تسجيل الدخولDi bawah tatapan Roman yang begitu mengintimidasi, Mia hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mati-matian menahan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang justru akan memperkeruh keadaan."Tidak ada, Tuan Muda. Nyonya bersikap tenang seperti biasanya," dusta Mia, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar.Namun, jawaban dangkal itu sama sekali tidak memuaskan Roman. Pria itu memicingkan mata, kembali mengorek informasi dengan pertanyaan lain yang menjebak. "Apa kau membersihkan atau merapikan isi kamar ini setelah Sabiya pergi?"Mia mengangguk kaku, meremas ujung roknya. "Hanya... hanya sekali, Tuan Muda. Saya mengganti seprai dan mengepel lantai."Mendengar pengakuan itu, rahang Roman langsung mengeras. "Jadi, kau yang sudah lancang mencuri ponsel dan cincin milik Sabiya dari dalam kamar ini?!" bentak Roman dengan suara bariton yang menggelegar.Wajah Mia seketika berubah pucat pasi. Air mata ketakutan yang sejak tadi ditahannya kini merebak di pelupuk mata."Tuan Mu
Roman memasuki mobil dengan tubuh yang masih lemas, kepalanya juga sedikit berdenyut nyeri. Meski begitu, tatapan matanya mengeras. Ia bertekad tidak akan membuang waktu dengan sia-sia di atas brankar rumah sakit.Di sisi lain, Clara tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sejak keluar dari kamar rawat tadi, ia terus menempel pada Roman, tak pernah melepaskan lengan kekar pria itu barang sedetik pun."Roman, aku akan merawatmu di rumah supaya kau lekas sembuh," bisik Clara, suaranya manis dan penuh perhatian. "Dulu saat aku sakit, kau juga selalu merawatku. Sekarang, giliranku yang melakukannya.”Roman tidak menjawab. Pria itu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata. Tidak ada gerakan, tidak ada reaksi.Di belakang mobil mereka, dua unit kendaraan pengawal mengikuti dengan setia. Namun, tidak ada satu pun yang berani bersuara. Semua tahu bahwa bos mereka sedang dalam kondisi yang sulit ditebak.Satu jam kemudian, iringan mobil memasuki gerbang rumah. Seperti biasa
Perjalanan dari Aldena ke Denver memakan waktu sekitar sepuluh jam. Mereka berangkat saat subuh dan sekarang, setelah melewati siang di atas lautan, matahari mulai condong ke barat. Tatkala jet berwarna putih itu mulai menurunkan ketinggiannya, Sabiya pun menatap ke luar jendela. Ia menyaksikan daratan yang mulai terlihat jelas di bawahnya. Kota Denver terbentang luas dengan latar belakang pegunungan yang berwarna biru kehijauan.Pesawat jet tersebut mendarat dengan mulus, sekitar pukul tiga sore waktu Denver. Ban pesawat mencicit halus saat menyentuh landasan pacu bandara yang terletak di pinggiran kota.Sabiya melihat beberapa pesawat kecil terparkir di sekitar hanggar, tetapi tidak ada yang sebesar jet milik Jetro.Sabiya meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal, setelah duduk terlalu lama.Di kursi yang berseberangan, Jetro masih duduk dengan tenang sambil membaca dokumen di layar ponsel. Sesekali ia menatap Sabiya, tetapi tidak banyak bicara. Begitu kaki Sabiya menapak di bumi
Kehadiran wanita paruh baya itu, dengan ciri khas nadanya yang sinis, membuat ekspresi Roman langsung berubah.Sesuatu dalam dirinya bangkit. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan perlawanan yang lebih tenang dan lebih berbahaya.“Kenapa Mama ada di sini?" tanya Roman dingin.Alis Nyonya Regina Valeriano terangkat tipis. Ia merasa tersinggung oleh pertanyaan putranya yang bernada sarkas."Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mengunjungi putraku sendiri?"Roman mendengus kasar. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela, enggan beradu pandang dengan sang ibu."Bukankah Mama selama ini menganggap aku tidak ada? Bahkan, ketika aku terpilih sebagai ketua klan, Mama tidak datang ke upacara pengangkatanku."Nyonya Regina tidak bergeming. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada kilatan di matanya yang menunjukkan bahwa ia tidak terbiasa ditantang."Roman, jaga bicaramu! Kalau bukan karena dukunganku, kau tidak akan semudah itu terpilih sebagai ketua klan Valeriano."Roman mengerutkan kening, ti
