aku menceritakan itu pada Andrew, dia takut aku menderita, jadi dia langsung bilang ingin membantuku."

"Itulah sebabnya dia menikahimu dan membujukmu. Oh iya, dia juga bilang karena tubuhku selalu lemah, dia harus 'merawatmu' dengan baik agar bisa digunakan di saat darurat. Kamu seharusnya berterima kasih padaku. Nilaimu hanyalah sebagai wadah bagiku. Di dunia ini, nggak ada satu orang pun yang mencintaimu."

Ujung jariku menancap dalam ke telapak tangan. Aku mengangkat tangan hendak menamparnya, namun pintu tiba-tiba terbuka. Di ambang pintu, Andrew berdiri dengan wajah penuh kemurkaan. Dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat.

"Apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa kau memukul kakakmu sendiri?" bentaknya.

Aku tertawa mengejek, "Kenapa? Kamu kasihan? Kalau begitu kasihan padanya, kenapa nggak kamu nikahi saja dia dan kamu sembah di rumahmu?"

Aku belum pernah bicara sekasar itu padanya. Pria itu tertegun sejenak. Baru saja dia hendak bicara, Everin tiba-tiba memegang perutnya dengan ekspresi kesakitan.

"Jangan bertengkar karena aku. Ini semua salahku karena membuat Evelin nggak senang. Nggak apa-apa kalau Evelin memukulku. Aku nggak butuh pengasuh itu lagi, tolong jangan pukul aku lagi ...."

Sorot mata Andrew seketika menjadi sangat tajam, dia menatapku. "Evelin, minta maaf!"

Aku mengepalkan kedua tanganku, kuku-kukuku hampir menembus kulit agar aku bisa menahan gemetar di tubuhku.

"Kamu menyuruhku minta maaf? Andrew, apa kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?"

"Cukup!" Andrew langsung memotong ucapanku. "Evelin, kamu benar-benar membuatku kecewa. Sejak kapan kamu jadi seperti ini! Everin itu kakakmu, meskipun iri padanya, kamu nggak seharusnya main tangan!"

Setelah mengatakannya, dia tidak melirikku sama sekali. Dia menggendong Everin dan berjalan keluar. Aku melihat Everin bersandar di bahu Andrew dengan gestur pemenang, tersenyum bangga ke arahku.

Namun, Everin sudah tidak bisa menyakitiku lagi.

Aku tidak akan peduli lagi pada pria ini, barang sedikit pun.

Aku pulang naik taksi untuk mengemas barang-barangku, tapi tiba-tiba aku menerima pesan WhatsApp dari Andrew.

[Everin sekarang sangat sedih. Aku memberimu satu kesempatan lagi, datang ke sini malam ini untuk minta maaf secara sukarela. Jangan sampai aku sendiri yang menyuruh orang untuk menjemputmu!]

Nada bicaranya tidak bisa dibantah, seolah-olah dia sudah yakin bahwa akulah si penjahat yang tak terampuni itu.

Dia bahkan berpesan khusus agar aku membelikan kado untuk permintaan maaf pada kakakku.

Namun dia tidak tahu, aku sudah selesai mengemas koper.

Aku memanggil taksi dan langsung menuju bandara.

Di dalam mobil, aku mengirimkan pesan terakhir padanya. [Oke, aku akan mengirimkan sebuah kado besar.]

Setelah mengirim pesan itu, aku mencabut kartu SIM, mematahkannya, lalu membuangnya keluar jendela mobil. Biarlah semuanya hilang bersama angin.

Keesokan paginya, sebuah paket kilat EMS tiba di kantor CEO Perusahaan Gio.

Andrew membuka paket tersebut, dan selembar kertas tipis jatuh dari dalamnya.

Hanya dengan sekali lihat, raut wajahnya berubah drastis. Dengan tangan gemetar, dia menyambar ponselnya dan melakukan panggilan.

Namun, nomor di seberang sana sudah tidak bisa dihubungi lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 8

    Tak lama setelah pria itu keluar, suasana di luar tiba-tiba menjadi kacau, seolah terjadi peristiwa yang sangat genting. Beberapa perawat masuk dengan terburu-buru dan tanpa penjelasan langsung membantuku naik ke kursi roda."Kalian mau membawaku ke mana?""Pak Andrew sudah tidak tertolong. Dia mau bertemu Anda untuk terakhir kalinya. Nyonya, kumohon temuilah dia.""Mana mungkin?" Instingku mengatakan mereka berbohong. Seseorang yang tadi baru saja berbicara denganku, mana mungkin tiba-tiba akan mati.Perawat menjelaskan dengan sangat cepat, "Everin baru saja meninggal. Ibunya seperti sudah gila, dia membawa pisau buah dan menikam Pak Andrew berkali-kali."Di ruang gawat darurat, Andrew terbaring bersimbah darah. Darah terus mengalir dari perut bagian bawahnya, seolah tidak bisa dihentikan. Begitu aku masuk, dia langsung menatapku dan menjulurkan tangannya yang berlumuran darah.Aku tertegun sejenak, namun akhirnya tetap menyambut tangannya. Darah terus menyembur dari mulutnya saat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 7

