Share

Bab 5

Author: Kariana
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-23 09:59:29

“Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.

Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.

Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.

“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.

Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” 

Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.

“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”

“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”

“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan turuti” dari nada suaranya Nadine bisa merasakan kalau Rama merasa bersalah padanya.

Namun bukannya merasa senang, Nadine malah semakin muak dan segera mengakhiri panggilannya sepihak. Sudah cukup ia tak ingin mendengar kebohongan lainnya yang keluar dari bibir Rama. 

“Sampai kapan kamu akan terus-terusan berbohong, Ram….! Kenapa kamu membohongi dirimu sendiri” bisik Nadine lirih di dalam hatinya, air matanya perlahan menetes.

Setelah dia melihat sendiri perselingkuhan Rama, ia semakin yakin dengan keputusannya untuk berpisah.

“Ya..tidak ada yang bisa diharapkan dari pernikahan yang sudah hancur” yakinnya.

Walaupun dadanya bergemuruh menahan rasa sesak, kali ini Nadine tidak ingin membuang air matanya lagi hanya karena Rama. Ia akan berusaha kuat dan terbiasa dengan fakta-fakta pahit yang mungkin akan segera ia ketahui selanjutnya. 

Waktu yang mulai beranjak sore, mengantarkan Nadine ke pelataran rumah mertuanya itu dengan perasaan yang campur aduk. 

Laras sudah menunggunya di teras rumah dengan wajah penuh kekhawatiran. Melihat Nadine yang baru turun dari taxi online, wanita itu dengan tergopoh-gopoh segera menghampirinya . 

“Rama bilang kamu nggak ada teman… katakan sama Mama sebenarnya kamu habis dari mana sayang? “ Tanya Laras dengan suara yang panik, sambil mendorong kursi roda Nadine untuk memasuki rumah. 

Namun bukannya menjawab, Nadine hanya terdiam membisu. Pikirannya masih terpaku dengan apa yang dilihatnya tadi di jalan. Rama dan Nara terlihat sangat serasi saat berjalan bersama, mereka tersenyum bahagia layaknya dua orang yang saling mencintai. 

Ternyata selama ini hanya Nadine yang mencintai suaminya dengan tulus, sementara Rama malah mencintai wanita lain yang lebih sempurna.

“Nad, “ Laras mengusap pundak Nadine dengan pelan, mengamati wajah menantunya itu dengan lama, dan melihat seperti ada perubahan dari sikapnya yang hanya terdiam. 

“Kamu baik-baik saja, sayang? “ Tanya nya lagi lalu berjongkok tepat di hadapan Nadine yang masih enggan berbicara. 

“Ma…“ Panggil Nadine pelan sambil menatap wajah Laras dengan sedih, tangannya menggapai tangan wanita itu untuk digenggamnya. 

“Kalau Nadine nggak nolongin Rama saat kebakaran itu, menurut Mama, apa Rama akan menikahi Nadine? “ Tangan Laras bergerak di dalam genggamannya. 

Kening Laras berkerut tipis, alisnya bertaut menatap menantunya yang tiba-tiba menanyakan hal yang aneh.

“Kamu kok nanya gitu sih sayang? “

Nadine menggeleng, “Nggak papa Ma. Aku mau tau aja, “ Balas nya cepat. 

“Sudah pasti dia nikahin kamu, bukannya dulu kalian kemana-mana selalu berdua?. Selama ini dia juga nggak pernah dekat sama cewek lain. Lagipula Mama kan sudah janji sama orang tuamu bakal jagain kamu seumur hidup Mama seperti anak sendiri. “ Ucap Laras terdengar yakin. 

Lagi-lagi semuanya hanya karena terikat janji, apakah mungkin selama ini tidak ada yang pernah tulus kepadanya? Menginginkannya karena itu dia. Nadine. Tidak peduli dia sehat ataupun cacat.

“Tapi kalau Rama ternyata mencintai wanita lain bagaimana Ma? “ Raut wajah Laras terlihat berubah, ada gelagat aneh yang tidak biasa. 