Tak ingin kehilangan perhatian, Clara terduduk di kursi sambil menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Bahunya bergetar naik-turun, seperti orang yang terluka sangat dalam."Roman... kenapa kau tega menuduhku sekejam itu? Sabiya adalah adikku, mana mungkin aku berbohong soal kematiannya," tangis Clara pecah. Ia menatap Roman dengan mata yang basah."Apa kau tahu, aku langsung meninggalkan Pulau Isola Bella begitu mendengar kau pingsan. Aku menghentikan pesta ulang tahunku demi bisa menyusulmu ke rumah sakit ini."Clara menyeka air matanya dengan gerakan lambat sambil memamerkan kelelahan di wajahnya. "Aku duduk diam di samping ranjang ini, menjagamu tanpa tidur sama sekali. Tapi... begitu kau membuka mata, kau malah membentak aku seperti ini.”Mendengar ratapan Clara, Roman sontak terdiam. Keinginannya yang menggebu-gebu untuk pergi ke laut perlahan mereda. Namun, sorot matanya menyisakan kehampaan dan keletihan mental.Pria bertubuh jangkung itu mengembuskan napas panjan
Menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, Range Rover yang membawa Jetro dan Sabiya akhirnya tiba di area bandara.Seperti yang dikatakan oleh Jetro, bandara ini bukanlah bandara umum yang ramai dengan penumpang dan bagasi. Di landasan pacu yang dijaga ketat, hanya ada tiga pesawat yang terparkir. Salah satunya adalah sebuah jet pribadi putih dengan logo keluarga Falcone.Mesin jet raksasa tersebut menderu halus, memuntahkan hawa panas ke udara subuh yang dingin. Sejauh mata memandang, pesawat itu terlihat seperti burung raksasa yang siap terbang melintasi benua.Mobil Range Rover berhenti tepat di samping tangga pesawat. Jetro keluar lebih dulu, lalu memutar tubuhnya untuk membukakan pintu bagi Sabiya.Pria itu tidak berdiri diam, melainkan langsung mengulurkan telapak tangannya ke hadapan Sabiya untuk dijadikan tumpuan."Turunlah. Kita sudah sampai."Sabiya menyambut tangan hangat itu tanpa keraguan sedikit pun. Setelah bertahun-tahun dipermainkan oleh Roman, takdir seolah sedang
H-3....Sabiya sudah terbangun sejak mentari belum sepenuhnya benderang. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan jiwanya diselimuti ketenangan.Walau Roman tidak pulang semalaman, kenyataan tersebut tidak mengganggu Sabiya sama sekali. Hingga detik ini, Roman juga tidak mengirimkan pesan teks maupun
Di depan kamar perawatan VIP nomor 501, dua orang pengawal bertubuh tegap nampak berdiri siaga.Namun, selang beberapa menit, mereka menyingkir penuh hormat saat melihat sosok pria yang datang. Dia adalah Roman Valeriano, bos mereka.Dengan langkah tergesa-gesa, Roman membuka pintu kamar VIP itu ta
Pukul lima sore, kendaraan mewah milik Roman berbelok tajam memasuki halaman.Suara gesekan ban di atas kerikil terdengar begitu terburu-buru, menandakan sang pemilik rumah telah tiba.Tak butuh waktu lama bagi Sabiya untuk mendengar langkah kaki yang lebar menuju lantai dua. Hingga akhirnya daun pi
Demi memastikan keadaan, Sabiya melangkah cepat mendekati jendela kamarnya. Ternyata, sosok yang melangkah turun dari mobil sama sekali bukanlah suaminya, Roman Valeriano. Melainkan seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan, diikuti oleh pria paruh baya bertubuh tegap. Mereka adalah Nyonya B







