Share

Bab 2

Author: Kariana
last update publish date: 2026-10-23 09:32:14

“Hallo…bersabarlah…aku sudah disana selama satu minggu, aku tidak bisa meninggalkannya terus-terusan” Suara Rama sangat lirih, serupa bisikan tapi cukup jelas di telinga Nadine.

Tangan Nadine meremas kain selimut, dia sudah belajar ikhlas semenjak tidak sengaja memergoki chat mesrah Rama dan perempuan selingkuhannya itu tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan terasa diremas-remas.

Malam berikutnya, setelah malam dimana Rama menerima telepon itu, Nadine memilih tetap diam tidak mempertanyakan apapun yang mengganjal hatinya, semuanya ia simpan rapat-rapat. 

Padahal jauh di hatinya ia penasaran, apakah Rama sudah tidak mencintainya lagi? Apakah dia sudah benar-benar lelah?

Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas itu menyala, menampilkan notifikasi satu pesan baru di layarnya. 

Nadine segera meraihnya, alisnya bertaut heran melihat pesan itu yang berasal dari nomor tidak dikenal. 

Entah kenapa jantungnya berdegup aneh saat tangan kurusnya membuka pesan itu.

Kiriman sebuah foto. Dimana di dalam nya ada Rama yang sedang tertidur di sebuah sofa dengan kepala di atas pangkuan seorang perempuan dengan posisi tangan di atas kepalanya. Rama dulu juga sering melakukan itu dengan Nadine di saat capek atau stress karena pekerjaannya di kantor.

Satu tahun belakangan ini, Rama sudah tidak pernah melakukannya lagi. Ternyata sudah ada pangkuan lain yang lebih nyaman dan hangat.

Napas Nadine terasa berhenti di tenggorokan, air matanya jatuh begitu saja.

Baru saja dia hendak menutup room chat berisi gambar itu setelah memasukkan foto-foto itu ke dalam sebuah folder gallery handphone-nya karena ini bukan gambar pertama.

“Nadine…satu minggu yang lalu Rama tidak pulang, kamu tahu dia ada di tempatku?“

Tanpa sadar tangan Nadine meremas handphonenya erat.

“Belakangan ini dia bilang banyak tekanan di kantor, jadi dia selalu merasa nyaman tidur di pangkuanku sambil minum coklat panas…apa dia mengatakannya padamu?”

Nadine tidak membalas, tapi pesan lain datang lagi.

“Apa kamu sangat mencintai Rama? Kasihan dia…belakangan ini sangat tersiksa. Setiap kali melihatmu katanya hatinya hancur.“

Hati Rama hancur, saat ini hati Nadine lebih hancur. 

Saat kamu mengetahui hati orang yang kamu cintai hancur karenamu, maka itulah kehancuranmu sesungguhnya.

“Dia gak pernah cerita? Kalau selama 4 tahun ini dia bertahan cuma karena kasian sama kamu, “

Tangan Nadine sudah mulai bergetar, namun tetap melanjutkan membaca pesan berikutnya.

“Dia cuma ngerasa bersalah karna kamu yang nolongin dia pas kebakaran itu. Dia bilang sendiri, kalau bukan karena itu dia gak bakalan nikahin kamu, “

Untuk pesan itu, Nadine hampir menjatuhkan handphonenya. Jadi, sikap manisnya, ucapan cintanya selama ini palsu?

“Seharusnya kamu sadar diri, Nad. Kaki kamu yang kayak gitu, cuma jadi beban buat dia. Dia itu laki-laki normal, butuh perempuan normal yang bisa diajak jalan bareng, bukan yang cuma di dorong terus. “

“Aku harap… kamu mau lepasin dia ya? Dia gak bahagia sama kamu. Jangan egois cuma karena kamu kasihan sama diri kamu sendiri. Pergi dari hidupnya, biar dia bisa bahagia,“

Setiap bait kata-katanya menusuk hati Nadine, seperti pisau. Matanya tidak berkedip, menatap layar itu dengan pandangan yang mulai buram. 

Nadine mencoba bernafas, namun rasanya tidak bisa. Dadanya terasa amat sesak dan bergemuruh. 

Isi pesan Nara itu terus berputar memenuhi isi kepalanya. Seolah menampar Nadine lebih keras, dari pada kenyataan bahwa suaminya ternyata berselingkuh. 

