Mag-log inUntuk sesaat, bocah lelaki itu mendongak. Manik mata abu-abunya yang dingin dan tajam beradu pandang langsung dengan Clara.Waktu di sekitar mereka mendadak terasa berhenti. Saraf-saraf di sekujur tubuh Clara seketika menegang, mengirimkan sengatan dingin ke ujung jemarinya. Tatapan ini terlalu identik dengan sosok pria yang paling ia kenali.Refleks, Clara hendak melangkah mendekat untuk memastikan, tetapi sebuah suara ramah memecah lamunannya."Permisi, Nona? Anda mencari seseorang?" Seorang guru wanita menyapa Clara dengan senyuman penuh tanya.Clara tersentak kaget. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengalihkan pandangannya dari si bocah."S-saya akan ke gedung administrasi untuk melamar pekerjaan sebagai guru piano.""Oh, mari saya antar. Gedung administrasi ada di sebelah sana," ujar guru itu menawarkan bantuan.Clara mengangguk lantas mengekor langkah guru tersebut hingga tiba di depan gedung administrasi.Setelah mengucapkan terima kasih, Clara mendekati meja resepsionis dan
Mengetahui taktik Roman yang dengan sengaja menggunakan kelemahan fisiknya untuk merayu, Sabiya mendengus pelan. Ia menggelengkan kepala, mencoba melawan debar di dadanya."Roman, jangan mulai lagi," ucap Sabiya dengan nada tegas. "Kau hanya mencari-cari alasan supaya tidak perlu pindah dari apartemenku. Sekarang, lepaskan aku."Namun, Roman bersikeras. Alih-alih mengendurkan dekapan, ia justru semakin mempererat pelukan tangannya di pinggang Sabiya."Aku serius, Sabiya. Kakiku sedang sakit dan aku sungguh-sungguh membutuhkanmu untuk menemaniku di sini,” ujar Roman dengan suara parau.“Lagi pula, apa kau tega membiarkanku tinggal seorang diri di rumah besar ini?”Roman mendongakkan sedikit dagunya, menatap manik mata Sabiya lekat-lekat. "Kau sendiri tahu, dokter bilang gips di kakiku ini paling cepat baru bisa dibuka dua minggu lagi."Sabiya memutar bola matanya malas. "Jangan melebih-lebihkan penderitaanmu, Roman. Bukankah ada Thomas, perawat pribadi yang merangkap segalanya untukmu?
Sabiya mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir praduga itu dari kepalanya. Ia menggeleng pelan dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa keterkejutan.Tidak... itu pasti hanya orang lain yang kebetulan berpenampilan mirip. Mustahil Clara ada di Denver.Melihat Sabiya yang termenung di balik kemudi, Roman menoleh."Ada apa, Sabiya?" tanya Roman penuh perhatian. "Kau melihat sesuatu yang mencemaskan di luar sana?""Tidak apa-apa, Roman,” balas Sabiya buru-buru menginjak pedal gas untuk meneruskan perjalanan.Kurang dari dua puluh menit kemudian, kendaraan mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elit Evergreen Hills.Sembari menelusuri jalanan perumahan yang asri, mata Sabiya menangkap sebuah bangunan kantor pemasaran yang berdiri di dekat gerbang masuk."Itu kantor pemasarannya," ujar Sabiya sambil memperlambat laju mobil. "Kita mampir ke sana sebentar untuk meminta bantuan staf marketing. Biar kau bisa melihat langsung isi dalam rumah yang dipilih Dante."Roman melirik bangunan
Sabiya akhirnya keluar dari kamar fitting dengan mengenakan gaun pilihannya. Gaun berwarna midnight blue yang dipadu dengan aksen manik-manik perak di bagian bahu, membuat Sabiya tampak begitu memukau.Roman, yang tadinya duduk menunggu di sofa lounge VIP, langsung mendongak.Seketika itu juga, napas pria itu tercekat. Iris abu-abunya menatap Sabiya lekat-lekat tanpa berkedip, terpesona oleh kecantikan wanita di hadapannya."Bagaimana?" tanya Sabiya, sedikit salah tingkah."Sangat cantik," bisik Roman jujur.Ia bangkit dari duduknya dengan bantuan kruk, lalu berdiri berdampingan di depan cermin. Dari pantulan cermin, mereka berdua tampak sangat serasi.Namun, alih-alih langsung melangkah ke kasir untuk membayar, Roman tiba-tiba memanggil sang manajer butik yang berdiri tidak jauh dari sana."Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanya manajer itu sigap."Tolong carikan juga dua setelan jas anak laki-laki untuk ukuran usia lima tahun. Warnanya harus sama persis seperti gaun istri saya.
