MasukSatu hari sebelum acara camping sekolah si kembar diselenggarakan, Roman memulai sesi fisioterapi. Perkembangan fisik pria itu terbilang sangat pesat.Pelat titanium di kakinya mulai menyatu dengan baik bersama jaringan tulangnya.Dengan panduan dokter spesialis rehabilitasi medik, Roman belajar menjejakkan kakinya ke lantai dan berjalan sangat perlahan menyusuri palang sejajar.Meski napasnya memburu usai melangkah, sorot mata kelabu pria itu memancarkan tekad yang pantang menyerah.Usai dokter dan perawat keluar dari ruangan, Roman kembali berbaring di atas brankar untuk mengistirahatkan otot-ototnya yang menegang.Sementara pria itu beristirahat, Sabiya kembali pada rutinitas profesionalnya. Wanita itu duduk di sofa seraya memangku laptopnya.Sabiya sedang bekerja secara daring, mengamati layar yang menampilkan file presentasi dan draf katalog.Sebagai kepala desainer, ia harus memeriksa katalog perhiasan musim gugur yang akan diluncurkan bulan depan.Sabiya meneliti dengan cermat
Hari ini, Clara sengaja mengambil izin setengah hari dari sekolah dengan alasan migrain.Tentu saja, rasa sakit kepala itu hanyalah bualan belaka. Alasan sesungguhnya adalah ia tidak bisa berkonsentrasi mengajar saat pikirannya sepenuhnya tertuju ke seberang benua.Hari ini adalah hari pemakaman Nyonya Regina Valeriano.Sebagai wanita yang ambisius dan terobsesi pada kekuasaan klan Valeriano, Clara tahu bahwa pemakaman ini bukan sekadar acara duka, melainkan ajang perebutan takhta.Ia pun mondar-mandir di ruang tengah apartemennya yang sempit, menggenggam ponsel erat-erat dengan kuku panjangnya yang dicat merah menyala.Waktu terasa merayap begitu lambat. Clara sudah menunggu cukup lama hingga kesabarannya nyaris habis.Tepat ketika Clara hendak melempar ponselnya ke atas sofa pudar, layar benda pipih itu menyala, menampilkan nama ayahnya, Tuan Simon.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Clara langsung menggeser ikon hijau."Akhirnya Papa menelepon juga!" sergah Clara dengan nada tidak s
Dante segera menekan sebuah tombol di meja.Detik berikutnya, gambar wajah Roman muncul di dua layar raksasa yang telah disiapkan di area pemakaman Aldena.Suasana di kompleks pemakaman seketika hening. Seluruh pelayat yang hadir mendongak, menatap ke arah wajah pemimpin tertinggi klan Valeriano yang disiarkan dari benua seberang.Mereka bisa melihat wajah pucat sang bos besar. Namun, tatapan elang pria itu tetap menembus dan mengintimidasi siapapun yang berani mempertanyakan kelemahannya.Roman menatap ke lensa kamera yang terhubung langsung ke Aldena."Hari ini, seluruh keluarga besar Valeriano berduka karena kehilangan salah satu pilar terkuatnya," suara bariton Roman mengalun melalui sistem pelantang suara."Dan saya, kehilangan seorang ibu yang telah melahirkan, merawat, dan mengajari saya bagaimana cara bertahan hidup.”Roman memberikan jeda sejenak, mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk mengeraskan volume suaranya."Saya, Roman Valeriano, menyampaikan permintaan maaf kepada selur
Suasana riang di ruangan itu berlanjut sejenak, hingga raut wajah Roman perlahan berubah.Tawa di bibirnya surut, digantikan oleh keseriusan yang mendalam. Ia memusatkan perhatian kembali pada wajah polos Ares dan Altair.Ada satu kebenaran yang harus ia sampaikan kepada kedua putranya malam ini. Sebuah fakta yang selama ini tertutup rapat oleh konflik dan pelarian di masa lalu.Roman menarik napas panjang, menyingkirkan ego dan rasa sakit di dadanya."Ares, Altair, ada banyak hal yang tidak sempat kalian ketahui tentang keluarga Papa," ucap Roman pelan, merangkai kata-kata yang mudah dipahami oleh anak-anak."Papa ingin memberi tahu kalian satu rahasia. Kalian masih memiliki seorang nenek. Ibu kandung dari Papa."Mata Ares dan Altair seketika membesar. Kata 'nenek' adalah sebuah kosa kata yang asing dalam kehidupan mereka.Selama bertahun-tahun berpindah tempat, mereka hanya memiliki ibu, dan baru-baru ini menyadari bahwa mereka memiliki seorang ayah. Mengetahui bahwa ada sosok nenek
Ketika matahari sore mulai condong ke ufuk barat, Sabiya berdiri di sisi brankar.Ia menatap wajah Roman yang masih terlelap, akibat efek obat pereda nyeri dosis tinggi. Namun, wajah pria itu mulai menunjukkan rona merah, tidak sepucat tadi pagi.Dengan perasaan lega, Sabiya kemudian merapikan letak selimut putih yang menutupi tubuh Roman."Aku pulang sebentar untuk menjemput anak-anak," bisik Sabiya di dekat telinga Roman.Sabiya memutar tubuhnya dan mendapati Dante telah berdiri siaga di dekat pintu. Asisten setia itu tampak jauh lebih segar pasca mendapatkan waktu istirahat yang cukup."Dante, aku titip Roman," pesan Sabiya seraya meraih tas jinjingnya. "Jika dia terbangun dan mencariku, tolong katakan aku sedang menjemput si kembar.""Anda tidak perlu khawatir, Nyonya Sabiya," jawab Dante dengan anggukan hormat. "Saya akan menjaga Tuan Roman."Dikawal oleh Liam, Sabiya meninggalkan rumah sakit.Perjalanan menuju apartemen terasa jauh lebih ringan bagi Sabiya, seiring dengan membai
Hujan gerimis yang membasahi perbukitan San Marino perlahan mereda, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang.Setelah rangkaian upacara pemakaman yang menguras emosi, bayi Seraphina akhirnya tertidur pulas di dalam kamar tamu.Ramona pun turun perlahan untuk mengganti pakaiannya yang kotor oleh debu tanah. Namun, baru saja ia menanggalkan baju, terdengar bunyi ketukan di pintu.“Nyonya Ramona, Anda dipanggil oleh Tuan Falcone,” ucap seorang pelayan.Terkejut, Ramona buru-buru mengancingkan bajunya dan berjalan menuju pintu. Di sana, seorang pelayan paruh baya sudah menanti.“Nyonya, silakan Anda segera ke ruang makan. Tuan Falcone menunggu Anda,” ujar pelayan itu.“Tapi, bagaimana dengan Seraphina? Dia bisa menangis kalau….”“Saya yang akan menjaga bayi Anda. Nanti, kalau dia menangis, saya akan membawanya ke ruang makan.”Setelah mendapat jaminan bahwa bayinya aman, Ramona memberanikan diri untuk keluar dari kamar.Ia tidak menyangka bahwa bos besar suaminya, Jetro Falcone, tiba-t
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







