MasukDari balik pengeras suara ponsel, suara sang wali kelas terdengar penuh urgensi."Selamat siang, Bu Rosella. Maaf mengganggu waktu Anda di jam kerja. Saya ingin mengabarkan bahwa Ares saat ini sedang berada di ruang kesehatan sekolah."Mendengar laporan itu, rasa kalut mulai merayapi benak Sabiya. "Ada apa dengan Ares, Miss? Apa dia cedera saat bermain?""Tidak, Bu Rosella. Ares mengeluh sakit perut saat jam pelajaran keempat, lalu muntah di kelas," terang Miss Stella cepat."Kami sudah memberinya penanganan awal, tetapi Ares terus memanggil Anda. Bisakah Anda segera datang untuk menjemputnya?"Sabiya memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panik. Ia mengingat kembali bagaimana Ares kemarin begitu banyak mengonsumsi makanan manis—pai apel Aldena, cokelat, hingga pizza. Namun, putranya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan sakit."Baik, Miss Stella. Saya akan segera ke sekolah sekarang juga. Terima kasih atas informasinya," sahut Sabiya tergesa sebelum memutus panggil
Walaupun tersentak melihat netra milik Dominic, Sabiya berupaya keras menguasai diri. Kesadaran profesionalnya kembali muncul begitu ia mendengar Oliver menyapa dengan ramah."Selamat pagi, Tuan Sterling. Selamat datang di Elegance Jewelry,” sapa Oliver seraya membungkuk sopan. “Saya Oliver, asisten Nyonya Vivian Vance."Sabiya ikut melangkah maju, lalu mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri."Selamat datang di Elegance Jewelry, Tuan Sterling. Saya Rosella, kepala desainer yang bertanggung jawab atas Flagship Boutique ini."Namun, alih-alih langsung menyambut uluran tangan Sabiya, pria itu justru terdiam. Ia menatap Sabiya tanpa berkedip, seolah sedang memindai setiap detail paras cantik wanita itu. Tatapan Dominic yang intens menyapu garis rahang Sabiya, matanya, hingga bibirnya.Karena tak kunjung mendapat sambutan, Sabiya menarik napas tipis dan mengulang kalimatnya dengan nada lebih tegas."Tuan Sterling?"Pria itu seakan baru saja tersadar dari lamunan. Ia melangkah mend
Saat kelopak mata Sabiya terbuka, ia merasakan setiap persendian dan otot tubuhnya terasa kaku. Rasa letih yang tertahan selama beberapa hari terakhir, seolah muncul bersamaan.Namun, mengingat hari ini adalah awal yang baru, ia tidak boleh menyerah dengan rasa lelah.Dengan semangat baru, Sabiya mandi dengan air hangat lalu menyantap porsi sarapan yang lebih banyak. Celoteh riang kedua putranya di meja makan menjadi obat penawar yang paling ampuh.Ares tampak sibuk meragakan kembali gerakan menendang, sedangkan Altair menikmati sarapan sambil sesekali menimpali cerita saudaranya itu.Tiga puluh menit kemudian, Sabiya mengantarkan Ares dan Altair ke sekolah.Di pelataran gedung sekolah yang ramai oleh deretan kendaraan para orang tua, Sabiya mematikan mesin sejenak. Ia merunduk di kursi pengemudi, melayangkan ciuman hangat di kening Altair dan Ares secara bergantian."Nanti, Mama akan menjemput kalian pulang sekolah," tutur Sabiya dengan suara penuh kasih.Ares yang sedang menyandang
"Besok, kau datang saja jam sembilan pagi untuk persiapan meeting dengan Tuan Dominic," tutur Nyonya Vivian seraya menutup map dokumen di atas meja."Selesai meeting, kau bisa pulang untuk beristirahat. Aku tahu kau pasti masih lelah, Rosella."Sabiya menyunggingkan senyum hangat penuh rasa terima kasih. "Baik, Nyonya Vivian. Saya akan mempersiapkan bahan presentasi malam ini."Usai berpamitan, Sabiya melangkah keluar dari ruangan sang atasan. Ia sempat mampir ke meja kerjanya untuk mengambil beberapa berkas pendukung, sebelum turun ke area parkir.Tanpa menunda lagi, Sabiya mengemudikan mobilnya menembus jalanan sore kota Denver. Ia tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama si kembar.Setibanya di apartemen, suasana hangat langsung menyambut Sabiya. “Mama sudah pulang!” teriak Ares gembira.“Iya, Sayang. Sekarang, ayo Mama tunjukkan barang-barang yang Mama bawa dari Aldena.”Sabiya menuntun Ares dan Altair ke kamarnya.Pertama, ia mengeluarkan kotak makanan dan baju untuk Bibi El
Mendengar dugaan berani dari saudaranya, mata Ares membelalak. Bocah kecil itu menggelengkan kepala dengan raut wajah tegang sambil melambaikan tangan menepis ucapan sang kembaran."Jangan bicara sembarangan, Altair!" tegur Ares, tidak setuju. "Walaupun Roman Valeriano ini mirip dengan kita, bukan berarti dia adalah Papa kita! Bagiku, Papa kita cuma Papa Jetro."Altair menghembuskan napas panjang, menepuk bahu Ares agar saudaranya itu tidak terlalu emosional."Kau jangan marah dulu, Ares. Aku hanya menebak berdasarkan bukti,” jelas Altair.“Papa memang sayang pada kita, tapi dia tidak selalu menemani kita, kan? Dia tinggal jauh di Monela, sementara kita di sini. Dan... sepertinya Papa sedang marah pada Mama."Ares tersentak pelan. "Dari mana kau tahu?""Papa Jetro menjemput kami dengan jet pribadinya, tapi dia jarang bicara. Apa kau yang memberitahu Papa kalau Mama pergi ke Aldena?"Ares menggeleng cepat. "Aku tidak bilang apa-apa. Aku tetap menjaga rahasia seperti yang kita sepakati!
Ketika Sabiya mengangkat telepon tersebut, suara Nyonya Vivian langsung terdengar di seberang sana. Kali ini, nada bicaranya terdengar lebih hangat."Rosella, apakah kalian sudah mendarat di Denver?" tanya Nyonya Vivian."Sudah, Nyonya. Sekarang saya sedang dalam perjalanan menuju apartemen," sahut Sabiya lembut.Nyonya Vivian langsung melanjutkan. "Bisakah kau datang ke kantor jam empat sore ini? Saya ingin mendiskusikan hal yang sangat penting. Tidak akan lama.”Mendengar permintaan itu, Sabiya merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. Panggilan ini hadir tanpa perlu ia mencari-cari alasan untuk mengatur pertemuan."Bisa, Nyonya. Saya akan datang jam empat sore nanti," jawab Sabiya mantap.Telepon pun dimatikan oleh Nyonya Vivian.Altair yang duduk di samping Sabiya mendongak polos. "Mama mau bekerja lagi?""Hanya sebentar, Sayang. Setelah itu, Mama langsung pulang," tutur Sabiya sembari mengusap lembut pipi putranya.Tak berapa lama kemudian, mobil kantor yang mengantar mereka
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







