MasukKetika matahari sore mulai condong ke ufuk barat, Sabiya berdiri di sisi brankar.Ia menatap wajah Roman yang masih terlelap, akibat efek obat pereda nyeri dosis tinggi. Namun, wajah pria itu mulai menunjukkan rona merah, tidak sepucat tadi pagi.Dengan perasaan lega, Sabiya kemudian merapikan letak selimut putih yang menutupi tubuh Roman."Aku pulang sebentar untuk menjemput anak-anak," bisik Sabiya di dekat telinga Roman.Sabiya memutar tubuhnya dan mendapati Dante telah berdiri siaga di dekat pintu. Asisten setia itu tampak jauh lebih segar pasca mendapatkan waktu istirahat yang cukup."Dante, aku titip Roman," pesan Sabiya seraya meraih tas jinjingnya. "Jika dia terbangun dan mencariku, tolong katakan aku sedang menjemput si kembar.""Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Sabiya," jawab Dante dengan anggukan hormat. "Saya akan menjaga Tuan Roman."Dikawal oleh Liam, Sabiya meninggalkan rumah sakit.Perjalanan menuju apartemen terasa jauh lebih ringan bagi Sabiya, seiring dengan membai
Hujan gerimis yang membasahi perbukitan San Marino perlahan mereda, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang.Setelah rangkaian upacara pemakaman yang menguras emosi, bayi Seraphina akhirnya tertidur pulas di dalam kamar tamu.Ramona pun turun perlahan untuk mengganti pakaiannya yang kotor oleh debu tanah. Namun, baru saja ia menanggalkan baju, terdengar bunyi ketukan di pintu.“Nyonya Ramona, Anda dipanggil oleh Tuan Falcone,” ucap seorang pelayan.Terkejut, Ramona buru-buru mengancingkan bajunya dan berjalan menuju pintu. Di sana, seorang pelayan paruh baya sudah menanti.“Nyonya, silakan Anda segera ke ruang makan. Tuan Falcone menunggu Anda,” ujar pelayan itu.“Tapi, bagaimana dengan Seraphina? Dia bisa menangis kalau….”“Saya yang akan menjaga bayi Anda. Nanti, kalau dia menangis, saya akan membawanya ke ruang makan.”Setelah mendapat jaminan bahwa bayinya aman, Ramona memberanikan diri untuk keluar dari kamar.Ia tidak menyangka bahwa bos besar suaminya, Jetro Falcone, tiba-t
Di kawasan perbukitan San Marino, langit mendung menggantung rendah. Suasana di bukit itu sangat suram dan mencekam.Angin perbukitan berembus membawa hawa dingin, diiringi gerimis tipis yang membasahi rerumputan hijau di area pemakaman.Ratusan anggota klan Falcone yang berpakaian serba hitam berdiri berbaris. Mereka membentuk pagar betis, mengelilingi sebuah liang lahad yang baru digali.Payung-payung mengembang di udara, menahan rintik hujan yang membasahi pundak-pundak tegap para pengawal.Tidak ada satu pun suara obrolan yang terdengar. Hanya ada keheningan yang sarat akan duka.Di barisan paling depan, berdiri Jetro Falcone.Sang pemimpin tertinggi mengenakan setelan jas hitam legam, yang dipadukan dengan kemeja kerah tinggi dan mantel panjang berwarna senada.Wajah tampannya yang biasanya memancarkan ketenangan kini terlihat begitu kaku. Matanya menatap lurus ke arah sebuah peti mati berukir lambang elang.Di dalam peti tersebut, terbaring tubuh kaku Cassian, pria muda yang tel
Ciuman Sabiya merupakan bentuk penyerahan diri, sebuah permohonan bisu agar pria itu kembali menjejakkan kaki di dunia nyata.Sabiya menyapukan bibirnya dengan lembut, menekan rasa takut dan kepanikannya sendiri demi menjadi tiang penyangga bagi sang mafia.Melalui sentuhan bibir ke bibir, Sabiya seakan mentransfer seluruh kekuatan hidupnya. Mengingatkan Roman bahwa di tengah duka dan kehilangan, pria itu masih memiliki alasan untuk terus bernapas.Masih ada dirinya, masih ada Ares dan Altair.Secara perlahan, efek dari kasih sayang yang diberikan Sabiya mulai bekerja.Napas Roman yang semula memburu berangsur-angsur mereda.Embusan udara dari hidungnya tak lagi terdengar seperti orang yang sedang tercekik. Jari-jari Roman secara refleks mengusap lemah di pinggang Sabiya.Menyadari ritme jantung Roman telah teratur, Sabiya melepaskan ciumannya dengan sangat perlahan."Tarik napasmu, Roman," bisik Sabiya seraya mengusap rahang tegas pria itu yang ditumbuhi akar-akar tipis cambang."Tan
"Dokter, bisakah saya tetap berdiri di sini? Saya tidak akan mengganggu proses pemeriksaan,” pinta Sabiya.Sang dokter mengangguk paham, menyadari bahwa keberadaan Sabiya adalah penenang terbaik bagi pasien yang baru saja melewati trauma berat."Tentu, Nyonya. Anda bisa tetap menemani Tuan Valeriano."Tim medis mulai bekerja dengan cepat. Dokter menyorotkan senter kecil ke arah pupil mata Roman untuk mengecek respons saraf otaknya.Roman mengernyitkan dahi karena silau. Namun, ia membiarkan dokter itu melakukan tugasnya asalkan matanya tetap bisa menangkap sosok Sabiya.Setelah memeriksa mata, dokter mendengarkan detak jantung dan pernapasan Roman menggunakan stetoskop. Kemudian, ia memeriksa jahitan pada luka tembak serta pelat penyangga di kaki Roman.Sepanjang proses pemeriksaan yang tidak nyaman itu, Roman hanya diam, tidak mengatakan apa-apa."Tuan Valeriano berhasil melewati masa kritis. Kesadarannya sudah kembali penuh, dan respons sarafnya bekerja dengan baik."Sabiya mengusap
Panggilan yang familiar itu sontak menghancurkan sisa-sisa kantuk Sabiya.Tubuhnya tersentak hebat. Ia membuka matanya lebar-lebar, lantas bangkit dari posisi berbaring.Tanpa memedulikan kakinya yang masih lemas, Sabiya berlari semampunya. Ia langsung berdiri di samping brankar, tempat Roman berbaring.Di bawah pendar cahaya temaram ruangan, Sabiya bisa melihat sepasang mata kelabu milik Roman telah terbuka. Tatapan pria itu tampak sangat sayu, kosong, dan tidak fokus.Efek obat bius dosis tinggi dan ketidaksadaran selama berhari-hari membuat Roman kehilangan orientasi ruang dan waktu.Kelopak mata Roman bergerak lambat, mengerjap beberapa kali seolah cahaya lampu di atasnya menyiksa retina matanya.Napas pria itu tiba-tiba berubah memburu. Dada bidangnya yang dibalut perban naik turun dengan cepat, mengembunkan bagian dalam masker oksigen yang menutupi separuh wajahnya.Di dalam alam bawah sadar Roman yang masih kacau, memori terakhir yang terekam adalah penculikan dan pertempuran d
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de







