LOGINSinyal itu tidak membutuhkan kata-kata.Satu tatapan antara Selena dan Ethan, singkat, terukur, dan keduanya bergerak.Bukan bergerak dengan cara biasa. Kecepatan yang dikeluarkan dari Ranah Keempat tidak terlihat sebagai gerakan yang bisa diikuti oleh mata biasa, lebih seperti dua titik yang tiba-tiba ada di posisi yang berbeda dari yang sebelumnya.Selena, saat bergerak, menggerakkan tangannya ke punggungnya. Dari sana, tiga jarum sepanjang tiga puluh sentimeter keluar—tipis, berkilap, dengan ujung yang sudah terbukti menembus baja tipis tanpa butuh tenaga yang berlebihan. Bukan jarum biasa. Bukan lembing biasa. Sesuatu di antaranya, dengan energi kultivasi yang sudah meresap ke dalam materialnya."Aku harus menyelesaikan ini cepat."Pikiran itu berlari di kepala Caelan bersamaan dengan indranya membaca dua arah pergerakan sekaligus. "Kalau ini berlarut, Dorian tidak akan senang dengan kondisi suitenya."Tangan kirinya bergerak.Dari permukaan kulitnya, ribuan keping material hitam
Bilah perak itu berhenti di antara dua jari Caelan, telunjuk dan jari tengah, menutup seperti gunting di kiri dan kanan bilah itu. Pedang yang baru saja meluncur dengan kecepatan yang tidak seharusnya bisa ditangkap oleh siapa pun kini tidak bisa bergerak ke depan maupun ke belakang.Tidak ada darah. Tidak ada suara benturan yang keras.Hanya berhenti.Caelan tidak menoleh ke belakang. "Kau cepat." Suaranya keluar dengan cara seseorang yang sedang mencatat sesuatu, bukan seseorang yang sedang terancam. "Tapi lemah."Satu detik keheningan.Lalu sesuatu meledak dari Ixia. Bukan suara, tapi energi. Seluruh cadangan spiritual yang dia miliki dikeluarkan sekaligus ke dalam tangan yang memegang pedang itu, menarik ke belakang dengan kekuatan penuh.Bilah itu terlepas.Ixia mundur setengah langkah, menstabilkan posisinya, dan langsung menyerang lagi. Kali ini dari arah yang berbeda, dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, dengan sudut yang sudah diperhitungkan lebih cermat.Tapi
Setengah jam sebelumnya.Gudang penyimpanan koleksi senjata Keluarga Sterne tidak pernah dirancang untuk dikunjungi orang asing.Tapi malam ini, Ixia berjalan melaluinya seperti dia sendiri yang memilikinya.Rak-rak besi sepanjang dinding menyimpan berbagai koleksi yang dikumpulkan Keluarga Sterne selama tiga generasi—pedang, belati, tombak pendek, semua dengan kondisi yang dijaga dengan cara yang hanya dilakukan oleh orang yang mengerti nilai benda-benda itu.Ixia berjalan pelan, matanya menyapu dari satu rak ke rak lain.Di sisi kiri, sebuah pedang dua tangan dengan bilah selebar telapak tangan yang memiliki ukiran rune sepanjang fullernya—warna runenya biru redup, seperti beku di dalam baja. Di sebelahnya, saber melengkung dengan inlay emas berbentuk naga sepanjang punggung bilahnya, kilaunya terlihat bahkan di bawah pencahayaan gudang yang tidak terlalu terang. Di rak tengah, pedang lurus bermata dua dari baja damask dengan pola lipatan yang terlihat seperti serat kayu dari jarak
"Apakah kau punya nama?"Makhluk kecil itu mengangkat kepalanya dari posisi duduknya yang santai di atas meja, salah satu kaki depannya masih mengusap sisa susu di sudut mulutnya."Tentu saja belum. Tolong berikan aku nama, papa.""Bagaimana kalau Rex?"Keheningan selama tiga detik. Makhluk kecil itu tampak benar-benar mempertimbangkannya, bukan dengan cara pura-pura, tapi dengan cara seseorang yang mengambil keputusan secara serius."Itu nama yang bagus." Kepalanya mengangguk satu kali. "Mulai sekarang, namaku Rex.""Bagus." Caelan mengangguk puas. Lalu menambahkan, "Tapi, aku bukan orangtua kandungmu. Jadi lebih baik jangan panggil aku papa."Rex menoleh ke arahnya."Tidak.""Tidak?" Caelan mengerutkan alisnya."Kau adalah papa." Rex mengatakannya dengan cara yang tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi. "Kau yang memberiku makan pertama kali. Kau yang ada di sini ketika aku pertama membuka mata. Jadi kau adalah papa.""Aku manusia." Caelan mencoba sekali lagi. "Kau naga. Kita dua
