Share

Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh
Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh
Author: Mimi

Bab 1

Author: Mimi
Setelah aku menolak transplantasi rahim untuk kakakku, sahabat masa kecilku sangat membenciku. Dia merancang siasat untuk mengirimku ke ranjang Tuan Muda penguasa ibu kota.

Tuan Muda itu memiliki gairah yang tinggi, namun dia tidak menyukai wanita yang menyerahkan diri secara sukarela.

Semua orang menunggu saat-saat aku didepak, tetapi tak disangka, dia justru memanjakanku melampaui siapa pun.

Tiga tahun pernikahan, dia selalu suka bermesraan denganku di berbagai tempat.

Di balkon, dapur, mobil, hingga di tengah pesta-pesta mewah yang megah.

Bahkan saat aku hanya pergi ke toilet, dia akan menyusul dan menekanku di atas wastafel.

Kami juga tidak pernah menggunakan kontrasepsi, tetapi aku tak kunjung hamil.

Hingga suatu hari, saat aku mengira diriku hamil dan pergi ke rumah sakit, aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan dokter, "Andrew, tiga tahun lalu kamu menyuruhku memindahkan rahim Evelin Dumma ke kakaknya secara diam-diam. Sekarang kamu menyuruhku membohonginya bahwa dia mandul sejak lahir. Bagaimana kamu bisa tega bersikap sekejam itu pada wanita yang mencintaimu?"

"Mau bagaimana lagi, Everin tidak boleh menderita di rumah suaminya hanya karena nggak bisa punya anak. Hanya rahim Evelin yang cocok dengannya."

Suara pria yang familier itu terdengar sangat dingin hingga terasa asing. Ternyata, cinta dan rasa aman yang selama ini kuyakini hanyalah sebuah penipuan belaka.

Jika memang begitu, aku akan pergi saja.

...

Di ujung koridor rumah sakit, dokter yang baru saja menjatuhkan vonis kemandulan padaku berkata dengan ekspresi rumit, "Kasihan sekali, dia mengira dirinya hamil. Padahal itu hanya reaksi efek samping dari obat pengontrol hormon yang kuberikan, makanya dia terus-menerus muntah."

Andrew sedikit mengerutkan kening. "Kalau begitu, ganti dengan obat yang efek sampingnya paling kecil. Aku nggak mau terjadi apa pun pada tubuhnya. Mungkin Everin masih membutuhkannya di masa depan."

"Apa kamu nggak takut suatu hari nanti dia tahu kebenarannya dan akan membencimu? Dia selalu ingin memberimu anak, tapi dia nggak tahu bahwa seumur hidupnya, dia nggak akan pernah bisa menjadi seorang ibu."

Suara dokter itu kini dipenuhi rasa iba.

"Kalau dia membenciku, ya mau bagaimana lagi. Aku benar-benar nggak sanggup melihat Everin menderita." Nada bicara Andrew berubah kesal. "Lagi pula, dia sudah mendapatkan posisi Nyonya Keluarga Giovani, bukannya itu sudah cukup?"

...

Aku berdiri mematung di tikungan, tubuhku gemetar hebat tak terkendali.

Posisi Nyonya Keluarga Giovani? Jadi itu yang dia pikirkan.

Semua yang kumiliki sekarang bukanlah karena cinta, melainkan hasil pertukaran dengan rahimku sendiri.

Seluruh tenagaku seketika lenyap, dan aku jatuh terjerembap.

Aku jatuh dengan mengenaskan di lantai. Rasanya organ dalamku sakit semua, bahkan untuk bangun pun aku tak punya kekuatan.

Andrew yang melihatku, segera melangkah lebar untuk membantuku berdiri. Mata hitamnya yang dalam menatap wajahku lekat-lekat. "Kenapa kamu bisa jatuh? Kapan kamu datang?"

Tanganku di dalam lengan baju mengepal sangat kencang. Aku tahu, melabraknya sekarang tidak akan memberiku keuntungan apa pun. Seperti biasa, aku membenamkan diri dalam pelukannya dengan patuh. "Baru saja sampai. Hak sepatuku terlalu tinggi, kakiku terkilir."

