Mag-log inDi dalam salon eksklusif, Sabiya duduk nyaman di depan cermin besar, sementara seorang penata rambut profesional sedang menata helai rambut panjangnya menjadi gaya French twist modern.Sedari tadi, Roman dengan setia duduk menemani di atas sofa beludru. Pria itu menatap lurus ke arah cermin, tak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari sosok Sabiya.Ketika Sabiya akhirnya berdiri dari kursi rias, Roman terpaku. Gaun malam dengan warna midnight blue itu membalut tubuh Sabiya dengan sempurna."Kau... sangat cantik, Sabiya," puji Roman. Ia bangkit perlahan dengan bantuan kruknya, lalu merangkul bahu Sabiya. Melihat Roman menempel padanya, pipi Sabiya merona merah. Lekas saja, ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya untuk mengalihkan perhatian."Roman, kita harus segera pulang. Ini sudah jam empat sore,” tutur Sabiya sedikit cemas. “Anak-anak pasti sudah pulang dari kebun binatang."Benar saja. Setibanya mereka di unit apartemen, si kembar sudah berada di ruang tengah bersama Bi
Mendengar ucapan Roman, Jetro mendengus meremehkan. Pria bermantel cokelat itu maju dan menepuk bahu Roman dua kali."Kalau begitu mari kita lihat sekarang, Roman... siapa di antara kita yang paling pantas berada di sini," ucap Jetro tajam.Tanpa sudi berlama-lama menatap wajah musuhnya, Jetro berlalu begitu saja. Ia berjalan melewati Roman yang berdiri dengan tumpuan kruk, lalu memanggil kedua anak Sabiya."Ares... Altair!" panggil Jetro cukup lantang.Mendengar suara itu, Roman langsung membalikkan badan. Ia berusaha mengejar langkah Jetro dengan terpincang-pincang."Jetro, apa kau akan mengingkari janjimu sendiri untuk melepaskan Sabiya dan anak-anak?!" seru Roman geram, napasnya memburu menahan emosi yang membakar dada.Belum sempat Jetro merespons ucapan itu, pintu kamar di ujung koridor terbuka lebar.Ares dan Altair muncul dengan jaket dan celana jeans yang kasual. Wajah mereka berseri-seri penuh kegirangan, begitu melihat sosok ayah yang sudah mereka nantikan."Papa!" seru si
Tak terasa, akhir pekan yang dinanti-nanti akhirnya tiba.Hari ini adalah hari digelarnya resepsi pernikahan Enzo, sebuah acara akbar yang mempertemukan para elit sosial dan relasi bisnis dari Elegance Jewelry.Pagi yang cerah di apartemen Sabiya mendadak berubah sibuk ketika ponsel wanita itu berdering.Di ujung sambungan, Oliver meminta Sabiya untuk datang ke kantor pusat. Ada beberapa hal yang harus dikoordinasikan, terkait dengan penyambutan tamu penting dan relasi bisnis di acara resepsi.Mendengar permintaan itu, Sabiya bergegas merapikan diri. Sebelum berangkat, ia menghampiri si kembar di ruang tengah, berpamitan sambil berpesan agar mereka tidak nakal selama dirinya pergi."Mama harus ke kantor sebentar. Jangan ke mana-mana, tunggu Mama pulang," pesan Sabiya lembut.Roman, yang baru saja keluar dari kamarnya dengan bantuan kruk, tersenyum menenangkan."Tenanglah, Sabiya, ada aku di sini yang akan menjaga anak-anak."Sabiya menatap Roman sesaat, lalu bergegas melangkah keluar
Setelah berbicara dengan Roman, Sabiya kemudian berbalik menuju kamar si kembar. Ia membantu mereka mandi, berganti pakaian, lalu memeluk kedua putranya satu per satu."Anak-anak, kalian tidak perlu takut lagi, ya. Penjahatnya sudah ditangkap polisi. Tidurlah yang nyenyak," bujuk Sabiya lembut.Ares dan Altair mengangguk patuh, merasa aman dalam lindungan sang ibu.Usai dibacakan dongeng, mereka pun perlahan memejamkan mata. Tak lagi mencemaskan peristiwa menakutkan yang terjadi di Play Zone.Ketika Sabiya berjalan keluar dari kamar si kembar, ia mendapati Roman telah duduk manis di atas kursi roda. Pria itu menanti di depan pintu kamarnya."Ini akan menjadi kamarku, kan?" tanya Roman dengan nada setengah menggoda. "Aku ingin beristirahat sekarang, kakiku sudah kaku."Tanpa menanggapi rengekan Roman, Sabiya mendorong kursi roda pria itu ke dalam kamar tidurnya sendiri.Begitu ia memasuki kamar, Roman langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.Semula, ia mengira bahwa di kam
Roman mempercepat langkahnya dengan pincang, menerobos kerumunan anak-anak yang memenuhi area Play Zone. Matanya terkunci tajam pada sesosok gadis remaja yang memakai topi baseball merah.Sedari tadi gadis itu memperhatikan wahana simulasi balap mobil. Dan sekarang, ia berjalan pelan menuju kursi paling ujung, tempat Ares sedang asyik memegang setir mainan simulator mobil.Dari kejauhan, Roman melihat tangan gadis remaja itu merogoh saku mantelnya. Sontak, instingnya sebagai seorang pimpinan mafia bangkit."Ares! Awas!"Suara bariton Roman menggelegar menembus bisingnya ruangan.Meski pergerakannya terbatas akibat bergantung pada kruk, Roman tidak menyerah. Dalam sepersekian detik, ia menerjang maju.Dengan tumpuan satu kaki yang kuat dan lemparan tubuh yang terukur, Roman menepis tangan gadis remaja itu.Prang!Aksi sigap tersebut berhasil mengubah arah tusukan pisau. Namun, bilah tajam yang berkelebat tetap menyayat jemari tangan kanan Roman hingga berdarahAres, yang baru saja dike
Mendengar pertanyaan Altair yang kelewat kritis itu, Sabiya menghela napas sejenak. Ia tahu betul, dalam menghadapi putranya yang berotak jenius itu, ia harus bisa memberikan penjelasan yang paling masuk akal."Sayang... yang akan pindah ke rumah ini adalah Paman Roman, bukan Mama. Jadi, Mama tetap tidur di kamar apartemen kita."Ares, yang sejak tadi bosan mendengarkan tanya jawab serius itu, langsung berinisiatif menaiki anak tangga."Ares, pelan-pelan! Jangan berlari di tangga, nanti jatuh!" seru Sabiya berusaha menyusul, sebelah tangannya menggandeng erat jemari Altair.Mendengar peringatan ibunya, Ares berhenti sejenak di tangga. “Aku sudah biasa naik turun tangga di sekolah, Ma. Tidak akan jatuh!"Begitu Ares menginjakkan kakinya di lantai atas, Roman segera menyambutnya. Pria itu mencondongkan tubuhnya dengan tumpuan kruk, lalu mengusap puncak kepala Ares."Bagaimana sekolahmu hari ini, Ares?" sapa Roman ramah.Ares terbelalak senang bukan kepalang. Mata bulatnya mengerjap tak
Tiga tahun menikah dengan Roman Alister, pewaris tunggal keluarga Valeriano, Sabiya tidak pernah diajak ke acara publik.Meski begitu, ia tidak pernah merajuk atau menuntut. Sabiya percaya sang suami melakukan itu sebagai bentuk cintanya yang luar biasa."Klan musuh selalu mencari kelemahanku, Saya
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala







