Share

Rumah Masa Depan

Author: Risca Amelia
last update publish date: 2026-09-28 15:39:54

Sabiya mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir praduga itu dari kepalanya. Ia menggeleng pelan dengan raut wajah yang masih menyisakan sisa keterkejutan.

Tidak... itu pasti hanya orang lain yang kebetulan berpenampilan mirip. Mustahil Clara ada di Denver.

Melihat Sabiya yang termenung di balik kemudi, Roman menoleh.

"Ada apa, Sabiya?" tanya Roman penuh perhatian. "Kau melihat sesuatu yang mencemaskan di luar sana?"

"Tidak apa-apa, Roman,” balas Sabiya buru-buru menginjak pedal gas untuk mener
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Kita Terikat dalam Cinta

    Esok harinya, Sabiya mengerjap dan membuka kelopak matanya yang masih terasa berat. Sisi ranjang di sebelah kanannya kosong, pertanda Roman sudah bangun lebih dulu. Dengan langkah pelan dan masih mengenakan piyama tidur, Sabiya keluar dari kamar. Ia menuju area dapur karena mencium aroma mentega.Begitu Sabiya tiba, sebuah pemandangan yang tak pernah ia bayangkan tersaji di hadapannya. Roman sedang berdiri sambil memegang satu kruk untuk menjaga keseimbangan. Dengan satu tangan, pria itu sibuk membalik dua lembar pancake di atas teflon. Keningnya sedikit berkerut serius, seolah sedang menghadapi strategi perang paling rumit.Melihat usaha keras yang dilakukan oleh Roman dalam menyiapkan sarapan, Sabiya melangkah mendekat tanpa suara. Ia mengambil alih pekerjaan pria itu dan memindahkan tangan Roman ke samping."Duduklah, Roman. Kau tidak perlu merepotkan diri begini," bisik Sabiya rendah, suaranya menyiratkan rasa tersentuh yang dalam. Roman tersenyum lembut seraya merapikan helai

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Melepas Batas

    Semburat keraguan dan gejolak batin masih jelas terlukis di wajah Sabiya, membuat wanita itu tak mampu memberikan jawaban pasti.Melihat kebisuan Sabiya, Roman mencondongkan tubuhnya, lalu menyatukan dahi mereka. Napas hangat keduanya beradu dalam keheningan malam kamar yang temaram."Sayang, bila kau tidak setuju, aku tidak akan memaksa," bisik Roman, suaranya serak tetapi penuh kelembutan.Sabiya menahan napas. Kata-kata itu sederhana, tetapi bobotnya terasa begitu berat.Roman menunggu, matanya menatap lekat, mencari jawaban di relung paling dalam dari hati Sabiya."Aku bisa bertahan selama hampir enam tahun dalam kesepian. Aku masih bisa menunggumu sampai kau siap.”Sabiya menelan ludah.Bertahun-tahun ia membangun tembok di sekeliling hatinya, mencoba meyakinkan diri bahwa ia tidak membutuhkan Roman lagi. Namun kini, pria itu ada di sini, rapuh, terluka, dan meminta kerelaan penuh darinya.Sabiya menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Kau boleh tidur di kamarku setelah ga

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Memilikimu Sebelum Berpisah

    Sabiya menatap wajah Roman lekat-lekat. Pria yang biasanya berdiri dengan angkuh itu kini tampak diliputi kecemasan. Bahkan, cengkeraman Roman pada kruk terasa begitu kaku.Entah mengapa hatinya mendadak ikut gelisah. Maka, Sabiya akhirnya memenuhi permintaan Roman."Baiklah... kita pulang sekarang," ucap Sabiya akhirnya, memutuskan untuk menepis segala egonya.Ia segera berbalik dan menghampiri Jetro yang sudah sampai di mejanya. Dengan tatapan penuh permohonan, Sabiya berpamitan."Kak Jetro, maaf, aku harus pulang lebih dulu bersama Roman dan anak-anak. Kabari aku jika kau sudah sampai di Monella.”Jetro menatap Sabiya sejenak. Pria itu melirik sekilas ke arah Roman yang berdiri dengan wajah muram di ujung ruangan, lalu mengangguk maklum."Pergilah, Sabiya. Jaga dirimu."Sementara itu, dari sudut lain di dalam ballroom, Dominic Sterling berdiri menyandarkan punggungnya pada pilar marmer. Sambil menyesap minuman, ia mengamati kepergian Sabiya dan Roman yang tampak tergesa-gesa mening

