공유

Bab 4

작가: Kariana
last update 게시일: 2026-10-23 09:59:21

“Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.

Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. 

Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. 

Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.

Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.

Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. 

Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. 

"Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.

Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu. Ia menekan tombol 3. Lalu setelah itu Nadine melakukan hal yang sama. 

"Lantai tiga juga?" tanya pria itu terdengar antusias. 

Nadine mengangguk. "Iya,mau lihat unit 307."

Pria itu tersenyum lebar. 

"Oh. Tetangga, berarti. Saya 306." sahutnya ramah.

Nadine tersenyum “Saya masih melihat-lihat dulu. Kalau cocok, mungkin akan segera pindah” ungkapnya jujur.

Pintu lift berderit tertutup perlahan. Lift bergerak naik dengan suara berdecit pelan.

"Nama saya Indra," kata pria itu tanpa disangka. 

Nadine menatap pantulan dirinya di pintu lift yang terlihat kusam. Lalu beralih menatap Indra yang berdiri tegak di sampingnya. 

"Nadine.”balas Nadine pelan. 

Tak lama kemudian lift berhenti dengan hentakan kecil. Pintu besi itu harus ditarik Indra terlebih dahulu agar terbuka. 

“ Ladies first, “ucap Indra mempersilahkan . 

Nadine mendorong kursi rodanya keluar terlebih dahulu, disusul Indra yang memilih berjalan di sampingnya. Melangkah dengan santai, seolah-olah pria itu memang berjalan bersama Nadine.

Nadine mengedarkan pandangannya ke sepanjang lorong yang kini ada dihadapannya, matanya berhenti di pintu berwarna coklat dengan nomor 307, lalu matanya melirik ke arah Indra yang kini berdiri tak jauh disampingnya. 

“Saya duluan ya, “ ucap Nadine sambil mengangguk sopan. 

“eh sebentar,” tangan Indra menahan pergerakannya. ”Kalau boleh tau,kamu udah ada janji sama pemilik unit nya belum? “tanya nya. 

Nadine tersenyum samar, “sudah kok, katanya sebentar lagi sampai. “

“Mau saya temani tunggu disini? “, 

Nadine menatap kearah Indra yang menawarinya tanpa canggung, ia berpikir mengapa pria ini repot-repot menawarinya untuk ditemani, padahal dirinya hanya orang asing yang bisa saja membuat dirinya kerepotan. 

“Oh gak usah, saya sendiri aja, “ tolak Nadine dengan senyuman ramah. 

Indra tersenyum sambil mengangguk, “Baiklah, kalau butuh apa-apa aku di 306 kamu bisa ketuk saja“ pria itu menunjuk pintu dengan nomor 306 dengan tangannya. “Kamu bisa panggil saya disana ya. “

Nadine melirik kearah pintu yang ditunjuk Indra, “Baik, makasih sebelum nya ya, “ ucap Nadine dengan tulus. 

Tidak biasanya ia bertemu dengan seseorang yang mau peduli dengan orang seperti dirinya. Atau dia saja yang sudah lama tidak keluar dan bersosialisasi? Karena semenjak tidak bisa berjalan dia lebih memilih mengurung diri.

“Sama-sama, “ jawab Indra, lalu berjalan pelan meninggalkan Nadine dan masuk ke dalam apartemennya. 

Setelah menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit berbicara dengan pemilik unit 307 ia mengambil keputusan akan pindah awal bulan depan. Dia minta pemilik memnyesuaikan beberapa furniture dan juga akses dengan uang tambahan.

Setelah itu, Nadine segera memesan taxi online untuk membawanya pulang. 

Laras sudah menghubungi nya sekitar tiga kali karena khawatir kepada dirinya. Bahkan menawari untuk menjemputnya. Nadine tentu saja langsung menolak lalu meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja dan segera pulang dengan cepat. 

Melihat Laras yang sangat peduli kepadanya, membuat perasaan Nadine terkadang bingung. Jika suatu saat dia harus pergi meninggalkan mama mertuanya itu. Namun, dia tidak bisa terus-terusan menjadi penghalang kebahagiaan Rama.

Selama perjalanan pulang,matanya tidak henti menatap jalanan kota yang penuh dengan orang berlalu lalang. Andai saja jika dirinya tidak lumpuh, mungkin ia bisa berjalan-jalan tanpa kursi roda seperti orang di luar sana. Berbelanja, bertemu teman, dan mungkin bisa bekerja tanpa takut dengan pergerakannya yang terkadang menyusahkan orang lain. 

Nadine tersenyum berusaha menghibur dirinya, mungkin suatu hari nanti ia akan bisa berjalan lagi seperti sedia kala. Ia yakin hari itu akan tiba, dan mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk dirinya memiliki kesempatan itu. 

