LOGINSabiya mengembuskan napas lelah, menyerah pada rasa iba yang bercampur kesal."Baiklah, aku bantu sekali ini saja. Lain kali, jangan pernah keluar kamar sendirian."Sabiya meletakkan buket bunga di tangannya, lalu merangkul pinggang dan lengan kiri Roman, membiarkan tubuh pria itu bertumpu sebagian pada bahunya.Dengan susah payah, Sabiya memapah Roman berjalan perlahan menyusuri koridor, hingga sampai di pintu kamar tamu. Sabiya tidak menyadari sama sekali bahwa bibir Roman menyunggingkan senyum tipis.Hanya saja, postur tubuh Roman yang jauh lebih tinggi dan berat, membuat wanita itu mulai kewalahan. Tepat saat mereka hampir tiba di tepi ranjang, keseimbangan Sabiya goyah.Kakinya terpeleset sedikit di atas lantai kamar, membuat tubuh mereka kehilangan kendali dan hampir terjatuh bersama-sama."Aduh!" desis Sabiya kaget.Dengan refleks kilat yang luar biasa, tangan kanan Roman yang bebas dari gips langsung melingkar erat di pinggang Sabiya. Ia menarik tubuh wanita itu merapat ke dad
Di kamar tamu, Dante akhirnya selesai menata pakaian dan barang pribadi Roman ke dalam lemari kecil. Pria itu merapikan jasnya, lalu membungkuk di hadapan bosnya."Tuan, saya akan pamit pulang ke hotel. Besok pagi, saya akan datang kembali membawakan sarapan," lapor Dante.Roman mengangguk pelan dari atas kursi roda. "Dante, carilah sebuah rumah yang layak di Denver. Beli saja langsung jika lokasinya strategis. Kau dan para pengawal tidak perlu tinggal di hotel terus.""Baik, Tuan. Akan segera saya urus."Setelah Dante pamit dan meninggalkan ruangan, Roman meminta bantuan perawat pribadinya untuk mandi dan berganti pakaian. Begitu kondisinya lebih segar, Roman keluar menuju ruang tamu.Suasana di luar sudah mulai senyap. Sabiya dan si kembar tampaknya sedang berada di kamar mereka masing-masing.Naluri Roman pun langsung mengambil alih. Ia akan memakai kesempatan ini untuk mencari tahu siapa pria brengsek yang berani mengirimkan mawar kepada Sabiya.Dengan gerakan hati-hati, Roman mel
Hanya dalam waktu singkat, ia bisa melihat kecerdasan, ketajaman insting, dan sikap protektif yang luar biasa pada diri kedua putranya. Mereka begitu waspada demi melindungi ibu mereka dari orang asing. Dan Roman sangat menyukai sifat itu, sebuah karakter pelindung yang diwariskan langsung dari keluarga Valeriano.Melihat Ares masih berdiri menanti jawaban, sementara Altair menyimak dengan ekspresi datar serta penuh kalkulasi, Roman jadi teringat akan masa kecilnya sendiri.Gaya dan sifat angkuh dari si kembar jelas merupakan replika dari dirinya sendiri. Oleh sebab itu, ia tidak boleh menjawab secara emosional atau agresif.Dengan tenang, Roman menarik napas dan memasang senyuman netral di wajahnya."Paman menumpang di apartemen kalian, karena Paman belum punya tempat tinggal. Satu-satunya teman Paman di kota Denver adalah Mama kalian,” tutur Roman lembut.“Sedangkan untuk bunga-bunga ini… Paman memberikannya sebagai ucapan terima kasih kepada Mama kalian, karena sudah banyak membant
Melihat Roman mendekap lima karangan bunga, serta Dante yang menenteng bungkusan berlogo toko mainan, Sabiya mengerjap beberapa kali. Ia tidak menyangka Roman akan membawa hadiah, di saat ia baru keluar dari rumah sakit. Namun, alih-alih melayangkan protes atau bertanya, Sabiya memutuskan untuk mengabaikannya. Ia tak mau menjadi pusat perhatian dari penghuni lain yang berlalu-lalang di lobi."Mari, ikuti aku ke atas," ujar Sabiya dengan nada datar.Dante segera mendorong kursi roda Roman untuk mengikuti Sabiya. Di belakang mereka, perawat pribadi Roman serta seorang pengawal yang menenteng koper, turut berdesakan masuk.Begitu pintu lift tertutup rapat, suasana di dalam menjadi senyap.Roman, yang duduk sedikit lebih rendah di kursi roda, diam-diam melirik Sabiya. Ia mengamati lekat-lekat buket mawar merah yang masih dipegang oleh wanita itu.Hati Roman menjadi panas. Gelombang rasa cemburu dan curiga, beradu menjadi satu di dalam benaknya.Siapa pria yang berani mengirimkan bunga se
Mobil hitam dengan lambang keluarga Valeriano, merapat di pelataran salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Denver.Di dalam mobil, Roman menolak untuk bersantai. Meskipun Profesor Adrian baru saja berpesan agar ia tidak banyak bergerak, tekad pria itu jauh lebih besar dari rasa sakit di sekujur tubuhnya.Karena kaki kanannya belum memungkinkan untuk menapak, Roman memutuskan menggunakan kursi roda yang telah disiapkan oleh Dante. Didorong oleh tangan kanannya itu, Roman memasuki toko mainan yang dipenuhi warna-warni cerah.Berada di dalam lorong-lorong toko yang dipadati berbagai jenis permainan, Roman mendadak tertegun. Iris abu-abunya menatap deretan mainan di rak-rak tinggi dengan ekspresi bingung. Pasalnya, ia tidak tahu mainan seperti apa yang disukai oleh Altair.Detik itu juga, Roman baru menyadari betapa sedikit hal yang ia ketahui tentang darah dagingnya sendiri. Ia telah kehilangan waktu lima tahun penuh sebagai seorang ayah. Lima tahun, di mana anaknya tumbuh ta
Keesokan harinya, Sabiya tiba di lobi gedung Elegance Jewelry dengan langkah cepat. Ia berusaha melupakan kejadian semalam dan fokus pada pekerjaannya hari ini.Baru saja Sabiya melangkah masuk melewati pintu utama, sang resepsionis segera menghampirinya dengan ekspresi gugup."Bu Rosella, Anda sudah ditunggu oleh seorang tamu penting sejak sepuluh menit yang lalu." Sabiya mengerutkan kening. "Tamu? Siapa?""Tuan Dominic Sterling," jawab resepsionis itu setengah berbisik. "Beliau sudah saya persilakan menunggu di Executive Lounge."Mendengar nama itu, rahang Sabiya mengeras seketika. Namun, di saat bersamaan, akal sehatnya berputar cepat. Dominic Sterling bukan sekadar klien biasa, dia adalah salah satu investor korporat. Mustahil, ia menghindari pria itu di lingkungan kantor.Sabiya menghela napas panjang, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar terlihat profesional. "Baiklah, saya akan menemuinya. Terima kasih informasinya."Dengan langkah pasti, Sabiya berjalan menuju r
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan







