Compartir

Bab 005

last update Fecha de publicación: 2026-05-12 16:08:33

Kurang dari sepuluh menit, perawat itu kembali.

Nampan steril diletakkan di sisi meja. Lima jarum akupuntur berkilau di bawah lampu operasi. Di sampingnya, tiga bahan tersusun rapi—vial ekstrak Danshen berwarna merah tua, bubuk Huanglian kuning pekat, dan cangkir seduhan Maidong yang masih mengepulkan uap tipis.

Caelan memeriksa semuanya satu per satu. Mengangkat setiap jarum ke arah cahaya, memastikan tidak ada kerusakan sekecil apa pun. Membuka tutup vial Danshen, mencium aromanya sebentar. Menyentuh tekstur bubuk Huanglian dengan ujung jarinya yang bersarung tangan.

"Sempurna." Dia meletakkan semuanya kembali dengan hati-hati. "Kita mulai."

Di atas meja, Victor Ashford terbaring seperti lilin yang hampir habis terbakar. Wajahnya kuning pucat, bibirnya keabu-abuan, matanya tertutup rapat dengan kelopak yang tampak terlalu berat. Setiap napasnya pendek dan tidak beraturan, diselingi jeda yang terlalu panjang hingga siapapun yang mendengarnya tanpa sadar ikut menahan napas. Monitor di sisinya menampilkan gelombang jantung yang kacau, naik turun tanpa pola, seperti sinyal yang hampir kehabisan daya. Pria itu bisa mati kapan saja.

"Aku hanya ingin semua orang di ruangan ini tahu." Suara Aldric memecah keheningan dari sudut ruangan, nadanya tanpa rasa malu. "Apa yang terjadi setelah ini bukan tanggung jawabku. Aku sudah melakukan prosedur yang benar sesuai standar medis internasional. Jika kondisi pasien memburuk akibat eksperimen gila ini, Caelan Voss yang harus bertanggung jawab penuh."

Beberapa pasang mata bergerak ke arah Aldric. Tidak ada yang berbicara, tapi tatapan itu sudah cukup untuk menyampaikan segalanya.

Dorian menggenggam tepi meja lebih erat, rahangnya mengencang. Emric di dekat pintu menutup matanya sebentar seperti menahan sesuatu.

Caelan tidak bereaksi sama sekali. Dia sudah tidak ada di tempat yang sama dengan Aldric.

Kedua tangannya bergerak ke tubuh Victor dengan tenang yang terasa berbeda dari ketenangan biasa. Bukan tenang karena tidak peduli, tapi tenang karena dia tahu persis apa yang harus dilakukan, langkah demi langkah, tanpa satu gerakan pun yang terbuang sia-sia.

Jari telunjuk dan ibu jarinya menjepit jarum pertama.

Titik Jiuwei. Tepat di bawah tulang dada, satu jari di atas ujung prosesus xifoideus. Titik pusat meridian perikardium, tempat sumbatan qi paling parah mengendap.

Jarum masuk dengan gerakan memutar yang halus, sedalam tiga sentimeter. Caelan tidak terburu-buru. Dia memutar gagang jarum searah jarum jam tiga kali, lalu berhenti, membiarkan titik itu merespons.

Jarum kedua. Titik Juque, dua jari di atas Jiuwei, jalur lanjutan meridian yang sama. Masuk dengan sudut lima belas derajat, lebih dangkal, lebih presisi.

Jarum ketiga di titik Neiguan, pergelangan tangan kiri, enam sentimeter di atas lipatan. Ini jalur penghubung utama antara meridian perikardium dan sistem sirkulasi. Caelan menekan titik ini sebentar dengan ibu jarinya sebelum jarum masuk, memastikan aliran sudah terbuka.

Jarum keempat di titik Ximen, lima jari di atas pergelangan tangan, titik darurat meridian perikardium yang digunakan untuk kondisi kritis akut.

Jarum kelima dan terakhir di titik Danzhong, tepat di tengah tulang dada setinggi puting. Titik pengumpul qi seluruh organ dada. Caelan menancapkannya vertikal, sangat pelan, dengan tekanan yang hampir tidak terlihat.

Lima jarum terpasang sempurna dalam pola yang membentuk jalur tunggal dari dada hingga pergelangan tangan.

Caelan mundur setengah langkah, menatap sebentar, lalu mengambil vial Danshen.

Dia mencampurnya dengan bubuk Huanglian dalam perbandingan yang dia ukur bukan dengan timbangan tapi dengan jarinya sendiri, cara yang Master ajarkan padanya di sel penjara yang pengap dengan cahaya satu lampu neon. Hasil campuran itu berwarna merah gelap, kental, beraroma tajam seperti tanah setelah hujan.