Lamunannya buyar, karena dering telpon dari nomor Rama yang memanggilnya. Nadine tidak berniat mengangkatnya, tapi ponselnya terus berdering. Akhirnya ia mengangkat panggilan itu.

“Kamu di mana? Mama bilang bertemu dengan teman, teman siapa? Nadine…selama tiga tahun ini kamu nggak punya teman…karena temanmu adalah temanku”

Nadine tak langsung menjawab, memberi jedah otaknya mengolah pesan itu sebelum akhirnya menjawab.

“Maafkan aku, Ram. Aku hanya jalan-jalan dan ingin sendiri saja…terpaksa bohong sama Mama biar nggak khawatir.” Dustanya.

“Sekarang kamu dimana? Biar aku jemput! “ Suara Rama di seberang terdengar khawatir.  

“Jangan khawatir, aku sudah dalam perjalanan pulang!, “ jawab Nadine dengan dingin. 

“Oh syukurlah kalau gitu, lain kali minta jemput mama aja ya sayang kalau keluar lagi. Jangan buat aku khawatir ya. “

Khawatir? ucapan yang dulu selalu membuat Nadine merasa sangat dicintai dan dilindungi, namun mendengarnya sekarang membuat ulu hatinya berdenyut nyeri. 

Tanpa berucap lagi Nadine segera mengakhiri panggilannya dengan sepihak, berbicara dengan Rama hanya membuat perasaannya tidak baik. 

Ia kembali fokus menatap jalanan dari balik mobil. Jalanan kota siang ini sangat macet.Namun bukannya kesal, Nadine malah merasa senang karena bisa berlama-lama di luar rumah.

Tiba-tiba pandangannya terhenti saat matanya menangkap siluet seorang pria dan wanita yang baru saja keluar dari sebuah restoran mewah dengan tangan yang saling bergandengan. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 8

    Nadine mendorong kursi rodanya mendekati lemari. Tangannya bergerak mengeluarkan semua bajunya dari dalam.“Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Nadine,” ujar Rama dengan napas terengah. Alisnya bertaut, tidak setuju saat melihat Nadine yang sedang mengemasi barangnya.“Bukankah aku hanya beban bagimu, Rama?” tanya Nadine pelan tanpa menoleh.“Aku pikir, dengan kepergianku ini, kamu bisa bebas,” tambahnya.Rama menggeleng. Kakinya melangkah mendekati Nadine, lalu berjongkok di depan kursi rodanya. Ia berusaha menggenggam tangan wanita itu, tetapi segera ditepis.“Tolong, percaya sama aku. Aku sudah menjelaskan semuanya padamu,” ucapnya memohon.Nadine tidak memedulikannya. Tangannya terus sibuk mengemasi baju.“Sayang... aku mohon, jangan seperti ini,” lirih Rama. Kepalanya menunduk, menatap tangan Nadine yang enggan digenggam.Selesai mengemasi baju, Nadine meraih koper itu. Namun, tangan Rama dengan cepat menahannya.“Nadine!” panggil Rama dengan suara meninggi. “Oke, kalau kamu kukuh

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 7

    "Tahu semuanya apa maksud kamu?" Suara Rama terdengar tegang. Ia menatap Nadine lekat-lekat, seolah berharap perempuan itu akan menarik kembali ucapannya.Nadine tidak mengalihkan pandangan. Tangannya terlipat rapi di depan tubuh, sementara jantungnya berdegup lebih cepat di dalam sana. Namun, ia sudah terlalu lama memikirkan semua ini untuk membiarkan rasa sakitnya mengambil alih."Aku tahu kamu punya perempuan lain di luar sana," jawabnya tenang. "Bahkan hari ini, aku tahu kamu pergi dengannya."Di samping mereka, Laras memandang putranya tak percaya. Tatapannya berpindah kepada Nadine, mencari penjelasan yang belum juga ia dapatkan.Rama terdiam sesaat. Wajahnya menegang, lalu ia mengembuskan napas panjang, seperti orang yang sedang berusaha mengendalikan keadaan."Semua nggak seperti yang kamu pikirkan, Nadine. Aku bisa jelaskan." Ia mengangkat kedua tangan sedikit, meminta Nadine mendengarkan. "Tolong, jangan langsung menyimpulkan."Nadine merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 6