    Terperangkap di sisi Andrew, aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Aku benar-benar tidak ingin bangun. Pingsan menjadi cara yang paling efektif bagiku untuk melawan kurungan pria itu.Kesadaranku seolah melayang di udara, setiap hari menyaksikan betapa dia tidak berdaya menghadapi ragaku. Wajahnya kian hari kian kuyu dan tegang. Dia hanya bisa meluapkan amarah pada dokter, berkali-kali bertanya kapan transplantasi bisa dilakukan padaku."Kita harus menunggu indikator vital pasien stabil. Melakukan operasi saat ini risikonya terlalu besar, pasien bisa saja tidak turun hidup-hidup dari meja operasi."Andrew kembali meledak marah. Dia melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau kata-kata sial lainnya. Seolah-olah jika mereka tidak menyebutnya, maka aku tidak akan mati.Everin yang mendengarnya, justru merasa senang. "Kalau begitu biarkan dia dirawat beberapa hari lagi. Kalau kondisinya buruk, nanti malah berimbas padaku. Andrew, kamu jangan khawatir, aku pasti akan turun da

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 6

    Di luar layar, aku menikmati tontonan konyol itu dengan puas. Kilian meneleponku. Suaranya terdengar agak lemah. "Ada hal lain yang kamu butuhkan? Anggap saja ini termasuk dalam paket perceraian, nggak ada biaya tambahan."Aku berpikir sejenak tentang apa yang belum selesai. "Hmm, setelah aku mati, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarkan Andrew mengurungku. Aku nggak mau masuk ke pemakaman Keluarga Giovani."Sisi sana terdiam beberapa detik, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa menjamin hal itu, karena ada kemungkinan aku akan mati sebelum dirimu.""Kenapa?" Orang ini aneh sekali, bagaimana mungkin dia mati mendahuluiku?"Penyakit jantung. Aku hidup hari demi hari saja." Nada bicara pria itu terdengar santai, seperti orang yang sudah pasrah pada nasib.Aku menghela napas. "Kalau begitu, bertahanlah beberapa hari lagi. Kalau suatu hari aku sudah nggak kuat, aku akan mendonorkan jantungku untukmu."Saat ini, hanya jantungku yang masih berfungsi dengan baik. Anggap saja ini

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 5

    Andrew seolah tidak peduli dengan kata-kata kasarku. Dia menggenggam tanganku, mengeluarkan sebuah cincin dari saku, lalu memasangkannya erat-erat ke jari manisku. Dia berkata dengan lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang, kenapa nggak minta padaku? Jangan pernah menjual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah. Tanpa memedulikan tangan satunya yang masih terpasang infus, aku mencabut cincin yang dipaksakannya dan melemparnya sekuat tenaga."Andrew, aku mau cerai! Aku mau cerai, apa kamu nggak mengerti?"Darah mulai mengalir balik ke selang infus di punggung tanganku. Sebenarnya, aku sudah mati rasa terhadap rasa sakit seperti ini. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan tubuh yang penuh rasa sakit. Hingga akhirnya, pria inilah yang memberikan pukulan mematikan.Aku benar-benar merasa sangat sakit, bahkan mulai menantikan kematian. Aku mencabut paksa jarum infus dari tanganku, menatap dingin pria di depanku, dan bertanya datar, "Andrew,

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 4

    Satu setengah bulan kemudian, pada suatu siang, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai. Aku menjual cincin pernikahanku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Kini setiap hariku ditemani makanan lezat dan pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku terkadang masih terasa nyeri. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan deburan ombak, aku merasa bahwa dalam dua puluh tujuh tahun hidupku, aku belum pernah merasa sebebas dan senyaman ini.Sesosok bayangan berjalan ke arahku. Dia adalah pengacara perceraianku, Kilian Hiwara. Katanya, julukannya di kalangan hukum adalah "Dewa Kekayaan". Selama bayarannya cocok, dia akan menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani mengambil kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan, dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik daripada wanita. Kemejanya selalu dibiarkan terbuka dua kancing terat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 3

    Ibuku sudah menyiapkan semeja penuh makanan kesukaan Everin untuk merayakan kehamilannya. Everin menutup hidungnya, mengeluh nafsu makannya buruk. Andrew mengusulkan untuk mengirim pengasuh yang biasa merawatku ke rumah Everin untuk memasak untuknya.Sudut bibir Everin terangkat sedikit, dia menunjuk ke arahku. "Sebaiknya jangan deh. Lihat, sepertinya Evelin nggak senang. Aku nggak mau kalian bertengkar gara-gara aku."Ibuku seketika melotot dan membentakku, "Kamu, ‘kan nggak hamil! Punya tangan dan kaki lengkap, kenapa nggak bisa mengurus diri sendiri? Sejak kecil kamu memang egois, disuruh melakukan sesuatu sedikit saja sudah mengeluh sakit!"Ibu melahirkanku hanya untuk mengambil darah tali pusat demi mengobati kakak. Di matanya, aku hanyalah alat medis untuk kakakku, aku tidak boleh membangkang sedikit pun. Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku meletakkan sumpit, ingin masuk ke kamar kecilku dulu untuk menenangkan diri, tapi aku mendapati kamar itu sudah berubah menjadi gudang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status