ログインSuasana di dalam apartemen Denver terasa begitu tenang.Wajah Sabiya sudah tampak lebih segar. Ia mengenakan pakaian rajut santai berwarna biru langit, dan membiarkan rambut panjangnya terurai bebas tanpa beban. Di atas meja makan, sudah berjejer berbagai macam hidangan bergizi dengan porsi yang cukup banyak. Jetro sengaja memesan layanan pesan antar dari restoran terbaik, untuk menyambut malam pertama mereka di kota ini.Uap hangat mengepul dari mangkuk berisi sup iga domba. Sementara di sampingnya, tersaji piring-piring berisi ayam panggang rosemary, potongan steik salmon, serta semangkuk besar salad sayuran segar. Wangi mentega, bawang putih, dan herba segar berpadu sempurna.Sabiya menatap jajaran makanan mewah itu dengan kening berkerut halus. "Kak, untuk apa memesan makanan sebanyak ini? Kita tidak akan sanggup menghabiskannya berdua. Ini berlebihan."Jetro yang duduk di seberang meja menatapnya lekat. Sepasang mata elangnya menyisir tubuh Sabiya yang tampak tenggelam di balik
Di bawah tatapan Roman yang begitu mengintimidasi, Mia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mati-matian menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang justru akan memperkeruh keadaan."Tidak ada, Tuan Muda. Nyonya bersikap tenang seperti biasanya," dusta Mia, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.Namun, jawaban dangkal itu sama sekali tidak memuaskan Roman. Pria itu memicingkan mata, kembali mengorek informasi dengan pertanyaan lain yang menjebak. "Apa kau membersihkan atau merapikan isi kamar ini setelah Sabiya pergi?"Mia mengangguk kaku, meremas ujung roknya. "Hanya... hanya sekali, Tuan Muda. Saya mengganti seprai dan mengepel lantai."Mendengar pengakuan itu, rahang Roman langsung mengeras. "Jadi, kau yang sudah lancang mencuri ponsel dan cincin milik Sabiya dari dalam kamar ini?!" bentak Roman dengan suara bariton yang menggelegar.Wajah Mia seketika berubah pucat pasi. Air mata ketakutan yang sejak tadi ditahannya kini merebak di pelupuk mata."Tuan Mu
Roman memasuki mobil dengan tubuh yang masih lemas, kepalanya juga sedikit berdenyut nyeri. Meski begitu, tatapan matanya mengeras. Ia bertekad tidak akan membuang waktu dengan sia-sia di atas brankar rumah sakit.Di sisi lain, Clara tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sejak keluar dari kamar rawat tadi, ia terus menempel pada Roman, tak pernah melepaskan lengan kekar pria itu barang sedetik pun."Roman, aku akan merawatmu di rumah supaya kau lekas sembuh," bisik Clara, suaranya manis dan penuh perhatian. "Dulu saat aku sakit, kau juga selalu merawatku. Sekarang, giliranku yang melakukannya.”Roman tidak menjawab. Pria itu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Tidak ada gerakan, tidak ada reaksi.Di belakang mobil mereka, dua unit kendaraan pengawal mengikuti dengan setia. Namun, tidak ada satu pun yang berani bersuara. Semua tahu bahwa bos mereka sedang dalam kondisi yang sulit ditebak.Satu jam kemudian, iringan mobil memasuki gerbang rumah. Seperti biasa
Perjalanan dari Aldena ke Denver memakan waktu sekitar sepuluh jam. Mereka berangkat saat subuh dan sekarang, setelah melewati siang di atas lautan, matahari mulai condong ke barat. Tatkala jet berwarna putih itu mulai menurunkan ketinggiannya, Sabiya pun menatap ke luar jendela. Ia menyaksikan daratan yang mulai terlihat jelas di bawahnya. Kota Denver terbentang luas dengan latar belakang pegunungan yang berwarna biru kehijauan.Pesawat jet tersebut mendarat dengan mulus, sekitar pukul tiga sore waktu Denver. Ban pesawat mencicit halus saat menyentuh landasan pacu bandara yang terletak di pinggiran kota.Sabiya melihat beberapa pesawat kecil terparkir di sekitar hanggar, tetapi tidak ada yang sebesar jet milik Jetro.Sabiya meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal, setelah duduk terlalu lama.Di kursi yang berseberangan, Jetro masih duduk dengan tenang sambil membaca dokumen di layar ponsel. Sesekali ia menatap Sabiya, tetapi tidak banyak bicara. Begitu kaki Sabiya menapak di bumi
Kehadiran wanita paruh baya itu, dengan ciri khas nadanya yang sinis, membuat ekspresi Roman langsung berubah.Sesuatu dalam dirinya bangkit. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan perlawanan yang lebih tenang dan lebih berbahaya.“Kenapa Mama ada di sini?" tanya Roman dingin.Alis Nyonya Regina Valeriano terangkat tipis. Ia merasa tersinggung oleh pertanyaan putranya yang bernada sarkas."Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mengunjungi putraku sendiri?"Roman mendengus kasar. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan beradu pandang dengan sang ibu."Bukankah Mama selama ini menganggap aku tidak ada? Bahkan, ketika aku terpilih sebagai ketua klan, Mama tidak datang ke upacara pengangkatanku."Nyonya Regina tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada kilatan di matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak terbiasa ditantang."Roman, jaga bicaramu! Kalau bukan karena dukunganku, kau tidak akan semudah itu terpilih sebagai ketua klan Valeriano."Roman mengerutkan kening, ti
Tak ingin kehilangan perhatian, Clara terduduk di kursi sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar naik-turun, seperti orang yang terluka sangat dalam."Roman... kenapa kau tega menuduhku sekejam itu? Sabiya adalah adikku, mana mungkin aku berbohong soal kematiannya," tangis Clara pecah. Ia menatap Roman dengan mata yang basah."Apa kau tahu, aku langsung meninggalkan Pulau Isola Bella begitu mendengar kau pingsan. Aku menghentikan pesta ulang tahunku demi bisa menyusulmu ke rumah sakit ini."Clara menyeka air matanya dengan gerakan lambat sambil memamerkan kelelahan di wajahnya. "Aku duduk diam di samping ranjang ini, menjagamu tanpa tidur sama sekali. Tapi... begitu kau membuka mata, kau malah membentak aku seperti ini.”Mendengar ratapan Clara, Roman sontak terdiam. Keinginannya yang menggebu-gebu untuk pergi ke laut perlahan mereda. Namun, sorot matanya menyisakan kehampaan dan keletihan mental.Pria bertubuh jangkung itu mengembuskan napas panjan
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