Kepala kecil itu muncul lebih dulu.Tidak lebih besar dari kepalan tangan anak kecil, dengan potongan cangkang yang masih menempel di atas mahkotanya seperti topi yang terlalu besar. Sisiknya berwarna merah—bukan merah yang mencolok atau menakutkan, tapi merah yang hangat seperti bara api yang sudah tenang, dengan kilau yang berubah tergantung sudut cahaya yang mengenainya.Lalu matanya terbuka.Biru. Cerah. Dengan cahaya di dalamnya yang tidak berasal dari pantulan lampu ruangan.Caelan berjongkok di depan meja itu, menatap kepala kecil yang baru muncul dari dalam cangkang, dan tidak menggerakkan apa pun selama beberapa detik.Makhluk itu—yang ternyata ukurannya jauh lebih kecil dari yang pernah dia bayangkan dari ukuran telurnya—menggerakkan kepalanya ke kiri, ke kanan, seperti seseorang yang baru saja membuka mata di tempat yang asing dan sedang mencari orientasi.Tidak ada yang terasa mengancam dari cara itu. Tidak ada niat buruk yang bisa dideteksi indranya. Yang dia rasakan dari
Sementara itu, tepat ketika pintu terakhir menutup di luar, sesuatu mengalir pelan dari dahi Caelan.Keringat.Dia tidak langsung bergerak. Masih berdiri di tempat yang sama sejak mereka pergi, di tengah lobi The Grandeur yang sekarang sudah kembali ke suasana normalnya, dengan staf yang masih bertugas dan beberapa tamu yang lalu lalang tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di antara meja-meja dan kursi-kursi yang sama.Selama beberapa menit tadi, tidak ada satu pun dari semuanya yang keluar ke permukaan. Tidak ada keringat, tidak ada perubahan napas, tidak ada yang bisa dibaca oleh Aldrus atau siapa pun di sekitarnya sebagai tanda bahwa Caelan merasakan sesuatu lebih dari yang dia tunjukkan.Sekarang mereka pergi.Dan tetes kedua mengikuti yang pertama."Pria tua itu kuat."Bukan kuat dengan cara yang bisa diukur dari teknik atau dari berapa banyak orang yang bisa dia kalahkan dalam satu saat. Kuat dengan cara yang lebih fundamental, aura yang mengeluarkan kedalaman dari seseorang ya
Ponsel Layla bergetar di atas mejanya saat dia sedang meninjau laporan operasional. Dia meletakkan penanya, dan menemukan bahwa itu pesan dari Dokter Voss.Dan betapa terkejutnya dia saat melihat isi pesannya."Ada tamu tidak diinginkan di depan pintu kamarku. Tolong diusir."Siapa yang berani meng
"Apa yang kau inginkan?"Suaranya tidak keras. Tidak mengandung amarah. Hanya dingin dengan cara yang jauh lebih tidak nyaman dari amarah, seperti pintu yang sudah ditutup dan tidak ada niat untuk dibuka kembali.Serena mengambil satu langkah ke depan. "Cael, berhentilah bersikap dingin padaku. Aku
Helena mengambil satu langkah ke depan, sebelum melanjutkan, "Dokter Voss, izinkan kami menjamu Anda malam ini. Datanglah ke kediaman kami, sebagai tamu terhormat, bukan sebagai dokter. Kami belum bisa membalas apa yang Anda lakukan, dan ini setidaknya yang bisa kami tawarkan.""Saya juga ingin had
Pintu ruang operasi terbuka untuk kedua kalinya.Vance keluar lebih dulu, diikuti kelima asistennya dalam jarak yang lebih rapat dari biasanya, seperti orang-orang yang baru keluar dari sesuatu yang sama dan belum sepenuhnya memisahkan diri dari pengalaman itu.Wajah Vance berbeda dari ketika dia m