Ketika pagi menjelang, udara sejuk khas kota Denver langsung terasa.Sesuai dengan kata-kata yang diucapkannya semalam, Roman sudah bersiap di ruang makan sejak pagi. Pria itu tampaknya tidak ingin melewatkan satu detik pun, di hari cuti Sabiya.Kendati ia harus bertumpu pada sepasang kruk logam, Roman bersikeras ikut dengan Sabiya mengantar si kembar ke sekolah.Di perjalanan, Ares sempat melirik penuh tanya ke arah Roman. Sedangkan Altair mengamati setiap gerak-gerik pria itu dengan analisis tajam.Meski demikian, tidak ada yang memprotes keberadaan Roman di dalam mobil mereka.Setelah menurunkan si kembar di depan gerbang sekolah, Sabiya bermaksud untuk kembali ke apartemen. Namun, Roman tiba-tiba menyela."Sabiya, aku ingin pergi ke suatu tempat."Sabiya mengerutkan keningnya, menatap pria itu dengan sebelah alis terangkat."Ke mana lagi, Roman? Kenapa kau gemar sekali bepergian dalam kondisi sakit seperti ini?”"Aku ingin tampil serasi bersamamu. Itu alasannya," jawab Roman denga
Sabiya menunggu jawaban yang akan keluar dari bibir pria itu. Ia mengamati setiap gerak-gerik dan ekspresi wajah Roman dengan saksama. Sabiya menebak, Roman akan membutuhkan waktu dan pergulatan batin yang besar untuk benar-benar menyingkirkan Clara.Namun, di luar dugaan, Roman langsung membuka suara dengan nada tegas."Jika Clara datang sekarang di hadapanku, dalam kondisi apa pun... aku tidak akan peduli," pungkas Roman mantap."Aku dan Clara sama sekali tidak ada kaitannya. Dia adalah masa lalu yang sudah aku lupakan.”Roman lantas mengangkat tangannya, meraih kedua pundak Sabiya dengan lembut. "Perlu kau tahu Sabiya, awalnya aku memang mendekatimu dengan motivasi yang salah. Tapi, setelah mengenalmu lebih dekat, aku mulai jatuh cinta padamu,” tutur Roman.“Berada di dekatmu membuatku merasa tenang dan utuh. Karena itu, aku mantap untuk menikahimu. Tidak mungkin aku menjadikanmu sebagai istri, kalau aku tidak punya perasaan apa-apa."Roman menarik napas sejenak, lalu melanjutkan
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me
Hampir satu jam berlalu, mobil yang dinaiki Sabiya memasuki kawasan pinggiran kota yang lebih lengang. Kendaraan beroda empat itu melintasi jalanan menanjak, menuju sebuah rumah yang berdiri kokoh di atas perbukitan pribadi.Kediaman yang ditempati Roman dan Sabiya sengaja dibangun di lokasi yang t
Alih-alih memberi sanggahan, Roman justru meletakkan gelasnya di meja. Dengan tatapan lembut yang belum pernah Sabiya lihat sebelumnya, pria itu menoleh kepada Clara."Jangan dengarkan mereka, Clara." Suara Roman rendah dan menenangkan. "Aku punya hadiah untukmu malam ini. Aku tidak mau kau bersedi
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya







