LOGINRama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.
“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”
“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat.
“Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “
Bohong lagi, benar-benar melelahkan.
Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.
Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung.
Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya.
Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya.
“Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar tinggi untuk suaranya yang biasa berat.
“Rama ada apa? Kenapa bicara begitu dengan Nadine“ Tanya Laras merasa hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa. Dan seperti biasa selalu berada di pihak Nadine.
Rama mengacak rambutnya kasar, menatap Nadine dengan tatapan putus asah. Padahal Nadine hanya bertanya, kalau memang tidak berbohong dan tidak ada apa-apa seharusnya dia bisa bersikap tenang dan biasa saja, kenapa harus marah?
Nadine menatap Mama mertuanya itu.
“Nggak ada apa-apa kok Ma, “ Ucap Nadine. Ia berusaha mengakhiri suasana yang mulai sedikit tegang.
“Nggak ada apa-apa? Nak, selama menikah kalian tidak pernah bertengkar. Kamu selalu bicara dengan nada lembut, Rama tidak pernah bicara dengan nada suara tinggi.”
Nadin menoleh, menatap Rama sebentar kemudian menarik napas panjang.
“Mumpung, kita lagi kumpul bertiga sekarang… “ Nadine sengaja menggantung ucapannya. Matanya menatap Laras, lalu bergantian menatap suaminya. Raut tegangnya kentara jelas menunggu ucapan Nadine selanjutnya. “Aku mau ngasih tau kalian kalau aku…akan pindah rumah, “ lanjut nya dengan suara yang tenang.
Mata Laras langsung membulat penuh keterkejutan, disisi lain reaksi Rama langsung terlihat panik.
“Pindah rumah apa maksud kamu? Kamu kan istriku! Kenapa harus pindah rumah? “ Tanya Rama beruntun, matanya terlihat gusar. Menatap Nadine seolah meminta kejelasan.
“Iya, sayang, pindah rumah apa maksud kamu? Kenapa kamu mau pindah rumah? Disini kan rumah kamu juga, “ Sekarang Laras yang bersuara dengan nada lembut. Lalu kakinya perlahan melangkah mendekati Nadine dan berjongkok di depannya.
“Ma, akhir-akhir ini Nadine lagi sibuk nulis novel, jadi perlu konsentrasi dan butuh ketenangan juga kenyamanan,“ Jelas Nadine perlahan. Mencoba membuat Laras mengerti dengan alasannya untuk pindah rumah.
“Ketenangan? Kenyamanan? Apa di sini kamu nggak nyaman dan nggak tenang, sayang? “
Nadine merasa tidak enak dengan Mama mertuanya “bukan begitu, Ma. Hanya saja…kali ini Nadine ingin belajar melakukan apa-apa sendiri. Selama ini selalu bergantung pada kalian. Aku nggak mau menjadi parasit untuk kalian”
“Parasit? Bicara apa kamu? Nak, kamu nggak pernah menjadi parasit bagi kami. Kamu anak Mama. Kalau dulu nggak ada kamu, Rama mungkin sudah menjadi abu. Tolong berhenti bicara begitu” Tangi Laras pecah.
Rama mendekat. Kedua tangannya mencengkram kedua sisi kursi rodanya.
“Nadine, tolong katakan padaku! Ada apa sebenarnya, sayang? Jangan Menakutiku!” Suara Rama sedikit memohon.
“Memberimu kebebasan, Rama.” Jawab Nadine dingin.
“Nadine… “ suara Rama dan Laras hampir bersamaan.
“Aku sudah terlalu lama menahanmu di sisiku, melayaniku, pasti menyiksamu” Lagi-lagi suara itu terdengar dingin.
“Nadine!! Aku menikahimu karena mencintaimu. Aku menginginkanmu! Aku nggak pernah sedikitpun merasa kamu menyusahkanku!”
Rama menggenggam tangan Nadine kuat, matanya memerah.
“Rama benar, sayang… “Sahut Laras.
Nadine mengusap air mata yang hampir lengket di pipinya sambil tersenyum, “Maafkan aku Rama, maaf kalau aku selama ini kelumpuhanku membuatmu capek, jenuh. Jadi, tolong lepaskan aku. Aku ingin bebas dari perasaan bersalah karena menahanmu di sisiku! “
“Berhenti bicara omong kosong, Nadine! Aku nggak tahu apa tujuanmu bicara begitu tapi kamu sudah menyakiti perasaanku”
Laras maju lagi, ikut menggenggam tangan Nadine. “Iya, sayang… seberat apapun masa yang kamu lalui, selama ini Rama selalu di sampingmu. Kalian selalu melewatinya bersama-sama. Mama tidak peduli apapun asal kalian berdua tetap rukun” Isak Laras.
“Kamu dengar itu, Nadine?” Rama menyahut kembali. “Aku selalu mencintaimu, memujamu. Kamu ingat? Saat kamu rindu dengan pasta buatan Mama kamu, aku belajar membuatnya sendiri beberapa kali gagal sampai mendapatkan rasa yang hampir sama sampai tanganku hancur!”
