LOGINKelopak mata Sabiya terasa berat, saat ia memaksa dirinya untuk siuman. Di luar, cahaya matahari sudah berganti dengan cakrawala senja, dan udara semakin dingin.Ketika kesadarannya perlahan terkumpul, Sabiya mendapati dirinya terbaring di atas ranjang berhias kelambu putih. Cahaya dari lampu gantung di kamar menjadi satu-satunya penerang di dalam ruangan tersebut.Masih sedikit linglung, Sabiya mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk. Namun, ia langsung terhempas lagi ke atas kasur, sebab kedua pergelangan kakinya terikat oleh borgol.Saat itulah tatapan Sabiya memandangi tubuhnya sendiri.Pakaian kerja yang ia kenakan telah lenyap. Sebagai gantinya, sebuah gaun malam berwarna putih membalut tubuhnya dengan sangat pas.Sensasi terhina dan ngeri langsung merayap di punggung Sabiya. Siapa yang telah mengganti pakaiannya ketika ia tidak sadarkan diri?Dengan kalut, Sabiya meraba bagian depan tubuhnya. Tidak ada tanda-tanda pelecehan maupun kekerasan."Anda sudah sadar, Nona Rosella?"
Entah mengapa, saat mendengar gema derak pintu vila yang terbuka di lantai bawah, semacam perasaan tidak nyaman merayap di relung hati Sabiya.Ada firasat buruk yang samar-samar mengetuk kesadarannya, membuat tengkuknya terasa dingin.Namun, Sabiya bergegas menepis gejolak ganjil itu. Ia mencoba berpikir rasional.Wajar saja bila Violet Shadow memanggil sang kakak untuk melihat hasil sketsanya, sebab wanita itu adalah seorang penyandang tunanetra. Dengan keterbatasannya, Violet tidak mampu melihat gambar secara langsung.Tentu saja, ia membutuhkan bantuan dan penilaian orang terdekatnya untuk mengambil keputusan. Terlebih, menyangkut desain perhiasan yang akan dipersembahkan sebagai hadiah pernikahan kakaknya.Mengingat hal tersebut, Sabiya tidak lagi menaruh rasa curiga. Ia memoles senyum tipis di wajahnya, lalu berucap lembut.“Sketsa yang saya buat berada di atas meja ruang kerja, Nona Violet."Violet tersenyum manis, memiringkan kepalanya sedikit seolah menangkap nada ragu dari su
Selesai membaca satu halaman novel, Sabiya mengangkat pandangan dan menatap wanita di sampingnya dengan kening berkerut."Nona Violet, deskripsi perhiasan ini terkesan sangat kelam. Apakah Anda yakin ingin membuat bentuk perhiasan semacam ini untuk kakak ipar Anda?"Wanita itu mengangguk pasti. Senyuman di bibirnya semakin melebar memancarkan aura yang sulit diartikan oleh Sabiya."Ya. Aku sangat serius, Rosella. Gunakan berlian hitam dengan ukiran duri mawar yang melilit," jawab wanita itu tenang. "Gambarlah sketsa perhiasannya sekarang. Nanti, setelah jam makan siang, kakakku akan datang ke vila ini untuk melihat hasil kerjamu.” Walau merasa heran, Sabiya tetap bersikap profesional. Ia segera membuka tas kerjanya, mengeluarkan sebuah buku sketsa berukuran sedang, serta sebuah pensil mekanik berujung tajam.Di bawah sorotan cahaya lampu meja, Sabiya mulai menggoreskan pensilnya di atas kertas putih. Mengandalkan imajinasi tajam dan deskripsi mendetail dari novel tersebut, jemariny
Di atas pembaringan kamar rawat VIP, Roman perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya. Efek obat bius total yang merenggut kesadarannya sejak semalam mulai memudar.Begitu ia siuman, sensasi fisik pertama yang menerjang Roman adalah rasa nyeri yang menusuk di bagian kaki kanan.Rasa sakit itu bukan sekadar ngilu biasa, melainkan denyutan yang menghantam serat otot dan jaringan kulit yang diiris ulang oleh pisau bedah.Roman mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Urat-urat di lehernya menonjol, dan keningnya dipenuhi oleh butiran-butiran keringat dingin.Meskipun sekujur tubuhnya tersiksa oleh rasa sakit pasca-operasi, tidak ada satu pun erangan atau keluhan yang keluar dari bibir Roman.Di sisi ranjang, Steven dan Sebastian langsung siaga begitu melihat kelopak mata bos mereka bergerak. Wajah kedua pria itu tampak kencang oleh guratan kelelahan dan rasa khawatir yang mendalam."Tuan Roman, Anda sudah sadar?" tanya Steven sambil melangkah maju lebih dekat ke arah brankar. "Bagaimana pera
Sabiya mengerjap heran, sebelah alisnya terangkat."Syarat apa yang harus saya penuhi, Samantha?"Samantha menatap ke dalam mata Sabiya tanpa berkedip."Setelah pertemuan hari ini selesai, Anda tidak akan pernah membocorkan identitas asli, wajah, maupun lokasi vila ini kepada dunia luar. Baik itu kepada rekan kerja Anda, media, maupun kepada para penggemar Violet di luar sana."Sabiya tertegun mendengar permintaan yang sangat ketat itu.Sungguh, kedatangannya kali ini tidak seperti kunjungan kerja klien pada umumnya, melainkan seperti perjanjian kerahasiaan tingkat tinggi militer.Namun, Sabiya bisa memahami betapa tingginya tingkat privasi yang diinginkan oleh seorang figur publik yang sangat tertutup. Ia pun mengangguk dengan penuh keyakinan."Saya mengerti," jawab Sabiya mantap. "Sebagai desainer profesional, menjaga kerahasiaan klien adalah etika nomor satu bagi saya.”Samantha menghela napas lega mendengar jawaban Sabiya. Senyuman kembali terukir di bibirnya."Bagus sekali. Saya
Ruang rawat VIP di Lisea Central Medical Center tampak tenang dan steril.Di atas pembaringan rumah sakit, Roman duduk tegak dengan raut wajah mengeras. Sementara di hadapannya, Dr. Hannes, seorang ahli bedah ortopedi, baru saja selesai memeriksa hasil pemindaian sinar-X terbaru dari kaki Roman.Dr. Hannes meletakkan lembar hasil rontgen itu ke atas meja dengan helaan napas panjang. Ia melepas kacamata bacanya, lalu menatap sang pemimpin klan Valeriano dengan sorot keberatan."Tuan Roman, patah tulang tibia di kaki kanan Anda baru menyatu sekitar lima puluh persen. Jaringan tulangnya masih sangat rapuh. Jika Anda memaksa melepaskan gips ini sekarang dan langsung mengenakannya untuk berjalan, risikonya sangat besar.”Mendengar peringatan medis tersebut, Steven dan Sebastian yang berdiri di sisi brankar langsung menegang.Namun, Roman sedikit pun tidak bergeming."Dokter Hannes, saya di sini untuk meminta solusi medis tercepat agar kaki saya bisa digerakkan secara normal."Dr. Hannes men
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