Campuran itu dioleskan melingkar di sekitar setiap titik jarum dengan gerakan berlawanan arah jarum jam. Membantu membuka sumbatan, memancing toksin panas keluar melalui jalur meridian yang sudah diaktifkan jarum.

Terakhir, seduhan Maidong.

Caelan mengangkat cangkir itu, membuka rahang Victor dengan hati-hati, dan meneteskan cairan hangat itu perlahan ke bawah lidah pasien. Sedikit demi sedikit. Bukan untuk diminum, tapi diserap langsung melalui pembuluh sublingual yang terhubung ke jalur jantung paling cepat.

Ruangan sunyi total kecuali bunyi monitor.

Satu menit berlalu.

Tidak ada perubahan.

Dua menit.

Aldric menyilangkan tangan di dada, bibirnya menyipitkan senyum tipis yang berusaha dia sembunyikan tapi gagal.

Tiga menit.

Lalu sesuatu terjadi.

Gelombang di monitor yang tadinya kacau mulai berubah. Perlahan, tapi jelas. Puncak-puncak yang tidak beraturan mulai menemukan jarak yang lebih konsisten. Tekanan darah di layar samping bergerak naik, satu angka, dua angka, berhenti sebentar, lalu naik lagi.

Seorang perawat muda di dekat monitor menahan napas.

Lima menit sejak jarum terakhir ditancapkan, ritme jantung Victor Ashford berubah menjadi gelombang yang bersih dan teratur. Bukan sempurna, tapi stabil. Tekanan darahnya naik ke seratus dua puluh per delapan puluh dan berhenti di sana seperti sudah menemukan rumahnya kembali.

Warna kulit Victor berubah pelan. Abu-abu pucat berganti merah muda yang lemah tapi nyata. Bibirnya yang membiru kembali mendapat warna. Napasnya yang tadi pendek dan tersendat melebar menjadi tarikan yang dalam dan teratur.

Lalu jari tangan Victor bergerak. Hanya sedikit, tapi cukup untuk membuat Dorian menekan tangannya ke mulut sendiri.

Mata Victor terbuka. Pelan, berat, seperti seseorang yang kembali dari tempat yang sangat jauh. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum akhirnya fokus ke langit-langit ruangan, lalu bergeser ke wajah yang pertama kali dia lihat.

Caelan berdiri di sisinya, menatapnya dengan tenang.

"Selamat datang kembali." Suara Caelan pelan.

Victor membuka mulutnya. Tidak ada suara yang keluar, tapi bibirnya membentuk sesuatu. Mungkin pertanyaan. Mungkin nama seseorang.

"Ayah!" Dorian menghampiri meja, tangannya meraih tangan ayahnya dengan gemetar.

Di sudut ruangan, Aldric berdiri diam. Senyum tipis yang tadi hampir muncul sudah lenyap sepenuhnya. Matanya menatap monitor yang kini menampilkan gelombang jantung normal, lalu beralih ke lima jarum yang masih tertancap rapi di tubuh Victor, lalu ke punggung Caelan.

Tidak ada yang mengucapkan sepatah kata pun kepadanya.

Caelan mulai melepas jarum satu per satu dengan gerakan yang sama tenangnya seperti ketika dia memasangnya. Lima jarum, lima titik, dilepas dalam urutan terbalik dari pemasangan.

Dia meletakkan jarum terakhir di nampan steril, melepas sarung tangan, dan berkata kepada Dorian, "Kondisi ayahmu sudah stabil. Qi-nya kembali mengalir normal. Dia hanya perlu istirahat dan melanjutkan konsumsi Maidong dua kali sehari selama tujuh hari ke depan. Tidak ada prosedur tambahan yang diperlukan, cukup perawatan standar dari tim rumah sakit."

Dorian mengangguk berulang kali, matanya masih basah. "Terima kasih. Terima kasih banyak, Dokter."

Caelan mengangguk singkat, lalu berbalik dan melangkah ke pintu.

"Tunggu."

Suara Dorian menghentikan langkahnya.

Caelan menoleh.

Dorian berdiri tegak, ekspresinya sudah berbeda dari pria yang tadi berlutut di tepi meja ayahnya. Masih ada sisa air mata di sudut matanya, tapi tatapannya serius dan penuh kesadaran.

"Anda telah menyelamatkan nyawa ayah saya, Dokter." Suaranya pelan tapi berat, setiap kata ditimbang dengan sungguh-sungguh. "Sesuai janji saya tadi di lobi, saya akan mengabulkan apa pun yang Anda minta. Katakan saja. Keluarga Ashford akan melakukan segalanya untuk memenuhinya."

Ruangan kembali sunyi.