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Di Antara Dua Pilihan Sulit

    "Tuan Roman, ada hal penting yang harus saya sampaikan," bisik Dante.Menangkap adanya getar kecemasan dalam suara Dante, insting Roman langsung waspada. Ia yakin tangan kanannya itu baru saja mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan.“Katakan, Dante. Siapa yang berani menggangguku di tengah pesta?”Dante kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Ada surel darurat masuk ke sistem keamanan kantor pusat Valeriano Corp. Si pengirim memberikan pesan untuk Anda, dan melampirkan tiga buah foto."Roman menunduk, menatap layar ponsel yang disodorkan asisten setianya itu.Seketika, manik abu-abunya melebar. Di dalam surel tersebut, tertera sebuah pesan yang sangat provokatif dan sarat akan ejekan.[Ibumu ada di tanganku. Jika kau masih ingin melihatnya bernapas, datanglah segera ke kota Lisea. Waktumu tidak banyak, Roman Valeriano]Seluruh darah di tubuh Roman seolah tersedot habis dalam satu detik, usai ia membaca pesan tersebut.Pandangannya lantas turun untuk memeriksa tiga bukti visual yang

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Dansa Perpisahan

    Sabiya mematung di tempat. Pipinya seketika merona merah di bawah pendar lampu kristal ballroom. Bagaimana tidak. Seluruh pasang mata para elit sosial kota Denver, para kolega bisnis, serta rekan kerjanya di Elegance Jewelry kini tertuju kepadanya.Ingin sekali Sabiya membalikkan badan, lalu bersembunyi di balik dinding yang tebal. Namun, semua itu terlambat.Sang pembawa acara sudah terlanjur mengumandangkan namanya lewat mikrofon.Di samping Sabiya, Ares bersorak riang gembira sambil melompat-lompat kecil. Bocah itu menyenggol lengan ibunya dengan riang. "Mama dipanggil ke depan! Ayo maju, Ma!"Altair yang biasanya tenang, ikut menimpali dengan senyuman kecil di bibirnya. "Paman Roman mau memberikan buket bunga itu kepada Mama."Didorong oleh tatapan penuh desakan dari ratusan pasang mata di sekelilingnya, Sabiya terpaksa melangkah maju. "Baiklah, para tamu undangan yang terhormat! Mari kita sambut wanita beruntung malam ini, Nona Rosella!" seru sang MC meriah. "Silakan, Tuan Rom

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Lamaran di Tengah Pesta

    Sebelum Sabiya sempat merangkai kata untuk menolak, terdengar bunyi derak kursi roda yang mendekat. Kemudian, sebuah suara bariton yang berat menyapa Nyonya Vivian di meja kehormatan."Selamat malam, Nyonya Vivian. Saya Roman Valeriano," ucap sebuah suara dingin yang sarat akan otoritas mutlak.Semua mata di meja tersebut menoleh. Di sana, didorong di atas kursi roda oleh Dante, Roman mendekat dengan tubuh tegak. Wajah tampannya memancarkan aura dominasi yang membuat siapa pun segan.Roman meminta Dante menghentikan kursi rodanya tepat di samping Sabiya, untuk memisahkannya dari Dominic. Setelah meminta sang asisten menjauh, tanpa ragu Roman menatap Nyonya Vivian dengan senyuman sopan.“Oh, Tuan Valeriano. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu Anda secara langsung,” jawab Nyonya Vivian dengan hangat. “Terima kasih karena Anda bersedia datang jauh-jauh dari Aldena untuk memenuhi undangan kami.”"Saya sudah berada di Denver dari minggu lalu, Nyonya Vance. Saya dirawat di rumah sakit s

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Acuh Tak Acuh

    Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menginginkan Tubuhmu

    Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Menghapus Jejakmu

    Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan

  • Setelah Aku Tiada, Tuan Mafia Memohon Cinta   Berlari untuk Wanita Lain

    Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status