    Rama mencoba tersenyum, akan tetapi matanya tidak dapat berbohong. Pupilnya tiba-tiba melebar, menyisakan lingkar gelap yang kosong.“Maksud kamu siapa? Dia—tentu dia tidak marah”“Dia.” Potong Nadine singkat dan padat. “Nadine…kamu salah paham! Maksudku, vendor… mereka tidak akan marah. Mereka mengerti “Bohong lagi, benar-benar melelahkan. Nadine mendengus kasar. “Rama…aku yakin…kamu tau maksud ucapanku” Ucap Nadine misterius.Kalimat itu membuat Laras menatap Rama penuh bingung. Pria itu masih memaksakan senyuman diwajahnya, matanya memutar-mutar mencari sasaran, enggan menatap mata Nadine, dan berlagak seolah tidak mendengar ucapannya. Matanya melirik ke arah Laras seperkian detik, tatapan seolah mencari bantuan. Namun wanita itu malah bersedekap dada, dan masih menautkan alis menatapnya. “Nadine! Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu? Tiba-tiba saja ingin tinggal sendiri, tiba-tiba saja bertanya tentang dia! Dia siapa? Aku nggak ngerti! “ Suara Rama naik satu oktaf, terdengar ti

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 5

    “Aku tidak salah lihat…” gumamnya pelan sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.Sekali ini saja Nadine ingin mencoba, apakah Rama jujur atau tidak. Dia menelpon Rama, karena Nadine yakin sekali, pria tinggi dengan kemeja biru langit itu adalah Rama. Karena dia selama ini yang menyiapkan pakaian Rama.Hanya terdengar nada dering satu kali sebelum akhirnya Rama mengangkat panggilannya.“Kenapa kamu tutup panggilanku?” tanya Rama.Nadine menarik napas panjang sebelum akhirnya menjawab “Maaf kepencet. Rama…kamu sekarang di mana?” Rama tak langsung menjawab, terdengar suara klakson, suara keramaian dan pastinya suara manja seorang perempuan yang sepertinya dibungkam secara paksa.“Aku sedang di jalan, ada meeting bersama vendor di sebuah cafe. Kenapa?”“Oooh,,,tidak apa. Aku tadi berpikir ingin bertemu karena kamu bilang mau jemput aku…jadi..ya udah nggak papa. Bye Rama”“Sayang…maafkan aku…besok aku ambil libur dan aku akan membawamu jalan-jalan, bagaimana? kemanapun kamu mau, aku akan

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 4

    “Ah…ya…terima kasih” suara Nadine cepat bersamaan dengan pergerakan kursi rodanya.Nadine akhirnya bisa masuk ke dalam lift dengan bantuan nya. Pelan-pelan ia menolehkan kepalanya melihat. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.Tubuhnya menjulang tinggi,mungkin hampir 180 cm.Badannya tegap,dan atletis.Bahunya terlihat lebar hanya memakai kaos oblong berwarna abu-abu, celana hitam selutut, memakai sandal rumahan.Rambutnya dipotong pendek cepak terlihat agak berantakan.Wajahnya tidak setampan Rama,namun terlihat bersih.Rahangnya tegas,dan dialis kirinya ada bekas jahitan kecil, dengan sorot mata yang hangat dan tenang.Di tangan kirinya ia menenteng kantong plastik berisi sayur dan telur. Namun hal yang menjadi perhatian Nadine adalah…mata pria itu tenang, bahkan tidak menatap kursi rodanya lama-lama seperti orang lain yang menatapnya penuh kasihan. "Terima kasih," ucap Nadine lagi “Maaf merepotkan” Tambahnya.Pria itu mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam lift yang sempit itu.

  • Setelah Aku Pergi, Baru Dia, Tahu Rasa.    Bab 3

    “Nggak ada..aku nggak ada ngomong apa-apa..” Nadine menggeleng, seutas senyum palsu menutupi lukanya merekah lagi.‘Aku harus bisa bertahan sampai nanti benar-benar siap mengatakan itu padanya’ batin Nadine.Percakapan malam itu ditutup dengan Nadine yang memilih tidur terlebih dahulu, sementara Rama,suaminya itu keluar dari kamar mereka pergi entah kemana. Keesokan paginya, Nadine sudah terlihat rapi sejak pukul tujuh. Ia duduk sendirian di meja makan, sementara Mama mertuanya Laras, sedang sibuk di dapur. Seperti pagi-pagi sebelumnya akhir-akhir ini Rama selalu berangkat lebih awal tanpa menunggunya bangun terlebih dahulu. “Rama tadi berangkat pagi-pagi, katanya ada rapat penting dan nggak mau bangunin kamu!” ucap Laras lembut.Nadine mengangguk pelan, “Iya, Ma!”Laras memutar tubuhnya menatap Nadine yang sedang sibuk dengan tablet di pangkuannya.“Nadine..kalau kamu merasa kesepian, bilang sama Mama, hm? Mama akan ajak kamu jalan-jalan. Mama tahu, belakangan ini Rama sangat sibu

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status