Ponsel itu terlepas begitu saja dari genggamannya, jatuh ke atas selimut dengan layar yang masih menyala. 

Nadine menatap kedua kakinya yang lumpuh itu berselonjor kaku diatas ranjang. Kaki yang dulu sempat ia banggakan karena menyelamatkan suaminya. Namun sekarang, kaki itu disebut sebagai alasan ia tidak pantas dicintai. 

“Nadine…kamu belum tidur?” suara rama membuatnya beringsut kembali ke dalam selimut, “Belum jawabnya pelan dengan suara serak”

“Oh iya…beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan dokter bedah syaraf dan ortopedi, katanya tidak ada yang tidak mungkin untukmu bisa berjalan. Aku meminta kartu nama mereka, mau mencoba?” tanya Rama lembut, ia menghapus sisa-sisa air mata di pipi Nadine yang mulai lengket karena mengering.

Nadine tidak langsung menjawab. Namun, beberapa detik kemudian ia tersenyum “Simpan saja uangmu, Rama. Masa depanmu masih panjang!” ucapnya.

“Nadine? kenapa ngomong begitu? masa depanku…itu kamu!” 

Nadine tersenyum kemudian menggeleng “Berikan saja kartu nama mereka padaku, nanti kalau aku memutuskan aku akan menghubungi mereka”

Rama mengelus bahu Nadine pelan, senyum yang diberikan masih terlihat sama namun sorot matanya yang terasa beda. “Okay..baik, nanti kalau kamu sudah memutuskan kasih tahu aku…aku sendiri yang akan mengantarmu.”

“Ya, Tentu…aku juga tidak ingin jadi beban kamu…” gumam Nadine lirih, hampir tidak dapat Rama dengar, “Kamu bilang apa barusan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 6

    Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 5

    “Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 4

    “Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 3

    “Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 2

    “Hallo…bersabarlah…aku sudah disana selama satu minggu, aku tidak bisa meninggalkannya terus-terusan” Suara Rama sangat lirih, serupa bisikan tapi cukup jelas di telinga Nadine.Tangan Nadine meremas kain selimut, dia sudah belajar ikhlas semenjak tidak sengaja memergoki chat mesrah Rama dan perempuan selingkuhannya itu tapi tetap saja hatinya merasa sakit dan terasa diremas-remas.Malam berikutnya, setelah malam dimana Rama menerima telepon itu, Nadine memilih tetap diam tidak mempertanyakan apapun yang mengganjal hatinya, semuanya ia simpan rapat-rapat. Padahal jauh di hatinya ia penasaran, apakah Rama sudah tidak mencintainya lagi? Apakah dia sudah benar-benar lelah?Tiba-tiba ponselnya yang berada di atas nakas itu menyala, menampilkan notifikasi satu pesan baru di layarnya. Nadine segera meraihnya, alisnya bertaut heran melihat pesan itu yang berasal dari nomor tidak dikenal. Entah kenapa jantungnya berdegup aneh saat tangan kurusnya membuka pesan itu.Kiriman sebuah foto. Dim

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 1

    "Gak usah, Ram. Aku bisa sendiri."Telapak tangan Nadine terangkat, bertahan di udara. Nadine sedikit mendorong tubuh Rama, hingga langkah Rama yang sudah setengah jongkok di depan kursi roda itu langsung tertahan di tempat. Tangan Rama yang biasa sigap menyusup di bawah lutut dan punggung Nadine, kini kaku di tengah jalan.Nadine menatap Rama dengan tatapan datar dan tanpa emosi.“Nadine, kenapa? Ada apa? biar aku bantu, hm?” tanya Rama lembut. Senyum tipis terbit di bibir Nadine. Ia menggeleng pelan. “Aku harus belajar melakukannya sendiri, aku tidak bisa terus-terusan bergantung padamu”“Nadine….ini bukan kamu banget!” protes Rama “Tidak biasanya kamu kaya gini. Selama empat tahun, kamu selalu menungguku. Kenapa kamu menolak?. tanya Rama dengan kening berkerut tipis, alisnya bertaut.Nadine menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kedua tangannya mencengkeram kursi roda sampai buku-buku jarinya memutih. Ia mengerahkan semua tenaga di lengan atasnya. Satu tarikan nafas yang ia tahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status