LOGIN“Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.
‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.
Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana.
Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur.
Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu.
“Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.
Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”
Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.
“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibuk dan nggak pernah ajakin kamu jalan!”
Nadine tersenyum.
Kalau saja Mama mertuanya tahu anak semata wayangnya selama ini sibuk ngapain, apakah dia bisa berkata setenang ini.
“Nadine mengerti, Ma!” Nadine menjawab pelan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke butik langganan Mama, katanya ada keluaran terbaru…kamu lama sekali nggak beli baju..” tambah Laras.
Nadine tak langsung menjawab.
Di pangkuannya, tablet putih itu menyala. Layarnya terlihat lecek karena terlalu sering di-zoom. Di tab browser miliknya ada 12 tab pilihan apartemen,11 dari tab itu dicoret merah oleh nya.
Tidak ada akses kursi roda.
Hanya ada tangga.
Lift tempat barang sudah rusak.
Pemilik menolak kursi roda - karena takut lantai lecet.
Alhasil hanya ada satu yang tersisa. Deretan paling bawah, yang harga nya lumayan namun masih terjangkau.
Apartemen Sederhana - Pinggir Kota - Studio 21m - Lift kecil tapi bagus - Harga Nego.
Sudah lebih dari satu bulan Nadine berusaha mencari apartemen untuk tempat tinggal dirinya nanti jikalau ia harus pergi dari rumah ini.
Dia benar-benar mempersiapkan semuanya, dengan keadaannya saat ini tidak bisa seenaknya pergi tanpa persiapan.
Namun saat berhasil mendapatkannya ternyata lokasinya cukup jauh. Di peta, titiknya hampir keluar dari lingkar kota. Tempatnya dekat terminal yang sudah tidak beroperasi dan sawah-sawah yang akan dibangun perumahan. Sinyal internet saja mungkin akan sulit ia dapatkan. Tapi tidak apa…asal tidak jauh ke perpustakaan kota.
Tapi melihat di foto, ada ramp kecil di lobi. Juga ada pintu yang cukup lebar untuk kursi rodanya bisa masuk. “Sepertinya ini benar-benar bagus”
"Jadi pergi sama Mama, Nad?"
Mama Laras berjalan keluar dari dapur, mengeringkan tangan nya di celemek. Matanya langsung menangkap tas kecil yang Nadine letakkan di pangkuan, dan bedak tipis di wajah Nadine yang jarang ia pakai.
“Maaf, Ma..bagaimana kalau besok kita pergi? Hari ini ada teman ajak Nadine ketemuan, Ma," ucap Nadine, senyumnya ia paksa terbit, "Teman SMA. Udah lama gak ketemu. Ngajakin ngobrol di kafe aja."
"Oh, ya sudah. Mama anterin ya? Biar Mama sekalian belanja, Mama juga nggak tenang kalau kamu pergi sendirian."
Jantung Nadine mencelos. Mama mertuanya selalu baik, dia arahkan kursinya mendekati wanita yang masih terlihat cantik di usianya, kemudian memeluknya.
"Jangan, Ma," jawabnya dengan cepat. Lalu ia melambatkan suaranya. "Nanti Mama bosan. Kita kan ngobrolnya lama, curhat-curhatan cewek. Mama di kafe bengong nanti.”
Mama Laras menatapnya beberapa detik. Terlihat ada keraguan di matanya. Tapi akhirnya ia mengangguk.
"Ya udah, hati-hati ya, Sayang. Kabarin Mama kalau sudah sampai. Jangan lama-lama."
"Iya, Ma."
Tidak lama kemudian taksi online yang ia pesan datang. Setelah Nadine duduk di kursi penumpang,sopirnya membantu melipat kursi roda Nadine ke bagasi.
Sepanjang perjalanan, Nadine menatap keluar jendela. Semakin menjauh dari pusat kota, jalanan terlihat semakin sepi. Gedung-gedung yang menjulang tinggi berganti ruko-ruko setengah jadi. Ia bisa melihat langit yang terasa lebih luas.
Tangannya yang dingin tidak lepas memegang tas. Di dalam nya, ada fotokopi KTP, uang muka yang ia sisihkan diam-diam dari uang bulanan yang Rama transfer dan juga bayaran dari setiap tulisan yang ia kirimkan ke platform online selama ini.
Rama dan juga Mama Laras tahu kalau Nadine suka menulis, namun mereka berpikir itu hanya hobby dan ia hanya menulis sebuah blog. Padahal tidak. Dia sudah mengumpulkan uang jauh lebih dari cukup.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam Nadine sampai di lokasi. Ia menatap dari dalam mobil apartemen yang mungkin nanti akan jadi tempat ia pulang.
Setelah sopir mobil itu pergi,Nadine mendorong sendiri kursi rodanya menuju lift. Liftnya tidak terlalu besar,pintu besi nya pun harus ditarik manual. Dan ternyata ada masalah klasik yang sudah ia hafal di luar kepala.
Undakan kecil setinggi 5 cm di depan lift itu mungkin sepele bagi orang lain. Namun bagi Nadine, tonjolan itu adalah tembok raksasa yang menyempitkan ruang geraknya
Ia mendorong roda ke depan, tetapi terhenti.
Ia mundur sejenak, mengambil ancang-ancang, lalu menerjangnya lebih kencang.
Jeduk.
Tersangkut lagi. Kursi rodanya kini malah ikut bergetar. Tangannya yang kecil memerah karena mendorong rim roda terlalu keras. Nafasnya mulai memburu karena malu,ada beberapa orang di lobi yang mulai melihat kearahnya.
"Ah..."
Gumamnya pelan, sedikit frustasi.
"Permisi."
Tiba-tiba suara laki-laki terdengar dari belakang. Nadanya rendah dan sopan.
Sebelum Nadine sempat menoleh, sepasang tangan besar sudah lebih dulu memegang gagang dorong di belakang kursi rodanya.
"Biar saya bantu," kata pria itu
"Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih."Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan."Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.
Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti
“Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan
“Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.
“Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu
“Hallo…bersabarlah…aku sudah disana selama satu minggu, aku tidak bisa meninggalkannya terus-terusan” Suara Rama sangat lirih, serupa bisikan tapi cukup jelas di telinga Nadine.Tangan Nadine meremas kain selimut, dia sudah belajar ikhlas semenjak tidak sengaja memergoki chat mesrah Rama dan perempuan selingkuhannya itu tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan terasa diremas-remas.Malam berikutnya, setelah malam dimana Rama menerima telepon itu, Nadine memilih tetap diam tidak mempertanyakan apapun yang mengganjal hatinya, semuanya ia simpan rapat-rapat. Padahal jauh di hatinya ia penasaran, apakah Rama sudah tidak mencintainya lagi? Apakah dia sudah benar-benar lelah?Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas itu menyala, menampilkan notifikasi satu pesan baru di layarnya. Nadine segera meraihnya, alisnya bertaut heran melihat pesan itu yang berasal dari nomor tidak dikenal. Entah kenapa jantungnya berdegup aneh saat tangan kurusnya membuka pesan itu.Kiriman sebuah foto. Dim