Otot wajahnya yang tegang baru terlihat rileks. Dia menggendongku keluar sambil berkata dengan suara berat, "Mulai sekarang, jangan pakai sepatu setinggi ini lagi."

Aku menatap wajah yang selama ini kupuja, tapi dalam hatiku muncul kedinginan yang tak terbatas.

Kapan dia menyuruh dokter mengambil rahimku?

Apakah dua tahun lalu saat aku menjalani operasi usus buntu?

Saat itu, aku hanya merasa agak tidak enak badan. Namun, dokter mendiagnosisku menderita usus buntu dan harus segera dioperasi.

Andrew begitu cemas hingga menyewa seluruh lantai rumah sakit dan menyiapkan tim medis papan atas untuk mengoperasiku.

Kala itu, kukira dia sangat mencintaiku dan tidak sanggup jika terjadi sesuatu padaku.

Sekarang kalau dipikir lagi, aku hanyalah domba yang dia pelihara. Dia merawatku dengan saksama hanya untuk menyembelih dagingku dan mempersembahkannya kepada kakakku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 8

    Tak lama setelah pria itu keluar, suasana di luar tiba-tiba menjadi kacau, seolah terjadi peristiwa yang sangat genting. Beberapa perawat masuk dengan terburu-buru dan tanpa penjelasan langsung membantuku naik ke kursi roda."Kalian mau membawaku ke mana?""Pak Andrew sudah tidak tertolong. Dia mau bertemu Anda untuk terakhir kalinya. Nyonya, kumohon temuilah dia.""Mana mungkin?" Instingku mengatakan mereka berbohong. Seseorang yang tadi baru saja berbicara denganku, mana mungkin tiba-tiba akan mati.Perawat menjelaskan dengan sangat cepat, "Everin baru saja meninggal. Ibunya seperti sudah gila, dia membawa pisau buah dan menikam Pak Andrew berkali-kali."Di ruang gawat darurat, Andrew terbaring bersimbah darah. Darah terus mengalir dari perut bagian bawahnya, seolah tidak bisa dihentikan. Begitu aku masuk, dia langsung menatapku dan menjulurkan tangannya yang berlumuran darah.Aku tertegun sejenak, namun akhirnya tetap menyambut tangannya. Darah terus menyembur dari mulutnya saat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 7

    Terperangkap di sisi Andrew, aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Aku benar-benar tidak ingin bangun. Pingsan menjadi cara yang paling efektif bagiku untuk melawan kurungan pria itu.Kesadaranku seolah melayang di udara, setiap hari menyaksikan betapa dia tidak berdaya menghadapi ragaku. Wajahnya kian hari kian kuyu dan tegang. Dia hanya bisa meluapkan amarah pada dokter, berkali-kali bertanya kapan transplantasi bisa dilakukan padaku."Kita harus menunggu indikator vital pasien stabil. Melakukan operasi saat ini risikonya terlalu besar, pasien bisa saja tidak turun hidup-hidup dari meja operasi."Andrew kembali meledak marah. Dia melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau kata-kata sial lainnya. Seolah-olah jika mereka tidak menyebutnya, maka aku tidak akan mati.Everin yang mendengarnya, justru merasa senang. "Kalau begitu biarkan dia dirawat beberapa hari lagi. Kalau kondisinya buruk, nanti malah berimbas padaku. Andrew, kamu jangan khawatir, aku pasti akan turun da

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 6

    Di luar layar, aku menikmati tontonan konyol itu dengan puas. Kilian meneleponku. Suaranya terdengar agak lemah. "Ada hal lain yang kamu butuhkan? Anggap saja ini termasuk dalam paket perceraian, nggak ada biaya tambahan."Aku berpikir sejenak tentang apa yang belum selesai. "Hmm, setelah aku mati, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarkan Andrew mengurungku. Aku nggak mau masuk ke pemakaman Keluarga Giovani."Sisi sana terdiam beberapa detik, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa menjamin hal itu, karena ada kemungkinan aku akan mati sebelum dirimu.""Kenapa?" Orang ini aneh sekali, bagaimana mungkin dia mati mendahuluiku?"Penyakit jantung. Aku hidup hari demi hari saja." Nada bicara pria itu terdengar santai, seperti orang yang sudah pasrah pada nasib.Aku menghela napas. "Kalau begitu, bertahanlah beberapa hari lagi. Kalau suatu hari aku sudah nggak kuat, aku akan mendonorkan jantungku untukmu."Saat ini, hanya jantungku yang masih berfungsi dengan baik. Anggap saja ini

