Share

Putus Asa

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-09-08 23:49:53

"Mama pulang!" teriak Ares girang begitu melihat ibunya membuka pintu apartemen.

Bocah laki-laki itu berlari kencang dari arah ruang keluarga, berniat menyambut Sabiya dengan pelukan erat. Akan tetapi, sebelum tubuh kecil Ares menabraknya, Sabiya refleks merentangkan tangan untuk menahan jarak.

"Eits! Jangan memeluk Mama dulu, Sayang," cegah Sabiya dengan nada lembut. “Mama baru saja pulang dari rumah sakit. Pakaian Mama masih membawa bau disinfektan dan kuman dari sana. Mama harus membersihkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Lima Bunga Untuk Penebusan

    Mobil hitam dengan lambang keluarga Valeriano, merapat di pelataran salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Denver.Di dalam mobil, Roman menolak untuk bersantai. Meskipun Profesor Adrian baru saja berpesan agar ia tidak banyak bergerak, tekad pria itu jauh lebih besar dari rasa sakit di sekujur tubuhnya.​Karena kaki kanannya belum memungkinkan untuk menapak, Roman memutuskan menggunakan kursi roda yang telah disiapkan oleh Dante. Didorong oleh tangan kanannya itu, Roman memasuki toko mainan yang dipenuhi warna-warni cerah.​Berada di dalam lorong-lorong toko yang dipadati berbagai jenis permainan, Roman mendadak tertegun. Iris abu-abunya menatap deretan mainan di rak-rak tinggi dengan ekspresi bingung. Pasalnya, ia tidak tahu mainan seperti apa yang disukai oleh Altair.Detik itu juga, ​Roman baru menyadari betapa sedikit hal yang ia ketahui tentang darah dagingnya sendiri. Ia telah kehilangan waktu lima tahun penuh sebagai seorang ayah. Lima tahun, di mana anaknya tumbuh ta

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Tak Sabar untuk Bertemu

    Keesokan harinya, Sabiya tiba di lobi gedung Elegance Jewelry dengan langkah cepat. Ia berusaha melupakan kejadian semalam dan fokus pada pekerjaannya hari ini.​Baru saja Sabiya melangkah masuk melewati pintu utama, sang resepsionis segera menghampirinya dengan ekspresi gugup.​"Bu Rosella, Anda sudah ditunggu oleh seorang tamu penting sejak sepuluh menit yang lalu." ​Sabiya mengerutkan kening. "Tamu? Siapa?"​"Tuan Dominic Sterling," jawab resepsionis itu setengah berbisik. "Beliau sudah saya persilakan menunggu di Executive Lounge."​Mendengar nama itu, rahang Sabiya mengeras seketika. Namun, di saat bersamaan, akal sehatnya berputar cepat. Dominic Sterling bukan sekadar klien biasa, dia adalah salah satu investor korporat. Mustahil, ia menghindari pria itu di lingkungan kantor.​Sabiya menghela napas panjang, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat profesional. "Baiklah, saya akan menemuinya. Terima kasih informasinya."​Dengan langkah pasti, Sabiya berjalan menuju r

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di luar Dugaan

    Keluar dari rumah sakit, Sabiya segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Di balik kemudi, jemari Sabiya yang mencengkeram setir masih bergetar tipis. Sungguh, Sabiya tidak mengerti dengan tindakannya sendiri. Mengapa tadi ia begitu lemah dan spontan memeluk Roman, tanpa berpikir panjang? Mungkinkah karena Roman adalah satu-satunya sosok yang berada di dekatnya saat ini?Entahlah. Sabiya tidak punya jawaban pasti. Namun satu hal yang ia sadari, setelah menumpahkan air matanya dalam dekapan Roman, perasaannya terasa jauh lebih ringan. Beban sesak di dadanya berkurang, dan ia berhasil melupakan sejenak ciuman paksa dari Dominic. Di saat bersamaan, layar navigasi mobilnya berkedip, menampilkan panggilan masuk dari orang yang paling ingin ia hindari.Dominic Sterling.Sabiya menatap layar itu dengan gelombang kemarahan yang bangkit di dadanya. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan tombol merah untuk menolak panggilan Dominic. Kemudian, Sabiya menginjak pedal gas sedikit lebih dalam agar