“Kok kamu ngomongnya gitu sih sayang, Rama kan suami kamu, udah pasti dia mencintai kamu, “ Jelas Laras dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya. 

‘Tidak Ma, tidak semua suami mencintai istrinya’ Batin Nadine. 

“Kenapa kamu tiba-tiba nanya gitu? Apa Rama sudah berbuat macam-macam? Biar Mama kasih pelajaran dia kalau berani nyakitin kamu!” gertak Laras.

Nadine menarik lengan Laras, ia tersenyum samar. “Nggak kok, Ma “ Ucap Nadine pelan, lalu menunduk berusaha menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdebar. 

“Nadine jangan nanya yang aneh-aneh gitu dong, sayang. Kamu bikin Mama overthinking! “

“Maaf, Ma, “ Ucap Nadine dengan senyum yang ia paksa. Ia tidak mau Laras berpikir macam-macam karena pertanyaannya. Ia menepuk punggung tangan Laras pelan.

“Nadine duluan ke kamar, “ Pamit Nadine, namun belum sempat ia memutar arah kursi rodanya,suara mobil terdengar di depan.

Tak lama kemudian muncul Rama, pria itu sedikit berlari mendekati Nadine yang kursi rodanya dalam posisi setengah berbelok.

“Rama…kenapa sudah pulang? Bukannya kamu bilang ada meeting sama vendor?” tanya Nadine menyambutnya dengan pertanyaan itu. Dia sengaja, ingin tahu reaksinya.

Dan benar saja, ia menggosok pangkal hidungnya dengan tatapan tidak fokus “Eh, aku khawatir dengan kamu jadi aku pamit pulang dulu…”

Terbit lengkungan tipis di sudut bibir Nadine.

“Kamu tiba-tiba pulang, memangnya dia nggak marah?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 6

    Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 5

    “Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 4

    “Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 3

    “Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 2

    “Hallo…bersabarlah…aku sudah disana selama satu minggu, aku tidak bisa meninggalkannya terus-terusan” Suara Rama sangat lirih, serupa bisikan tapi cukup jelas di telinga Nadine.Tangan Nadine meremas kain selimut, dia sudah belajar ikhlas semenjak tidak sengaja memergoki chat mesrah Rama dan perempuan selingkuhannya itu tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan terasa diremas-remas.Malam berikutnya, setelah malam dimana Rama menerima telepon itu, Nadine memilih tetap diam tidak mempertanyakan apapun yang mengganjal hatinya, semuanya ia simpan rapat-rapat. Padahal jauh di hatinya ia penasaran, apakah Rama sudah tidak mencintainya lagi? Apakah dia sudah benar-benar lelah?Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas itu menyala, menampilkan notifikasi satu pesan baru di layarnya. Nadine segera meraihnya, alisnya bertaut heran melihat pesan itu yang berasal dari nomor tidak dikenal. Entah kenapa jantungnya berdegup aneh saat tangan kurusnya membuka pesan itu.Kiriman sebuah foto. Dim

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 1

    "Gak usah, Ram. Aku bisa sendiri."Telapak tangan Nadine terangkat, bertahan di udara. Nadine sedikit mendorong tubuh Rama, hingga langkah Rama yang sudah setengah jongkok di depan kursi roda itu langsung tertahan di tempat. Tangan Rama yang biasa sigap menyusup di bawah lutut dan punggung Nadine, kini kaku di tengah jalan.Nadine menatap Rama dengan tatapan datar dan tanpa emosi.“Nadine, kenapa? Ada apa? biar aku bantu, hm?” tanya Rama lembut. Senyum tipis terbit di bibir Nadine. Ia menggeleng pelan. “Aku harus belajar melakukannya sendiri, aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu”“Nadine….ini bukan kamu banget!” protes Rama “Tidak biasanya kamu kaya gini. Selama empat tahun, kamu selalu menungguku. Kenapa kamu menolak?. tanya Rama dengan kening berkerut tipis, alisnya bertaut.Nadine menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua tangannya mencengkeram kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Ia mengerahkan semua tenaga di lengan atasnya. Satu tarikan nafas yang ia tahan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status