Di sudut ruangan, Aldric berdiri dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Matanya menatap Dorian yang masih menatap Caelan dengan penuh rasa hormat, lalu beralih ke Caelan.

Rahang Aldric mengencang.

Keluarga Ashford, salah satu nama terbesar di Velmont. Dan Caelan Voss, mantan narapidana yang baru keluar penjara, baru saja mengantongi hutang budi mereka kurang dari satu jam.

Kebencian itu menggelegak di dadanya, panas dan pahit.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 372

    Pagi itu, langit di atas Sekte Jiwa Hitam bersih tanpa awan.Halaman utama sekte, hamparan batu hitam seluas puluhan lapangan, sudah penuh sejak fajar. Murid dalam, murid luar, pelayan, penjaga gerbang, hingga para penggarap padang rumput di belakang sekte. Ribuan orang berdiri rapat, memenuhi setiap sudut dan tangga, bahkan atap-atap bangunan di sekelilingnya.Tidak ada yang berbicara keras. Hanya dengung bisikan yang menyebar seperti angin di ladang.Di tengah halaman, tiga sosok berdiri berhadapan.Wuhen Lianhun. Caelan. Dan Rex.Dua yang terakhir sudah berganti pakaian.Jubah hitam pekat membalut tubuh mereka, kainnya jatuh halus dengan kilau samar seperti permukaan danau di malam hari. Di bagian kerah dan ujung lengan, benang perak menyulam motif ular dan pedang yang saling melilit, sama seperti ukiran di tiang aula perjamuan. Namun ada yang membedakan jubah ini dari jubah murid biasa, bahkan dari jubah para Tetua. Di punggungnya, sulaman konstelasi emas membentang dari bahu ke p

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 371

    Hal pertama yang dirasakan Caelan adalah keheningan.Bukan sunyi dari luar. Angin masih bergerak, kolam masih beriak, jangkrik di kejauhan masih bernyanyi. Tapi di dalam dirinya, untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, tidak ada gemuruh. Tidak ada rasa menarik dan mengalirkan, tidak ada usaha menjaga energi tetap di tempatnya.Energi itu sudah tidak perlu dijaga. Ia hanya ada.Hal kedua adalah ringan.Tubuhnya masih tubuh yang sama, tapi seakan seluruh beban yang tak pernah ia sadari kini terangkat. Rasa lelah yang selama ini menempel di tulang, luka-luka lama yang kadang berdenyut saat hujan, napas yang terasa berat sehabis bertarung, semuanya lenyap seperti kabut disapu matahari.Hal ketiga adalah dunia yang melebar.Ia bisa mendengar detak jantung Rex tanpa menoleh. Pelan, tenang, teratur. Ia bisa merasakan setiap helai rumput yang bergoyang, setiap tetes air yang jatuh dari daun ke kolam. Ia bahkan bisa merasakan aliran energi spiritual yang merayap di bawah tanah, bergerak

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 370

    Tujuh hari berikutnya berjalan dengan ritme yang sama.Fajar, meditasi di bawah pohon raksasa. Siang, latihan teknik bersama Wuhen Lianhun di lapangan batu di belakang aula utama. Malam, kembali bermeditasi bersama Rex hingga bintang bergeser jauh dari tempatnya.Hari pertama latihan, Wuhen berdiri di hadapan Caelan dengan pedang di tangan."Aku akan mengajarkan dua teknik puncak sekte ini," katanya. "Belenggu Jiwa Seribu Bayangan dan Kutukan Kegelapan Abadi. Murid terbaik kami butuh bertahun-tahun untuk menguasai salah satunya. Jadi jangan kecewa kalau satu bulan ini kau hanya mendapat dasarnya."Caelan mengangguk. "Aku mengerti."Wuhen mengayunkan pedangnya.SRAKK.Satu tebasan, dan bayangan perak tertinggal di udara. Tebasan kedua, bayangan kedua. Dalam beberapa tarikan napas, belasan jejak pedang melayang di sekeliling Wuhen, berdenyut pelan seperti makhluk hidup yang menunggu perintah."Rahasianya bukan pada pedang," ujar Wuhen. "Tapi pada niat yang kau tinggalkan di setiap tebas