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menjaganya dari Pria Lain

    Tubuh Roman yang masih ditopang oleh sepasang kruk langsung menegang, saat Sabiya menghambur ke dalam pelukannya.Ada gelombang kebahagiaan dan kehangatan yang meluap di dalam dadanya. Namun rasa cemas yang jauh lebih besar segera menguasai pikiran Roman. Terlebih, suara tangisan Sabiya seakan menyimpan beban batin yang sangat besar. Mungkinkah terjadi sesuatu yang buruk di luar sana? Sesuatu yang membuat Sabiya begitu ketakutan hingga ia datang ke sini untuk mencari perlindungan?Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membebani kaki kanannya, Roman berusaha menyeimbangkan tubuh. Ia menatap puncak kepala Sabiya, lalu berucap dengan suara tertahan."Sayang, ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Roman, penuh kasih.Sabiya belum menjawab. Pertanyaan tulus dari Roman justru membuat air matanya semakin tak terbendung.Entah mengapa ia ingin menumpahkan semua rasa takut dan lelah, di hadapan pria yang dulu menjadi sumber lukanya. Beberapa saat kemudian, Sabiya merasakan sebuah sen

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Tempat Perlindungan

    Jarum penunjuk waktu di sudut layar komputer hampir menunjukkan pukul lima sore. Sabiya segera mematikan laptopnya, merapikan tumpukan sketsa desain perhiasan, dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam laci meja.Hari ini terasa begitu panjang, dan ia memiliki agenda yang padat. Sabiya berencana menyelesaikan urusan pekerjaannya di hotel secepat mungkin, agar ia bisa segera meluncur ke rumah sakit untuk menjenguk Roman.Sebelum meninggalkan ruang kerjanya, Sabiya merogoh tas untuk mengambil ponsel. Ia mengetikkan pesan singkat kepada Dominic Sterling bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju Horizon Hotel.Setelah mengirim pesan tersebut, Sabiya bergegas keluar dari gedung Elegance Jewelry. Ia mengemudikan mobilnya menuju hotel, tempat Dominic menginap.Setiba di lobi hotel yang megah, Sabiya langsung berjalan menuju lift. Ia menekan tombol lantai lima dan menunggu hingga kotak besi itu bergerak naik.Sesampainya di lantai tujuan, Sabiya melangkah menyusuri koridor karpet tebal, hingga

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Undangan untuk Tiga Pria

    Keesokan harinya, Sabiya berangkat menuju kantor Elegance Jewelry seperti biasa. Begitu tiba di ruang kerjanya, Sabiya segera menyalakan laptop sambil mengeluarkan beberapa berkas desain.Baru lima menit ia beraktivitas, pintu ruangannya diketuk pelan. Seorang staf mengabarkan bahwa Nyonya Vivian Vance memanggilnya ke ruang CEO.Sabiya segera beranjak untuk mematuhi perintah sang pemilik perusahaan.Di lantai teratas gedung perkantoran tersebut, Nyonya Vance menyambutnya dengan senyuman hangat penuh apresiasi. Wanita paruh baya itu menunjuk kursi di hadapannya agar Sabiya duduk."Rosella, silakan duduk," sapa Nyonya Vivian ramah. "Aku memanggilmu ke sini karena ada kabar gembira. Berdasarkan laporan kinerja akhir tahun ini, kerja kerasmu sungguh luar biasa. Kau berhasil mengunci dua kesepakatan kontrak yang nilainya fantastis, baik dengan Tuan Valeriano maupun dengan Tuan Sterling."Sabiya tersenyum sopan. "Terima kasih banyak, Nyonya Vance. Ini juga berkat dukungan dan bimbingan Anda

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Bantu Aku, Paman

    Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghilang dari Hidupmu

    Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Wanita yang Dicintai Suamiku

    Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status