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 5

    Andrew seolah tidak peduli dengan kata-kata kasarku. Dia menggenggam tanganku, mengeluarkan sebuah cincin dari saku, lalu memasangkannya erat-erat ke jari manisku. Dia berkata dengan lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang, kenapa nggak minta padaku? Jangan pernah menjual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah. Tanpa memedulikan tangan satunya yang masih terpasang infus, aku mencabut cincin yang dipaksakannya dan melemparnya sekuat tenaga."Andrew, aku mau cerai! Aku mau cerai, apa kamu nggak mengerti?"Darah mulai mengalir balik ke selang infus di punggung tanganku. Sebenarnya, aku sudah mati rasa terhadap rasa sakit seperti ini. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan tubuh yang penuh rasa sakit. Hingga akhirnya, pria inilah yang memberikan pukulan mematikan.Aku benar-benar merasa sangat sakit, bahkan mulai menantikan kematian. Aku mencabut paksa jarum infus dari tanganku, menatap dingin pria di depanku, dan bertanya datar, "Andrew,

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 4

    Satu setengah bulan kemudian, pada suatu siang, aku sudah menetap di sebuah kota kecil di tepi pantai. Aku menjual cincin pernikahanku dan mendapatkan uang yang cukup banyak. Kini setiap hariku ditemani makanan lezat dan pemandangan indah.Beberapa bagian tubuhku terkadang masih terasa nyeri. Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa bertahan hidup, jadi aku menjalani setiap hari seolah-olah itu adalah hari terakhirku.Sambil berbaring di kursi pantai dan mendengarkan deburan ombak, aku merasa bahwa dalam dua puluh tujuh tahun hidupku, aku belum pernah merasa sebebas dan senyaman ini.Sesosok bayangan berjalan ke arahku. Dia adalah pengacara perceraianku, Kilian Hiwara. Katanya, julukannya di kalangan hukum adalah "Dewa Kekayaan". Selama bayarannya cocok, dia akan menerima kasus siapa pun. Memang hanya dia yang berani mengambil kasus perceraianku.Pria ini terlihat urakan, dengan fitur wajah yang bahkan lebih cantik daripada wanita. Kemejanya selalu dibiarkan terbuka dua kancing terat

  • Setelah Akhir Cerita Ceo: Cinta Sejati Menjadi Pembunuh   Bab 3

    Ibuku sudah menyiapkan semeja penuh makanan kesukaan Everin untuk merayakan kehamilannya. Everin menutup hidungnya, mengeluh nafsu makannya buruk. Andrew mengusulkan untuk mengirim pengasuh yang biasa merawatku ke rumah Everin untuk memasak untuknya.Sudut bibir Everin terangkat sedikit, dia menunjuk ke arahku. "Sebaiknya jangan deh. Lihat, sepertinya Evelin nggak senang. Aku nggak mau kalian bertengkar gara-gara aku."Ibuku seketika melotot dan membentakku, "Kamu, ‘kan nggak hamil! Punya tangan dan kaki lengkap, kenapa nggak bisa mengurus diri sendiri? Sejak kecil kamu memang egois, disuruh melakukan sesuatu sedikit saja sudah mengeluh sakit!"Ibu melahirkanku hanya untuk mengambil darah tali pusat demi mengobati kakak. Di matanya, aku hanyalah alat medis untuk kakakku, aku tidak boleh membangkang sedikit pun. Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku meletakkan sumpit, ingin masuk ke kamar kecilku dulu untuk menenangkan diri, tapi aku mendapati kamar itu sudah berubah menjadi gudang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status