Nadine diam. Tentu dia tidak lupa dengan itu. Dia ingat bagaimana dulu dia selalu menjadi prioritas bagi Rama. Tapi, bukan itu yang sekarang menjadi masalah Nadine.
Kalau dia meminta cerai alasannya hanya satu, Rama sudah mengkhianati cintanya.
Kesalahan apapun mungkin bisa dia maafkan kecuali berkhianat.
“Kamu ingat, kan?” Rama mengguncang bahu Nadine pelan, tapi tatapan mata Nadine sudah tidak di sana. Kosong.
“Apapun yang kamu minta, Nadine! Apapun! Akan kuturuti, kecuali pindah dari rumah ini, karena… . Karena itu artinya kamu meminta perpisahan dariku” Gumam Rama lirih.
Nadine tersenyum. “Ya. Aku ingin bercerai”.
“Nadine! Kamu nggak serius! Kamu sangat mencintaiku, mengorbankan nyawamu, kakimu demi melindungiku dan sekarang kamu bilang ingin berpisah? Nadine…tolong, jangan bermain-main.”
Nadine tersenyum dingin “Mungkin itu yang menjadi kesalahanmu, Ram. Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu bukan untuk mengurungmu atau mengikatmu untuk selalu di sisiku. Karena cinta berarti pengorbanan tanpa mengharapkan apapun.”
Laras menutup mulutnya dengan tangannya sendiri, tidak pernah menyangka kalau menantunya yang selama ini sangat lembut bisa berbicara setajam itu.
“Nak.. Kenapa bicara begitu?” Desah Laras pelan.
“Keputusanku sudah bulat, aku ingin kita segera mengurus percerain kita. Mulai bulan depan aku pindah.” Kalimat itu terdengar sangat dingin.
“Secepat itu? Kamu sudah mempersiapkan semuanya? Ada pria lain di hatimu?” Sanggah Rama tidak terima.
Laras mengerutkan keningnya menatap menantunya. “Benar yang dikatakan Rama, sayang? Kamu ada pria lain?”
Nadine tersenyum getir. Pria lain? Terdengar sangat lucu. “Bukan pria lain, Rama. Tapi, perempuan lain!” tegas Nadine, suaranya rendah.
“Nadine… “ suara Rama keluar namun hampir tidak terdengar. “Kamu… .. “
Mata Nadine hanya berkaca-kaca, tak lagi mengeluarkan air Mata.
“Aku tahu semuanya, Rama”
Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti
“Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan
“Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.
“Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu
“Hallo…bersabarlah…aku sudah disana selama satu minggu, aku tidak bisa meninggalkannya terus-terusan” Suara Rama sangat lirih, serupa bisikan tapi cukup jelas di telinga Nadine.Tangan Nadine meremas kain selimut, dia sudah belajar ikhlas semenjak tidak sengaja memergoki chat mesrah Rama dan perempuan selingkuhannya itu tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan terasa diremas-remas.Malam berikutnya, setelah malam dimana Rama menerima telepon itu, Nadine memilih tetap diam tidak mempertanyakan apapun yang mengganjal hatinya, semuanya ia simpan rapat-rapat. Padahal jauh di hatinya ia penasaran, apakah Rama sudah tidak mencintainya lagi? Apakah dia sudah benar-benar lelah?Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas itu menyala, menampilkan notifikasi satu pesan baru di layarnya. Nadine segera meraihnya, alisnya bertaut heran melihat pesan itu yang berasal dari nomor tidak dikenal. Entah kenapa jantungnya berdegup aneh saat tangan kurusnya membuka pesan itu.Kiriman sebuah foto. Dim
"Gak usah, Ram. Aku bisa sendiri."Telapak tangan Nadine terangkat, bertahan di udara. Nadine sedikit mendorong tubuh Rama, hingga langkah Rama yang sudah setengah jongkok di depan kursi roda itu langsung tertahan di tempat. Tangan Rama yang biasa sigap menyusup di bawah lutut dan punggung Nadine, kini kaku di tengah jalan.Nadine menatap Rama dengan tatapan datar dan tanpa emosi.“Nadine, kenapa? Ada apa? biar aku bantu, hm?” tanya Rama lembut. Senyum tipis terbit di bibir Nadine. Ia menggeleng pelan. “Aku harus belajar melakukannya sendiri, aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu”“Nadine….ini bukan kamu banget!” protes Rama “Tidak biasanya kamu kaya gini. Selama empat tahun, kamu selalu menungguku. Kenapa kamu menolak?. tanya Rama dengan kening berkerut tipis, alisnya bertaut.Nadine menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua tangannya mencengkeram kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Ia mengerahkan semua tenaga di lengan atasnya. Satu tarikan nafas yang ia tahan