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 369

    Caelan membuka matanya.Pelan, dan untuk sesaat dia tidak bergerak sama sekali.Ada sesuatu di dalam dirinya.Bukan sekadar sisa kehangatan dari batu tadi. Ini sesuatu yang besar, padat, dan hidup, bergolak di dalam dantiannya seperti samudra yang baru dibangunkan. Dia mengepalkan tangan, dan udara di sekitar kepalan itu bergetar tipis. Dia menarik napas, dan angin malam seakan ikut tertarik masuk bersamanya.Kekuatannya meningkat.Pesat. Jauh lebih pesat dari apa pun yang pernah dia rasakan dalam satu malam.Dan di ujung semua itu, dia merasakan sesuatu yang lain. Sebuah batas. Tipis, nyaris tembus, seperti dinding kaca yang tinggal menunggu satu ketukan terakhir.Hanya selangkah lagi.Selangkah lagi menuju tingkat yang lebih tinggi.Dada Caelan berdesir.Apakah itu... Ranah Abadi?Dia tidak tahu. Dia belum pernah berdiri di sana, jadi tidak ada yang bisa dijadikan pembanding. Tapi instingnya berkata sama, berulang-ulang, dengan keyakinan yang tidak bisa diabaikan: pintu itu sudah sa

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 368

    "Apa itu, Pemimpin Sekte?" tanya Caelan.Wuhen Lianhun tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, berhenti di hadapan mereka, lalu membuka tutup kotak kayu gelap itu dengan satu gerakan pelan.Cahaya biru memancar keluar.Lembut, tapi cukup terang untuk menerangi wajah mereka bertiga di tengah gelapnya taman. Di dalam kotak, di atas alas kain hitam, terletak sebuah batu sebesar ibu jari. Permukaannya halus dan bening seperti kristal, dan di dalamnya cahaya biru berdenyut pelan, naik turun seperti napas makhluk hidup."Ini disebut batu spiritual," kata Wuhen.Kolam di dekat mereka bergetar tipis. Energi spiritual di sekitar taman, yang tadi mengalir pelan, kini seolah menoleh ke arah kotak itu."Di dalamnya tersimpan energi spiritual yang sudah dipadatkan. Ukurannya memang kecil, tapi isinya setara dengan puluhan tahun pengumpulan energi biasa. Dan kualitasnya..." Wuhen berhenti sebentar. "Jauh melampaui apa pun yang bisa kau serap dari udara di Dunia Bawah."Caelan menat

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 367

    Siang di Sekte Jiwa Hitam berbeda dari siang di tempat-tempat lain yang pernah Caelan singgahi.Bukan karena mataharinya berbeda, bukan karena udaranya lebih hangat atau lebih dingin. Tapi ada sesuatu yang tidak terlihat di sini—sesuatu yang baru bisa dirasakan ketika seseorang berhenti bergerak dan membiarkan dirinya hadir sepenuhnya di satu tempat.Energi spiritual.Di sini, energi itu bukan sesuatu yang harus dicari atau ditarik. Ia ada di mana-mana, seperti udara yang lebih penuh dari biasanya—mengalir pelan di antara bebatuan, menempel di batang pohon, bergerak di permukaan tanah dengan cara yang hampir bisa dirasakan dengan telapak tangan biasa pun.Mereka memilih tempat di taman belakang sekte. Bukan taman dalam arti halaman yang dirapikan, tapi hamparan yang dibiarkan tumbuh dengan caranya sendiri selama ratusan bahkan ribuan tahun.Pohon-pohon di sini sudah terlalu tua untuk diukur usianya dengan cara biasa, batangnya lebih lebar dari dua orang dewasa yang merentangkan tangan

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 007

    Kembali ke Aurelian Hospital Velmont, Caelan sudah menuju pintu keluar di lobby ketika suara itu menghentikannya."Tunggu, Dokter."Dia berbalik dan menemukan Dorian melangkah cepat, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu."Ada hal lain yang kau butuhkan?" tanya Caelan.Dorian berhenti di

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 006

    Caelan menatap Dorian sembari jatuh ke dalam pikirannya. Keluarga Ashford adalah salah satu keluarga paling berpengaruh di Kota Velmont. Seharusnya mereka bisa membantunya, bukan?"Satu hal saja." kata Caelan akhirnya. "Bantu saya mendapatkan kembali lisensi praktik saya dan posisi sebagai dokter d

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 002

    Caelan berhenti di ujung jalan, membelakangi rumah yang tidak lagi menjadi miliknya dalam pengertian apa pun.Empat tahun dia percaya bahwa ada orang-orang yang akan menunggunya. Bahwa pengorbanan itu tidak sia-sia. Bahwa ketika dia kembali, setidaknya ada yang masih menganggapnya keluarga.Ternyat

  • Setelah Bercerai, Aku Menjadi Dokter Sakti   Bab 001

    Empat tahun Caelan Voss mendekam di balik jeruji untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Malam itu bukan dia yang mabuk, bukan dia yang memegang setir. Tapi ketika Serena berdiri gemetar di depannya dan berkata, "Tolong aku, Cael, karirku akan hancur jika aku masuk penjara." Caelan menyerahkan dirin

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status