LOGINSabiya menghela napas sabar sebelum menjawab rengekan Roman yang tidak mau berpisah darinya."Roman, apa kau lupa? Besok pagi adalah hari keberangkatan Ares dan Altair untuk acara camping sekolah mereka," jelas Sabiya dengan nada lembut."Sore ini aku harus menyiapkan koper, memeriksa kelengkapan pakaian hangat, senter, dan obat-obatan mereka. Aku juga harus memastikan mereka tidur cepat dan bangun tepat waktu besok pagi."Roman menatap Sabiya dengan tatapan tak rela. Mulutnya setengah terbuka untuk melayangkan bantahan, tetapi tak ada satu pun kata yang keluar.Ia sadar bahwa ia tidak mungkin bisa bersaing dengan kebutuhan anak-anaknya sendiri."Baiklah, aku akan tidur sendirian malam ini," keluh Roman.Melihat ekspresi Roman, Sabiya nyaris tertawa lepas jika ia tidak menahannya. Sang bos besar yang ditakuti separuh dunia bawah itu kini bersedih karena harus berbaring sendirian di kamar rawat."Kau sendiri yang bilang sangat menyayangi si kembar dan bersedia berkorban untuk mereka. M
Embusan napas Sabiya terdengar putus-putus saat ia akhirnya berhasil melepaskan diri dari kukungan lengan Roman. Dada wanita itu naik turun dengan cepat, berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin.Dengan wajah yang masih merona, Sabiya buru-buru turun dari brankar. Ia menunduk, merapikan letak bajunya yang berantakan dan mengancingkan kembali bagian kerahnya dengan jemari gemetar.Rok Sabiya juga tampak kusut dan rambut panjangnya berjatuhan berantakan di sekitar bahu.Bukan hanya Sabiya yang berantakan. Di atas ranjang, Roman juga dalam keadaan yang tidak jauh berbeda.Kemeja rumah sakit pria itu terlepas setengah dan napasnya masih sedikit memburu. Suhu tubuh sang mafia jelas meningkat tajam akibat hasrat yang baru saja tersulut."Gara-gara ulahmu, aku jadi berantakan dan berkeringat,” omel Sabiya dengan suara serak.Sabiya mendengus kesal, menyadari adanya letupan gairah yang sempat memuncak dan kini meninggalkan sensasi lengket di tubuhnya.Melihat wanitanya panik, Roman hanya terk
Awalnya, pria itu mengangkat tangannya perlahan. Roman menyingkirkan helaian rambut panjang Sabiya yang menutupi leher, lalu menyampirkannya ke belakang bahu.Gerakan jemari Roman yang sengaja menyentuh kulit tengkuk Sabiya mengirimkan sensasi menggelitik.Setelah leher jenjang Sabiya terekspos, Roman memajukan wajahnya.Pria itu mulai mengendus aroma alami tubuh Sabiya. Napasnya yang terasa hangat menerpa kulit sensitif wanita itu.Sabiya menahan napas sejenak, tubuhnya sedikit menegang. Jemarinya yang sedang mengetik kalimat laporan mendadak berhenti."Roman, hentikan," tegur Sabiya dengan suara pelan, berusaha menjaga konsentrasinya agar tidak buyar. "Aku harus menyelesaikan ini."Bukannya menurut, Roman malah menyeringai. Ia mulai melancarkan godaan yang jauh lebih intens.Roman mendaratkan kecupan basah yang memanjang di sepanjang garis leher Sabiya. Bibirnya yang sedikit kasar karena cambang tipis itu menyusuri urat nadi Sabiya.Roman mengecupnya berulang kali, lalu sesekali mem
Satu hari sebelum acara camping sekolah si kembar diselenggarakan, Roman memulai sesi fisioterapi. Perkembangan fisik pria itu terbilang sangat pesat.Pelat titanium di kakinya mulai menyatu dengan baik bersama jaringan tulangnya.Dengan panduan dokter spesialis rehabilitasi medik, Roman belajar menjejakkan kakinya ke lantai dan berjalan sangat perlahan menyusuri palang sejajar.Meski napasnya memburu usai melangkah, sorot mata kelabu pria itu memancarkan tekad yang pantang menyerah.Usai dokter dan perawat keluar dari ruangan, Roman kembali berbaring di atas brankar untuk mengistirahatkan otot-ototnya yang menegang.Sementara pria itu beristirahat, Sabiya kembali pada rutinitas profesionalnya. Wanita itu duduk di sofa seraya memangku laptopnya.Sabiya sedang bekerja secara daring, mengamati layar yang menampilkan file presentasi dan draf katalog.Sebagai kepala desainer, ia harus memeriksa katalog perhiasan musim gugur yang akan diluncurkan bulan depan.Sabiya meneliti dengan cermat s
Hari ini, Clara sengaja mengambil izin setengah hari dari sekolah dengan alasan migrain.Tentu saja, rasa sakit kepala itu hanyalah bualan belaka. Alasan sesungguhnya adalah ia tidak bisa berkonsentrasi mengajar saat pikirannya sepenuhnya tertuju ke seberang benua.Hari ini adalah hari pemakaman Nyonya Regina Valeriano.Sebagai wanita yang ambisius dan terobsesi pada kekuasaan klan Valeriano, Clara tahu bahwa pemakaman ini bukan sekadar acara duka, melainkan ajang perebutan takhta.Ia pun mondar-mandir di ruang tengah apartemennya yang sempit, menggenggam ponsel erat-erat dengan kuku panjangnya yang dicat merah menyala.Waktu terasa merayap begitu lambat. Clara sudah menunggu cukup lama hingga kesabarannya nyaris habis.Tepat ketika Clara hendak melempar ponselnya ke atas sofa pudar, layar benda pipih itu menyala, menampilkan nama ayahnya, Tuan Simon.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Clara langsung menggeser ikon hijau."Akhirnya Papa menelepon juga!" sergah Clara dengan nada tidak s
Dante segera menekan sebuah tombol di meja.Detik berikutnya, gambar wajah Roman muncul di dua layar raksasa yang telah disiapkan di area pemakaman Aldena.Suasana di kompleks pemakaman seketika hening. Seluruh pelayat yang hadir mendongak, menatap ke arah wajah pemimpin tertinggi klan Valeriano yang disiarkan dari benua seberang.Mereka bisa melihat wajah pucat sang bos besar. Namun, tatapan elang pria itu tetap menembus dan mengintimidasi siapapun yang berani mempertanyakan kelemahannya.Roman menatap ke lensa kamera yang terhubung langsung ke Aldena."Hari ini, seluruh keluarga besar Valeriano berduka karena kehilangan salah satu pilar terkuatnya," suara bariton Roman mengalun melalui sistem pelantang suara."Dan saya, kehilangan seorang ibu yang telah melahirkan, merawat, dan mengajari saya bagaimana cara bertahan hidup.”Roman memberikan jeda sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk mengeraskan volume suaranya."Saya, Roman Valeriano, menyampaikan permintaan maaf kepada selur
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala







